NOW READING

Mengenal Coworking Space Sebagai Tempat Bernaung Startup

 2833
+
 2833

Mengenal Coworking Space Sebagai Tempat Bernaung Startup

by The Daily Oktagon

Ruangan di lantai tiga gedung One Wolter Place yang terletak di Jalan Walter Monginsidi, Jakarta Selatan ini sedikit mengingatkan pada gambaran ruang kerja perusahaan teknologi yang kerap dimuat di media massa. Ruang kerjanya dibuat terbuka tanpa sekat, para pekerja bebas duduk di kursi yang menghadap jendela besar atau sofa, dengan karpet hijau muda yang digelar di lantai. Kesan yang muncul adalah modern dan playful, tanpa meninggalkan sisi profesionalisme.

Ruangan ini, memang bukan tempat kerja sebuah perusahaan teknologi. Namun, tak sedikit developer, designer, hingga pendiri startup yang ngantor di tempat ini. Ini adalah Comma salah satu coworking space yang berada di Jakarta.

shutterstock_194915339

Coworking space yang kadang disebut juga sebagai kantor bersama, adalah ruang di mana siapa pun dapat menyewakannya untuk bekerja secara bersamaan. Sistem penyewaan, bisa diatur dalam jangka waktu tahunan, bulanan, harian, bahkan per jam. Sejak booming startup di Indonesia beberapa tahun belakangan, coworkingspace muncul bak cendawan di musim hujan.

Kantor semacam ini umum digunakan, sejalan dengan meningkatnya perkembangan teknologi. Hanya berbekal ruangan secukupnya, koneksi Internet, serta beberapa device, Anda bisa langsung bekerja. The Daily Oktagon mengajak Anda mengenal coworking space sebagai tempat bernaung startup yang mendukung digital lifestyle.

Sebelumnya, baca juga artikel menarik berikut, Komuitas yang Relevan dengan Digital Lifestyle ala Safiq Pontoh

Di Jabodetabek misalnya, selain Comma terdapat nama-nama seperti Conclave, Kolega dan WorkOut di Jakarta, serta Code Margonda di Depok. coworking space di Bali pun tumbuh tak kalah pesat, dengan munculnya Hubud, LineUp Hub dan Wave. Sementara Telkom memiliki Bandung Digital Valley dan Jogja Digital Valley (JDV).

“Yang menggunakan tempat kami sebagian besar memang freelance atau dari kalangan startup, meski kalangan profesional juga ada. Sebagian besar dari bidang IT,” ujar Bradhika Ayodya, Chief Marketing Officer Conclave.

code margonda

Lokasi Favorit bagi Startup

Menurut Bradhika, keberadaan coworking space merupakan salah satu pendorong pesatnya pertumbuhan startup di tanah air. Alasan pertama, tempat ini membantu menyediakan alternatif pilihan untuk memenuhi kebutuhan terhadap ruangan kantor. “Apalagi bila berbicara Jakarta yang sewa kantornya sangat mahal,” ujar Bradhika.

Dia menambahkan, dibandingkan kafe atau rumah sendiri yang juga kerap menjadi lokasi pilihan pendiri startup atau freelancer untuk bekerja, coworking space didesain minim distraksi sehingga pengguna dapat lebih fokus dan efektif menyelesaikan pekerjaanya.

Memang, dibanding menyewa ruang kantor sendiri, menggunakan coworking space dapat menjadi pilihan yang lebih efisien dari segi biaya, terutama bagi startup pemula yang harus memperhitungkan biaya operasionalnya secermat mungkin.

Conclave, misalnya, untuk biaya penyewaan per tahun mematok biaya Rp 25 juta,atau Rp 3 juta untuk sewa per bulan, Rp 200 ribu untuk harian dan Rp 50 ribu dalam hitungan jam. Fasilitas yang didapat antara lain Internet, perpustakaan, loker pribadi, printing, dan copy. Untuk kebutuhan khusus, terdapat pula auditorium dan ruang rapat yang bisa disewa pengguna dalam jangka waktu harian atau per jam. Ditambah lagi, banyak coworking space yang juga memberikan fasilitas berupa alamat domisili bagi startup, untuk mempermudah perizinan usahanya.

hubud

Selain persoalan menyediakan ruangan, Bradhika menyebutkan hal yang penting dari keberadaan coworking space ini adalah agar para pelaku startup ini dapat bertemu dengan pelaku startup atau pekerja dari latar belakang berbeda seperti desainer, investor, atau freelancer yang juga berkegiatan di tempat ini.

“Sifatnya jadi seperti komunitas. Dengan begitu, kolaborasi antar mereka yang bekerja di coworking space sangat mungkin terjadi,” ujarnya.

Hal serupa, diakui oleh Aulia Halimatussadiah, penulis dan pendiri startup NulisBuku. “Saya dulu merasakan bahwa startup founder was a lonely job. Coworking space, membuat para founder ini tidak merasa sendirian, bahwa they are part of something big,” ujar perempuan yang akrab disapa Ollie ini.

Dia juga menyebutkan, dengan bertemu para pekerja lain di coworking space yang memiliki ragam latar belakang, Ollie dapat memperluas jaringan, dan kesempatan melakukan kolaborasi akan semakin terbuka lebar. Karena itulah, meskipun ia telah memiliki kantor sendiri,Ollie masih sering ngantor di coworking space. “Sekitar seminggu sekali saya biasa ke Comma atau coworking space yang lain,” ujarnya.

Kebijakan
Hanya saja, beberapa waktu lalu muncul Surat Edaran No 41 Tahun 2015 dari Pemerintah DKI Jakarta yang menyebutkan akan membatasi keberadaan Virtual Office, yang memungkinkan satu alamat bisa digunakan oleh banyak perusahaan sekaligus. Pemda mengkhawatirkan, hal ini dapat dimanfaatkan perusahaan fiktif untuk dapat beroperasi. Sejumlah pihak, mengkhawatirkan kebijakan ini akan mempengaruhi keberadaan coworking space.

Ollie menyebutkan, pemerintah perlu berhati-hati dalam mengambil langkah ini, mengingat coworking spaceadalah bagian dari ekosistem yang sangat mendukung perkembangan startup di Indonesia. “Bila perlu, pemerintah dapat mengadakan kerjasama dengan coworking space agar perusahaan dapat terdaftar dengan baik, jangan sekaligus semuanya dilarang,” ujarnya. Apalagi, dia pun meyakini komunitas yang tumbuh dalamcoworking space ini, jauh dari urusan tipu menipu.

Bradhika sendiri optimistis, kebijakan tersebut tak akan terlalu mempengaruhi Conclave, karena pihaknya lebih menitik beratkan pada usaha penyewaan ruang untuk bekerja. Namun, ia sepakat bahwa pemerintah harus mengkaji kebijakan ini dengan teliti. “Karena coworking space sebenarnya saat ini sangat dibutuhkan oleh startupdi Indonesia,” ujarnya.

Anda tentu juga suka dengan artikel ini, Ini Deretan Tablet Terbaik 2015 untuk Menunjang Digital Lifestyle

0 comments