NOW READING

Kazuto Yamaki, Bos Sigma yang Berkorban Demi Kepuasan Pelanggan

 2348
+
 2348

Kazuto Yamaki, Bos Sigma yang Berkorban Demi Kepuasan Pelanggan

by The Daily Oktagon

Sigma, produsen kamera dan lensa asal Jepang, meluncurkan inovasi terbarunya, lensa 24 – 35 milimeter F2 Art secara global pada 18 Juni 2015. Tepat dua bulan kemudian, Chief Executive Officer Sigma, Kazuto Yamaki, datang ke Indonesia untuk memperkenalkan langsung produk yang menjadi kebanggaannya itu dalam sebuah acara di Jakarta.

Dikenal sebagai perusahaan keluarga yang mendesain dan merakit produknya di negaranya sendiri, Sigma memang berbeda dibandingkan produsen kamera dan lensa ternama lainnya dari Negeri Sakura. Dari segi skala, Sigma bukan perusahaan besar. Bahkan, Kazuto sendiri mengakui kalau mereka bukan lawannya Canon atau Nikon. Namun, bukan itu yang membuat Sigma unik dibandingkan kompetitornya.

“Kami menghabiskan banyak uang untuk penelitian dan pengembangan agar dapat membuat produk yang berkualitas dan inovatif,” ujar Kazuto.

Lensa 24 – 35 milimeter F2 Art, yang merupakan lensa zoom wide-angle pertama di dunia dengan bukaan f/2.0 adalah salah satu contoh inovasi yang rutin ditelurkan Sigma selama 54 tahun perusahaan ini berdiri. Lensa ini juga nyaman bagi fotografer, karena mereka seakan membawa tiga lensa fixed focal 24, 28, dan 35 milimeter sekaligus.

Pada acara perkenalan lensa tersebut, The Daily Oktagon berkesempatan duduk dan berbincang-bincang dengan Kazuto. Dalam wawancara ini, kami berbicara tentang bagaimana bos Sigma ini rela berkorban demi kepuasan pelanggan. Kami juga berincang tentang tren kamera mirrorless, hingga tantangan dan peluang di era digital yang saat ini didominasi perangkat mobile. Berikut adalah petikan wawancaranya.

Regular_Image_-_Kazuto_2

Kenapa baru sekarang Sigma meluncurkan lensa 24 – 35 milimeter ini?
Awalnya, kami berencana meluncurkan lensa zoom F2 ini sepuluh tahun yang lalu. Tetapi tidak bisa dilakukan karena kami belum punya cukup pengalaman. Kami bisa saja membuatnya beberapa tahun lalu, tetapi kualitasnya akan dikorbankan. Kami tidak ingin itu terjadi.

Selama sepuluh tahun ini, teknologi yang kami kembangkan menjadi semakin baik untuk membuat lensa tersebut. Selain teknologi, material kacanya juga sudah mendukung. Sehingga, sekarang waktu yang tepat untuk membuatnya.

Lensa 24 – 35 milimeter F2 ini memang menantang dari segi desain, tetapi relatif mudah dibuat karena kami punya banyak insinyur berbakat. Mereka bisa saja bekerja di perusahaan besar, tetapi memilih bekerja di Sigma karena punya kesamaan minat, yaitu fotografi. Kalau bekerja di perusahaan lain, mungkin mereka akan membuat mesin fotokopi, proyektor, dan sebagainya. Bukan kamera atau lensa.

Saya punya teman yang bekerja sebagai insinyur optik di perusahaan lain. Ia mengaku iri dengan insinyur Sigma yang dibebaskan memilih bahan lensa. Biasanya, jika insinyur mendesain lensa, lalu diajukan ke pabrik untuk dibuatkan purwarupa, pabrik seringkali menolak karena terlalu sulit untuk dibuat. Di Sigma, karena tingginya kemampuan manufaktur kami, pabrik selalu menerima dan membuat purwarupa, sesulit apa pun permintaan insinyur.

