NOW READING

Kelas Pagi, Kelas Fotografi untuk Semua

 3636
+
 3636

Kelas Pagi, Kelas Fotografi untuk Semua

by The Daily Oktagon

Sumber foto: Dok. Kelas Pagi

  • Berawal dari sebuah kelompok belajar yang kemudian berkembang hingga menjadi komunitas fotografi.
  • Kelas Pagi membuka kesempatan yang sama bagi semua kalangan masyarakat untuk belajar ilmu fotografi.
  • Anton Ismael ingin komunitas Kelas Pagi menjadi lebih mandiri dan bisa terus berbagi ilmu dengan semua orang.

Ada ungkapan “early bird gets the worm“. Mereka yang lebih dulu memulai, akan mendapat hasil yang lebih baik. Namun ungkapan ini bukanlah alasan awal terbentuknya Kelas Pagi, sebuah kelompok belajar fotografi yang dipelopori fotografer Anton Ismael.

“Kenapa dilakukan pada pagi hari? Ya karena peserta semua bekerja (di siang hari). Akhirnya kami memutuskan untuk memulainya pada pagi hari,” ungkap Anton.

Berawal dari sebuah kelompok berskala kecil, Kelas Pagi telah berkembang menjadi sebuah komunitas fotografi yang hidup dan terus berkembang sampai saat ini. Hingga saat ini telah memiliki 10 angkatan sejak dibuka pada 2006.

Untuk mengenal Kelas Pagi lebih dalam, The Daily Oktagon mendatangi Anton Ismael, fotografer ternama yang memulai komunitas pembelajaran ini.

Kelas Semua Kalangan

Sekitar pukul 9 pagi, The Daily Oktagon mendatangi Third Eye Space di Cipete, Jakarta Selatan, tempat Anton membuka kelasnya. Anton sedang mengajar di salah satu studionya di lantai atas. “Kelas Pagi ini awalnya sebuah kelompok belajar yang beranggotakan teman yang ingin belajar fotografi,” jelasnya.

Sejak angkatan awal, Kelas Pagi ini memang telah dimulai sejak pukul 6 pagi. Namun, nyatanya waktu ini tak menjadi kendala bagi orang-orang yang ingin belajar di kelas ini. “Sebanyak 250 orang datang ke tempat saya untuk minta diajarin tahun berikutnya. Akhirnya terbentuklah Kelas Pagi ini,” kenang Anton Ismael.

Sejak awal didirikan, Kelas Pagi tidak memungut bayaran dari muridnya dan membuka diri bagi semua kalangan. “Mau itu mantan narapidana atau wanita tuna susila sekalipun, silakan datang jika ingin belajar,” ungkap Anton.

Kelas Pagi tidak memberikan batasan bagi peserta kecuali karena belum cukup umur, atau memiliki kebutuhan khusus seperti autis atau tuna rungu/wicara. “Bukannya apa-apa, soalnya saya tidak memiliki pengalaman untuk mengajar orang-orang seperti itu,” jelasnya.

fotografi

Anton Ismael

Semua kalangan juga diartikan mereka yang tidak memiliki kamera. “Mas Anton menyarankan kepada murid yang memiliki kamera untuk meminjamkan kepada yang tidak memiliki, begitu pun juga dengan lensa,” ungkap Cinta, salah satu murid Kelas Pagi angkatan X yang saat mengikut kelas ini sedang menggunakan kamera Canon 7D.

Pelajaran fotografi yang diberikan di Kelas Pagi meliputi ilmu dasar sampai pengelompokan berdasarkan passion masing-masing murid. “Mulai dari mengenal diafragma dan cara memainkan speed kamera. Setelah itu dikelompokan sesuai dengan minat. Ada foto produk, makanan, sampai fotografi panggung,” kata Anton.

Salah satu murid Kelas Pagi angkatan X yang juga bernama Anton menceritakan pengalamannya saat pertama kali ikut kelas. “Saya ikut kelas ini dari sama sekali tidak bisa foto. Waktu awal diperkenalkan soal segitiga exposure. Materi-materi ini buat saya ini sangat dibutuhkan,” jelasnya.

Profil “keluarga” fotografi yang lain bisa disimak di sini

Merek Tak Esensial

Berbicara tentang kamera yang digunakan di Kelas Pagi, Kelas Pagi tidak menutup diri pada jenis kamera. Artinya, ia membebaskan murid-muridnya untuk berkarya menggunakan kamera apa pun.

