NOW READING

Jerry Aurum Bicara Dunia Fotografi Komersial Saat Ini

 6526
+
 6526

Jerry Aurum Bicara Dunia Fotografi Komersial Saat Ini

by The Daily Oktagon
Sumber foto utama: Dok. Jerry Aurum
  • Menjadi fotografer komersial tak semata menghasilkan karya sesuai dengan permintaan klien, tapi juga menyeimbangkannya dengan identitas diri
  • Industri fotografi komersial kian kompetitif, fotografer dituntut pandai secara teknis, namun juga faktor non teknis
  • Jerry Aurum tak pernah membatasi medium berekspresi, idealisme ia salurkan juga lewat menulis buku fotografi

Bagaikan air dan minyak. Itulah hubungan yang kerap dianalogikan antara sisi komersialisme dan idealisme. Sulit dipersatukan. Hubungan antar kedua hal ini yang kerap menjadi sumber gesekan antara klien dan pekerja “seni”, termasuk di dalamnya para fotografer komersial.

Namun bagi Jerry Aurum, pertentangan ini justru menarik untuk ditaklukkan. Berkecimpung di industri fotografi komersial sejak 1999, pendiri Jerry Aurum Design and Photography ini paham benar cara menyeimbangkan idealisme dan komersialisme, menjembatani kebutuhan klien tanpa serta-merta menanggalkan idealisme sebagai fotografer.

Fotografi komersial memang menawarkan tantangan yang tiada habisnya. Jerry kerap dihadapkan dengan berbagai tipe klien yang berbeda, situasi yang beragam, hingga produk yang difoto pun tak pernah sama. “Mau tidak mau, saya harus menggali ilmu baru setiap kali berhadapan dengan proyek baru,” bebernya.

Dan fotografi komersial kini pun semakin menantang ketika era digital datang. Menurut Jerry, orang kini cenderung untuk menggampangkan proses sehingga hasilnya bisa jauh dari kata “matang”. The Daily Oktagon berbincang lebih dalam bersama Jerry.

Apa perbedaan yang mencolok dalam industri fotografi komersial dulu dan sekarang?

Dulu semuanya analog, memfoto menggunakan film atau slide baru kemudian di-scan dan di-photoshop. Karena dulu prosesnya lebih lambat dan berisiko, maka orang-orang yang terlibat punya kecenderungan untuk mempersiapkan segala sesuatunya lebih hati-hati.

Berbeda dengan sekarang ketika seluruhnya sudah diproses digital, semuanya cenderung menggampangkan. Kultur kerja yang menggampangkan ini sebenarnya membuat segalanya menjadi tidak gampang. Segalanya serba instan dan lebih cepat.

Padahal instan juga bukan sesuatu yang sehat, kerap malah melahirkan pemikiran yang terburu-buru dan tidak matang. Dan perkara berubah pikiran dan banyaknya revisi kini menjadi sesuatu yang lebih lumrah.

Jerry Aurum

Jerry Aurum (Dok. pribadi)

 

Di mana posisi idealisme di dunia fotografi komersial?

Idealisme harus dipandang sebagai kondisi yang ideal. Ideal untuk siapa? Untuk fotografer, klien, atau konsumen yang nantinya menikmati foto? Kalau kita memandang idealisme menurut fotografernya saja, idealisme itu bisa bergeser menjadi egoisme. Hal itu pantang dilakukan fotografer komersial.

Kondisi ideal harus terpenuhi untuk semua pihak. Seringkali dalam tiap proyek fotografi komersial melibatkan banyak uang, orang, dan kepentingan. Karena melibatkan nominal uang yang besar, biasanya semua orang merasa berhak bersuara sehingga proyek tersebut punya tendesi untuk menjadi rumit.

Nah, di sinilah seninya, kami dituntut agar mampu mencari titik temu untuk semua pihak. Tujuan, persepsi, visi dan misi pemotretan harus dipahami bersama supaya sejalan.

Lain komersil lain pula tantangan fotografi jurnalistik. Simak lengkapnya di sini

Apakah dengan begitu ruang gerak jadi terbatas?

Tentu, tapi saya memandang keterbatasan itu layaknya pagar yang diperlukan agar kita semakin terarah, dan biasanya malah menstimulasi daya cipta. Jika terlalu longgar malah membingungkan dan belum tentu juga memberi hasil terbaik.

Saya anggap keterbatasan itu guideline, supaya tahu arah yang harus dituju. Klien kerap ingin begini-begitu, tidak boleh begini-begitu, tapi jika direnungkan lagi hal itu bisa jadi sarana untuk mendapatkan ide yang lebih jelas.

