NOW READING

Menceritakan Festival Budaya Lewat Foto

 131
+
 131

Menceritakan Festival Budaya Lewat Foto

by The Daily Oktagon

Foto Utama: Lukas Setiatmaja/Komunitas Kesengsem Lasem

  • Komunitas Kesengsem Lasem merupakan komunitas travel yang gemar mengabadikan momen perjalanannya
  • Tiap destinasi wisata memiliki acara perayaan atau festival. Namun mengabadikan festival bukan sekadar foto keramaian, melainkan apa yang dirayakan dan apakah melibatkan masyarakat setempat
  • Mengabadikan foto sebuah acara festival pun tidak sekadar riuh dan lansekap acara yang berlangsung tetapi juga bercerita lewat satu bingkai gambar.

Lasem merupakan situs kota tua pecinan di Kabuten Rembang, Jawa Tengah yang telah berdiri dari abad 17. Di kawasan tersebut terdapat banyak potensi wisata seperti wisata religi Islam, batik tulis yang khas, ladang garam, hingga wisata alam berupa pantai, air terjun, dan bukit.

Deskripsi panjang Lasem ini berasal dari pengakuan Astri Apriyani salah satu founder Kesengsem Lasem, sebuah komunitas yang aktif mengabadikan momen acara adat masyarakat di wilayah ini.

Di era digital saat ini semakin mudah menemukan banyak destinasi wisata baru di berbagai wilayah Indonesia yang kemudian menjadi populer.

Fenomena ini tentu didorong oleh pemanfaatan media sosial yang juga dimanfaatkan berbagai komunitas dengan mengunggah konten yang berisi daya tarik dari destinasi tersebut. Kesengsem Lasem menjadi salah satu contohnya.

Menggugah Mereka yang Melihat

Kesengsem Lasem dipelopori oleh Astri yang akrab disapa Atre, bersama rekannya yang terdiri dari para penulis, travel blogger dan fotografer travelling yang sedang melakukan riset di 2015.

Atre menemukan bahwa kawasan Lasem memiliki potensi sebagai destinasi wisata yang lengkap dan menarik namun sayangnya masyarakat setempat kurang paham untuk mengolahnya.

Oleh sebab itu Atre menciptakan gerakan yang berbentuk seperti komunitas untuk memperkenalkan potensi kawasan Lasem kepada khalayak luas dengan memanfaatkan media sosial, salah satunya di Instagram. Akun Instagram dengan nama Kesengsem Lasem saat ini sudah memiliki 4.600 anggota yang ikut dalam gerakan ini.

Founder sekaligus kontributor Kesengsem Lasem (Dok. Kesengsem Lasem)

“Kami juga mengadakan banyak workshop untuk masyarakat Lasem, seperti kegiatan menulis, media sosial, hingga brand image dan marketing. Semua itu dilakukan supaya masyarakat Lasem punya bekal untuk belajar memajukan pariwisata mereka,” beber Atre.

Menurutnya, Kesengsem Lasem kini memang bukan hanya komunitas semata, namun sudah menjadi sebuah gerakan. Alasannya karena ketimbang menjadi sebuah komunitas, sebuah gerakan bisa membawa dampak lebih berarti bagi masyarakat dan daerah tempat berlangsungnya sebuah acara perayaan atau festival.

Mau buat live streaming dari festival? Smartphone Asus Zenfone Live bisa jadi pilihan smartphonenya

Bukan Sekadar Keriuhan

Atre menyadari bahwa media sosial seperti Instagram cukup populer untuk memperkenalkan sebuah destinasi wisata, terutama foto-foto yang dapat bercerita tentang destinasi tersebut yang disertai kaidah fotografi yang baik serta menarik dilihat.

“Menarik itu sebenarnya relatif tetapi kalau tidak menarik nanti misinya tidak tercapai jika tidak ada yang ingin melihatnya,” ungkap Atre.

Salah satu foto yang menarik dari sebuah destinasi wisata adalah foto acara perayaan atau festival yang bagi kebanyakan orang dan wisatawan di anggap langka. Bahkan demi momen tersebut banyak orang rela datang jauh-jauh untuk menyaksikan langsung acara tersebut.

