NOW READING

Nico Dharmajungen, Fotografer Tiga Dekade

 509
+
 509

Nico Dharmajungen, Fotografer Tiga Dekade

by The Daily Oktagon

Dunia fotografi di Indonesia memang tak kekurangan insan fotografer hebat yang memiliki reputasi mendunia. Salah satu fotografer yang memiliki karya terbaik adalah Nico Dharmajungen.

Nico yang kini berumur 71 tahun termasuk dalam jajaran fotografer senior yang sudah malang melintang di dunia fotografi komersil di Indonesia selama tiga dekade. Pak Nico, sapaan akrab saat diwawancara oleh The Daily Oktagon, menceritakan awal mula karir fotografi dan pandangannya terhadap dunia fotografi di Indonesia saat ini.

Pak Nic, menuturkan pertama kali dirinya mempelajari fotografi pada tahun 1970 saat masih sekolah di Jerman. Menimba ilmu di salah satu perguruan seni rupa saat itu, The Hochschule für bildende Künste Hamburg, Pak Nic memilih jurusan Visual Communication. Merasa jenuh pada seni lukis yang diajarkan pada waktu itu, dia akhirnya lebih memilih untuk menekuni Fotografi. Menurutnya, kawan-kawan dikelasnya sudah banyak yang lebih hebat dibidang seni lukis sehingga dia memilih bidang lain.

Baca juga : Mau Ikutan Berbagai Acara Fotografi? Instal Aja Aplikasi Cheers

“Aku belajar Sekolah Graphic Design 1 tahun dan aku boring lagi dan bikin painting, 5 tahun aku lukis . Baru aku balik lagi di fotografi. Karena aku merasa kalau aku jadi pelukis aku biasa aja,”ujar Pak Nic kepada TDO, di Cilandak Jakarta Selatan

Berbekal kamera film pemberian ayahnya, Pak Nic berguru dengan seorang fotografer Amerika, Alan Ginsburg, yang sedang menetap di Jerman. Pertemuannya kala itu, membuatnya mempelajari fotografi selama beberapa tahun.

Karyanya pun kemudian diakui. Pak Nic memperoleh apresiasi dari perusahaan baja pada tahun 1989. Penghargaan itu diberikan pada sebuah karya foto “besi tua” yang sebelumnya telah dipamerkan pada gallery Olympus di Hamburg .”5 tahun aku cuma shoot besi aja. special fine art nya (penghargaan) aku.  First fine artnya professor aku waktu itu, “tutur Pak Nic.

Selama wawancara yang dilakukan dengan The Daily Oktagon, Pak Nic pun menunjukkan hasil karya fotonya. Beberapa karya yang ditunjukkan memiliki nuansa kental “eropa”. Ia melukiskan cahaya yang indah, berani, dan memiliki makna yang dalam di setiap fotonya. Lengkukan garis, paduan warna, serta permainan cahaya yang rumit membuat bertanya-tanya setiap yang melihat.

Nama Nico begitu tersohor sebagai fotografer. Bahkan, Pak Nic mengaku sempat “pilih-pilih” job sebelum masa krisis moneter. Beberapa brand ternama pernah digarapnya mulai awal dekade 90’an seperti Gudang Garam, Sony Erickson, Red Liquid, Nivea dan lain-lain.

fotografer

Karya Pak Nic banyak diapresiasi baik oleh banyak kalangan. Dari sejumlah karya fotonya, pernah laku terjual ribuan hinggan puluhan ribu dollar saat itu. Pak nic mengaku sangat mencintai fotografi sehingga ia sering bereksperimen dan totalitas dalam setiap membuat karya foto. Dia pun telah berkeliling 5 benua dalam karirnya. Salah satu karya foto untuk kliennya bahkan pernah disebut menyimbolkan pemuja setan oleh masyarakat.

“Ini klien aku Ada punya showroom di Plasa Indonesia, foto ini 3×4 meter foto di depan showroom, tapi ada orang minta foto ini diturunin. Katanya pemuja setan. Untuk Brand Red,”ungkapnya.

Sebagai sesepuh yang sudah makan asam garam dunia fotografi, ia berpesan kepada anak muda yang serius menekuni bidang ini harus rajin membaca dan melihat agar memiliki taste. Ia menyindir kebiasaan fotografer yang selalu menggantungkan keindahan foto pada software photoshop tanpa mau melakukan eksperimen natural.

Baca Juga: Praktis, Dapatkan Jasa Fotografer hingga Make Up Pengantin di Aplikasi Ini!

Dari segi literasi pengetahuan,  ia juga menambahkan fotografi Indonesia sangat tertinggal puluhan tahun dari negara eropa. Seluruh literasi yang ada seharusnya bisa menjadi bahan agar menambah pengetahuan.

“Contohnya aku ikutin roy genggam. Dia bikin fotokopi dia ngomong fotografi mixam. Untuk aku itu Aku udah baca 40 tahun lalu. Dia ngomingin kritikus filsuf ngomongin fotografi “how to see” (buku). Dia ngomongin sekarang. Aku rasa aku udah baca 40 tahun lalu. Di indonesia siapa yang ngomongin lighting? Apa filosofinya?”ucapnya

Terakhir, dia berpesan ada tiga hal yang sangat  prinsip dan harus dimiliki oleh seorang fotografer yakni konsep, konten, dan konteks. Tiga prinsip ini bila dimiliki maka seorang fotografer akan memiliki taste dan mampu bertahan dengan zaman.

“Baca dan lihat. Baca penting. Karena makin banyak yang dilihat makin bisa mengerti. Tapi gak tau kadang kadang suka dianggap gampang. Fotografi is the end but the end fotografi is taste. Selera,”tutupnya.

0 comments