Hal ini diamini oleh murid Anton tadi. Ia mengaku pernah dinasehati Pa’e (sapaan Anton Ismael) karena bertanya kebenaran soal Canon yang warnanya lebih dapat untuk kulit, sementara Nikon itu dynamic range-nya lebih luas.

“Terus dia (Anton Ismael) bilang kalau kita harus bisa memperlakukan semua kamera itu sama. Harus bisa mencapai tujuan yang diinginkan. Jadi, apa pun kameranya kita harus bisa mengontrolnya,” kenang Anton yang saat ini menggunakan kamera Canon 60D.

fotografi

Meskipun menggunakan berbagai macam kamera mulai dari Canon, Nikon, sampai Phase One, Anton Ismael tidak pernah mengarahkan murid-muridnya pada jenis kamera tertentu. “Dia bilang setiap output-nya harus tetap terlihat keren, tidak tergantung pada kamera yang kita gunakan,” ungkap Cinta.

Bicara kamera, salah satu review kamera terbaru bisa dibaca di artikel ini

Disiplin dan Budaya Inisiatif

Walau dibuka dengan gratis, Anton Ismael tetap menerapkan disiplin yang tinggi di Kelas Pagi. Di setiap tahun ajaran, setiap angkatan wajib menggelar pameran foto.

Saat belajar pun ia menerapkan disiplin yang tinggi. Anton tak segan menegur murid yang datang telat, atau melihat sekelompok murid yang terlihat santai padahal ada tugas yang seharusnya dikerjakan. The Daily Oktagon pun menyaksikan sendiri bagaimana Anton menegur murid-muridnya tersebut.

Lewat Kelas Pagi, Anton Ismael pun ingin membangun budaya inisiatif yang tinggi dari muridnya. Ia akan menolak murid yang mengikuti kelasnya hanya karena paksaan atau dorongan dari pihak lain. “Semua harus berawal dari diri sendiri. Kalau dipaksa sama orang lain mendingan tidak usah.”

Salah satu hasil foto peserta

Salah satu hasil foto peserta

Dengan metode pembelajaran seperti ini, Kelas Pagi bisa melahirkan banyak fotografer yang siap bersaing di industri. “Momen paling berkesan adalah saat anak-anak ini menjadi saingan saya. Bahkan beberapa kali saya kalah pitching sama mereka. Artinya mereka sudah siap untuk masuk di industri,” kata Anton Ismael.

Budaya inisiatif pula yang melahirkan cabang baru Kelas Pagi di Papua pada 2016, setelah dua cabang sebelumnya, yaitu Jakarta dan Yogyakarta. Menurut Anton, banyak orang di daerah lain yang minta ingin dibuatkan kelas di daerah mereka. “Namun, Papua tidak meminta. Tahu-tahu mereka sudah berdiri sendiri. Gila kan?” ungkap Anton.

Saat ini, malah Anton mengaku tengah berusaha mendukung mereka mulai dari tenaga pengajar sampai pendanaan, hingga mencari sponsor.

Mengikuti workshop jadi salah satu ajang belajar fotografi lain. Misalnya workshop di artikel ini

Impian Mandiri

Saat komunitas telah berkembang besar, Anton Ismael pun memiliki visi yang sekaligus menjadi tantangan bagi komunitasnya ini, yaitu membuat Kelas Pagi menjadi mandiri.

Anton ingin saat dirinya tengah sakit atau meninggal dunia nanti, Kelas Pagi bisa tetap menjadi komunitas yang kuat. “Orang-orang sudah tidak usah melihat saya lagi tapi tetap bisa berbagi dan bertahan. Bisa menghasilkan uang yang digunakan untuk membangun Kelas Pagi lagi,” tandasnya.

Anton lebih lebih lanjut menginginkan Kelas Pagi dapat menjadi sebuah perusahaan yang menguntungkan sehingga bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. “Berbeda dengan yayasan yang sifatnya donasi. Saya ingin Kelas Pagi jadi perusahaan yang berkelanjutan dan menghasilkan,” harap Anton.

Anton membayangkan Kelas Pagi ini mempunyai rate card. Kemudian hasilnya dibagi dua, satu untuk fotografer, satunya lagi untuk Kelas Pagi. “Uang ini nanti bisa digunakan sebagai dana operasional, mulai dari biaya listrik, alat, transportasi pengajar ke Papua,” tutupnya.

Sebuah harapan yang tidak berlebihan. Semoga saja Anton Ismael dan Kelas Pagi dapat mewujudkannya.

0 comments