NOW READING

Lika-liku Tantangan dan Peluang Startup di Tanah Air

 1081
+
 1081

Lika-liku Tantangan dan Peluang Startup di Tanah Air

by The Daily Oktagon
  • Satu per satu startup teknologi menyusul hadir untuk meramaikan pasar. Ada yang sukses, namun tak sedikit pun yang gugur.
  • Startup harus jeli melihat tantangan dan peluang terkini.
  • Ada sejumlah tantangan yang harus dialami pelaku startup. Beberapa di antaranya termasuk skala bisnis, SDM, dan regulasi.

Startup (perusahaan rintisan) kini begitu menjamur di Indonesia. Salah satu alasan mengapa startup begitu agresif hadir juga dipicu oleh perkembangan teknologi informasi yang masif.

Padahal dulu, perusahaan semacam ini sempat dipandang sebelah mata. Konsep sebuah perusahaan yang dibangun oleh kalangan rookie entrepreneur, di kala itu cuma seperti lelucon belaka. Tak ada bimbingan yang utuh, pendanaan gamang, manajemen yang belum matang menjadi beberapa alasan startup dianggap angin lalu di industri bisnis Indonesia.

Ketimpangan tersebut sekarang justru ditampik fakta, startup sebetulnya bisa berpotensi berkembang menjadi perusahaan dengan valuasi yang besar. Ambil contoh Go-Jek, awalnya mereka berjalan tertatih. Konsep ojek online saat itu dianggap tidak fungsional. Kini? Go-Jek telah menjadi salah satu startup unicorn dengan nilai US$ 1,2 miliar.

Satu per satu startup teknologi menyusul hadir untuk meramaikan pasar. Lalu, apakah keberadaaannya akan terus stabil di Indonesia? Akankah perusahaan rintisan anak-anak bangsa ini memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh dengan nilai yang diharapkan?

Tantangan Skala Bisnis

Di mata pengamat startup Didit Hermawan, sangat mudah bagi para pelaku startup untuk membuat konsep sebelum memutuskan untuk terjun ke pasar. “Startup-startup di Indonesia mengalami traksi yang sangat baik di awal kemunculannya,” kata Didit.

Namun lanjutnya, startup lahir seharusnya bukan untuk terus menjadi ‘bayi’. Konsep yang sudah dimatangkan, harus berkembang seiring dengan skala bisnis yang berjalan. Karena itu, skala bisnis dari perusahaan itu sendiri ia nilai sebagai tantangan khusus yang hingga saat ini masih jadi isu utama.

“Setelah satu atau dua tahun berdiri, tentu ia harus catching up dengan skala bisnis yang berjalan. Kesulitan-kesulitan bisa saja datang pada periode tersebut”.

Didit mengambil contoh Go-Jek. Awalnya berdiri sebagai penyedia layanan transportasi online on demand, namun dua sampai tiga tahun kemudian skala bisnisnya berkembang menjadi penyedia jasa layanan online seperti layanan pijat, pesan makanan, hingga bersih-bersih rumah.

Ia pun membandingkan contoh skala bisnis Go-Jek dengan situasi yang dialami pelaku startup Indonesia saat sekarang. Jika tidak bisa berkembang dengan skala bisnis yang diharapkan, startup berpotensi bisa runtuh dan tidak mendapatkan pendanaan lanjutan.

“Dari sisi investasi, sangat sedikit investor kita bisa gelontorkan dana berkisar dari US$ 5 juta (setara dengan Rp 66 miliar) hingga US$ 20 juta (setara dengan Rp 267 miliar),” lanjut pria yang pernah meniti karier di Boeing tersebut.

“Tantangan ini tentu menjadi pemicu utama yang menyebabkan startup-startup kesulitan mendapatkan tahap pendanaan lanjutan Seri B. Padahal mereka sudah mengantongi dana seri A di periode sebelumnya,” tambahnya.

Cari tahu juga tantangan teknologi terkini generasi millennial Indonesia di artikel ini.

