NOW READING

Jogja Hip Hop Foundation, Ketika Gamelan Berdentum dengan Musik Urban

 2253
+
 2253

Jogja Hip Hop Foundation, Ketika Gamelan Berdentum dengan Musik Urban

by The Daily Oktagon
  • Gerakan seni dan kebudayaan tradisional di Yogyakarta bisa dibilang sudah lumrah. Tapi mengawinkan kearifan lokal dengan musik urban, tentu bukan perkara mudah.
  • Seniman Marzuki Mohammad dan teman-temannya melakukan hal di atas dengan membaurkan kesenian musik khas Yogyakarta dengan hip hop, lewat Jogja Hip Hop Foundation.
  • Kiprah kelompok ini tak hanya mencuat di Tanah Air, tapi juga di panggung internasional.

Yogyakarta memang tak bisa luput dari yang namanya seni. Ya, seni bisa dibilang merupakan salah satu pemicu utama denyut jantung kota Yogyakarta hingga saat ini.

Bukan hanya penghias atau prestise, seni di kota ini sudah jadi identitas dan warisan kebudayaan yang lebih dari layak untuk ditampilkan ke depan mata dunia.

Salah satu bagian dari seni yang paham betul cara mengemas kesenian khas Yogyakarta ke khalayak internasional adalah Jogja Hip Hop Foundation. Kru hip hop ini mengklaim dirinya sebagai soundtrack kehidupan kota Yogyakarta, yang tradisinya terus tumbuh di tengah laju modernisasi.

jogja hip hop foundation

Agar seni di Yogyakarta terus mengalir mengikuti perkembangan zaman, kreasi seni musik Jogja Hip Hop Foundation jadi terdengar unik. Mereka memadukan urban beat khas musik hip hop dengan gamelan, dan dibawakan dalam bahasa Jawa.

Penciptaan lagu-lagunya dilepaskan dari pengaruh kontemporer, dan untuk dinyanyikan oleh berbagai generasi dari peloso desa sampai pusat kota Yogyakarta. Mimpi Jogja Hip Hop Foundation pun tak tanggung-tanggung, mereka memiliki visi untuk menyatukan Indonesia lewat musik.

Gerakan kreatif di Yogyakarta tak hanya di bidang seni, tapi juga industri digital. Simak geliatnya di artikel ini.

Awal Mula Terbentuknya Jogja Hip Hop Foundation

Jogja Hip Hop Foundation didirikan oleh Marzuki Mohammad pada tahun 2003. Pria yang akrab disapa Juki ini menyebut komunitas hip-hop itu sebagai ‘kendaraannya’. Awalnya, Juki hadir dalam berbagai acara kecil seperti It’s Hip Hop Reunion dan Angkringan Hip Hop.

Setelah merasa cukup ‘tampil’, barulah Jogja Hip Hop Foundation terbentuk. Pada saat itu, mereka telah menetaskan dua album dengan titel Poetry Battle pada 2007 dan 2008.

jogja hip hop foundation

Pendiri gerakan Jogja Hip Hop Foundation, Marzuki Mohammad alias Kill the DJ.

Kepada The Daily Oktagon, Juki mengatakan, ia ingin memberi jalan kepada komunitas hip hop Yogyakarta agar terus berkarya lewat seni. “Di Poetry Battle, saya ingin mereka (anak-anak hip hop) bisa bertemu sama siapa pun di luar musik mainstream. Saya juga turut membantu mereka untuk membuat rekaman album,” kata Juki.

Juki mengungkap, awal mula berdirinya Jogja Hip Hop Foundation merupakan salah satu tanda bangkitnya musik dengan genre segar yang ada di Yogyakarta. Buktinya, album kompilasi musisi hip hop tersebut telah dicetak ribuan keping CD dan laris manis dalam waktu beberapa bulan.

“Ternyata orang-orang menanti lanjutan Poetry Battle. Saya tidak membuatnya memang. Jadi ingin buat yang baru lagi, dan tidak dengan nama Poetry Battle,” kenang Juki.

Lantas, pria nyentrik yang merupakan anak dari H. Soepartijo dan Siti Sapariyah ini pun tak berhenti berkarya bersama Jogja Hip Hop Foundation. Ia telah meluncurkan film dokumenter bertajuk Hip Hop Diningrat, yang memotret perjalanan musik hip-hop dengan sentuhan khas Jawa.

jogja hip hop foundation

Salah satu materi promosi film dokumenter Hip Hop Diningrat.

Selain itu, pria yang dikenal dengan nama panggung “Kill the DJ” ini juga telah membuat kolaborasi-kolaborasi asyik dengan musisi lain, seperti Soimah, pesinden kenamaan yang namanya sudah tak asing lagi di layar televisi. “Album itu saya namai Semiotika Pantura,” sambung Juki.

