NOW READING

Meremaja dengan Sastra Digital ala Fiksimini

 1920
+
 1920

Meremaja dengan Sastra Digital ala Fiksimini

by The Daily Oktagon

Membuat inovasi adalah hal yang istimewa, namun akan jauh lebih hebat jika bisa merawat dan terus memperbarui. Tantangan untuk terus melakukan penyegaran, kini tengah dihadapi komunitas Fiksimini. Bagi penggemar Twitter, komunitas yang berawal dari akun Twitter @fiksimini ini mungkin sudah tidak asing lagi. Maret nanti, Fiksimini akan memasuki usia enam tahun. Usia yang tidak muda untuk sebuah komunitas yang tetap eksis hingga sekarang.

Pembuatan akun @fiksimini pada 2010 diaktifkan oleh tiga penulis Clara Ng, Eka Kurniawan, dan Agus Noor. Siapa saja yang memiliki akun Twitter bisa mencoba menulis cerita dalam 140 karakter, dengan mengikuti topik tertentu yang telah ditentukan moderator. Beberapa tweet fiksi tersebut nanti akan di retweet sebagai bentuk penghargaan.

Memasuki tahun keenam kiprahnya, komunitas ini pun terus memperbarui diri. Nah simak ulasan The Daily Oktagon berikut, tentang bagaimana kiat-kiatnya agar terus meremaja dengan sastra digital ala Fiksimini

Fiksimini

Adapun nama-nama penulis semacam Salman Aristo dan Aan Mansyur juga ikut ke dalamnya. Saat ini amanah presiden komunitas Fiksimini dipercayakan kepada Oddie Frente, dibantu oleh penulis Andy Tantono dan beberapa moderator lain. Saat ini, followers akun sendiri mencapai 199 ribu akun. Target tembus 200 ribu pun dicanangkan Oddie dan kawan-kawan saat memasuki usia enam tahun nanti.

Menghadapi ulang tahun komunitasnya, Oddie mengaku berbagai hal terus dicoba agar Fiksimini terus berkibar. Misalnya saja kebijakan merahasikan identitas para moderator akun, dengan waktu penugasan yang acak.

“Bahkan antar moderator ada yang tidak tahu, agar tidak terjadi dia yang buat, dia yang retweet,” ujar Oddie saat diwawancara.

Kebijakan ini tidak terlepas dari pengalaman moderator. Dulu, para fiksiminiers–sebutan followers Fiksimini terlihat sudah tahu kecenderungan moderator dalam me-retweet fiksi tertentu. Misalnya ketika Clara Ng yang sedang bertugas, maka retweet cenderung fiksi dengan gaya kesukaan Clara.

“Ketika Agus Noor yang bertugas, maka tweet yang cenderung berjenis horor yang memang disukai Agus,” ungkap Oddie. Maka, kebijakan merahasikan moderator dijalankan, dengan harapan tweet yang masuk menjadi lebih jujur dan tidak melihat latar belakang moderator.

Tampilan Akun Twitter FiksiminiSalah satu tweet di akun Twitter Fiksimini

Untuk urusan moderator, Oddie memang mengaku mencoba untuk serius. Bahka,n beberapa peraturan dibuat layaknya sebuah perusahaan. Jika ada moderator yang mau mengundurkan diri misalnya, maka harus membuat pemberitahuan satu bulan sebelumnya. “Karena mencari moderator tidak gampang, selain punya kemampuan sastra yang baik, tentu yang bisa meluangkan waktu karena setiap hari bisa ada 2.000-3.000 mention,” jelas Oddie.

Para pengurus pusat menurut Oddie juga harus sering pergi ke daerah dan tidak boleh sombong. Tidak boleh hanya punya panggung sendiri.

“Saya misalnya ketika ada keperluan di kota tertentu, baik karena urusan kantor atau lainnya, berusaha menyempatkan diri bertemu dengan pengurus di kota tersebut. Begitu pun dengan moderator maupun mantan moderator lain”. Dengan begitu, menurut Oddie akan ada kedekatan, tidak hanya sebatas di timeline.

Baca juga, Indovidgram Ajak Anak Muda Berbagi Video Kreatif

Saatnya Regenerasi

Memasuki usia enam tahun, Oddie juga mengaku bahwa ini saatnya ada regenerasi, termasuk kepengurusan di kota lain. Dari catatannya, pengurus cabang komunitas pernah menyentuh angka sekitar 30 kota. Sementara saat menggelar acara nasional, bisa sekitar 500 pengurus yang datang berkumpul.