(Dok. Komunitas Kesengsem Lasem)

Bagi Atre mengabadikan acara festival lewat foto bukan sekadar menggambarkan keriuhan dari sebuah perayaan yang diisi dengan tarian, musik, dan melibatkan orang banyak. Justru harus ada cerita menarik dibalik foto tersebut sehingga foto memiliki nilai lebih dan secara tidak langsung bermanfaat.

“Harus ada yang diceritakan, apa yang rayakan, dan apakah benar-benar melibatkan masyarakat setempat karena pada dasarnya festival adalah festival rakyat, dan apakah foto tersebut bisa berguna di kemudian hari,” ujar pengguna Sony A6000 ini.

Atre mencontohkan Festival Lembah Baliem, melibatkan ratusan lelaki Papua dari puluhan suku asli mengenakan pakaian adat dan adegan berperang dengan tombak di tangan.

Festival ini menjadi menarik karena ada yang otentik di dalamnya, melibatkan masyarakat, dan menyajikan tradisi atau budaya Papua yang sehari-hari sudah ditinggalkan. Termasuk di dalamnya, ada pula berbagai atraksi lain, seperti karapan anak babi, bakar batu, pembuatan noken, atau tari-tarian lain.

Cari mirrorless baru? Ulasan Canon EOS M6 ini dapat jadi rujukan

Wow Factor Hingga Izin

Senada dengan Atre, Stephannus Hannie sebagai fotografer yang juga tergabung dalam Kesengsem Lasem menjelaskan, foto festival bukan sekadar foto lansekap yang menangkap riuhnya acara perayaan atau festival yang berlangsung.

Bagi pria yang akrab disapa Hannie ini, dalam mengabadikan acara perayaan atau festival ada banyak peluang untuk mendapatkan foto yang menarik.

“Pertama pilih festival atau acara yang unik. Jangan yang sudah over publicity karena orang pasti sudah bosan sehingga sebagus apa pun foto kita akan kehilangan power-nya. Kalau tidak bisa, bisa digunakan pendekatan dengan tema atau teknis yang khusus atau berbeda,” ucapnya.

Lalu selama mengabadikan momen, menurut Hannie ada poin yang harus diingat seperti “wow factor“, gaya fotografi yang berbeda, dan juga bercerita serta impactful bagi yang melihat.

Hal ini persis seperti yang ditekankan Atre. Be unique and be different, Pilih acara festival yang unik dan jangan yang over publicity karena orang sudah bosan, sehingga akhirnya foto justru kehilangan power. “Kalaupun harus meliput acara yg sudah umum gunakan pendekatan tema atau teknis yang beda.”

Lanjut Atre, Kebanyakan orang berpikir bahwa momen acara perayaan atau festival sekadar pada pertujukan berlangsung. Padahal cerita dari foto tersebut sudah dimulai sejak sebelum acara berlangsung.

Makanya untuk mendapatkan momen cerita, bisa dimulai dari acara persiapan, yaitu backstage dan gotong royong. Kemudian acara puncak, dan yang terakhir yang sering dilupakan adalah pasca event.

Secara teknis menurut Hannie, ada beberapa poin yang mesti dilakukan secara runut sebagai persiapan untuk mengabadikan momen acara perayaan yang akan berlangsung.

Pertama misalnya, pelajari sejarah dan filosofi festival tersebut, termasuk lokasi dan masyarakatnya. Kemudian sampai di tempat sebelum hari H untuk melakukan survey untuk menemukan spot-spot pengambilan foto terbaik.

Pelajari juga foto yang sudah ada untuk mengembangkan ide kreatif yang lebih menarik dan berbeda. Baru setelah semuanya kita mempersiapkan peralatan seperti kamera dan lensa yang sesuai dengan kondisi lokasi dan waktu acara berlangsung,” jelas Hannie yang memakai Nikon DF.

Hal lain yang tak kalah penting adalah meminta izin kepada masyarakat setempat. “Banyak orang lupa sopan-santun demi mendapatkan foto terbaik, jadi tetap jaga etika. Misalnya datang lebih awal sebelum acara untuk berkenalan, sehingga bisa mendapatkan foto yang lebih baik dan bercerita,” imbuh Atre.

Atre dan Hannie sudah membuktikan diri bahwa mereka kesengsem (jatuh cinta) dengan Lasem. Mungkin sekarang giliran Anda untuk jatuh cinta dengan destinasi unik lain dan mengabadikan keindahannya lewat foto?

Ingin tripod yang ringkas? Simak ulasannya di sini

0 comments