NOW READING

Masa Depan Layanan Asisten Virtual Menurut Penggagas YesBoss

 1388
+
 1388

Masa Depan Layanan Asisten Virtual Menurut Penggagas YesBoss

by The Daily Oktagon

Didirikan pada 2 Juni 2015 oleh Irzan Raditya, Christian Franke, Wahyu Wrehasnaya, dan Reynir Fauzan,YesBoss hadir sebagai layanan concierge berbasis SMS yang dapat memenuhi segala permintaan penggunanya, asalkan permintaan tersebut dalam batas kewajaran dan tidak melanggar hukum. Layanan yang disebut sebagai virtual assistant alias asisten pribadi virtual ini cukup unik, karena bersifat sebagai penengah yang menghubungkan antara pengguna dengan layanan-layanan yang sudah ada.

Dengan begitu, pengguna, yang kebanyakan berasal dari kota besar dan punya jadwal kesibukan padat, dapat menghemat waktu mereka. Misalnya, saat rilis film Star Wars: The Force Awakens beberapa waktu lalu dan tiket selalu terjual habis, pengguna tidak perlu datang ke bioskop lebih awal agar kebagian tiket. Cukup minta dipesankan oleh YesBoss langsung dari smartphone-nya, tiket pun bisa didapatkan tanpa perlu antre.

The Daily Oktagon kali ini mengajak Anda untuk melihat masa depan layanan asisten virtual menurut penggagas YesBoss. Simak ulasan berikut!

YesBoss, yang diklaim menangani seribu permintaan per hari, memang masih berbasis SMS. Saat ini aplikasinya pun belum tersedia. Walau terkesan masih memanfaatkan layanan tradisional, apa yang sedang disiapkan oleh YesBoss dalam waktu dekat rupanya sangat menarik. Chief Executive YesBoss, Irzan Raditya, bersama timnya sedang menyiapkan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Irzan_Raditya

Irzan Raditya, foto dokumen pribadi

Jika sebelumnya permintaan pengguna masih ditangani oleh tim Client Services Representative (CSR), maka nantinya sebagian permintaan akan diproses dan direspons secara otomatis oleh mesin AI YesBoss.

Biacara soal automation, tentu tidak lepas juga dari tren Internet of Things (IoT). Lalu, seperti apa tren dan perkembangan AI serta IoT di Indonesia pada tahun Monyet Api ini? Berikut perbincangannya dengan Irzan.

Sebelum lanjut, baca dulu artikel ini, Seorang Angel dalam Diri Shinta Dhanuwardoyo

Masalah apa yang ditemu para founder hingga tercetus ide untuk mendirikan YesBoss?

Sekarang kita makin sibuk, tetapi di sisi lain makin butuh keinginan kita dipenuhi secara cepat. Ketika ingin membeli barang atau tiket, misalnya, kita tidak punya waktu buat browsing. Sekarang bayangkan, kalau mau belanja online pilihan e-commerce-nya bermacam-macam, mulai dari Tokopedia, BukaLapak, MatahariMall, dan lain-lain. Lalu untuk beli tiket, ada Tiket.com atau Traveloka.

Kalau kita membandingkan harga satu per satu di situs itu, pasti akan ribet dan repot. Akhirnya kami buat satu pintu untuk semua e-commerce itu. Bahkan, cukup satu asisten yang bisa memenuhi semua kebutuhan kita.

Kami melihat pain point masyarakat tersebut sebagai peluang. Seperti kita tahu, masyarakat, khususnya yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, kesibukannya padat sekali. Lalu conversational commerce sudah mulai juga di global.

Selain itu, orang Indonesia suka dilayani, kan? Juga mereka suka texting. Layanan seperti Go-Jek juga lagi tren dan orang-orang sudah mulai aware dengan on-demand service. Kami melihat ini sebagai kesempatan karena latar belakang permasalahan yang bisa diatasi.

yesboss

Bagaimana cara menggunakan layanan YesBoss?