“Tetapi sekarang misalnya di Yogyakarta dan Bandung, para pengurus atau anggota kounitas rata-rata sudah lulus kuliah, sehingga ada yang mundur atau malah pindah ke Jakarta, sehingga perlu cari kepengurusan baru,” kata Oddie.

Regenerasi juga tak semata pada pengurus, melainkan juga para penulis yang berusia muda. Moderator menurut Oddie harus rajin mencolek pengikut yang masih muda. Oddie terkadang mendapat keluhan dari moderator bahwa mention yang masuk tidak ada yang bagus.

“Namun kita harus tetap retweet, karena dulu juga ketika kami masih muda, menulis yang ‘busuk’ juga, hahaha,” jelas penyunting buku Lima Teguk Kopi ini sambil tertawa.

Piknik_Pulau_Pari_dng_Buku_-_Menyambut_Hari_Buku_Nasional_17_Mei_2015Fiksimini saat menyambut Hari Buku Nasional 2015 di Pulau Pari – Kepulauan Seribu

Kebijakan melonggarkan standar retweet tidak dapat terelakkan karena siklus usia pengikut yang ada saat ini. Para moderator beritikad untuk tetap mendongkrak pengikut yang muda agar bisa terus semangat belajar.

“Padahal di masa awal komunitas ini, standarnya justru cenderung dinaikkan. Apa yang kita tweet 3-4 bulan yang lalu, tidak akan bisa punya kesempatan di-retweet lagi,” ujar Oddie.

Moderator pun tetap berusaha mengenalkan tema baru bagi pengikut muda, walau tema itu mungkin sudah usang di kalangan moderator. Tema-tema yang punya twist seperti malaikat, mutilasi, walau terkesan kuno, dan sudah berulangkali menjadi topik harian, menurut Oddie akan tetap mendapat respon dari para penulis muda. Sementara itu, di luar aktivitas online, komunitas ini juga membuat berbagai pelatihan.

“Kami misalnya membuat pelatihan creative writing for young. Lagi-lagi untuk yang muda. Jadi kita coba ‘tutup kuping’ dengan yang sudah tua-tua,” ujar Oddie sambil tersenyum.

GathNas_Ke-2_-_Guyub_Desa_-__Yogya_2012Fiksimini saat gathering di Yogyakarta

Oddie menyebut berbagai usaha ini sebagai, “meremaja dengan sastra”, tanpa harus menjadi Jakarta-centries dengan “loe-gue”, bahkan beberapa bahasa sehari-hari seperti “nggak”, tidak akan ditulis dengan singkatan “gk”. “Berbahasa yang rapi bisa menjadi dasar yang baik ketika kita terjun ke dunia karier,” ungkap Oddie.

Pelatihan yang digelar pun menurut Oddie berusaha mendatangkan berbagai role model, sehingga pengikut bisa sadar bahwa dari Fiksimini, nanti bisa menjadi professional di berbagai bidang seperti content writer, penulis, atau comedian stand up.

Cair dalam Dunia Digital

Pelatihan, gathering, atau kegiatan offline lain juga diadakan dengan maksud lain. Dari 2010 Oddie mengaku sudah melihat saat itu Facebook sudah menurun, maka kemudian orang beralih ke Twitter yang sejalan dengan digital lifestyle. Kini Twitter juga menurun. Sehingga alih-alih media sosial berganti tren, komunitasnya bisa terus eksis. Di sisi lain, Fiksimini menurut Oddie harus tetap bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi, misalnya Internet of Things (IoT) .

“Dulu seperti ada e-book, kemudian sekarang ada e-library. Sekarang kita juga meluncurkan kembali website, dan tetap melihat berbagai perkembangan aplikasi. Karena akun kita hidup di dunia digital, maka kita harus sangat cair,” ungkap pria berkacamata ini.

Kendati terasa terlambat untuk meluncurkan website, Oddie bersikeras hal itu penting dengan tujuan antara lain organisasi akan lebih rapi dalam menata database. Pengikut komunitas bisa mendaftarkan diri di website sehingga menjadi dasar database. Dengan database yang lebih tertata, akan banyak langkah organisasi yang dilakukan dengan lebih baik, mulai dengan melakukan pelatihan yang lebih tepat sasaran, hingga ketika ingin bekerja sama dengan pihak sponsor. Tak ada kata untuk terlambat, dan tak ada kata terlambat untuk kembali muda ala Fiksimini.

Bicara soal komunitas, jangan lewatkan artikel menarik berikut, Upaya Masyarakat Fotografi Majukan Industri Fotografi Indonesia

1 comments