NOW READING

Marshall Jahja dan Aplikasi Pemburu Makanannya: FoodGasm

 2272
+
 2272

Marshall Jahja dan Aplikasi Pemburu Makanannya: FoodGasm

by The Daily Oktagon

Jakarta kota yang sangat sibuk. Semua orang sudah tahu itu. Bahkan saking sibuknya, kota ini justru seperti tempat menjalani hidup yang seringkali tidak terasa menyenangkan. Dalam survei Center of Economy and Business Report tahun lalu, Jakarta bahkan termasuk salah satu kota yang tidak nyaman di dunia.

Maka kehadiran berbagai aplikasi digital yang dapat membantu orang untuk mendapatkan kenyamanan dalam hidupnya, terasa sangat berguna. Seperti FoodGasm yang telah hadir sejak Februari lalu misalnya, bisa jadi salah satu aplikasi dalam kategori tadi.

Lewat aplikasi ini, pengguna dapat melakukan reservasi tempat di berbagai restoran hanya dalam beberapa kali sentuhan di smartphone; kemudahan yang bisa didapatkan penduduk kota, di sela kesibukan dan pemenuhan gaya hidup, sekaligus kebutuhan sosialnya.

Simak juga artikel tips memotret makanan agar terlihat lebih menarik berikut ini

Kehadiran FoodGasm inipun tak lepas dari sosok Marshall Jahja, founder aplikasi ini. Dengan latar belakang profesional di bidang Teknologi Informasi, Marshall secara jeli melihat peluang aplikasi ini. Baru beberapa bulan diluncurkan, kini aplikasinya sudah bekerjasama dengan sekitar 160 outlet restoran dan jumlah anggota yang menuju angka 3000.

Tak hanya sampai di situ, Marshall juga mendambakan kelak FoodGasm bisa lebih bermanfaat lagi untuk penggunanya dari sekadar aplikasi pemesanan restoran saja. Untuk lebih detailnya, simak perbincangan The Daily Oktagon dengan Marshall berikut ini:

marshall jahja founder foodgasm

Bagaimana munculnya ide membuat FoodGasm?

Kebutuhan orang untuk makan di restoran, market-nya masih besar. Perputaran uang di bisnis ini, di Jakarta saja, dalam setahun bisa mencapai kisaran miliar dolar AS. Jumlah ini didapat dari seluruh level, mulai dari yang makan di warung hingga restoran mewah. Pengalaman saya sendiri, jika mau makan di restoran yang enak atau terkenal, selalu merepotkan, salah satunya masalah reservasi.

Di sisi teknologinya, aplikasi untuk makanan memasuki titik jenuh, karena aplikasi yang hadir saat ini cenderung monoton seperti review makanan atau restoran. Saya sendiri melihat, belakangan ini 70 persen dari review makanan atau restoran sendiri tidak bisa dipercaya.

Ini bisa terjadi misalnya, ada orang yang sebenarnya belum makan di sebuah tempat, tetapi bisa melakukan review dengan berbagai cerita negatif, sehingga bisa mengakibatkan internal restoran mengalami perselisihan. Bahkan ada sebuah restoran di kawasan Pantai Indah Kapuk akhirnya tutup karena review yang jelek.

Kemudian ada inovasi aplikasi seperti Go-Food. Tetapi ini masih semi otomatis. Dalam arti, supir Go-Jek masih harus menalangi sendiri uang untuk membayar makanan pesanan. Tetapi kalau FoodGasm tidak. Kami dari ujung pelanggan, hingga ujung satunya di pihak restoran, seluruhnya sudah otomatis. Untuk fitur pemesanan, hingga selesai makan, sudah otomatis.

Sudah bekerja sama dengan restoran mana saja?

Di antaranya Monty’s, Portico, Hard Rock Cafe, Kopi Warung Tinggi, Cut The Crab, Penang Bistro, dan Seribu Rasa. untuk resto di kawasan Senopati, Jakarta, bisa dibilang kami sudah bekerjasama dengan 80 persen resto yang ada disana. Terakhir kami sudah berhasil kerja sama dengan grup Sheraton Hotel.

Karena SDM kami yang sedikit, jadi kami langsung menyambangi grup perusahaan daripada menyambangi outlet-nya satu per satu. Namun restoran yang tidak masuk dalam sebuah grup relatif lebih mudah negosiasinya; setelah 1-2 pertemuan, biasanya selesai. Sementara grup, bisa 4-6 kali meeting dalam dua bulan, karena beragamnya kebutuhan.

Apa kata food photographer Ridha Kusumabrata tentang trik memotret makanan?

Total ada berapa jumlah restorannya kini?

Ada 160 outlet di Jakarta dan Bandung, dan masih ada sekitar 280 outlet yang waiting list. Buat yang sudah onboard itu artinya mereka sudah mengembalikan data lewat formulir, berikut menu dan foto-foto. Kemudian akan kami tampilkan di aplikasi jika sudah melewati training. Jika belum menyelesaikan dua hal ini, maka masuk dalam kriteria waiting list.

