NOW READING

Mimpi Besar Indonesia Jadi Penggawa Ekonomi Digital ASEAN

 1207
+
 1207

Mimpi Besar Indonesia Jadi Penggawa Ekonomi Digital ASEAN

by The Daily Oktagon
  • Gaya hidup digital kian jadi bagian dari keseharian masyarakat di Indonesia, meski tak bisa disangkal juga kalau kita masih memiliki sederet tantangan yang perlu dihadapi bersama.
  • Pembahasan untuk mencari solusi atas berbagai isu di sektor kreatif dan digital juga jadi topik utama di ajang IdeaFest 2016, yang berlangsung akhir September lalu.
  • Seperti apa rencana pemerintah untuk memperkuat ekonomi digital Tanah Air? Bagaimana pemberdayaan usaha rintisan di sektor digital? Berikut ulasan The Daily Oktagon.

Sebagian dari kita pasti sudah pernah berbelanja online, membaca buku digital, atau memesan sarana transportasi lewat smartphone.

Gaya hidup digital, kian hari makin melekat dengan kehidupan kita. Bukan tidak mungkin, beberapa tahun ke depan, nyaris seluruh aktivitas sehari-hari kita bisa dilakukan secara online via digital device.

Tantangannya saat ini, apakah industri siap memenuhi kebutuhan teknologi komunikasi dan informasi untuk gaya hidup digital? Pertanyaan itulah yang secara umum menjadi dasar dari berbagai perbincangan di gelaran IdeaFest 2016, akhir September lalu.

Berbekal tema “The World Is Shift(Think), Are You Ready?“, paket mata acara IdeaFest membawa kita untuk melihat lebih dekat pertumbuhan dan masa depan industri kreatif di era digital di Indonesia.

ideafest 2016 ekonomi digital

Tantangan Pertumbuhan Industri Kreatif Digital di Indonesia

Sekilas membandingkan pertumbuhan industri kreatif digital di Indonesia, dengan beberapa negara berkembang lainnya, perkembangannya bisa dibilang lebih maju. Ibaratnya, dinamika usaha rintisan di bidang teknologi bukan seperti bayi yang baru lahir.

Beberapa startup buatan anak bangsa terbukti berhasil memikat investor dan telah meraup modal hingga miliaran dolar dari berbagai venture capital di dalam dan luar negeri.

Namun hal itu masih memiliki isu besar, yaitu soal penetrasi penggunaan internet. Terkait hal itu, Indonesia masih kalah kalau dibandingkan dengan beberapa negara lain di Asia Tenggara.

Berdasarkan data Internet World Stats per Juni 2016, penetrasi internet Tanah Air masih di bawah 40 persen (34,1%), jauh dari Singapura (81,3%), juga masih di bawah Malaysia (68,1%) dan Thailand (60,1%).

Padahal, internet adalah salah satu landasan utama perkembangan industri digital. Indonesia juga terbentur urusan kondisi geografis yang mempengaruhi upaya pemerataan dan pengembangan infrastruktur, hingga kompetensi sumber daya manusia (SDM) di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

ekonomi digital

Kegiatan penggiat ekonomi digital di Jogja Digital Valley, DI Yogyakarta. (Sumber: Instagram/JDV)

Menurut M. Awaluddin, Mantan Direktur Telkom, rendahnya penetrasi internet membuat kompetensi dan ekosistem digital di Indonesia belum cukup mapan, sehingga kinerja pelaku industri digital masih rendah.

Indonesia juga masih terbatas soal pengetahuan mengenai teknologi informasi dan komunikasi. Alhasil, kita belum cukup agresif dalam hal penciptaan atau produksi perangkat berbasis virtual reality atau augmented reality secanggih yang terjadi di luar negeri.

“Jumlah lulusan TIK Indonesia mencapai 250 orang setiap tahun. Secara kuantatif cukup, namun kualitas dan produktivitasnya kurang, karena perkembangan teknologi sangat cepat,” ungkap Azirman Djusan, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemkominfo.

