NOW READING

Layanan Streaming : Solusi atau Ancaman Industri Musik Indonesia?

 2544
+
 2544

Layanan Streaming : Solusi atau Ancaman Industri Musik Indonesia?

by The Daily Oktagon

Ketika diluncurkan pada tahun 2003, iTunes Music Store, kini bernama iTunes Store, diklaim berhasil membawa perubahan besar pada industri musik. Toko musik digital yang bisa diakses dari aplikasi iTunes di komputer itu mempopulerkan penjualan musik dalam bentuk album dan single digital.

Menurut catatan CNN Money, pada tahun 2012, saat CD hanya laku 500 juta keping, single digital terjual hingga 819 trek. Pada tahun yang sama, iTunes, didukung oleh iPod yang juga sukses di pasaran, bertanggung jawab terhadap 63 persen penjualan seluruh musik digital di dunia.

Musik digital pun dianggap pelan-pelan “membunuh” penjualan CD. Belakangan, hadirnya berbagai layanan streaming musik disebut-sebut akan menggantikan kedudukan CD, sembari membawa dampak perubahan baru pada industri musik.

Deezer, Spotify, dan Guvera merupakan salah satu layanan pertama yang membawa arus perubahan ini. Meluncurkan layanannya masing-masing pada 2007, 2008, dan 2010, ketiganya mengizinkan penikmat musik mendengarkan album atau single digital secara streaming. Apple, tidak mau ketinggalan, memperkenalkan layanan serupa bernama Apple Music pada pertengahan 2015. Sayang, Spotify –salah satu pemain penting streaming music– belum memberi indikasi kapan mereka siap memasuki pasar Indonesia.

Guvera, layanan streaming musik asal Australia, telah menjajal pangsa pasarnya di Tanah Air sejak Februari 2014. Saat ditemui di kantornya, Onny Robert, Head of Operations & Marketing Guvera Indonesia, mengungkapkan kalau tren ke arah streaming musik mulai terlihat sejak beberapa tahun lalu.

Onny menampilkan data mengenai pembelian single digital iTunes di Amerika Serikat yang menurun 6 persen pada 2013. Walau pun penurunannya hanya sedikit, pada tahun yang sama pengguna layanan streaming musik naik hingga 32 persen.

Regular_Image_-_Onny_Guvera

“Masyarakat di negara maju seperti Amerika sudah banyak yang mengganti kebiasaan mengunduh lagu dengan menikmati musik secara streaming. Menurut mereka, mungkin, buat apa saya memiliki satu lagu, sementara saya bisa mendengarkan berjuta-juta lagu dengan berlangganan,” ungkap Onny.

Seperti diketahui, layanan streaming musik bisa dinikmati secara berlangganan atau gratis dengan sisipan iklan. Umumnya, dengan membayar biaya langganan, musik bisa dinikmati dengan kualitas yang lebih baik. Pengguna juga bisa mendengarkannya secara offline.

Pengaruh tren streaming musik di Indonesia juga dirasakan Abdee Negara, gitaris grup musik Slank. Menurutnya, masa depan industri musik ada di streaming musik itu sendiri. Slank sendiri tampak mendukung layananan ini. Anda bisa mendengarkan album-album Slank secara streaming di Deezer maupun Guvera.

“Masa depan entertainment itu ada di streaming, apalagi bila semua wilayah di Indonesia sudah terpasang jaringan internet yang mumpuni. Ditambah gadget yang lebih murah, rasanya sudah cukup banyak alasan orang untuk beralih ke layanan streaming musik,” ujar Abdee kepada The Daily Oktagon.

Bicara soal mendengarkan musik secara streaming, tentu perkembangan teknologi ini sangat erat kaitannya dengan kualitas jaringan internet. Sebagai penyedia layanan, Guvera Indonesia juga sadar betul bahwa kualitas jaringan internet di Indonesia masih perlu disempurnakan. Kendati demikian, Guvera punya antisipasi terhadap kendala tersebut.

“Dari Guvera, kami menyediakan fitur auto buffering agar pengguna bisa mendengar musik yang telah didengarkan sebelumnya secara offline. Namun, kami yakin pemerintah tidak akan tutup mata soal isu ini. Seiring dengan majunya infrastruktur, kami rasa layanan streaming musik bisa makin berkembang,” jelas Onny.

Solusi atau ancaman?
Setiap ada cara baru untuk melakukan sesuatu, selalu ada kekhawatiran. Terutama dari mereka yang merasa terancam eksistensinya. Dari industri musik, misalnya, ada kekhawatiran layanan streaming musik akan menganibalisasi penjualan CD atau musik digital.

Dalam wawancara dengan Techgoondu, Dona Inthaxoum, Head of Label Relations Asia & Oceania Deezer, menjelaskan bahwa layanan streaming musik tidak “membunuh” penjualan musik dalam format sebelumnya. Justru, sebaliknya, layanan ini mengarahkan pengguna membeli karya musikus favoritnya.

“Banyak penggemar musik menggunakan layanan gratis dan premium kami sebagai alat untuk menemukan musik. Mereka masih membeli CD, mengunduh musik, membeli cenderamata, dan menghadiri konser,” ujarnya. “Kami tidak melihat layanan streaming melakukan kanibal di penjualan musik. Justru, ini adalah masa depan industri musik.”

Guvera punya pandangan yang sama. Onny melihat bahwa hadirnya streaming musik punya potensi membawa perkembangan yang lebih baik terhadap industri musik.

“Layanan streaming musik menawarkan solusi kemudahan bagi musikus serta pendengarnya, dengan harapan industri musik Indonesia bisa berkembang menjadi lebih baik,” ungkap Onny.

Dari sisi musikus, Abdee menganggap layanan streaming musik bukan sebagai ancaman. Meski demikian, ia menekankan kepada musikus agar cermat melihat model bisnis yang ditawarkan penyedia layanan streaming.

“Terkadang model bisnis dari penyedia layanan streaming lah yang bisa menjadi ancaman,” ujar Abdee.

Contoh model bisnis yang dianggap merugikan musikus adalah skema free trial Apple Music. Selama tiga bulan pertama, pengguna bisa mendengarkan streaming musik secara gratis. Namun, Apple tidak membayar royalti dari tiap musik yang didengarkan pada periode tersebut.

Taylor Swift sempat memboikot album terbarunya, “1989,” dari Apple Music. Menurut Swift, skema bebas royalti saat free trial itu merugikan musisi-musisi independen. Keluhan yang dituangkan dalam blog-nya itu viral. Apple pun melunak dan mengubah skema royaltinya. Selama free trial, musisi akan tetap mendapatkan royalti, walau jumlahnya lebih kecil dari periode berlangganan.

Sepertinya, masih butuh waktu sebelum pertanyaan yang menjadi judul artikel ini bisa terjawab. Usia layananstreaming musik masih terlalu muda untuk dianggap sebagai solusi, dan belum ada bukti yang menunjukkan bahwa layanan ini mengancam pemasukan label dan musikus. Akan tetapi, satu yang pasti, seperti diutarakan oleh Dona Inthaxoum, layanan streaming adalah masa depan bagi industri musik. Dan kita di Indonesia sudah bisa menikmatinya.

0 comments