NOW READING

Martin Kurnadi, Bicara Internet of Things di Tanah Air

 3186
+
 3186

Martin Kurnadi, Bicara Internet of Things di Tanah Air

by The Daily Oktagon

Martin Singgih Kurnadi, CEO Geeknesia, tidak memerlukan setumpuk tarot atau bola kristal peramal untuk tahu apa hal besar yang akan terjadi di industri digital tahun ini. Ketika lebih dari setengah penduduk di Indonesia belum paham pada makna Internet of Things (IoT) yang sebenar-benarnya, pria kelahiran Bandung, 2 September 1979, memutuskan untuk mengambil langkah penting dengan mendirikan PT IoT Indonesia bersama rekannya, Ikin Wirawan.

Nama Martin Kurnadi sudah semakin akrab di telinga para makers, geeks, juga developers. Pasalnya, ia menjadi pelopor dan pionir startup yang bergelut di ranah IoT. Lewat platform Geeknesia yang dibangunnya, ia berusaha memperkenalkan sebuah vertikal baru di dunia teknologi yang menghubungkan semua perangkat ke cloud sehingga bisa menghasilkan data berguna untuk sistem terpadu yang bisa diakses dari mana saja.

Konon, IoT akan menjadi sesuatu yang sangat besar dan berpengaruh. Secara jangkauan, IoT akan meliputi berbagai produk seperti wearable, smarthome, hingga penerapan smart city. Menarik, kan? Bahkan beberapa pelaku besar di industri teknologi seperti Apple, Google, dan Samsung pun sudah bersiap untuk terjun ke ranah Internet of Things.

Penasaran dengan sosok Martin, pionir IoT di Indonesia, The Daily Oktagon menghabiskan sore mengobrol dengan jebolan Universitas Californa Berkeley ini sambil ditemani cuaca kota Bandung yang sejuk.

Kapan Anda “berkenalan” dengan Internet of Things?
Saya memiliki background di bidang industrial automation. Selama berada di bidang tersebut, melakukan remote monitoring bukan merupakan hal baru. Sampai akhirnya konsep itu mendadak berubah dikenal menjadi Internet of Things. Sebuah istilah yang lebih eksotis dan menarik untuk didengar. Perubahan itu juga menyesuaikan teknologi yang semakin mudah diakses, gampang dipelajari, dan memiliki harga yang lebih terjangkau secara hardware dan software-nya. Hebatnya lagi, karena Internet of Things beberapa teknologi kini menjadi open source.

Regular_Image_-_Martin_2

Sejak kapan IoT masuk dan mulai diadaptasi di Indonesia?
Istilah Internet of Things baru mulai populer di Indonesia dari awal tahun ini saja. Namun, secara konsep menghubungkan device ke Internet itu memang sudah dikenal dari dulu di Indonesia dan banyak diterapkan pada sistem monitoring dan sebagainya. Soal adaptasi, beberapa penggiat di bidang telco mungkin sudah mengenalnya dengan istilah M2M (Machine to Machine).

Apa produk IoT lokal yang menurut Anda sukses?
E-Fishery cukup hangat dibicarakan dan berhasil dapat investasi yang cukup besar. Dari Surabaya ada Cubeacon yang merupakan salah satu juara dari Indigo Apprentice Award 2015. Namun, IoT yang paling sukses adalah GO-JEK. Dari sudut pandang saya, GO-JEK menggunakan teknologi IoT berupa data GPS yang dikirim via internet dari pengendara dan pengguna.

Apa yang membuat IoT menjadi begitu penting dan (mungkin) menjanjikan?
Sederhananya, Internet of Things bisa membantu berbagai hal. Misalnya optimisasi dengan bantu menaikkan efisiensi dari sejumlah aktivitas data-data yang terkumpulkan. Dengan begitu, stakeholder bisa melakukan antisipasi dan mampu melakukan prediksi yang membantu decision making berdasar nilai-nilai optimal.

Lalu, kita bisa melakukan servis nilai tambah dengan mengirim data dari connected devices yang ada. Dan pastinya melakukan kontrol jarak jauh untuk berbagai keperluan termasuk optimisasi.

Sebagai pionir di ranah IoT, apa kendala yang selama ini ditemui?
Setiap kali saya menjelaskan konsep Internet of Things di Indonesia, kebanyakan orang sangat tertarik mendengarkan dan mencoba. Ini adalah hal yang benar-benar baru dan sangat exciting! Mungkin, saya hanya perlu memilih bahasa dan metode penjelasan yang sesuai dan dimulai dari apa yang mereka pahami. Lagi pula, Internet of Things bisa menjadi obrolan universal karena diterapkan di berbagai bidang; cuaca, politik, dan kopi.

Apa yang melatarbelakangi berdirinya Geeknesia?
Semua berawal dari Geeknesia yang merupakan startup IoT platform pertama di Indonesia. Platform kami menyediakan servis untuk memudahkan produksi produk proyek IoT dengan cepat, mudah, dan murah. Di kemudian hari, Geeknesia akan membantu pengembangan produk untuk menjadi sebuah solusi. Kami juga berharap Geeknesia bisa membantu para geeks dan makers Indonesia dari segi teknologi yakni Cloud Platform Backend. Kami juga membantu strategi pemasaran yang tepat bagi produk IoT.

Regular_Image_-_Martin

Apa yang perlu dipersiapkan industri teknologi di Indonesia untuk menyambut IoT?
Tentu saja infrastruktur internet dan peraturan pemerintah yang konsisten tentang broadband frequency. Saya melihat banyak teknologi IoT yang berhubungan dengan broadband frequency ke depannya.

Banyak yang bilang pertumbuhan IoT sangat tergantung pada ekosistem yang ideal. Bagaimana pendapat Anda?
Di Indonesia masih banyak gap yang harus diisi sehingga bisa ada ekosistem pertumbuhan IoT yang ideal. Dari segi kemampuan teknologi, SDM Indonesia sudah tidak perlu diragukan lagi. Namun, apakah SDM atau makers tersebut mampu membuat produk yang reliable dan menarik? Apakah ada industri di Indonesia yang dapat mendukung para technopreneurs? Lalu, bagaimana peran pemerintah untuk membantu para makers?

Dari segi pasar dan kebutuhan IoT Solution di Indonesia sangatlah besar. Itu juga jadi latar belakang Geeknesia, yakni membantu pembentukan ekosistem IoT yang ideal bagi stakeholders.

Secara personal, sejauh apa Anda mengadopsi atau mengimplementasikan IoT?
Saya pribadi sedang menyiapkan proyek Smart Home untuk pemakaian rumah pribadi. Selain itu, kami juga mulai mengimplementasikan sistem monitor berbasis IoT untuk beberapa pabrik di Indonesia. Jadi, pemilik pabrik dapat memonitor hasil produksi dan menilai efisiensi kerja pabriknya dari jarak jauh.

0 comments