NOW READING

Media Sosial dan Kodratnya yang Tak Lagi Sama

 1592
+
 1592

Media Sosial dan Kodratnya yang Tak Lagi Sama

by The Daily Oktagon
  • Dulu, media sosial hanya sebatas saluran untuk terhubung dengan teman lama. Tapi kini kegunaannya sudah lebih beragam lagi. Apakah ini perubahan yang baik?
  • Yang jelas salah satu yang terjadi kini adalah padatnya linimasa dengan beragam konten dan pertukaran komentar terhadap topik tertentu, yang ironisnya bisa mengganggu nalar pengguna; dan kerap disebut ‘Post-Truth’.
  • Apa itu ‘Post-Truth’ dan bagaimana pergeseran kodrat media sosial, serta pengembangannya kini menjadi ladang bisnis yang menguntungkan untuk sebagian pengguna? Ikuti ulasan kami berikut ini:

Media sosial, nama itu kini begitu familiar didengar. Mungkin beberapa ada yang menyebutnya dengan jargon medsos atau jejaring sosial. Tergantung selera masing-masing.

Memang tak bisa ditampik, perkembangannya kini telah mendominasi internet. Nyaris seluruh aktivitas netizen berkiblat ke arah yang sama, yaitu menikmati linimasa di medsos pilihannya.

Membaca konten menarik, bertukar pikiran, berbagi momen menyenangkan, atau sekadar pamer, banyak sekali yang bisa dilakukan di media ini. Bisa dibilang, kehidupan sehari-hari sebagian orang sudah ‘terikat kontrak’ dengan urusan medsos.

Dulu, sekitar lima atau bahkan sepuluh tahun yang lalu, platform itu memang belum begitu menggema seperti saat sekarang. Kala itu, cuma tak banyak yang digunakan kalangan dewasa. Mungkin Friendster, Live Connection atau MySpace tak asing bagi Anda yang tumbuh di era 1990 hingga 2000-an.

Baca juga bahasan tentang media sosial dari kacamata Bapak Blogger Indonesia berikut ini

Beberapa media sosial seperti itu menyisakan kenangan yang cukup manis. Ya, kenangan bersosialisasi dengan cara yang unik dan menyenangkan. Mulai dari merasakan sensasi mengisi testimonial di Friendster, mengisi kolom komentar profil teman Anda dengan tulisan-tulisan penuh glitter, hingga bertukar gambar dengan quotes bak penyair kawakan.

Ya, dulu aktivitasnya ‘seindah’ itu. Apakah kini masih memiliki fungsi sama seperti yang ada pada beberapa tahun lalu? Rasanya tidak lagi. Medsos kini tak hanya ‘bertampang’ menghibur, melainkan serius, bahkan menyeramkan. The Daily Oktagon mencoba melihat perubahan fungsi medsos pada masa sekarang.

Media Sosial Sebagai Hiburan

Lupakan Friendster dan teman-temannya. Media sosial kini telah berevolusi, dari yang dulunya sekadar sebagai tempat bersosialisasi.

Era awal Facebook berdiri memang masih mengusung konsep serupa Friendster. Seiring waktu berjalan, fungsinya berkembang. Facebook telah menjadi media sosial yang masif. Pamornya naik drastis. Miliaran pengguna memadati media sosial ciptaan Mark Zuckerberg ini.

Kelahiran Facebook di ranah maya juga menjadi cambuk keras bagi sejumlah start up pembesut media sosial sepantarannya kala itu, sebutlah Twitter, Tumblr, Plurk dan yang lainnya.

Mereka menilai, kelahiran Facebook menandakan bahwa media sosial bisa berperan lebih, tak sekadar untuk berbagi. Inilah yang menjadi tekanan bagi mereka untuk bersaing lebih sengit, menciptakan inovasi yang lebih,

Namun semakin ke sini, sifat dari media sosial kian terlihat mirip. Meski mereka masih memiliki karakteristik yang kuat untuk masing-masing. Apa yang membuat media sosial berubah fungsi dan membuat masing-masing memiliki kemiripan?

media sosial dan kodratnya

Nukman Luthfie, pengamat media sosial mengatakan, bahwa media sosial kini memang tak lagi digunakan untuk bersosialisasi saja. Ia mengibaratkan media sosial sebagai televisi.

Beragam konten tertuang di media sosial, termasuk iklan sekali pun. Itulah yang terjadi pada media sosial kebanyakan saat ini. Semua mirip, karena konten dan iklan yang muncul di masing-masing.

Penetrasi smartphone yang kian intens, dirasa Nukman juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan media sosial kini sering digunakan oleh banyak orang.

“Sekarang smartphone dijual dengan harga terjangkau, koneksi semakin stabil, ada 4G. Mengakses media sosial bukan lagi jadi perkara besar. Itulah yang menciptakan kultur bagi pengguna smartphone bahwa media sosial kini memegang porsi besar dalam kehidupan sehari-hari mereka,” ia melanjutkan.

Perkembangan media sosial membuat banyak orang ingin lebih eksis. Baca ulasan tentang hal-hal yang penting diperhatikan untuk jadi YouTuber biar lebih eksis di jagat maya, di sini

Porsi besar yang dimaksud Nukman adalah, keberadaan media sosial yang memberikan konten yang dibutuhkan penggunanya, seperti membaca berita, mentautkan link video favorit, atau bahkan melakukan belanja online.