Kendalanya, karena kami startup, SDM masih sangat sedikit. Kalau kami lakukan training satu persatu dari 280 outlet yang masih waiting list, tentu akan merepotkan. Agustus mendatang, kami menargetkan sudah bekerjasama dengan restoran di Bali.

tampilan aplikasi foodgasm

Bagaimana dari sisi member?

Hampir mencapai 3000 orang, dengan jumlah pemesanan rata-rata per bulan tidak lebih dari 300 kali. tetapi yang mengunjungi FoodGasm per hari ada sekitar 700 users.

Apakah Anda hanya menyasar kelompok menengah ke atas?

Saat ini kami baru tiga bulan dan menargetkan kalangan A+, karena versi awal ini hanya bisa melayani pembayaran dengan kartu kredit, jadi belum bisa mengakomodasi kartu debit atau digital wallet. Pemilik kartu kredit kami asumsikan di kalangan A+.

Kami juga beranggapan jika pertama kali masuk ke kalangan B, maka kalangan A+ bisa gengsi untuk memakainya. Jadi strategi marketing saya, masuk ke A+ dulu agar nantinya bisa lebih mudah masuk ke kalangan B. Pada akhirnya, FoodGasm akan menyediakan platform untuk kalangan B, bahkan kalangan di bawahnya, untuk kelas kaki lima yang populer, sehingga nanti makan di roti bakar pun bisa pakai aplikasi ini.

Kalau dilihat dari revenue, target pendapatan saya memang sepertinya bukan di kalangan A+, karena untuk kalangan ini, sebenarnya tidak terlalu sering melakukan reservasi makanan. Justru yang makan di tukang bakso, sehari mungkin bisa 500 mangkok. Tetapi kami masuk dulu ke level atas, agar traction tidak terlalu banyak, sehingga kami bisa banyak belajar, dan edukasi lebih mudah. Hambatannya memang market education, yang butuh waktu dan ongkos besar.

Apakah saat ini hanya bekerja sama restoran dengan sistem IT yang baik?

Tidak juga. Bahkan kami mencari restoran yang belum baik. Kalau kami kerja sama restoran yang sudah mempunyai sistem yang baik, kami ibaratnya hanya sebagai bumbu pelengkap. Tetapi kalau dengan yang sistemnya belum baik, maka mereka antusias.

Tetapi kami “jual” makanan, sehingga tidak mau “membakar” uang hanya untuk membangun sebuah sistem IT yang baik, sehingga kami masuk dengan gratis dan sampai kapanpun kami akan gratis. Kami tidak akan kenakan biaya sewa atau CRM, atau sebagainya, karena orientasi kami adalah mobile payment, sehingga pendapatan didapatkan dari tiap transaksi. Jika ada transaksi, restoran dapat pelanggan, kami dapat uang; jadi nothing to lose.

Kiat praktis memotret makanan dengan kamera mirrorless

Bagaimana Anda membangun sistem sehingga fitur bayar di muka bisa berjalan dengan baik?

Pembayaran di muka hanya tahap awal. Tahap akhirnya, ada sistem pembayaran “go show” atau langsung. Pembayaran di muka kami buat misalnya di bulan puasa, kalau mau reservasi tentu akan ramai. Biasanya kalau reservasi akan diminta uang jaminan lewat transfer dana via bank. Untuk ke depannya, tidak hanya reservasi, namun juga datang, makan, dan bayar via FoodGasm. Nanti kasir bisa kirim invoice ke ponsel kita. Sehingga kita hanya perlu masukkan PIN, dan selesai. Untuk berbagai sistem ini, sekarang kami didukung oleh Doku Wallet.

Ada fitur selain reservasi restoran?

Di sisi lain, jenis makanan yang dibeli masuk dalam data statistik kita, yang di kemudian hari, dalam 1-2 tahun ke depan, dapat dijadikan data besar yang sangat berguna. Misalnya saja statistik minuman kopi Vietnam, nantinya bisa dilihat misalnya range usia peminat atau jenis kelamin peminatnya. Lewat data tersebut kami bisa menganalisa users, restoran, market, dan spending behavior. Namun tentu data ini baru bisa dikumpulkan dalam beberapa tahun ke depan. Ini menjadi tujuan jangka panjang kami.

tim foodgasm

Momen saat menghadiri konfrensi teknologi RISE 2016 di Hong Kong. (Sumber foto: dok. pribadi)

Jadi data akan berguna juga untuk restoran?

Ya. Misalnya, jika menu Soto Betawi di Sate Khas Senayan cabang Bekasi tidak selaku di cabang Pakubuwono, maka cabang bekasi tidak perlu menyimpan bahan Soto Betawi terlalu banyak. Data juga bisa berguna juga untuk bank, tentang apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan penggunaan kartu kredit tertentu di restoran-restoran.

