NOW READING

Komunitas yang Relevan dengan Digital Lifestyle ala Shafiq Pontoh

 2733
+
 2733

Komunitas yang Relevan dengan Digital Lifestyle ala Shafiq Pontoh

by The Daily Oktagon

Membaca nama Shafiq Pontoh, top of mind Anda yang mengetahui sosok pria ini mungkin langsung menghubungkannya dengan kata ‘komunitas’. Shafiq yang berprofesi sebagai strategic planner memang menjadi bagian penting dari berbagai komunitas dan gerakan, terutama yang berbasis media digital.

Beberapa tahun lalu, ia menjadi co-founder komunitas ayah pendukung ibu menyusui @ID_AyahASI. Kemudian, bersama arsitek Ridwan Kamil yang kini Walikota Bandung, Shafiq menjadi co-initiator @IDberkebun, komunitas ‘petani kota’ Indonesia yang mencoba memproduktifkan lahan terlantar di perkotaan.

shafiq

Ia pun aktif di Indonesia Berkibar, sebuah gerakan nasional untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia melalui perbaikan kualitas guru dan sekolah. Sementara itu, kemampuan Shafiq terus diasah dengan bergabung bersama dengan Provetic, sebuah konsultan data analytic. Berikut perbincangan The Daily Oktagon mengenai komunitas yang relevan dengan digital lifestyle ala Shafiq Pontoh.

Bagaimana Perkembangan Komunitas Berbasis Media Digital Saat ini Menurut Anda?

Sekarang, komunitas variannya semakin beragam. Dulu komunitas yang berbasis dunia digital banyak yang berbasis sosial. Sekarang, bermunculan komunitas yang berbasis kegiatan politik, brand, hingga marketing. Ada juga pembangunan komunitas fan based. Masing-masing variasi kegiatan komunitas itu tentu mempunyai karakternya masing-masing, yang bisa saja saling beririsan, atau tidak bersentuhan sama sekali.

Bisa Disebutkan Contoh-contohnya?

Kalau yang politik misalnya komunitas Jasmev, kemudian para tim sukses digital, termasuk panasbung atau kependekkan dari pasukan nasi bungkus, hingga pasukan anonim. Ini biasanya bermain di wilayah politik, yang biasanya mendukung tokoh politik tertentu. Bahkan sekarang, partai politik sudah muali mengembangkan ceruk-ceruk komunitas digitalnya masing-masing. Sementara yang berbasis brand, di antaranya para perusahaan telekomunikasi yang juga mulai membangun komunitasnya. Sementara yang sempat happening, adalah Nike Plus dengan komunitas larinya.

Sebelum lanjut, yuk baca artikel menarik ini, Media Sosial dan Digital Lifestyle dari Kacamata Bapak Blogger Indonesia

Jadi, Menurut Anda Komunitas Sosial Mulai Menurun?

Sebenarnya masih banyak, namun populasi cluster-nya kini semakin banyak. Dulu, karena relatif tidak ada lawannya maka bisa stand out. Sekarang, eksposure-nya terpecah karena banyaknya cluster baru tadi.

Bagaimana Tantangan Para Komunitas Saat Ini?

Sustainability. Kalau dulu perlu stand out untuk bisa sustain. Kalau sekarang, relatif tidak perlu stand out, yang penting sustain. Caranya, dengan membuat economic model di dalam komunitas tersebut. Memaksimalkan basis pegiat, simpatisan, atau partisipannya.

Misalnya saja Indonesia Berkebun tidak perlu exposure besar karena berada di 33 kota. Tapi bagaimana caranya me-manage seluruh cabang kota ini agar tetap relevan, penggiatnya loyal, dan economic model-nya terbentuk.

Begitu pun AyahAsi. Mereka tidak perlu cari panggung lagi, karena sudah menjadi top of mind. Tapi bagaimana caranya agar AyahAsi kini masih bisa relevan bagi ibu-ibu yang ingin melahirkan, atau keluarga yang ingin punya anak.

Menurut saya, ada tiga jenis share yang harus diperhatikan. Share pertama adalah ‘share of time‘. Dalam sehari hanya 24 jam, yang dibagi untuk tidur, bekerja, berangkat atau pulang kerja, dan lainnya. Dalam sehari, mungkin seseorang hanya relatif mempunyai waktu sekitar sejam untuk mengakses media sosialnya. Disinilah semua rebutan untuk mendapatkan exposure segala jenis produk atau konten.

Yang kedua adalah share of wallet. Misalnya saja kita punya uang 100 ribu yang dialokasikan untuk berbagai keperluan. Sementara yang ketiga adalah “share of platform”. Di ponsel misalnya kita punya berbagai aplikasi, pesan instan, browser, dan lainnya. Yang mana dulu yang harus dibuka? Itu pun baru dari satu platform yaitu ponsel. Belum lagi ada dengan komputer, televisi, dan radio.

