NOW READING

Melihat Lebih Dekat Internet of Things

 4591
+
 4591

Melihat Lebih Dekat Internet of Things

by The Daily Oktagon

Belakangan ini, masyarakat mulai kenal dengan konsep Smart City yang mulai banyak diadaptasi di beberapa kota Indonesia. Sejauh ini, mungkin hanya Jakarta dan Bandung saja yang menjadi primadona pemberitaan. Namun, beberapa kota lain sebenarnya juga sudah mulai bergerilya menghadirkan konsep Smart City di kota mereka. Sebut saja Banyuwangi, Banda Aceh, dan Balikpapan yang para kepala daerahnya kini mulai menyoroti aspek digital dan teknologi di daerahnya.

Namun, tahukah Anda jika di balik gaung Smart City yang kini sedang marak, ternyata ada sebuah tren teknologi yang juga sedang diadaptasi di Indonesia? Adalah Internet of Things (IoT) yang selama ini membuat konsep Smart City menjadi mungkin dan bisa diaplikasikan di berbagai bidang. Dengan IoT pemerintah bisa melahirkan E-Government, E-Budgeting, Command Center di Bandung, E-Village di Banyuwangi, sampai Layanan Paspor Online oleh Dirjen Imigrasi RI. Bisa dibilang tanpa IoT maka Smart City hanya konsep dan imajinasi belaka.

Menurut Onno W. Purbo, pakar teknologi dan digital, Internet of Things menawarkan apa yang selama ini dibutuhkan oleh manusia dalam beraktivitas.

“Kita perlu Internet of Things. Sekarang ini robot dan microcontroller perlu berkomunikasi juga dengan server,” ujarnya.

Onno_W_Purbo__sumber_kopidangdut.org_

Pada kasus ini, Anda bisa melihat peran IoT pada sistem Smart Parking. Dengan sistem yang terintegrasi, sensor yang dipasang di tempat parkir umum bisa membantu pemerintah dalam memantau dan mengawasi pendapatan daerah dari lahan parkir. Semua itu dibuat secara komputerisasi dengan sistem booking dan bayar parkir online.

Onno melihat Indonesia punya potensi yang cukup besar pada era IoT ini. Dari sisi hardware, pasar Indonesia sangat memfasilitasi kebutuhan para makers dengan stok dan harga yang cenderung terjangkau. Sementara, dari sisi perangkat lunak pun ketersediaannya sejauh ini sudah sangat banyak dan masih gratis serta open source.

“Indonesia punya potensi yang sangat besar di Internet of Things. Hanya saja modal dasar yang kurang; apalagi SDM yang jago elektronik dan software. Ditambah lagi, perizinan untuk mendirikan pabrik dan investasi di Indonesia juga masih terlalu banyak dihadang birokrasi,” tambah Onno perihal kendala berkembangnya IoT di Indonesia.

Opini senada juga didapat dari Martin Kurnadi, pendiri platform berbasis Internet of Things Geeknesia, yang mengharapkan perbaikan infrastruktur internet yang baik dan juga peraturan pemerintah yang konsisten. Martin juga berpendapat jika IoT perlu ekosistem yang baik untuk bisa tumbuh dan menghasilkan produk-produk yang baik. Sayangnya, hingga kini masih banyak tantangan di industri teknologi Indonesia untuk bisa menghasilkan eksosistem yang ideal tersebut.

Martin_Kurnadi

“Maka dari itu saya buat Geeknesia untuk mengatasi problem gap di industri teknologi dan digital kita. Semoga platform IoT ini bisa jadi ekosistem yang ideal bagi berbagai stakeholders,” harap Martin.

Memiliki tujuan serupa untuk menghadirkan ekosistem yang ideal, PT Telkom mengambil sebuah langkah besar yang sangat berpengaruh pada generasi melek teknologi di Indonesia, yakni inkubator Bandung Digital Valley. Indra Purnama, Direktur Ekeskutif BDV, menuturkan bahwa sama seperti produk digital dan teknologi lainnya, maka IoT pun membutuhkan faktor fisik dan non-fisik yang mapan untuk berkembang.

“Meski awalnya kami (BDV) tidak mempunyai rencana untuk inkubasi Internet of Things, tetapi kami melihat produk ini sebagai sesuatu yang memiliki masa depan. Belum lagi, ide-ide yang masuk dari kategori Internet of Things banyak unik dan visible, jadi kami sangat tertarik. Padahal, hingga saat ini kami masih mencari resource Telkom yang cocok untuk memfasilitasi bidang ini,” jelas Indra.

Melihat potensi IoT yang semakin besar ke depan, Indra optimis kalau Indonesia bisa adaptasi cukup baik dengan teknologi yang mengombinasikan perangkat keras, perangkat lunak, dan sistem ini.

“Internet of Things dan Big Data akan jadi dua hal paling berpengaruh dalam perkembangan teknologi di masa depan. Dengan adanya Internet of Things, peran Big Data mulai penting dan banyak dibutuhkan oleh perusahaan, pemerintah, atau siapapun pihak yang memiliki kepentingan,” jelas Indra.

Indra_Purnama_BDV

Big Data dan Internet of Things merupakan dua sisi mata koin yang tidak bisa dipisahkan. Dulu, sering ditemui data dalam jumlah sedikit tetapi memiliki ukuran besar. Namun, dengan Big Data kita bisa melihat data dalam jumlah sangat banyak tetapi tetap berukuran kecil. Data-data yang awalnya tidak berkorelasi bisa menjadi sesuai yang menghasilkan nilai strategis dengan peran IoT. Bahkan dengan kemampuan sistem komputer yang mumpuni, Big Data bisa menghadirkan analisis yang mempunyai nilai evaluasi sangat tinggi.

Pada fungsi yang lebih besar lagi, Internet of Things tidak hanya menjanjikan optimisasi dan efisiensi saja. Jauh dari itu, produk IoT juga diharapkan mampu menanggulangi hal-hal yang sebelumnya mungkin sulit diprediksi, seperti bencana alam dan pergerakan manusia.

Di Indonesia sendiri kita bisa melihat fungsi IoT sebagai antisipasi bencana alam melalui aplikasi Informasi Banjir Online dan Sistem Notifikasi Gempa dan Tsunami. Bayangkan berapa banyak nyawa yang bisa diselamatkan dari sebuah bencana tsunami jika ada Early Warning System yang digunakan secara tepat. Dengan sensor-sensor yang ditempatkan di daerah rawan bencana alam, pemerintah bisa mendapat data aktual dan memberi informasi pada masyarakat dalam hitungan detik soal situasi genting.

Teknologi, sekali lagi, membuat hidup bangsa ini jadi lebih mudah.

0 comments