Meski baru diluncurkan, lensa 24 – 35 milimeter F2 Art langsung mendapat banyak tanggapan positif. Sebenarnya, Sigma merancang lensa ini buat siapa?
Pertama tentu saja fotografer profesional. Khususnya mereka yang suka lensa zoom wide-angle. Fotografer lanskap dan fotografer jalanan juga jadi target utama kami. Mareka tidak perlu berganti-ganti lensa, cukup membawa lensa ini saja.

Terakhir adalah videografer. Lensa 24 milimeter, 38 milimeter, dan 35 milimeter merupakan focal lensa yang banyak digunakan untuk merekam video. Lensa kami ini memang tidak didesain secara khusus untuk video, tetapi saya harap ini akan jadi lensa pilihan para videografer.

Apa yang membedakan lensa seri Art Sigma dari kompetitor?
Kualitas lebih tinggi dengan harga yang masuk akal. Itu adalah faktor paling penting, kualitas lensa Art harus lebih tinggi dari yang lain.

Produk Sigma dikenal akan kualitasnya. Bagaimana Anda menjaga keseimbangan antara kualitas dengan harga yang kompetitif?
Kami menjaga perusahaan tetap ramping. Jika kami punya banyak staf, maka kami harus mematok harga tinggi pada produk yang dijual. Saya sendiri tidak menghabiskan banyak uang. Sigma bukan perusahaan besar seperti Canon atau Nikon. Sehingga gaya hidup saya pun tidak seperti CEO perusahaan.

Dari rumah, saya jalan kaki ke stasiun, lalu ke kantor menggunakan kereta. Saya tidak punya supir pribadi. Saya menghemat uang demi pelanggan. Tetapi kami menghabiskan banyak uang untuk penelitian dan pengembangan agar dapat membuat produk yang berkualitas dan inovatif. Kami memang perusahaan yang unik. Sigma mencoba semaksimal mungkin menghemat pengeluaran. Di sisi lain, kami mengucurkan dana yang besar untuk penelitian dan pengembangan produk.

Selain kualitas, konsumen juga ingin kebutuhannya dipenuhi. Bagaimana Anda bisa mengetahui apa yang diinginkan konsumen?
Kesempatan apa saja saya manfaatkan untuk mendapatkan insight, misalnya mengobrol dengan fotografer profesional atau karyawan. Banyak karyawan Sigma yang merupakan pecinta fotografi. Di kantor, saya bisa dengan mudah bicara bersama mereka. Salah satu alasannya karena saya tidak punya kantor sendiri.

Kantor saya hanyalah sebuah meja di tengah-tengah lantai engineering. Lantai itu berisi sekitar 150 insinyur. Tidak ada dinding atau pembatas. Saya sering bertanya apa yang mereka mau, apa yang mereka bisa buat.

Saya juga memanfaatkan Internet. Saya punya akun Twitter. Lewat internet, saya dapat berkomunikasi dengan pelanggan. Ini juga kesempatan yang bagus untuk mendapatkan masukan.

Apa tanggapan Anda terhadap tren kamera mirrorless?
Pasar mirrorless di Jepang sudah besar. Pangsanya lebih dari 40 persen. Sekitar 60 persennya dihuni kamera DSLR konvensional. Di negara lain juga pasarnya sedang tumbuh. Di Eropa, walau masih kecil selama beberapa tahun terakhir, tetapi terus tumbuh hingga mencapai 20-25 persen. Di masa depan, logikanya, kamera mirrorlessdengan sistem lensa yang dapat diganti akan menjadi mainstream.

Apakah Sigma yang saat ini lebih banyak memproduksi lensa DSLR akan mengubah prioritasnya?
Kalau pangsa pasarnya makin tinggi, kami akan fokus pada kamera mirrorless di masa depan. Itu sudah pasti.

Bagaimana Anda melihat masa depan Sigma di era gaya hidup digital yang didominasi perangkat mobile?
Menurut saya, selain kamera mirrorless, ponsel juga memegang peranan penting di dunia fotografi saat ini. Kita bisa lihat semakin banyak orang yang memotret dengan ponsel. Antarmukanya menarik dan intuitif, kita bisa mengunggah foto langsung ke Internet. Lebih dari itu, ponsel selalu kita bawa. Anda tidak selalu membawa kamera, tetapi selalu membawa ponsel.