Simpel, pengguna perlu registrasi dulu. Setelah itu menunggu 1 x 24 jam. Nanti akan dapat aktivasi lewat SMS. Baru lah pengguna bisa mengirim pesan berisi kebutuhannya. Misalnya beli makanan atau belanja, nanti akan dicarikan oleh YesBoss berdasarkan apa yang pengguna inginkan. Lalu kami akan informasikan harganya. Kalau pengguna setuju, bisa lanjut proses transaksi.

Ada batasan apa yang bisa dan tidak bisa dipesan dengan YesBoss?

Apa saja bisa kami dapatkan, selama itu legal. Asalkan tidak dalam ranah ilegal seperti pijat plus-plus, obat-obatan terlarang, atau permintaan yang aneh-aneh. Jadi, selama itu masih dalam norma kesopanan dan kesusilaan, kami bisa memenuhinya.

Apa yang dipesan tidak harus berupa barang. Bisa jasa, reservasi, atau booking. Pengguna yang memintareminder banyak juga. Ini lucu, karena orang punya smartphone yang ada fitur reminder-nya. Tetapi mereka minta diingatkan lewat SMS.

Apakah layanan ini tersedia di seluruh Indonesia?

Pada dasarnya, kami mengikuti infrastruktur yang ada. Kami bisa memenuhi permintaan dari Sabang sampai Merauke, selama itu adalah permintaan beli tiket, hotel, atau belanja online.

Kalau layanan food delivery service, misalnya, tidak semua kota ada ada. Di Indonesia, sebenarnya semua kota sudah siap. Cuma untuk full service tergantung infrastruktur di kota tersebut. Namun, biacara soal trafik YesBoss, saat ini 70 persen penggunanya masih dari Jakarta.

Bisa berikan contoh permintaan paling sulit dari pengguna?

Banyak. Pernah ada pengguna yang minta lima lembar daun salam. Mungkin ia nge-test layanan kami saja. Akhirnya kami dapatkan daun salam itu di Pasar Koja, di Jakarta Utara.

Lalu ada juga yang cukup menarik. Minggu lalu, ada satu pengguna minta ke YesBoss untuk diambilkan uang tunai. Kami pikir Go-Jek bisa dipakai untuk memenuhi permintaan itu.

Kemudian, kami minta si pengguna untuk transfer sejumlah uang yang ia butuhkan ke rekening YesBoss. Setelah itu driver Go-Jek mengambilkan uang tunai dari ATM, lalu diantarkan ke rumah pengguna. Jadi ini seperti memanfaatkan Go-Jek sebagai ATM berjalan.

Pernah juga ada salah satu pengguna yang tinggal di Bintaro, dia minta teman Salat Jumat. Oleh tim CSR, permintaan itu disampaikan ke semua tim. Kebetulan saya sedang mau Jumatan, akhirnya bertemu dengan pengguna tersebut dan kami Jumatan bareng.

Irzan_Raditya_2

Irzan Raditya, foto dokumen pribadi

Bagaimana perkembangan AI yang sedang digarap YesBoss?

Nanti akan keluar dalam satu atau dua bulan ke depan bareng dengan aplikasi. Cikal bakal AI ini kami sudah ada sejak lama. Chief Technical Officer kami sudah mengembangkannya selama empat tahun.

Ini adalah personal project dia, yaitu machine learning dan deep learning. AI ini nanti dalam bahasa Indonesia. Algoritmanya sudah ada dan pasti dikembangkan terus, karena bahasa juga berkembang sesuai zaman.

Automation pun tidak akan mencakup 100 persen secara proses. Sekarang itu maksimal 50 persen sudah hebat, atau 20 sampai 50 persen. Kalau kita bicara 90 persen, itu masih lima tahun ke depan.

Saat ini proses komunikasi dengan YesBoss masih lewat SMS. Kenapa dari awal tidak langsung meluncurkan aplikasi?

