NOW READING

Masa Depan Virtual Reality dan Angin Segar Industri Game

 2506
+
 2506

Masa Depan Virtual Reality dan Angin Segar Industri Game

by The Daily Oktagon
  • Virtual Reality (VR) menjadi persaingan baru di dunia teknologi setelah smartphone dan wearable device
  • Beragam perusahaan teknologi mulai berinvestasi di pengembangan perangkat Virtual Reality, bukan hanya semakin canggih tetapi diharapkan juga semakin terjangkau harganya
  • Industri game menjadi salah satu ranah Virtual Reality yang memiliki potensi besar untuk dieksplorasi

Salah satu pencapaian terbaik manusia di era teknologi saat ini bisa dibilang adalah kemampuan menciptakan “dunia baru”. Terdengar berlebihan, namun kenyataannya realitas maya atau yang disebut virtual reality (VR) adalah sebuah dunia yang diciptakan manusia menggunakan teknologi.

Kira-kira tiga tahun belakangan ini diskusi mengenai virtual reality semakin sering terdengar. Anda kini dengan mudah dapat menemukan foto orang-orang yang menggunakan perangkat headset VR di mesin pencari Google.

Mudahnya begini, jika dahulu Anda melihat animasi atau tayangan secara berjarak antara mata dan televisi, kini dengan headset VR Anda bisa berada di dalam animasi atau tayangan tersebut.

Pada masa anak-anak, kita mungkin pernah membayangkan berada di dunia imajinasi kita. Bos besar Facebook pun menuturkan hal yang sama pada gelaran Mobile World Congress (MWC) Februari silam. “Saat berusia 11 tahun, saya menggambar sambil membayangkan dapat berada di dunia yang saya inginkan,” ujar Mark Zuckerberg seperti dikutip WIRED

Konsep inilah yang kemudian diyakini bahwa virtual reality mendapat tempat spesial di industri hiburan khususnya game. Porsi pengembangan teknologi ini pun disebut lebih besar di industri game. Lantas, bagaimana perkembangan virtual reality ke depan dan seberapa asyik bermain game dengan perangkat VR? Simak ulasan The Daily Oktagon.

Persaingan Terbaru Setelah Smartphone

Berdasarkan laporan dari firma riset Manatt Digital Media, ada banyak perusahaan di bidang teknologi yang berinvestasi di pengembangan teknologi VR. Mulai dari Facebook dengan Oculus Rift, Google dengan Google Cardboard dan Daydream, Microsoft dengan HoloLens.

(Foto: Maurizio Pesce)

HTC yang kurang terdengar kabar perangkat smartphone-nya pun berinvestasi lewat HTC Vive. Lalu ada Samsung yang tetap merilis smartphone sembari membundling perangkatnya dengan Samsung Gear VR.

Tidak mau ketinggalan dari pemain industri konsole game Sony Playstation juga berinovasi lewat Playstation VR.

Virtual reality menghadirkan pengalaman terbaru di bidang teknologi. Anda tidak lagi pasif, ada banyak pilihan interaksi di dalam konten virtual reality. Jadi teknologi inimasih sangat bisa dieksplor lebih jauh,” jelas Seto Anggoro, Product Marketing Manager Samsung Electronics Indonesia.

Simak perkembangan teknologi VR terbaru lainnya di sini

Seto juga menjelaskan bisnis virtual reality bukan hanya sekadar diperangkat tetapi konten pun termasuk di dalamnya. Alhasil banyak dari vendor yang tidak berinvestasi di tulang punggung atau platform virtual reality namun menciptakan alat untuk menghasilkan kontennya. Misalnya lewat kamera 360 derajat.

Samsung memiliki Samsung Gear 360, LG pun serupa dengan LG 360 Cam. Pemain lama di industri kamera seperti Ricoh pun ikut ambil bagian dengan merilis Ricoh Theta 360. Di belakangnya, ada Kodak dengan PIXPRO SP360 4K.

Kalau dirangkum, jadi ada banyak stakeholder yang mendukung virtual reality terus berkembang. Pertama, pengembang teknologi atau platform virtual reality. Kedua ada vendor penyedia perangkat untuk menciptakan konten dan menikmati virtual reality.

Karena virtual reality itu menawarkan pengalaman baru dengan indra penglihatan maka menurut saya pengembangan virtual reality akan di arahkan ke pengalaman hiburan, misalnya video atau film dan gameyang dirasa sangat pas konsepnya,” ungkap Seto.

Revousi Industri Game

Berada di dalam sebuah dunia yang di dalamnya kita bisa melakukan apa saja. Konsep tersebut menurut Donna Visca, perempuan yang berprofesi sebagai profesional gamer dan atlet e-sport ini sudah tertanam di setiap pecinta game.

“Kalau main game biasanya kita hanya diam depan monitor atau televisi dan yang gerak hanya jari atau tangan kita sedangkan kalau menggunakan VR bisa terbayang betapa serunya main game. Game tersebut jadi seperti nyata!” ujar Donna dengan sangat antusias.

Perangkat virtual reality (VR) bekerja dengan mengandalkan sensor yang akan membaca gerak tubuh untuk kemudian diterjemahkan ke dalam karakter Anda di dunia game. Prinsipnya, semakin banyak sensor yang dimiliki oleh perangkat VR maka interaksi Anda di game tersebut akan semakin banyak dan semakin nyata.

Pertama sensor head tracking atau pergerakan kepala. Kedua sensor gerak tubuh atau motion tracking. Lalu yang masih terbilang canggih dan jarang ditemui pada kanyakan perangkat VR untuk gaming adalah sensor eye tracking serta jaket yang membuat tubuh kita merasakan apa yang dialami oleh karakter di dalam game, misalnya menerima pukulan atau benturan.

Smartphone pun tak mau kalah mengadaptasi VR. Simak di artikel ini

Menurut Donna, penggunaan perangkat VR untuk bermain masih terbilang mewah sebab harganya yang masih sangat mahal. Anda bisa bayangkan berapa harganya jika seorang gamer atau atlet e-sport profesional yang terbiasa membeli perangkat gaming (yang umumnya mahal) saja masih menganggap perangkat VR tersebut mahal.

“Di kalangan gamer Indonesia sih belum terlalu populer sebab masih sedikit konten game yang bisa dimainkan dengan VR. Jadi masih bahan obrolan saja,” ungkapnya.

Sejauh ini implementasi perangkat VR untuk gaming yang terbilang matang baru dihadirkan oleh Virtuix Omni dengan Anda bisa berlari di atas alat semacam treadmill yang akan membaca gerak tubuh Anda.

Baik Seto maupun Donna sendiri tidak ambil pusing dengan harga perangkat VR khususnya gaming yang terbilang masih mahal. Dengan adanya persaingan tiap vendor dalam menciptakan perangkat VR maka harga banderolnya juga bisa ditekan semurah mungkin untuk konsumen. Kita tunggu saja.


0 comments