NOW READING

Mau jadi Atlet eSports? Baca Dulu ini!

 227
+
 227

Mau jadi Atlet eSports? Baca Dulu ini!

by The Daily Oktagon

Foto utama: Leonel Calara / Shutterstock.com

  • Memperoleh penghasilan dari sesuatu yang kita sukai saat ini semakin mudah diwujudkan, salah satunya dengan bermain game.
  • Game tidak lagi dipandang negatif sebagai kegiatan yang membuang wakt,  tetapi juga menjadi sumber penghasilan dengan menjadi e-atlet atau atlet eSports.
  • Bermain game tidak dipandang sebagai rekreasi saja tetapi menjadi industri yang melibatkan banyak pihak di dalam industri game dan berkontribusi terhadap negara.

Jika Anda seorang gamer, dengan perangkat game apapun, pasti sudah familiar dengan stigma bahwa bermain game itu membuat seseorang malas, atau konten game yang dimainkan dapat berdampak buruk terhadap pribadi pemainnya.

Hal itu tidak sepenuhnya salah, namun di satu sisi banyak pihak yang tampak lupa bahwa sebuah permainan juga memiliki sisi positif bagi pemainnya. Bermain game relatif memiliki nilai yang serupa dengan sebuah olahraga. Di dalamnya ada sebuah pertandingan yang membutuhkan strategi, kerjasama, dan jiwa sportif untuk menjalaninya.

Poin-poin tersebut bisa dibilang menjadi cikal bakal muncul sebutan profesi e-atlet atau yang biasa disebut atlet eSports. Layaknya atlet, mereka bertanding mewakili tim, istilah eSports mengacu kepada kompetisi game yang digelar dan tentu saja menggunakan sistem layaknya sebuah kejuaraan olahraga.

Bukan Modal Sering Bermain Game

Ya, profesional. Menurut Eddy Lim, Presiden Asosiasi eSports Indonesia (IeSPA), menjadi atlet semacam ini tentu berbeda dengan gamer yang hanya menghabiskan waktunya untuk bermain game. Atlet eSports adalah sebuah.jenjang karir profesional sehingga mereka harus bisa mengukir presentasi.

“Gamer profesional tidak cuma jago main game berjam-jam, terus bisa disebut atlet eSports,” ungkap Eddy terkait pemahamam orang tentang atlet ini. Ini mungkin yang harus dipahami oleh generasi muda, yang dengan mudahnya memiliki cita-cita menjadi atlet eSports hanya dengan alasan menyukai game.

Salah satu event eSports di Jakarta (Dok. Feraldo)

Lanjut Eddy, layaknya atlet profesional, e-atlet harus mengikuti program pembinaan dan latihan yang berkala. “Tidak ada atlet yang berbakat sekalipun bisa memperoleh kemenangan tanpa latihan, termasuk melatih ketangkasan membuat strategi dengan penuh perhitungan, komunikasi dan kerjasama dalam tim, dan fokus saat bertanding,” jelas Eddy.

Dunia game juga sedangan semarak dengan game MOBA. Apa itu?

Hal ini diamini Feraldo, anggota dari tim Phoenix eSports. Ia menuturkan, sebelum turun ke dalam sebuah kompetisi, mereka akan menggelar latihan bersama. Waktu latihan pun tak sedikit, Feraldo menyebutkan bahwa dia dan timnya melakukannya selama 10 jam untuk setiap latihan bersama.

“Meskipun sudah sering bertanding tetap saja kita mesti latihan dan uji strategi bersama, tidak ada namanya kita kompetisi, esoknya tinggal datang aja dan yakin menang,” ungkap Feraldo yang menggunakan keyboard Steelseries Apex 100 dan mouse Steelseries Sensei Laser sebagai “senjata” andalan dalam berkompetisi.

Feraldo adalah salah satu atlet yang merasa beruntung bisa menggeluti profesi dari kegiatan yang dia sukai. Menurutnya munculnya profesi tersebut mengubah anggapan bahwa seorang gamer sama sekali tidak memiliki tempat yang kehidupan sosial apalagi karir.

“Selama saya menggeluti profesi ini, rata-rata atlet eSports adalah pintar. Mereka bisa bikin perhitungan dan strategi serta melihat celah yang bisa dimanfaatkan saat bertanding,” imbuh Feraldo.

