NOW READING

Mengulik Fenomena Video Online, Mampukah Menjadi Alternatif Tayangan TV?

 2319
+
 2319

Mengulik Fenomena Video Online, Mampukah Menjadi Alternatif Tayangan TV?

by The Daily Oktagon

Video dari YouTuber Indonesia dengan nama akun Last Day Production ini dibuat dengan sederhana saja, dengan kamera tunggal dan tanpa editing yang neko-neko. Namun, video bertajuk “10 Hal Kecil yang Bikin Emosi” ini ternyata menyedot perhatian penonton YouTube, dan telah ditonton hingga 1,4 juta kali sejak diunggah pada September lalu.

Ini bukan satu-satunya video dari Last Day Production yang menembus angka satu juta view. Banyak video dari akun yang dikelola oleh Leon Zheyoung dan Listia Magdalena ini, telah ditonton minimal puluhan ribu kali.

Di jagat Youtube, Last Day Production tidak sendirian. Ada sejumlah nama populer lain dari Indonesia, sebut saja skinnyindonesian24, Bayu Skak, Edho Zell hingga Raditya Dika. Seperti Smosh, Nigahiga, atau Pewdipie—akun personal yang masuk dalam peringkat sepuluh besar subscribers terbanyak di dunia—para YouTuber lokal ini telah mampu memproduksi konten secara rutin, sekaligus menarik penonton dalam jumlah massif untuk mampir melihat video mereka.

shutterstock_245021482

Industri konten Indonesia, baik dari aspek produksi dan konsumsi, memang tengah mengalami perkembangan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Data yang disampaikan Google pada Oktober lalu misalnya, menunjukkan bahwa pada tahun ini angka penonton YouTube Indonesia termasuk yang tertinggi di wilayah Asia Pasifik, dengan angka durasi menonton yang naik 250 persen dibandingkan tahun lalu. Sebanyak 23 persen dari penonton, menonton video selama 30 menit hingga lebih.

Tentu menarik membaca data di atas. Nah, artikel ini mengajak Anda untuk menggali soal fenomena video online di Indonesia, mampukah menjadi alternatif tayangan TV? Langusung saja simak ulasannya.

Tak Sekadar Dukungan Infrastruktur

Pakar teknologi informasi Teguh Prasetya menyebutkan, ada banyak faktor mengapa tren ini makin menguat selama beberapa tahun terakhir, Yang pertama, tren ini didukung oleh pesatnya perbaikan jaringan broadband di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. “Sekarang bahkan kita sudah bisa mengakses 4G,” katanya saat berbincang dengan The Daily Oktagon, Jumat, 4 Desember lalu.

Selain itu, ujar Teguh, akses masyarakat terhadap layanan video streaming makin terbuka berkat penetrasi perangkat teknologi seperti tablet dan smartphone. Apalagi, teknologi yang ditanamkan ke dalam perangkat pintar ini, juga membuatnya mampu menamplikan video streaming dengan semakin apik. Ditambah lagi kultur ‘berbagi’ pada sosial media juga ikut mendukung perkembangan tren ini. “Secara personal, orang-orang tergerak melakukan sharing atau broadcast,” katanya.

shutterstock_242061400

Tak hanya dari segi infrastruktur dan akses terhadap perangkat teknologi, Teguh melihat perkembangan tren ini juga didukung oleh aspek psikologis. Menurutnya, bentuk komunikasi audio-visual adalah satu hal yang paling menarik dan mudah dicerna oleh manusia. “Istilahnya, menjual dengan video itu adalah hal yang sangat mudah. Sekarang misalnya, tak ada situs korporat yang tak menggunakan video,” katanya.

Sebelum lanjut, baca dulu ulasan menarik ini, Indovidgram Ajak Anak Muda Berbagi Video Kreatif

Alternatif Media Konvensional?

YouTube, yang merupakan situs paling banyak dikunjungi di dunia setelah Google dan Facebook, juga telah lama menangkap sinyalemen menguatnya tren ini di Indonesia. Satu wujud nyatanya, adalah peluncuran situs YouTube yang dilokalisasi pada 2012 lalu. Tak hanya menggunakan domain.id dan antarmuka berbahasa Indonesia, mereka juga menjalin kerjasama dengan sejumlah perusahaan untuk mendorong produksi konten lokal. Salah satunya adalah Layaria, startup yang didirikan oleh Dennis Adhiswara.