Jadi FoodGasm bisa menghadirkan platform yang menyediakan informasi seperti itu. Kalau dari sisi user, tentu kami ingin meningkatkan user experience yang baik. Dari segi restoran, untuk peningkatan resource management. Bahkan nantinya kami akan menambah fitur yang belum bisa saya sebutkan sekarang. Yang pasti fitur itu nanti cukup atraktif dan interaktif untuk meningkatkan user experience.

Strategi agar pengguna terus memakai aplikasi ini?

Pada versi berikutnya bakal ada layanan antar (delivery). Layanan ini nantinya tidak dikelola secara in-house oleh FoodGasm, melainkan bekerja sama partner-partner yang memang secara khusus mengantarkan makanan yang telah dibeli lewat FoodGasm dengan boks khusus, jadi tidak dimasukkan ke plastik dan digantung di pengait yang ada di motor.

Bahkan nanti pengguna dapat memilih jenis pengantaran, apakah memakai porter, Grab, atau Uber. Jadi FoodGasm itu bukan merupakan sebuah service saja, melainkan sebuah platform. Siapa pun yang punya fitur, ide, untuk bergabung dengan kami, tentu diterima. Kami bukan open source, tapi open opportunity, hahaha.

Baca juga ulasan tiga aplikasi serbaguna berikut ini

Sejauh mana teknologi membantu Anda sebagai pengusaha?

Saya sudah di bidang IT sekitar 11 tahun, sebelumnya di jaringan. Saya punya usaha internet service provider (ISP). Tetapi saya melihat bisnis ISP menjadi monoton, karena inovasi hanya sekitar besar kecepatan internet yang dihadirkan. Hal yang jadi tantangan besar saat ini justru soal konten.

Pada 10 tahun lalu, manusia hanya nyaman dengan sebuah kartu kredit untuk melakukan transaksi pembayaran. tetapi kami tidak akan tahu dalam 10 tahun ke depan, apakah masih tetap kartu kredit? Atau sudah berubah menjadi mobile payment? Optimisme saya berada di mobile payment.

Lalu, perubahan terus terjadi. Lima tahun lalu, berapa kali kita membuka laptop dalam sehari? Setiap meeting atau bekerja, selalu buka laptop. Sekarang mungkin buka laptop hanya dua kali tiap pekan, karena semua sudah beralih ke smartphone.

Saya sendiri bukan pecandu gadget, tetapi menggunakannya setiap hari. Bukan untuk eksis, tetapi agar bisa update, melihat tren yang berkembang, apa yang tengah disukai dan yang tidak disukai. Dulu saya termasuk pemburu gadget, termasuk pesan yang masih pre-order. Tapi sekarang, sudah lebih melihat kebutuhannya saja.

Di sisi lain, bagaimana Anda melihat perkembangan Internet of Things (IoT)?

FoodGasm itu membuat IoT. Kami akan menyediakan printer seperti POS (point of sale) mini yang bisa menerima order yang masuk dan terhubung dengan sistem pembayaran. Dengan sistem “go show” yang sudah saya jelaskan sebelumnya, maka nanti yang akan “menembak” invoice ke ponsel kita itu bukan berasal dari kasir, tetapi printer-nya.

Kami akan buat perangkat IoT printer, yang saat ini dalam tahap finishing. Fungsinya sudah bekerja dengan baik, tetapi saya belum menemukan model dan bentuk yang pas.

Simak pula bahasan tentang IoT bersama jagoan teknologi Onno W. Purbo

Printer ini rencananya akan ditempatkan di setiap restoran?

Ya. tetapi sebenarnya printer ini tidak ditujukan untuk restoran mewah, melainkan untuk UKM, yang tidak mampu membeli platform, cash register, atau bahkan tak mampu membuka rekening bank karena keterbatasan pengetahuan.

Buat mereka yang kurang melek teknologi ini, kami akan memberikan printer itu tanpa mereka perlu membayar sepeser pun. Tidak repot, yang penting hanya bisa baca dan tulis.

(Marshall kemudian memperlihatkan rekaman video di ponselnya, yang menunjukkan kemampuan printer yang terhubung dengan sebuah ponsel yang “saling bertransaksi” melakukan tranksasi pembelian).

Saat ini kami sedang mengusahakan hak paten produknya.

Pendapat Anda tentang IoT ke depannya nanti?

Akan mengubah gaya hidup manusia, sekaligus hal yang menyenangkan untuk diikuti. Sekitar 10 tahun lalu, hidup manusia hanya bersandarkan komputer meja, sekarang sudah ke mobile phone, yang sebenarnya juga termasuk varian IoT.

Dalam 10 tahun ke depan juga, mungkin IoT bukan lagi hanya semata digital lifestyle, tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan keseharian. Bahkan tukang bakso dapat menggunakan IoT, tidak hanya dari kalangan atas.

Tips agar startup aplikasi bisa eksis?

Terus berinovasi. jangan takut mencoba. dan punya trik marketing yang jitu. makanya saya juga bekerjasama dengan pihak lain untuk membantu dari sisi pemasaran.

Baca juga tentang coworking space sebagai tempat bernaungnya para startup

0 comments