Salah satu instrumen industri digital di Indonesia yang sedang berkembang adalah mobile gaming. Seperti apa evolusinya di Indonesia? Simak bahasannya di sini

Rencana Memimpin Ekonomi Digital di Asia Tenggara

Memang, pemerintah juga tak tinggal diam. Dalam cetak biru (blueprint), pemerintah menuangkan program Ekonomi Kreatif: Kekuatan Baru Indonesia Menuju 2025. Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga menargetkan Indonesia sebagai raksasa digital di Asia.

Salah satu aksi yang dilakukan pemerintah untuk mendorong industri digital ini adalah ketika Jokowi terbang ke Amerika Serikat dan mengunjungi Silicon Valley, area yang dikenal sebagai sentra industri digital dunia, di San Francisco, America Serikat, Juni lalu.

Saat itu Jokowi mengunjungi perusahaan-perusahaan teknologi raksasa seperti Facebook, Google, dan Twitter di sela agenda Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di California, AS.

Lawatan itu merupakan salah satu langkah Jokowi untuk mengadopsi best practices dan membawanya ke Tanah Air untuk mendorong perkembangan industri digital Indonesia ke level yang lebih tinggi.

Kunjungan itu juga digunakan sebagai kesempatan untuk menjaring dukungan dari mereka untuk membantu Indonesia mencapai misi sebagai negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.

ekonomi digital indonesia

Salah satu instrumen industri digital yang dianggap seksi oleh Jokowi adalah ecommerce, karena secara fungsional langsung terkait dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Selain itu, perlu diketahui juga kalau nilai transaksi ecommerce di Indonesia pada 2014 silam tercatat mencapai US$ 2,6 miliar, atau setara dengan Rp 33,5 triliun.

Lalu, secara terpisah Dewan Pengawas Asosiasi Fintech Indonesia (AFI) Dian Kurniadi pada acara pelatihan wartawan ekonomi di Kantor Perwakilan BI Semarang, di akhir September lalu, menyatakan kalau 2016 ini, nilai transaksi belanja online di Indonesia sudah mencapai US$ 14,8 miliar, atau meningkat sampai 500%, seperti dikutip dari Kompas.com.

Pertumbuhan fantastis itu pula yang membuat pemerintah memperkirakan kalau nilai transaksi ecommerce di Indonesia akan melonjak sampai US$ 130 miliar pada 2020, atau setara dengan nilai Rp 1,6 kuadriliun, jika dihitung dengan kurs saat ini.

Seperti apa pengaruh tren teknologi terhadap dunia bisnis, dan bagaimana menghadapinya? Simak di sini

“Potensi ecommerce kita sangat besar. Kami ingin semua orang merasakan manfaatnya, terutama para pelaku UKM. Ini menjadi fondasi untuk industri digital di Tanah Air,” ungkap Azirman Djusan.

Untuk merealisasikannya, pemerintah menggarap program Palapa Ring untuk infrastruktur jaringan internet dan infrastruktur jalan untuk memperluas pasar ecommerce hingga ke pelosok Tanah Air .

Selain itu, pemerintah juga tengah menyusun roadmap ecommerce yang menargetkan nilai ecommerce di Indonesia dapat mencapai US$ 130 miliar pada 2020. Pemerintah bahkan sedang ‘berguru’ pada Alibaba, raksasa ecommerce Tiongkok, untuk mendongkrak pasar Indonesia di sektor digital ini.

Menurut Direktur E-Business Kementerian Komunikasi dan Informatika, Azhar Hasyim, industri ecommerce di Tiongkok kini bisa sukses berkat roadmap yang jelas. “(ecommerce) Tiongkok bisa menyalip Amerika Serikat karena mereka punya roadmap, sehingga industri mereka tumbuh pesat,” kata Azhar saat ditemui The Daily Oktagon.

Mendorong Kompetensi dan Daya Saing Usaha Rintisan

Selain itu juga, untuk menghidupkan gairah industri digital, beberapa tahun terakhir ini, pemerintah gencar menggelar berbagai program dan pelatihan untuk memicu generasi muda agar lebih percaya diri dengan persiapan mumpuni untuk membangun usaha rintisan berbasis teknologi digital.

Aktivitas ini yang juga didorong sampai ke tingkat daerah. Bandung misalnya didukung lewat Bandung Technopolis, dan Yogyakarta melalui Jogja Digital Valley-nya.