“Saya semula bekerja di stasiun televisi membuat sinetron stripping. Tapi saya merasa televisi kurang berani bereksperimen dalam tayangannya,” katanya. Merasa tidak sreg, Dennis kemudian keluar dari pekerjaannya, dan mencari cara untuk memproduksi konten audio visual sendiri. Karena biaya produksi televisi yang mahal, pilihan jatuh pada produksi konten video online yang ongkos produksinya jauh lebih terjangkau.

Layaria yang didirikan oleh Dennis pada November 2012 ini, bertugas mengoptimalisasi channel YouTube yang tergabung di bawahnya, mengelola aspek produksi, sponsorship, hingga marketing. Hasilnya, diawali dengan kantor di rumah sendiri dan dua pegawai, dalam waktu tiga tahun telah bergabung lebih dari seratusan YouTuber dan 17 di Layaria. Startup ini pun telah membuka studio di Jakarta, Surabaya dan sedang mempersiapkan studio di Yogyakarta.

Dennis menyebut salah satu misi Layaria adalah memberikan alternatif tontonan bagi publik. Ia yakin, saat ini pun konten video online sudah bisa disebut sebagai alternatif tontonan dari media konvensional, terutama bagi kalangan muda. “Saya rutin mengunjungi sekolah-sekolah, dan ketika saya bertanya apa mereka rutin menonton televisi responnya sedikit. Sebaliknya pada video online responnya besar sekali,”ujarnya.

Saat ini, ujar Dennis menambahkan, penonton terbesar konten video online berada pada golongan muda usia sampai 15 sampai 25 tahun pada golongan ekonomi A dan B. “Pada anak muda golongan ekonomi C dan D mungkin televisi tetap menjadi konsumsi utama, tapi itu karena mereka tak memiliki akses terhadap smartphone atau Internet,” katanya.

Menurutnya, salah satu penyebab pergeseran dari media penyiaran tradisional ini terjadi karena sekarang pola konsumsi media anak muda tidak bisa lagi terikat mengikuti jadwal acara televisi. “Mereka ingin agar dapat mengakses konten kapan pun dan di mana pun, sesuai keinginan dan mereka,”katanya. Apalagi, terdapat banyak ragam dan variasi opsi konten yang bisa dipilih para penonton sesuai keinginan masing-masing.

shutterstock_256772473

Sependapat dengan Dennis, Teguh menyebut konten video online memiliki posisi yang kuat untuk menjadi alternatif dari media penyiaran konvensional. “Apalagi media ini dapat menjangkau penonton secara internasional, kontennya juga disimpan sehingga dapat selalu diputar ulang,” ujarnya. Dennis sendiri juga menyebut bahwa pasar internasional, terutama di kawasan Asia Tenggara yang serumpun—minat pada video online asal Indonesia cukup besar.

Hanya, kata Teguh, ada beberapa tantangan dalam mengembangkan produksi konten video online secara maksimal. Yang pertama adalah soal pengembangan bisnis dan monetisasi agar dapat menjadi sebuah industri yang kuat. Selanjutnya, adalah soal perlindungan hak cipta.

Teguh juga menyebutkan idealnya dibutuhkan penonton yang memiliki kedewasaan berpikir dalam mencerna pesan dalam konten video di media sosial. “Karena pesan dalam media ini sifatnya sepihak, berasal dari pikiran pribadi pembuatnya dan tidak menuntut adanya asas keberimbangan seperti media massa, maka dituntut kedewasaan penonton dalam menerimanya,” katanya.

Di luar tantangan ini, Teguh meyakini bahwa fenomena meledaknya konten video online di media sosial bukan sekadar tren yang sifatnya sesaat. “Saya yakin dengan kekuatannya, media ini sangat mampu bertahan lama,” ujarnya.

Mau hasil video yang keren? Pelajari lewat artikel berikut, Mengambil Video ala Sineas Profesional Bersama DJI Osmo

0 comments