Ini yang dimaksud Nukman hiburan pada media sosial. Terlebih, jika pengguna tengah bosan, hal pertama yang muncul di kepala mereka adalah membuka media sosial karena mereka butuh element of surprise yang mereka anggap sebagai hiburan.

“Ini jadi alternatif menonton TV. Orang-orang kalau dulu suntuk langsung memegang remote dan menonton TV, sekarang langsung memegang smartphone dan buka Facebook, Path, Instagram,” ujar CEO Jualio ini.

Post-Truth dan Hate Speech

Nukman menilai media sosial tak hanya jadi wadah hiburan bagi penggunanya. Banyaknya konten yang memadati linimasa pun dianggap berisiko menuai beragam komentar dan mungkin, menganggu nalar pengguna.

Fenomena ini kerap disebut “Post-Truth”, keadaan saat pengguna media sosial secara emosional lebih tertarik dengan sebuah opini orang ketimbang fakta yang sebenarnya.

“Banyak sekali konten, informasi yang belum jelas sumbernya dari mana, tiba-tiba dibagikan oleh salah satu teman kita. Seringkali mereka langsung membaca konten tanpa melihat sumbernya. Akibatnya, mereka terpancing dengan isu-isu yang hanya terjadi di media sosial. Itu-itu saja yang selalu dibicarakan,” terang Nukman.

Nukman pun membenarkan beredarnya konten-konten yang seharusnya tidak muncul di media sosial kini telah menekan emosi pengguna.

Bahayanya, bagi pengguna media sosial yang tidak pernah ‘bersentuhan’ dengan lingkungan aslinya, mereka akan mudah diradikalisasi. Akibatnya, bisa memicu komentar hate speech dan perdebatan.

shutterstock_150587642

“Karena mereka anggap media sosial sebagai hiburan, inilah yang berisiko. Mereka sudah tidak memperhatikan apa yang terjadi di dunia aslinya. Para netizen ini sudah terfragmentasi oleh informasi-informasi yang mereka cerna, sementara fakta aslinya tidak sesuai dengan pola pikir mereka,” ia meneruskan.

Konsekuensinya, komentar hate speech memenuhi linimasa di sana sini. Nukman memandang itu sebagai tanda-tanda perubahan media sosial.

Salah satu penyebab lain pun adalah semakin banyaknya rekomendasi konten karena sistem algoritma dari media sosial tersebut, yang pada akhirnya membakar emosi pengguna.

“Sebagian besar waktu kita habiskan di media sosial, cara kerja algoritmanya akan menghasilkan konten yang kita rasa kita bisa terima. Jika pengguna sering membagikan konten yang menurut mereka benar, maka mereka akan menerima rekomendasi konten lain yang serupa.

“Perubahan ini mau tak mau sedang terjadi. Namun pengguna harus punya mindset bahwa mereka harus bisa menyortir informasi yang akurat di media sosial, sebelum membagikannya. Tak semua informasi harus dibagikan. Kadang mereka juga harus kembali ke cara menyerap informasi secara tekstual, lewat koran, buku atau majalah. Dari situ, nalar pembaca akan lebih terasah ketimbang emosi,” ungkap Nukman.

Salah satu konten yang populer di media sosial saat ini adalah video. Apa saja kamera yang mesti dimiliki untuk membuat konten video yang menarik perhatian para pengguna lain di media sosial? Baca di sini

Pelesiran untuk Belanja Online

Terlepas dari kodrat media sosial yang kini beralih ke tempat ‘berdebat’, media sosial pun dianggap sebagai ladang bisnis yang menguntungkan bagi sebagian pengguna untuk membuka lapak online. Hal itu diamini oleh Hengky Prihatna, Industry Head of Google Indonesia.

Menurutnya, sebagian besar pengguna media sosial memang memanfaatkan akunnya untuk menjual atau berbelanja online.

Berdasarkan data yang diungkapkan oleh pria yang sempat berprofesi sebagai webmaster ini, penggunaan media sosial untuk berbelanja online kini menyentuh angka 57 persen.

Fakta menariknya, jumlah pengguna media sosial di Indonesia untuk berbelanja online lebih tinggi ketimbang India dan Tiongkok.

“Lebih tinggi dari keduanya (Tiongkok dan India) karena hampir 71 persen orang Indonesia sudah menggunakan smartphone. Di India cuma 69 persen, Thailand itu 55 persen dan Tiongkok justru 44 persen,” kata Hengky.

Bahkan, rata-rata penggunaan media sosial (termasuk belanja online) kini berkisar di angka dua jam atau 136 menit dalam sehari. “Sekitar 68 menit menggunakan browser untuk menggunakan media sosial, 68 menit lainnya menggunakan aplikasi,” ia menambahkan.

Media sosial seperti Facebook dan Instagram pun menjadi dua dari beberapa yang paling digandrungi pengguna untuk berbelanja online. Pasalnya, kedua media sosial ini memiliki ekosistem halaman penjualan yang atraktif, belum lagi ditambah pilihan untuk mengunggah foto atau video agar produk yang dijual dapat memancing hype pembelinya.

Positif atau negatifnya dampak media sosial pada akhirnya tergantung pada niat penggunanya. Semoga Anda pun termasuk di dalam orang-orang yang dapat memaksimalkan media sosial secara positif.

Ikuti juga pandangan dari penggiat media sosial Mira Sahid tentang media sosial kini dan makin berkembangan konten multimedia atau nonteks, di sini

0 comments