Pandangan serupa juga disampaikan Eddy, sejauh ini para atlet eSports adalah mereka yang memiliki kepintaran, jadi bukan tergolong orang yang bermain game hanya sebagai rekreasi saja.

Sosok Wakil Industri

Kehadiran atlet eSports sebagai profesi juga bukan semata karena game kini mendapat pandangan positif saja tetapi industri dari game juga mengalami ledakan dan membutuhkan sosok untuk mewakili industri tersebut.

Feraldo sedang beraksi (Dok. Feraldo)

Di Indonesia game menjadi salah satu lahan yang digarap beberapa tahun belakangan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

“Pasar industri game di Indonesia menurut data Newzoo disebut pada tahun 2016 mencapai USD 600 juta atau sekitar Rp8 triliun. Lonjakannya sangat signifikan dari tahun 2015 yang hanya US$321 juta atau Rp4,3 triliun. Makanya potensi dari industri game meluas kemana-mana,” ungkap Hari Santosa Sungkari, Deputi Infrastruktur BEKRAF.

Feraldo menceritakan bahwa menjadi atlet eSports pun juga menjadi bagian dari ekosistem industri game. Perusahaan perangkat gaming tentu juga membutuhkan ulasan dari para atlet, sehingga mereka mendapatkan kesempatan untuk menjajal perangkat gaming terbaru dari tiap brand.

Jadi kompetisi yang digelar semata-mata bukan menguntungkan game yang dipergunakan untuk pertandingan saja tetapi lebih dari itu, ada banyak pelaku dari ekosistem eSports yang hadir disitu.

Brand perangkat gaming adalah yang paling dominan, karena mereka yang menghidupi berbagai tim. Brand tersebut juga biasa mendanai pertandingan untuk liga terkecil sekalipun.

Cari mouse gaming OK dengan harga murah? Intip artikel ini.

Feraldo bercerita bahwa tahun ini atlet eSports kondisinya jauh lebih baik karena sudah banyak dukungan yang diberikan pemerintah, serta brand-brand yang berkaitan dengan eSports.

“Sekarang sudah banyak liga kecil, dahulu hanya liga besar saja dan tim yang bertanding ya itu-itu saja. Kami sebagai tim baru, beruntung kini semakin banyak liga kecil untuk menjaring talent,” ungkapnya.

Berdasarkan pengakuan Eddy, di Indonesia sudah ada 28 klub atau tim eSports. Hal ini merupakan sinyal positif industri gaming di Indonesia menuju ke arah yang bagus di Indonesia.

“Secara jelas game sudah bisa dilihat sebagai sebuah industri dengan banyak kolaborasi di dalamnya, dan atlet eSports menjadi wajah dari industri game ini. Jadi sebetulnya profesi mereka memiliki tanggung jawab juga,” jelas Eddy.

Tidak Hanya Menjadi Atlet

Menjadi atlet eSport saat ini bahkan tidak lagi hanya bicara prestasi, namun juga penghasilan yang relatif tidak sedikit. Atlet bisa mendulang penghasilan dari hadiah pertandingan yang jumlahnya bisa jutaan atau miliaran, hingga menjadi brand ambassador.

Hal ini lumrah, karena industri game memiliki target konsumen yang sangat segmented, berbeda dengan industri elektronik seperti televisi atau smartphone yang konsumennya masih terbilang umum.

Jadi, industri game harus menciptakan sosok yang bisa dijadikan idola atau inspirasi para gamer. “Para atlet harus mengembangkan bakat selain bermain game, karena pada suatu hari nanti mereka juga akan mengalami masa pensiun atau ‘gantung keyboard'”.

Baca juga: Blizzgamers Indonesia, Komunitas Gamer “Garis Keras”

Dia mencontohkan misalnya menjadi YouTuber yang pakar dibidang game, membuat ulasan tentang sebuah game atau perangkat gaming.

Jika seorang atlet eSport memahami betul soal hardware atau perangkat gaming, maka kemungkinan besar dia bisa masuk ke dalam industri game dengan bergabung pada brand atau vendor perangkat.

“Harapannya para atlet eSport atau mereka yang terjun ke industri game bisa mendukung industri game lokal juga, sebab angka kontribusi lokal terhadap industri game di Indonesia masih minim, didominasi oleh asing,” jelas Eddy. Sebuah harapan yang tentu menjadi impian kita semua.

0 comments