Etos kerja seperti apa yang dibutuhkan fotografer komersial?

Pertama, harus punya fleksibilitas yang tinggi, tidak boleh kaku, dan kooperatif dengan banyak pihak. Kedua, harus panjang sabar karena apa pun bisa terjadi. Sebuah brief yang sudah dirapatkan, disetujui dan ada hitam di atas putih, bisa berubah 180 derajat di satu jam menjelang pemotretan.

Bahkan proses produksi yang bisa dikerjakan satu hari bisa molor berminggu-minggu karena misalnya, bos besar klien yang sebelumnya tidak ikut mengonsep tiba-tiba punya pandangan berbeda. Kita harus belajar rendah hati karena harus menekan ego.

Apa saja kamera dan gadget pendukung yang Anda gunakan?

Saya menggunakan kamera Canon 5D Mark IV, 5D Mark III, 5D Mark II, serta Panasonic Lumix G6. Saya juga memakai Samsung S7 dan Macbook Pro. Semua kamera dan gadget yang saya gunakan tentu tak luput dari pertimbangan kualitas, harga, dan demi menunjang kebutuhan yang tidak sama untuk masing-masing proyek.

komersil

Karya Jerry untuk Avolution (Dok. Jerry Aurum)

Jangan lupakan pula peran penata gaya di dunia forografi. Simak peran mereka di artikel ini

Bagaimana Anda melihat fotografi komersial di masa depan?

Saya pribadi menganggap fotografer komersial itu seperti seorang penulis kolom surat kabar. Kebutuhan akan profesi itu semakin kecil, karena komersialisasi sebuah brand kini punya banyak kanal baru, salah satunya media sosial. Setiap brand bisa memakai siapapun untuk mempromosikan produknya. Bisa pula melalui video amatir di Youtube dan aktivasi lainnya tanpa melibatkan fotografi.

Porsi pentingnya sebuah fotografi komersial dalam pengembangan suatu produk semakin lama semakin kecil, tapi sebaliknya jumlah orang yang bisa membuat fotografi komersial semakin banyak. Kini dengan dukungan teknologi, seseorang bisa dengan mudah “potong kompas” mempelajari teknik-teknik fotografi dari Youtube. Sedangkan bagi fotografer dulu, banyak tahapan yang harus dilalui karena pembelajarannya lebih konvensional.

Lalu, strategi apa yang Anda terapkan agar tetap eksis?

Banyak fotografer bagus yang tidak bisa berkembang karena tidak terlalu peduli pada bisnisnya, ada juga fotografer yang cukup jaya karena pintar mengelola bisnisnya, padahal secara portofolio tidak bisa dibanggakan. Tidak ada salah-benar dalam hal ini, tentu tiap fotografer punya gol dan tujuan masing-masing.

Buat saya sendiri, meski dikenal sebagai fotografer komersial, tapi saya selalu menyiapkan berbagai skenario yang berbeda bila salah satu mengalami “kemacetan”. Saya tetap mempertahankan dan tidak kompromi soal kualitas dari foto yang saya hasilkan, proses eksekusi dan ide-idenya.

Persaingan memang terasa, terutama di berbagai brand level menengah, namun di level atas memang dari dulu sudah kecil. Maka, saya lebih baik berkonsentrasi pada klien atau perusahaan di level atas. Meski tidak banyak jumlah proyek fotonya, tapi nilai proyeknya tetap bagus dan portofolio masih terjaga.

Anda sudah menerbitkan beberapa buku. Apakah ini semacam “kompensasi” menyalurkan idealisme?

Membuat buku memang jadi bagian dari strategi marketing dan branding, tapi sesungguhnya yang mendasar dari semua itu adalah saya bisa menuangkan idealisme sebagai fotografer. Saat membuat buku, kita bergerak pada ranah idealisme yang berbeda, pola idealismenya tidak seperti fotografer komersial. Porsi idealisme saya sebagai fotografer lebih besar. Ide, filosofi, ataupun wacana yang ingin saya sampaikan kepada pembaca bisa lebih tertuang dengan bebas.

 

komersial

Foto Jerry untuk Mandiri (Dok. Jerry Aurum)

Berbagai pandangan Jerry di atas memperlihatkan bahwa tantangan dunia fotografi masa kini tetaplah kompleks. Jerry pun menyimpulkan seorang fotografi komersial modern tak hanya harus memiliki kemampuan fotografi yang mumpuni agar dapat bertahan. “Dia harus menjadi komunikator yang tangguh hingga psikolog yang cerdik,” ungkapnya. Anda setuju?

 Pencahayaan juga elemen penting dalam fotografi. Simak cara memaksimalkannya di sini

0 comments