Ada pertanyaan menggelitik mengapa Juki memiliki nama unik “Kill the DJ”. Padahal, jika diartikan secara harfiah, nama tersebut terasa mengintimidasi sang DJ. “Nama itu saya pakai sejak 2001. Saya pun disebut DJ karena saya lihat generasi muda sepertinya mendewa-dewakan rave party dengan DJ kesayangannya. Nah saya ingin memutarbalikan anggapan itu,” tambah Juki.

Musik-musik Jogja Hip Hop Foundation memang terdengar nyeleneh, namun Juki mengklaim karyanya memiliki makna yang mendalam. Terlebih, ia memang ingin menyatukan negara ini dengan karya musiknya yang khas. Kenyataannya, impian Juki melambung tinggi. Karyanya benar-benar mendunia. Ia bahkan telah mengisi panggung-panggung internasional berkat musik hip-hopnya yang unik.

Simak juga bahasan tentang arah Indonesia berdikari di era digital.

Mendunia dengan Hip-hop Jawa

Juki membeberkan, ia memiliki racikan khusus kala membuat karya-karyanya yang ajaib. Untuk tetap mempertahankan unsur hip hop Jawa dan bisa didengar ke semua telinga, pria yang memiliki hobi bertani ini pun rela membaca 40 kitab berbahasa Jawa sebagai sumber inspirasinya.

Ketertarikan Juki mempelajari kitab berbahasa Jawa dimulai saat ia mendalami musik elektronik di Perancis pada tahun 2000.

“Saya ingin menjadikan bahasa Jawa menjadi milik publik. Saya lagi di Perancis saat itu, dan merasa jauh dengan tanah kelahiran sendiri. Saya pikir, saya harus menjembatani jarak ini dengan mendalami bahasa dan budaya di mana saya lahir. Bahasa Jawa bisa menjadi media yang sesuai dalam musik hip hop agar bisa terdengar lebih menarik di telinga anak muda,” katanya.

jogja hip hop foundation

Salah satu aksi Jogja Hip Hop Foundation dalam Konser Gropyokan Anti Korupsi di Lapangan Kridosono, Yogyakarta.

Eksistensi Jogja Hip Hop Foundation di kancah internasional pun patut diperhitungkan. Awalnya pada 2009, Juki sempat mengisi pementasan di Esplanade, Singapura. Pada 2010, ia pun sempat manggung di New York, San Francisco, dan beberapa kota lainnya yang tersebar di Amerika Serikat.

Fan base Jogja Hip Hop Foundation sendiri, disebut Juki sudah menjalar lebar hingga ke luar Yogyakarta. “Kini sudah banyak teman-teman yang menghadiri pementasan, banyak yang pakai batik buat nonton kami. Tapi gayanya masih jawa total,” ceplos Juki.

Jogja Hip Hop Foundation juga dikenal dengan sebutan Ki Jarot. Diungkapkan Juki, Ki Jarot merupakan kepanjangan dari Kill the DJ, Jahanam dan Rotra. “Jahanam dan Rotra merupakan kru kami juga, semuanya berkarya dan memiliki fan base masing-masing. Jahanam laris sampai ke Suriname. Rotra, punya karakter musik easy listening,” ujar Juki yang lahir di Klaten pada 21 Februari 1975 ini.

jogja hip hop foundation

Tak sampai di situ, kiprah Juki pun terbukti pada karyanya yang baru-baru ini dirilis sebagai single yang mengisi soundtrack film blockbuster Indonesia, yaitu Ada Apa dengan Cinta 2. Di situ, Juki membuat proyek duo bernama Libertaria dengan karakter musik dangdut yang dicampur Electronic Dance Music (EDM).

“Saya ingin eksperimen sama Post Dangdut Electronica. Selain Ora Minggir Tabrak (soundtrack AADC 2), saya telah merilis lagu berjudul Kewer-Kewer,” ia meneruskan.

Kewer-kewer merupakan lagu yang memiliki irama serupa dengan Ora Minggir Tabrak. Mereka menggandeng para penyanyi lintas genre untuk berkolaborasi, seperti Glenn Fredly, Farid Stevy, Paksi Raras, Heruwa, Brodod, Molimo Choir, hingga penyanyi organ tunggal Riris Arista.

“Ya menurut kamus bahasa Jawa, kewer-kewer adalah situasi di mana kamu tidak bisa mengontrol diri, tidak bisa berdiri tegak, jalannya sempoyongan. Sebenarnya bisa diartikan apa saja, terserah kalau publik mau menerjemahkan macam-macam,” pungkas Juki.

Untuk menikmati musik, tentu perlu pilihan headphone yang mumpuni. Baca ulasannya di artikel ini.

0 comments