Dari tiga share yang harus diperebutkan ini, bagaimana caranya agar kita bisa menjadi pilihan? Interest based. Penggemar Manchester United, walau dia tidak punya uang atau waktu, atau pilihan platform, tetapi ketika timnya bertanding, maka dia akan bela-belain untuk menontonnya.

Begitu pun ceritanya dengan komunitas penggemar JKT48. Para pengelola komunitas harus memberikan informasi, pelayanan kepada fan base-nya. Kemudahan untuk fasilitas nonton bareng, membeli tiket atau merchandise. Sustainability itu bisa didapat dengan pembinaan cluster-cluster yang spesifik. Apa pun jenis komunitasnya.

shafiq4

Bagaimana dengan Proses Kaderisasi dalam Komunitas?

Kaderisasi relatif hanya diperlukan bagi komunitas organisasi formal. Untuk gerakan sosial, hanya perlu mengangkat isu itu secara konsisten, dan tetap relevan ke market audience-nya. Makanya pemilihan target cluster tadi menjadi penting. AyahAsi misalnya jelas targetnya. Selama manusia masih melahirkan anak, komunitas ini akan terus relevan. Para founder-nya berusaha mendistribusikan aktivitas ini kepada mereka yang ingin aktif.

Membentuk komunitas itu tidak bisa berdasarkan paksaan. Kita tidak bisa menekan para simpatisan atau paritisipan untuk fokus dalam komunitas itu. Ketika mereka mempunyai ketertarikan pada komunitas itu, dan ingin berbuat sesuatu, maka pengurusnya harus memberikan ruang untuk ikut serta. Hal ini yang biasanya menjadi kesalahan dalam mengurus komunitas yang dilakukan oleh organisasi, afiliasi politik , atau perusahaan. Tak jarang bersifat individu, atau hanya pengurusnya yang menjadi superstar’

Komunitas itu harus dibagi-bagi, dengan menjadi superstar secara bergantian. Ketika terjadi distribusi semacam itu, maka komunitas akan bergerak dengan semangat. Penggerak AyahAsi saat merasa anaknya sudah besar sehingga tidak merasa relevan lagi untuk aktif dalam komunitas ini, maka akan ada orang lain yang akan menggantikannya.

Selain Tidak Boleh Ada Unsur Paksaan, Ada Peraturan Lain?

Jangan pernah menggunakan komunitas untuk keperluan politik, atau terlibat dalam mendukung kandidat tertentu. Itu saya belajar dari pengalaman, sehingga AyahAsi atau IDBerkebun relatif bisa sustain hingga sekarang. Sekali saja anggota komunitas sudah merasa dipolitisasi, maka akan kusut nanti.

Nah, Menurut Anda Bagaimana Relevansi Komunitas dengan Perkembangan Internet of Things?

Sangat berpengaruh. Kita misalnya saja mulai dari cluster komunitas yang mungkin tidak pernah diangkat, namun terjadi, para penghuni townhouse sekarang sudah punya grup WhatsApp. Grup ini membuat antar penghuni semakin dekat. Mungkin ke depannya ada grup di RT atau RW. Ada juga contoh grup antar orangtua murid. Berbagai informasi sekolah, atau bahkan gurunya ikut masuk di dalam grup itu.

Sehingga anekdot yang menyatakan, “Menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh” adalah salah. Yang benar adalah, “Mendekatkan yang jauh dan Mengakrabkan yang dekat”. Di kompeks perumahan, saya mungkin tidak bertemu setiap hari dengan tetangga. Tetapi kita bisa saja tahu hal-hal tertentu dari para tetangga karena saling terus meng-update. Misalnya siapa yang sedang ulang tahun, yang sedang sakit, atau kompleks sedang mati lampu. Kita akan tahu dari first hand, sehingga menjadi sebuah keakraban yang luar biasa.

shafiq2

Ukuran Komunitas yang Sukses, Berarti yang Bisa Sustain Tadi?

Benar. Kalau hanya mengandalkan donasi, akan berat. Karena ia berarti harus berusaha serelevan mungkin dengan donaturnya sehingga donasi terus ada. Komunitas yang sukses bahkan tidak harus ada uangnya. Yang penting ada kegiatan yang membuat kenyamanan dan value yang didapat oleh mereka yang ikut berpartisipasi dalam kegiatannya. Komunitas lari misalnya, sangat cair, karena partisipannya bisa saja ikut kegiatan ini dimana saja. Namun dalam sebuah event, mereka bisa bersama-sama ikut.

Menurut Anda, Sustainability Bisa Diukur dari Panjangnya Usia Komunitas Itu?

Saya melihatnya sepanjang ia masih bisa relevan. Ketika masa pemilihan presiden kemarin misalnya, maka komunitas yang dibentuk akan relevan sebelum pemilihan. Setelah pemilihan, akan bubar. Yang penting selama masa pemenangan calonnya, ia masih bisa sustain. Bagi saya itu tetap ukuran sukses.

Anda juga pasti suka artikel mengenai perkembangan startup berikut, Seorang Angel dalam Diri Shinta Dhanuwardoyo

0 comments