NOW READING

Oetomo Wiropranoto Melancong ke Penjuru Dunia dengan Dua Kamera dan Dua Lensa

 2554
+
 2554

Oetomo Wiropranoto Melancong ke Penjuru Dunia dengan Dua Kamera dan Dua Lensa

by The Daily Oktagon

Di era di mana arus informasi tak mengenal batasan ruang dan waktu, seseorang tak harus selalu tampil untuk bisa punya nama. Oetomo Wiropranoto adalah buktinya. Kurang lebih 10 tahun menghilang dari radar media, fotografer yang mengawali karier sejak pertengahan 1990-an ini nyatanya masih eksis. Berkarya di luar sorotan mata publik memang telah menjadi pilihannya. Walau begitu, ia termasuk salah satu fotografer paling dicari di Indonesia, khususnya oleh kalangan papan atas dan korporat.

Kami berjumpa dengan pemilik zodiak Pisces ini di Ivy Restaurant, yang terletak di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di salah satu tembok restoran itu, terpampang salah satu karya Oetomo dalam beberapa kanvas yang saling overlapping. Karya tersebut lebih mirip sebagai karya seni bernuansa hitam dan putih ketimbang fotografi.

Formatnya pun tidak lazim, memanjang ke samping, atau panorama. Oetomo menyebutnya sebagai extreme panorama, karena melibatkan lebih dari satu foto yang dijahit menjadi satu. Pernah membuat foto panorama dengan smartphone? Prosesnya kira-kira seperti itu. Bedanya, ia menggunakan kamera full-frame, tanpa tripod, dan menjahitnya secara manual.

Oetomo_8

Oetomo dan salah satu karyanya yang terpampang di Ivy Restaurant

“Manusia sebenarnya melihat segala sesuatu dengan sangat wide-angle, walau fokusnya cuma ke satu titik sebesar uang koin,” kata Oetomo kepada The Daily Oktagon.

Dia melanjutkan, dengan extreme panorama, orang mau masuk ke dalam gambar itu karena merasa punya kedekatan dengan sudut pandang matanya yang lebar. Nah, artikel ini menggali bagaimana Oetomo Wiropranoto melancong ke penjuru dunia dengan dua kamera dan dua lensa.

Pencinta fotografi wajib baca ini, Para Fotografer Senior Bicara tentang Foto Jurnalistik di Era New Media

Extreme Panorama
Oleh klien dan penikmat karyanya, Oetomo memang dikenal dengan gaya fotografinya yang tidak terkungkung oleh batasan teori. Ia adalah fotografer yang pada tahun 1997 mempopulerkan gaya spontan, kini lazim disebut candid, dalam fotografi pernikahan. Subyek dan momen ia jepret secara spontan, lepas, apa adanya, tanpa diarahkan atau direncanakan.

Semua berawal dari kamera Nikon F3 yang diberikan istrinya, Deviana, yang juga seorang fotografer, saat pasangan ini berbulan madu pada Januari 1995.

“Sudah, kamu saja yang motret,” ujar Devi ketika itu.

Bagi Oetomo, perjalanan keduanya lebih seperti eksplorasi ketimbang bulan madu. Pasangan yang menikah tiga bulan setelah pertama bertemu ini, memang sebelumnya lama menghabiskan waktu di luar negeri. Oetomo sekolah dan bekerja di Inggris, sedangkan Devi di Amerika Serikat. Kunjungan ke beberapa daerah, seperti Garut dan Bali, diabadikan olehnya dengan film hitam putih.

“Setelah memotret saat bulan madu itu, saya belajar cetak foto sendiri,” kata Oetomo.

Istrinya, dia menyebutkan, bukan figur yang menggurui. Jadi, Oetomo pun belajar secara otodidak.

Foto_Karya_Oetomo_2

Extreme Panorama karya Oetomo yang dipajang di kantor Hiswara Bunjamin & Tandjung Lawfirm

Latar pendidikan Oetomo adalah ilmu pengetahuan, matematika, dan teknik mesin. Tak heran, jika ia gampang sekali beradaptasi dengan teknis fotografi. Namun, bagaimana ia berkarya bukan sekadar karena dirinya tahu cara memotret, melainkan dari bagaimana matanya melihat cahaya dari balik jendela bidik, yang sedikit banyak terpengaruh dari minatnya terhadap seni visual. Tujuh bulan kemudian, karier Oetomo dimulai setelah semua karya pertamanya itu dibeli oleh seseorang dan dipajang di sebuah galeri.

“Saat bulan madu, saya menemukan bagaimana mata saya menangkap cahaya atau obyek menjadi sesuatu yang ke arah fine art,” kata ayah dari empat orang anak ini.

Bermain di Segmen Niche
Menurut Oetomo, industri fotografi, seperti merekrut tim dan mengembangkan skala bisnis dari kecil menjadi besar, bukan panggilan profesinya. Dalam setiap proyek yang dikerjakan, ia lebih mencari chemistry antara dirinya dengan klien untuk mendapatkan gambar yang punya kedalaman. Ia mengaku senang jika karyanya punya arti tersendiri bagi klien.

“Ternyata, menariknya, orang-orang yang menghargai di sisi itu adalah dari kalangan tertentu saja,” ucap Oetomo.

Sejalan dengan digital lifestyle, dia pun rutin menunggah foto ke akun Instagram @oetomofoto. Di akun ini, karya-karya yang diunggah berasal dari jepretan smartphone.