Selain itu, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) juga berkolaborasi dengan banyak startup untuk mempromosikan berbagai layanan digital buatan anak bangsa.

Masih terkait dengan penguatan aspek sumber daya manusia, beberapa pelaku dari startup lokal diajak menempa ilmu di Silicon Valley, Amerika Serikat, lewat program kolaborasi bertajuk Google Launchpad Accelerator.

Enam perusahaan rintisan Indonesia yang dibawa terbang ke pusat industri teknologi dunia itu adalah HijUp, Talenta, Jarvis Store, Ruangguru, IDN Times, dan CodaShop.

Industri digital kreatif kini menghembuskan hawa segar di bumi Yogyakarta. Baca lebih lengkapnya di sini

Tetapkan Tujuan Berbasis Solusi, Fokus, dan Jangan Berpikir Instan

Sederet isu dan topik di atas yang juga benang merah percakapan di IdeaFest 2016 ini memang dilontarkan secara agresif untuk mendorong minat dan ide kreatif demi memperkuat ekonomi digital Indonesia.

Seperti pandangan Billy Boen misalnya, yang sempat menyampaikan kiat mengatasi tantangan untuk membangun usaha di era digital pada The Daily Oktagon saat ditemui di ajang IdeaFest 2016.

Menurut Billy, teknologi adalah keniscayaan, dan tidak bisa dibendung perkembangannya. Teknologi juga kerap dianggap sebagai instrumen yang mempermudah kegiatan pembangunan usaha. Tapi ia juga memperingatkan kalau teknologi juga bisa menghambat atau bahkan menggagalkan usaha rintisan.

“Teknologi membuat kita mudah mengakses informasi dan melakukan berbagai hal, tapi kalau tidak pintar menggunakannya, kita justru terjebak jadi generasi yang serba instan dan menganggap banyak hal terlalu praktis,” ujar Billy.

Disampaikan oleh Billy kalau sangat penting untuk para peminat usaha rintisan, baik yang berbasis teknologi pun tradisional, untuk fokus pada goal dan solusi yang ingin ditawarkan pada pengguna atau konsumen. Ditegaskannya, kalau produk atau layanan mesti bermanfaat untuk orang lain.

ekonomi digital di indonesia

Intinya, untuk membangun startup, jangan hanya bermodal pingin dan hasil browsing di internet tentang model bisnis atau aplikasi yang sedang populer. Pikirkan tentang solusi atas masalah, lalu bangun usaha secara bertahap, dengan proses belajar yang intens di tengahnya.

Belum tentu, solusi yang ingin kita tawarkan, atau model bisnis yang ingin diterapkan sudah pernah ada sebelumnya. Dan penting juga untuk sabar dan menjalani proses dengan ulet dan gigih. Teknologi mungkin mempermudah kegiatan teknis dalam berbisnis, tapi tidak membuat kegiatan usaha jadi lebih mudah secara prinsip.

“Lihat saja dulu Sergey Brin saat berjuang bangun Google dari nol. Goal-nya sederhana, yakni membuat seluruh informasi di dunia diperoleh dari mesin pencari Google,” tambah Billy yang juga pendiri Topkarir.com dan GDILab ini.

Jadi, untuk memperkuat perkembangan industri digital di Indonesia, hingga mampu menopang kebutuhan gaya hidup digital masyarakatnya, perlu peran serta aktif dari pemerintah dan pelaku usaha untuk bersama-sama membangun ekosistem yang kuat.

Jika pasarnya sudah ada, infrastruktur sudah siap, juga modal kapital dan pengetahuan sudah mumpuni, yang dibutuhkan juga adalah mental pengusaha yang ganas, dan tidak berpikir instan. Kalau sudah begitu, rasanya 2020 akan menjadi era yang menarik dan gaya hidup digital akan kian merata serta meresap dalam keseharian masyarakat di Indonesia.

Karena pemerataan adalah kunci Indonesia untuk semakin berdaya di bidang teknologi. Ikuti pendapat para pelaku sektor teknologi Tanah Air tentang hal itu, di sini

0 comments