Kami melihat ada banyak perusahaan yang berkontribusi pada teknologi ponsel. Karena kami tidak punya keunggulan di teknologi mobile, kami biarkan ini ditangani oleh mereka yang lebih ahli.

Misi kami adalah menyediakan produk untuk fotografer profesional dan konsumen kelas atas. Mereka adalah pengguna ponsel, tetapi juga perlu kamera berkualitas tinggi untuk hobi atau profesi. Kekuatan dan keunggulan Sigma ada di sini untuk memuaskan konsumen kami, yang bukan seperti konsumen pada umumnya.

Bagaimana Anda menjaga agar Sigma terus mengikuti perkembangan teknologi?
Kami terus menerus berinvestasi pada teknologi. Saya rasa, investasi kami paling tinggi dibandingkan perusahaan lain. Kami selalu membentuk beberapa tim untuk mengembangkan teknologi baru lewat beragam proyek kecil.

Dalam setahun, ada banyak proyek yang dikerjakan oleh para insinyur. Beberapa adalah pengembangan produk, dan sisanya pengembangan teknologi. Lewat cara ini, kami menjaga agar Sigma tidak ketinggalan dari sisi teknologi.

Tantangan apa yang Anda hadapi saat menjual produk di Indonesia?
Ini pertama kalinya saya ke Indonesia, sehingga belum banyak yang saya ketahui tentang pasar di sini. Sejujurnya, dibandingkan dengan negara lain, Indonesia masih menantang buat kami. Dengan kata lain, kami punya banyak kesempatan di sini.

Lensa Sigma mana yang paling populer di Indonesia?
Lensa 18 – 250 milimeter dan 70 – 300 milimeter. Lensa prime 35, 50, dan 18 – 35 juga populer di sini.

Secara global, tantangan dan peluang seperti apa yang dihadapi oleh Sigma?
Situasi pasar sedang menurun, jadi sangat menantang, bahkan buat Sigma. Ini membuat kami selalu termotivasi membuat produk unik dan inovatif.

Pasar kamera DSLR kelas entry-level menurun dengan tajam, tetapi pasar middle ke high-end tidak banyak terpengaruh. Mereka bukan pasar yang besar, tetapi stabil. Setiap tahun, konsumen di segmen ini beli satu atau dua kamera, satu atau dua lensa. Serta beberapa aksesori seperti tas, tripod, atau semacamnya.

Ini terbukti ketika kami ikut pameran di Jepang atau Jerman, banyak konsumen yang datang untuk melihat produk baru Sigma. Artinya, konsumen masih mencari produk baru dan inovatif.

Anda punya kesempatan kerja bareng dengan Michihiro Yamaki, ayah Anda. Apa yang Anda dapatkan dari beliau?
Di awal, hubungan kami berdua sangat sulit. Karena, normalnya, hubungan antara ayah dengan anak memang tidak mudah. Saya merasakan puncaknya saat menginjak usia 20 tahunan. Hubungan kami tidak harmonis. Kami memang tidak saling memaki, tetapi sering bertengkar karena perbedaan opini.

Suatu hari saya sadar, kami punya sedikit perbedaan opini, tetapi tujuan di masa depan sangatlah mirip. Lalu saya mengambil tanggung jawab lebih besar dan mencoba saling mendukung. Walaupun ada beberapa perbedaan dalam strategi, tetap tujuan jangka panjang kami sama. Saya makin mengerti beliau dan terus mendukungnya.

Gaya manajemen saya dipengaruhi oleh ayah. Dia adalah mentor saya. Beliau punya satu impian, yaitu menjadikan Sigma dikenal sebagai perusahaan yang memproduksi kamera. Saya merasa punya tanggung jawab untuk mengambil alih impian tersebut. Sampai impian itu tercapai, saya tidak akan menyerah.

Wajib baca artikel berikut, Mari Mencoba Fotografi Makro

0 comments