NOW READING

Membingkai Dunia Astral Bersama Ghost Photography Community

 1466
+
 1466

Membingkai Dunia Astral Bersama Ghost Photography Community

by The Daily Oktagon
  • Ghost Photography Community atau sering disingkat “GPC” ini didirikan sejak 15 November 2013 lalu.
  • Komunitas didirikan atas dasar keinginan hobi fotografi yang tidak mainstream. Pendiri GPC Mickey Oxcygentri, mengaku bosan dengan objek fotografi yang diambil karena temanya terbatas dan itu-itu saja.
  • Mickey juga mengungkap jenis kamera apa yang paling ideal digunakan untuk menangkap hantu, serta menjelaskan teori ilmiah mengapa hantu pada akhirnya bisa tertangkap kamera.

Fotografi memang merupakan hobi yang ditekuni banyak orang. Namun, bagaimana jika objek fotonya seperti hal-hal gaib semacam hantu? Mungkin terdengar tidak lumrah.

Pada kenyataanya, hobi yang disebut dengan istilah fotografi hantu tersebut memang benar-benar dilakukan segelintir pecinta fotografi. Mereka yang kerap memburu objek foto di kelam malam ini, tergabung dalam komunitas bernama Ghost Photography Community.

Untuk informasi, Ghost Photography Community atau sering disingkat “GPC” ini didirikan sejak 15 November 2013 lalu.

Komunitas yang berbasis di Depok tersebut berbagi kisah pengalaman memotret tempat-tempat angker di Indonesia kepada The Daily Oktagon. Untuk lebih lengkapnya, simak wawancara kami bersama GPC berikut ini.

Anti-Mainstream

Pendiri GPC Mickey Oxcygentri, mengungkap alasan mengapa komunitas dibentuk. Mickey berkata, ia secara pribadi ingin mendirikan komunitas dengan hobi fotografi yang tidak mainstream. Ia juga mengaku bosan dengan objek fotografi yang diambil karena temanya terbatas dan itu-itu saja.

“Saya ingin (fotografi) yang anti-mainstream. Kenapa tidak coba mengabadikan dunia lain dengan teknologi?” ujar pria yang juga merupakan dosen ilmu komunikasi ini kepada The Daily Oktagon.

Menurut Mickey, mengumpulkan anggota komunitas GPC juga bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, tidak semua orang menyukai fotografi, terlebih jika dikaitkan dengan dunia gaib.

ghost photography community

Oleh karena itu, ia membuka kesempatan bagi siapa pun untuk bergabung, asal dengan syarat anggotanya harus berani dan benar-benar punya rasa ketertarikan yang tinggi dengan hal-hal yang berbau mistis.

Saat ini, anggota komunitas di laman Facebook GPC sudah mencapai 800. Namun, anggota yang mengikuti hunting di beberapa tempat biasanya mencapai 30 orang. Beda kasus dengan yang baru-baru ini dilakukan, contohnya, saat menyambangi lokasi rumah angker film Pengabdi Setan, jumlah anggota bisa membludak. Anggota baru pun diperkenankan boleh langsung bergabung saat hunting.

“Soal ilmu fotografi sih mungkin nomor sekian, itu nanti kan juga bisa didapatkan pas hunting bareng. Yang penting, yang mau masuk GPC itu harus punya curiosity yang tinggi dan tidak penakut. Mental jasmani dan rohani juga harus baik,” terangnya.

Selain itu, Mickey juga mengungkap salah satu hal unik dan anti-mainstream yang membedakan GPC dengan komunitas-komunitas fotografi lainnya. GPC sendiri, terangnya, lebih mengandalkan ilmu sains dan teknologi dalam mengambil objek.

Jadi, komunitas sama sekali tidak menggunakan sesuatu yang berbau klenik atau berkaitan dengan ritual tertentu ketika hendak mencari objek gaib yang ingin difoto.

ghost photography community

“Sebelum hunting, kami itu selalu riset. Kami selalu mengecek keakuratan tempat yang akan didatangi. Jadi kami tidak main ilmu-ilmuan, atau sesuatu yang berhubungan dengan ritual. Itu bukan GPC. Kami justru memanfaatkan semua teknologi untuk bisa mencari yang tak bisa dilihat mata manusia pada umumnya,” papar Mickey.

