NOW READING

Kofipon, Komunitas Fotografi tanpa Kamera Profesional

 809
+
 809

Kofipon, Komunitas Fotografi tanpa Kamera Profesional

by The Daily Oktagon
  • Komunitas Fotografi Ponsel atau disebut Kofipon berdiri sejak 17 Maret 2009
  • Suka fotografi, tapi tidak memiliki kamera profesional jadi dasar para anggotanya setuju mendirikan Kofipon pada awalnya
  • Komunitas ini juga punya kelas untuk belajar fotografi di samping acara rutin setiap bulannya.

Tidak ribet, tidak berat, tapi tetap bisa menghasilkan sesuatu yang bagus dan memukau. Sebuah pesan yang ingin disampaikan oleh komunitas fotografi yang para anggotanya tidak memakai kamera profesional buat mengambil fotonya. Komunitas yang didirikan para tanggal 17 Maret 2009 di Yogyakarta ini meminta para anggotanya untuk mengambil momen indah atau berburu objek menarik dengan kamera ponsel.

Komunitas Fotografi Ponsel yang disingkat jadi Kofipon ini dibentuk oleh Beni Syamsudin Toni yang memang suka dengan fotografi. Sayangnya, pada waktu itu, Beni belum memiliki kamera DSLR dan hanya memanfaatkan kamera ponsel Sony Ericsson K750i. Beruntungnya, ternyata banyak juga teman-teman Beni yang juga suka fotografi, tapi tidak memiliki kamera dan setuju untuk membuat sebuah komunitas fotografi yang menggunakan ponsel seadanya. Baik Beni maupun teman-teman dekatnya, punya keinginan kuat untuk terus belajar fotografi dengan alat seadanya.

Bisa dibilang, Kofipon salah satu pencetus adanya komunitas fotografi yang menggunakan kamera ponsel di Indonesia. Waktu dulu, kamera ponsel paling tinggi beresolusi 5 megapiksel, tapi hanya dengan itu saja sudah banyak orang yang bisa mengabadikan momen tanpa terlewatkan. Sifat praktis dari ponsel yang mudah dibawa ke mana-mana dan hampir dimiliki oleh semua orang ini yang membuat dari hari ke hari sampai saat ini pengikut dari Kofipon semakin bertambah. Tercatat, saat ini Kofipon sudah memiliki sekitar 32 ribu lebih pengikut di halaman Facebook mereka.

fotografi

Setiap bulan, anggota Kofipon mengadakan kopi darat rutin di masing-masing regional dan tidak menutup kemungkinan ada anggota yang ikut dalam regional berbeda setiap bulannya. Kalau bosan menunggu satu bulan, Kofipon juga akan mengadakan kumdak atau kumpul dadakan di tempat-tempat strategis, seperti mal atau coffeeshop. Kofipon bukan hanya komunitas senang-senang, tapi juga memberikan ilmu-ilmu mereka kepada orang lain. Kofipon secara rutin mengadakan seminar dan workshop fotografi di sekolah, kampus, dan perkumpulan masyarakat. Selain itu juga, sekarang dibuat Kelas Ponsel atau yang disingkat KePo untuk orang luar yang mau belajar fotografi dengan menggunakan ponsel.

Komunitas ini membangkitkan dunia komik Indonesia melalui media sosial.

Seleksi Foto yang Ketat

Kofipon cukup terbuka untuk orang-orang bergabung dan menyumbangkan hasil jepretannya. Namun, mereka punya seleksi yang cukup ketat untuk foto-foto yang masuk ke redaksional, tapi tenang saja karena semua itu mudah untuk dilakukan. Humas Kofipon, Titus O. Mainassy, bilang kalau semua foto sebenarnya bisa masuk ke halaman Facebook Kofipon. Namun, semua foto yang diambil harus menggunakan kamera ponsel dan tidak harus yang beresolusi tinggi.

fotografi

“Pokoknya motretnya harus pakai handphone berkamera dan fotonya apa saja, selfie pun boleh asal yang tidak biasa, ada tema dan ceritanya,” ujar Titus kepada The Daily Oktagon.

Akan tetapi, untuk dipamerkan di Instagram Kofipon, hanya foto-foto terpilih saja karena foto-foto tersebut yang akan dicetak dan dipamerkan saat Kofipon mengadakan pameran. Titus menjelaskan kalau kamera beresolusi 2 megapiksel pun sebenarnya sudah layak untuk dicetak, asalkan tidak terlalu banyak melewati proses editing.

Main games sembari bernostalgia dengan konsol lama bareng Komunitas Retro Games Indonesia.

Untuk urusan editing, Kofipon cukup tegas kepada para anggotanya yang mau menyumbangkan karya-karya mereka. Supaya masih tetap terasa kesederhanaan kamera ponsel, para anggota dilarang menggunakan digital imaging profesional atau tambahan-tambahan efek-efek lain seperti dual camera, dual exposure, atau bokeh layaknya kamera DSLR.

fotografi

Titus menyarankan hanya menggunakan aplikasi edit foto yang ada di smartphone saat ini dan mudah didapatkan dan tetap mempertahankan compactness dan simpleness dari Kofipon. Kebanyakan membernya menggunakan aplikasi Snapseed, LR mobile, Picsay Pro, dan Picsart. Menurutnya, dengan aplikasi itu pun, hasil fotonya sudah bisa terlihat bagus dan berkelas—silakan cek Instagram Kofipon dan silakan menilainya sendiri.

Berbagi pengalaman dan ilmu seputar kamera mirrorless Fujifilm bareng komunitas FujiGuys.

Berharap Kamera Ponsel Semakin Canggih

Beberapa kamera ponsel saat ini memang sudah terbilang canggih dengan fitur-fitur yang sudah mendukung manual mode dan efek bokeh. Smartphone entry level pun sudah sangat mendukung kemampuan fotografi yang bisa dibilang lumayan. Karena itu, Kofipon beraharap semakin majunya teknologi kamera ponsel, semakin maju pula komunitas ini.

fotografi

Titus juga bermimpi kalau suara hari nanti, kamera ponsel bisa disisipi sensor kamera DSLR dan juga fitur-fitur canggih dari kamera profesional termutakhir. Untuk itulah, dirinya juga berpesan kepada semua anggota Kofipon untuk tidak berkecil hati dengan gawai yang dimiliki saat ini. Dengan teknik yang terus diasah dan tidak pernah berhenti belajar, fotografer dengan ponsel pun mampu menciptakan kualitas foto yang menawan. Seperti slogan dari Kofipon, “Bukan masalah kameranya, tapi orang yang mengambil gambar.”

Buat Anda yang juga gemar dengan fotografi menggunakan ponsel, pasti menguntungkan bergabung dengan Kofipon. Siapa tahu Anda bisa berbagi ilmu fotografi baru yang lebih sederhana. Tunggu apa lagi?

0 comments