NOW READING

Nurulita: Fotografer Cantik yang Mengikuti Kata Hati

 6084
+
 6084

Nurulita: Fotografer Cantik yang Mengikuti Kata Hati

by The Daily Oktagon

Dunia fotografi pofesional tidak hanya didominasi oleh laki-laki. Perempuan juga banyak yang menekuni profesi ini. Nurulita Adriani Rahayu adalah salah satunya.

Di ujung masa kuliahnya di Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung, sekitar awal tahun 2000, perempuan asal Bandung yang akrab disapa Nurulita ini memutuskan untuk mulai belajar fotografi. Semua ia lakukan secara otodidak sambil kuliah.

Sempat mengambil kursus fotografi selama beberaa bulan, ia lebih senang belajar sendiri lewat buku dan majalah yang membahas seputar fotografi. Tidak hanya itu, ia juga sering berdiskusi dengan teman-teman kampusnya yang memiliki minat sama.

Usai lulus kuliah, ia dan beberapa teman fotografer di Bandung mendirikan studio foto kecil-kecilan. Sayangnya, ini tidak bertahan lama. Salah satu alasannya karena Nurulita punya ambisi lebih besar dari sekadar bekerja di studio foto kecil.

Tahun 2003, Nurulita memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Mengikuti jejak idolanya, Sam Nugroho, Nurulita memperkaya pengetahuan fotografinya dengan bekerja sebagai fotografer di perusahaan periklanan.

www.nurulita.com

 

Ia juga rutin mengikuti workshop fotografi. Dari situ, ia mulai mengetahui bagaimana seorang fotografer mengembangkan karier, yaitu dengan bekerja di media massa. Ia pun melamar ke majalah gaya hidup dan kecantikan Bazaar Indonesia.

Setelah bekerja selama 1,5 tahun, impian Nurulita fotografer profesional lewat studio yang ia dirikan sendiri (www.nurulita.com). Untuk lebih mengenal Nurulita, berikut adalah petikan wawancara The Daily Oktagon dengan perempuan cantik ini.

Mengapa memilih karier sebagai fotografer?
Karena mengikuti kata hati saya, dan saya sangat percaya dengan kata hati saya.

Apakah lingkungan Anda mempengaruhi karier Anda sebagai fotografer?
Saya suka fotografi bukan karena lingkungan sekitar. Bahkan di sekeliling saya kebanyakan bergelut di dunia eksakta, sains, dan teknis.

Mungkin awalnya sewaktu SMA sering memotret portrait teman-teman, jadi suka untuk “menangkap” karakter orang melalui media kamera.

Mengapa memilih genre fotografi fashion? Apakah ada alasan khusus?
Karena latar belakang saya yang pernah bekerja di sebuah majalan fashion ternama di Jakarta, jadi itu terbawa hingga saat ini. Selain fotografi fashion, saya juga mencintai foto beauty dan anak-anak.

Sekarang banyak sekali media di internet untuk memamerkan karya fotografi. Apakah Anda termasuk yang memanfaatkannya?
Nah itu dia masalah utama saya, jarang upload foto [tertawa]. Harus rajin upload nih, karena itu cukup membantu marketing. Sekarang sih saya hanya upload di website saja.

Dalam memotret, biasanya para fotografer memiliki gear andalan. Nah, apakah Anda memiliki gear andalan?
Nope, semua sama saja. Seperti pepatah mengatakan man behind the camera does matter. Rasa, gaya, dan taste tidak bisa diajarkan.

Terkecuali untuk keperluan tertentu. Komersil, misalnya, saya membutuhkan kamera dengan fokus yang cepat dan menunjang untuk mem-freeze gerakan.

Peralatan apa saja yang biasanya Anda bawa ketika memotret?
Paling hanya kamera, lensa, dan filter saja.

Bagaimana tanggapan Anda mengenai fotografer di Indonesia sekarang ini?
Saya terpana dan kagum. Banyak sekali karya-karya indah fotografer-fotografer muda saat ini.

Apa sih batu loncatan yang turut andil dalam karier Anda hingga saat ini?
Dari majalah, kemudian pindah ke dunia komersil.

www.nurulita.com

www.nurulita.com

Sejauh ini apa tantangan terbesar yang Anda hadapi sepanjang karier sebagai fotografer?
Team work. Untuk dunia fotografi komersil team work sangatlah penting untuk membaca pikiran dan keinginan satu sama lain.

Sedikit keluar dari fotografi fashion, apa tanggapan Anda mengenai foto profil?
Super Love foto profil. Karena bisa membuat orang nyaman dan percaya sama kita untuk ‘menangkap’ persona atau karakter aslinya, itu sesuatu sekali.

Bisa berikan tips sedikit untuk melakukan foto profil?
Buat mereka nyaman dan bangun kepercayaan mereka. Tanpa itu, fotonya tidak akan ada ‘nyawanya’.

Sumber foto: www.nurulita.com

0 comments