Minim SDM dan Regulasi

Tantangan lain adalah kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang rela untuk bekerja di startup. SDM lokal enggan bekerja karena masih terjebak stigma bahwa startup belum bisa memberikan masa depan karier yang pasti.

Menurut Didit, para pelaku startup harus memberikan sosialisasi terkait ekosistem industri yang bisa dijadikan kelebihan. Salah satunya adalah fleksibilitas budaya kerja.

“Kebanyakan startup teknologi memiliki budaya kerja yang fleksibel dan nyaman, berbeda dengan perusahaan besar yang lebih formal. Ini bisa dijadikan nilai jual bagi SDM lokal,” kata mantan Country Director Motorola Networks Indonesia ini.

Didit juga menyoroti soal regulasi yang belum jelas. Memang, aturan yang sudah dikeluarkan pemerintah terkait startup sudah ditetapkan, namun tidak membahas secara detail soal investasi. Alih-alih, aturan mengharuskan investasi kepemilikan lokal harus 20 persen.

“Lagi-lagi, investasi jadi isu utama tantangan. Regulasi yang belum rampung mengakibatkan para investor berpikir dua kali untuk melakukan investasi pada startup Indonesia. Maka itu, investor harus paham dengan aturan startup yang sudah ada di Indonesia untuk sekarang ini, agar mereka bisa melihat efek jangka panjang dari investasi yang sudah dilakukan,” tuturnya melanjutkan.

Salah satu kunci startup adalah developer andal. Simak kiprah komunitasnya di sini.

Peluang Masih Besar

Maka itu, menurut Didit, peran inkubator startup sangatlah berpengaruh. Ibarat “orang tua asuh”, inkubator berperan untuk menuntun startup menggodok konsepnya lebih matang untuk menciptakan model dan skala bisnis yang lebih besar.

Banyaknya pihak inkubator yang muncul belakangan ini pun, ia anggap sebagai awal yang baik bagi industri startup lokal. Dengan begitu, Didit berharap makin banyak startup yang hadir dan optimistis akan skala bisnisnya karena mereka bisa dibantu oleh inkubator. “Inkubator berperan mematangkan ide kreatif, serta menawarkan ruang bagi pelaku startup untuk berkembang dan menciptakan solusi komprehensif bagi bisnisnya,” tuturnya.

Didit juga mengimbau pelaku startup harus terus ekstra sabar demi mencapai skala bisnis yang baik, terlebih pendapatan signifikan.

Pelaku juga diharapkan tidak terlalu lama menyimpan ide bagus, yang justru bisa mengeksekusi skala bisnis menjadi lebih baik, sehingga tak butuh waktu lama untuk bisa menyalip bisnis konvesional yang sudah eksis puluhan tahun. “Go-Jek saja berdiri sejak 2011, valuasinya meroket dalam beberapa tahun,” katanya.

Co-founder Kitabisa.com Alfatih Timur menilai tingginya akses internet dan penetrasi pengguna smartphone di Indonesia sebagai salah satu peluang startup bisa berkembang lebih besar. Tercatat, pertumbuhan pengguna smartphone kini telah mencapai lebih dari 97,5 persen.

Kebiasaan ini menurut Timmy, sapaan akrabnya, bisa menjadi celah bagi pelaku startup untuk menciptakan solusi teknologi dengan layanan berbasis aplikasi. “Jika model bisnisnya sesuai, pasti akses layanannya yang hadir dalam bentuk dalam aplikasi bisa lebih banyak dijangkau pengguna,” ujarnya.

Salah satu strategi yang harus dilakukan pelaku startup untuk menangkap peluang ini dengan memanfaatkan bisnis big data dan machine learning. Kedua teknologi ini bisa menjadi solusi isu peningkatan skala bisnis bagi startup yang hendak berkembang. “Kalau para pelaku bisa memanfaatkan SDM untuk berinovasi pada lahan ini, peluang untuk bersinar akan terbuka lebih lebar,” pungkasnya.

Tetap semangat dan pantang mundur bagi pelaku startup di Indonesia!

Baca juga: Mobile Working, Gaya Bekerja Efisien di Era Teknologi Digital

0 comments