NOW READING

Meraba Kesiapan Teknologi Smart Home di Indonesia

 2598
+
 2598

Meraba Kesiapan Teknologi Smart Home di Indonesia

by The Daily Oktagon

Era digitalisasi diperkirakan terus bergulir ke ragam perangkat lain. Perkembangan teknologi yang kian mutakhir mendorong adopsi teknologi yang tak terbatas pada perangkat mobile saja.

Pada 2016, hasil riset Gartner memprediksi terdapat 1,6 miliar perangkat terhubung di dunia yang akan digunakan untuk kota pintar (smart city). Artinya, konsep Internet of Things (IoT) akan semakin banyak diadopsi. Namun, smart city tak akan terealisasi jika tak berangkat dari adopsi smart home lebih dulu.

Terkait hal di atas, bisa baca juga realisasi teknologi smart home yang makin nyata di era Internet of Things

Nah, The Daily Oktagon kali ini akan mengajak pembaca untuk mengenal lebih dalam soal smart home dari kacamata Founder Oktagon, Wirjadi Lorens.

teknologi smart home di indonesia

Smart home mungkin belum akrab di telinga kebanyakan orang. Ya, smart home merupakan sebuah konsep digitalisasi rumah yang mengandalkan sistem komputer secara otomatis dan terprogram komputer. Sejatinya, konsep rumah pintar telah banyak digaungkan banyak perusahaan teknologi dan telekomunikasi di dunia, termasuk Indonesia.

Bagi Wirjadi, konsep smart home bukan lagi hal baru di luar negeri. Pasalnya, ekosistem digital, baik internet maupun perangkat, telah cukup menunjang adopsi smart home di negara lain.

Berbeda dengan Indonesia yang masih penetrasi internetnya masih merangkak. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat pengguna internet di Indonesia baru mencapai 80 juta.

“Selain itu, entrepreneur lokal di Tanah Air belum memperhatikan soal (perangkat) Internet of Things karena mereka masih belajar seputar itu, misalnya device,” ujar Wirjadi Lorens pada The Daily Oktagon.

Baca juga pandangan Wirjadi Lorens tentang tren audio device

Belum lagi, populasi Indonesia yang tersebar di seluruh penjuru, tak semuanya tinggal di kota besar. Banyak penduduk tinggal di daerah-daerah yang sebetulnya belum membutuhkan konsep ini.

“Ya jika dibandingkan di kota besar tentu berbeda. Penghuni apartemen sudah pasti prefer smart home. Perabotan terkoneksi Bluetooth, memiliki PIN, dan autolock. Lebih ringkas,” ucapnya. Karena, lanjut Wirjadi, konsep smart home memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya hemat listrik dan waktu, kenyamanan, dan lebih aman.

Wirjadi menilai bahwa tantangan Indonesia dalam mengadopsi smart home hanyalah soal waktu. Meski, lagi-lagi terbentur dengan keterbatasan ekosistem perangkat.

wirjadi lorens oktagon

Founder Oktagon, Wirjadi Lorens di ruang kerjanya. (Sumber foto: Dokumentasi pribadi)

Beberapa waktu lalu, dunia sempat mengadakan pesta teknologi si Barcelona, di mana sejumlah produsen teknologi terkemuka memamerkan produk pintarnya. Misalnya, LG dan Samsung yang pamer kulkas pintar berbasis Android.

Di Indonesia, beberapa produk smart home juga mulai banyak memasuki pasar, antara lain kulkas, wireless remote, lampu LED, router Wi-Fi, hingga sensor keamanan rumah.

Simak pula bahasan tentang persaingan perangkat smart home di 2016

Mengacu hal di atas, Wirjadi meyakini bahwa Indonesia akan sampai ke tahap itu. Ia memperkirakan adopsi smart home di Indonesia akan ramai dalam 10 tahun mendatang.

“Dalam 3 tahun lagi, saya kira masyarakat Indonesia sudah mulai mengadopsi smart home. Dan 10 tahun lagi, produk smart home sudah menjadi barang umum seperti smartphone,” lanjut Wirjadi.

Tak mengagetkan bahwa segala macam perabotan di masa depan akan terkoneksi internet. Semua ini akan dikendalikan lewat sebuah aplikasi yang dapat diunduh pada ponsel ataupun tablet.

0 comments