Terakhir kali profil Oetomo dimuat di sebuah majalah, tercantum alamat dan kontaknya. Hampir semua orang yang menghubunginya langsung bertanya soal harga. Bisa jadi, ada rasa ketidaknyamanan di situ, ketika sebuah pekerjaan yang melibatkan perasaan diawali dengan perbincangan seputar uang. Oetomo dan istri, yang selalu mengerjakan tiap proyek foto sebagai satu tim, memutuskan mundur pelan-pelan dari ekspos media.

Proyek-proyek berikut didapat dari referensi klien sebelumnya secara mulut ke mulut. Tanpa disengaja, ini menjadi filter. Klien Oetomo menjadi lebih mengerucut dan targeted. Orang yang mencari benar-benar mengerti dan ingin tahu lebih jauh lagi tentang pekerjaan Oetomo dan istri.

Merampingkan Peralatan
Profesi menuntut Oetomo sering bepergian ke berbagai lokasi eksotis di dalam dan luar negeri, entah itu untuk klien perorangan maupun perusahaan. Satu tahun yang lalu, ia mengambil keputusan yang cukup radikal. Menjual enam body kamera digital single-lens reflex atau DSLR Canon dan Nikon, berikut 12 lensanya. Ia beralih ke kamera mirrorless Sony Alpha a7 yang dirasa lebih menunjang kegiatan sehari-hari.

Tiap melancong, ia hanya membawa dua body, satu normal dan satu dengan sensor inframerah, lensa zoom 16-35 milimeter dan fix 55 milimeter, baterai cadangan, serta sebuah flash dengan trigger wireless yang jarang digunakan. Oetomo cenderung memanfaatkan pencahayaan alami.

Menurut dia, dalam tiga sesi pemotretan, paling banyak flash hanya digunakan dua kali di dua frame. Meski ini juga tergantung dari klien. Jika klien lebih suka gambar yang jelas, ia akan lebih sering menggunakan flash.

Oetomo masih ingat ketika dulu pernah memotret fashion komersial di Milan, Italia, untuk brand macam Aigner, Mango, dan Prada. Peralatan pencahayaan yang ia gunakan bernilai ratusan juta. Saat menemukan kekuatannya pada foto spontan dan candid, ia mulai merampingkan peralatannya, mengingat tak lagi butuh pencahayaan besar.

Foto_Karya_Oetomo_5

Foto karya Oetomo untuk campaign Chevron

Unsur spontan itu juga membuat perencanaan pemotretan jadi simpel. Biasanya, ia hanya menggunakan beberapa aplikasi mobile, seperti yang berbasis lokasi dan kuliner untuk menentukan tempat menarik untuk foto. Jika setelah tiba klien ternyata tidak suka, ia sudah punya lokasi cadangan.

“Kalau proyek pre-wedding, biasanya saya berikan garis besarnya saja, meskipun juga klien yang minta dibuatkan itinerary, tetapi saya tidak pernah berikan itu, karena nanti akan kaku dan jadi beban,” kata Oetomo yang jarang membawa laptop karena fungsi yang dibutuhkan sudah tergantikan dengan smartphone.

Pentingnya Chemistry
Oetomo beranggapan, dengan begitu pesatnya perkembangan teknologi fotografi saat ini, semua orang bisa dengan gampang memotret. Namun, jangan sampai kemudahan ini menjadi jebakan. Kita harus lebih tahu apa yang mau difoto. Ia pun berpesan kepada para fotografer yang baru mengawali kariernya untuk mengikuti perasaan.

“Kalau saya jelas, yang difoto minimal harus berarti buat saya. Lalu, kalau kita dibayar oleh klien, maka harus berarti juga buat klien. Untuk mendapatkan gambar yang berarti kan harus menggunakan perasaan. Asahlah perasaan itu,” kata lelaki asal Solo ini.

Foto Karya Oetomo 3

 

Foto karya Oetomo untuk Gourmet Kemang

Seorang fotografer juga dituntut harus bisa mengatasi segala kendala yang terjadi di lapangan. Beruntung, gaya foto Oetomo yang spontan bisa mengantisipasi banyak kendala yang mungkin timbul. Misalnya, saat rencana awal harus ada properti berupa delman lengkap dengan kudanya, tetapi ternyata tidak ada. Nah, dia harus memutuskan dengan cepat bentuk lainnya. Biasanya, dalam waktu tiga hingga lima menit, Oetomo sudah punya ide baru.

Dia pun mengungkapkan, foto yang dibuat tidak semuanya berjalan lancar. Jadi, dibutuhkan improvisasi sambil jalan.

“Memang dibutuhkan kedewasaan tersendiri, dan jam terbang untuk me-manage dan meng-handle situasi seperti itu. Termasuk hal yang paling berat, yaitu bagaimana menjaga mood subjek,” ucap Oetomo.

Foto_Karya_Oetomo_4

Foto karya Oetomo untuk Alila Hotel yang diambil di Uluwatu, Bali

Fotografi, menurut oetomo, pada akhirnya sama seperti pekerjaan apa pun. Kalau chemistry-nya bagus, pasti menjalankannya akan lebih menyenangkan.

“Minimal menyenangkan hati kita dulu, sebelum kita laku dan dicari oleh klien,” kata Oetomo menutup perbincangan.

Gali lagi tentang fotografi dengan membaca artikel menarik berikut, Riza Marlon dan Monumen Dokumentasi Satwa Liar

0 comments