Soal tempat, Mickey berujar banyak lokasi angker yang sudah dikunjungi komunitas. Namun, lingkup wilayahnya masih terbatas di Jabodetabek. Paling jauh pun masih dalam cakupan wilayah Jawa. Ke depannya, GPC ingin mengeksplor lokasi-lokasi angker yang ada di seluruh Indonesia,

“Kami biasanya ke kuburan, atau tempat-tempat yang sudah tak dihuni. Ada banyak, bekas pabrik, bioskop kosong, bahkan area open space seperti lapangan juga kami sambangi. Yang pasti sih waktunya malam hari ya,” tuturnya.

DSLR, Kamera Paling Ideal untuk Tangkap Hantu

Seperti yang sudah dijelaskan, komunitas memanfaatkan DSLR sebagai kamera andalan untuk ‘menangkap’ objek astral. Pada umumnya, jelas Mickey, semua jenis kamera sebetulnya bisa menangkap objek. Namun, kamera digital saku justru malah sering menangkap objek bias cahaya yang disebut “orbs.

ghost photography community

Orbs paling sering muncul kalau (foto) diambilnya dengan kamera saku atau smartphoneOrbs ini bisa muncul karena cahaya yang terjadi akibat partikel debu, molekul berbentuk serangga kecil, atau banyak lagi. Jadi orbs itu bukan hantu. Orang-orang sudah salah persepsi duluan soal ini,” tandas Mickey.

Karena itu, komunitas mengandalkan kamera DSLR untuk bisa menangkap objek dengan jarak flash dan lensa jauh.

Simak seperti apa upaya komunitas Komikin Ajah membangkitkan komik Indonesia lewat media sosial di sini

Kemampuan kamera ini juga diklaim dapat meminimalisir tertangkapnya objek orbs. Untuk soal kamera, kebanyakan anggota menggunakan kamera DSLR yang disediakan komunitas, tetapi ada juga yang membawa kameranya sendiri.

“Kalau saya sekarang Canon EOS M5 karena mudah dibawa kemana-mana dan cukup diandalkan,” tukasnya.

Mencari dengan Spektrum

Mickey mengatakan, bukan perkara mudah bagi komunitas untuk bisa benar-benar mengambil objek astral dari dalam setiap bidikan yang diambil.

Karenanya, mereka mengandalkan gut feeling alias naluri keberanian untuk menyambangi titik-titik paling angker. Lantas seperti apa cara mendeteksi lokasi semacam ini?

ghost photography community

“Kami memanfaatkan dengan alat pendeteksi spektrum. Objek-objek seperti itu kan wujudnya ada di bawah tingkat sinar infra merah, atau juga bisa dibilang radiasi gelombang spektrum elektromagnetiknya ada di bawah tingkat paling rendah dari infra merah. Spektrum jenis ini tidak bisa dilihat mata manusia. Jadi harus butuh alat khusus,” kata Mickey.

Star Wars juga ada komunitasnya di Indonesia, lho! Intip lebih lengkap di sini

Karena itu, lanjut Mickey, dengan bantuan alat pendeteksi spektrum tersebut, ia bisa mencari tempat dengan spektrum radiasi gelombang elektromagnetik paling rendah.

Dari situlah komunitas bisa menentukan apakah lokasi ini benar-benar layak dipotret atau tidak. Bahkan, seringkali hasil dari hunting komunitas memperlihatkan beberapa foto dengan objek yang diyakini dari dunia lain.

ghost photography community

“Objeknya ya macam-macam. Paling banyak itu sosok siluet. Beberapa kali pernah menangkap objek berupa wanita. Kalau yang jelas sih belum pernah,” timpalnya.

Dengan demikian, GPC ternyata bukan komunitas yang ala kadarnya iseng mencari hantu. Berbekal ilmu teknologi yang canggih, komunitas ini terbukti bisa mencari objek supernatural dengan mengandalkan gelombang spektrum dan beberapa alat lain. Kamu tertarik? Tak ada salahnya bergabung dengan GPC sambil hitung-hitung uji nyali. Yuk!

0 comments