Masalahnya, kalau kami membuat aplikasi dulu, ekspektasi orang akan sangat tinggi.

Ketika prosesnya masih sangat manual, dan kami belum ada automation, orang yang menggunakannya akan kecewa. Mereka akan marah-marah dan memberi rating satu bintang di toko aplikasi. Ini akan menjadi imageyang buruk buat perusahaan.

Jadi kami memutuskan untuk menunda aplikasi, tetapi mengembangkan automation-nya terlebih dahulu.

Ada tantangan tersendiri kalau membuat aplikasi sekarang ini. Kita harus lupakan minimum viable product. Aplikasi sekarang tantangannya adalah minimum lovable product.

Karena, 70 persen orang setelah mengunduh aplikasi akan menghapusnya. Jumlah yang dipakai dalam setahun sekitar maksimum 17 aplikasi. Bahkan, 90 persen hanya menggunakan tujuh aplikasi.

Jadi tantangan di situ. Bagaimana caranya agar aplikasi yang kita buat dipakai terus.

Bicara soal automation, ini erat kaitannya juga dengan IoT. Menurut Anda, apa tantangan teknologi ini di Indonesia?

Tantangannya dari sisi cost. Barang-barang itu masih tergolong barang mewah, kebutuhan tersier. Orang yang mengadopsi IoT adalah mereka yang tech savvy, punya cukup uang, dan berani. Jadi bisa dibilang very-very niche, belum sampai ke bawah.

Seperti smartwartch, di Indonesia masih belum banyak yang pakai. Saya optimistis IoT bakal berkembang, apalagi dalam lima tahun ke depan akan menjamur. Seperti saat ini layanan transportasi on-demand sedang sangat tren dan smartwatch juga mulai muai diramaikan dengan produk harga terjangkau. Apalagi akan sangat banyak device dari Cina.

Anda sendiri menggunakan IoT dalam kehidupan sehari-hari?

Harus pakai, sih. Kita sebagai tech leader harus tahu dan mengadopsi dengan cepat.

Anda memprediksi berbagai perkembangan teknologi dalam lima tahun ke depan. Dalam rentang waktu tersebut, YesBoss akan seperti apa?

Jatuhnya sudah bukan aplikasi lagi, tetapi engine. Nanti ada YesBoss engine di mobil, yang bisa dipakai layaknyaInternet of Things. Lalu ada juga di home appliance.

Misalnya, ketika kulkas mendeteksi telur akan habis, engine ini akan connect ke API logistik. Dari logistik ke supermarket untuk membeli kebutuhan yang habis itu, lalu diantar ke rumah konsumen.

Selain AI dan automation, apa yang menjadi diferensiasi layanan YesBoss dengan kompetitor?

Mengenai fitur yang lebih ke arah AI, saya belum tahu kompetitor ke arah sana juga atau tidak. Rencana kami yang lain adalah partnership ke arah brand. Dan membuat layanan bahasa Indonesia tetapi untuk South East Asia.

Ya, kami berencana ekspansi ke salah satu negara di wilayah ini. Kalau Go-Jek adalah karya anak bangsa, maka YesBoss dari Indonesia untuk dunia.

Pertanyaan terakhir, apa prediksi Anda mengenai tren teknologi di 2016 ini?

Layanan on-demand semakin menjamur, apalagi belakangan ini kita melihat layanan Go-Jek dan yang sejenisnya. Lalu, juga banyak ke arah data analytic. Tren Internet of Things juga tentu saja. Namun, kalau saya melihat tren global, 2016 is the year of AI. Kami, YesBoss, berusaha menjadi pionir di Indonesia untuk itu.

Nah, menarik kan inovasi yang sudah dilakukan YesBoss. Semoga ke depannya karya menarik dari Indonesia ini akan dikenal secara global.

Perdalam pengetahuan Anda soal Internet of Things dengan membaca artikel berikut, Dukung Internet of Things, Bajaj pun Kini Bisa Dipesan Online

0 comments