NOW READING

Jalan Panjang Indonesia untuk Internet of Things

 1320
+
 1320

Jalan Panjang Indonesia untuk Internet of Things

by The Daily Oktagon
  • Dunia tengah bersiap ‘menyambut’ kehadiran IoT dalam kehidupan, baik aktivitas sehari-hari ataupun pekerjaan.
  • Di Indonesia, pemerintah punya optimisme tersendiri agar Indonesia dapat berperan utama terhadap pertumbuhan terbesar IoT di Asia Tenggara.
  • Namun, ada beberapa hal yang dapat menghambat pertumbuhan IoT di Indonesia.

Pernah kah terpikir oleh Anda, suatu saat dapat mengontrol seisi rumah dari jarak jauh dengan mengandalkan perangkat dan koneksi internet? Atau ponsel pintar Anda mampu mengingatkan jam tidur, waktu perjalanan, hingga rute yang Anda lewati saat pergi bekerja.

Gambaran-gambaran di atas merupakan konsep kehidupan di masa depan yang sebetulnya sudah mulai terjadi. Ini hanyalah sebagian kecil dari contoh adopsi Internet of Things (IoT) yang tengah digaungkan banyak pelaku bisnis, pengamat, atau mungkin kita sendiri sebagai manusia.

Jika Anda apatis, banyak contoh-contoh implementasi IoT yang bakal bikin geleng-geleng kepala. Anda bisa mengendarai mobil tanpa perlu memegang kemudi, atau kulkas Anda akan memberikan notifikasi jika stok makanan habis. Apa mungkin? Mungkin saja.

Dunia Tengah Bersiap

Konsep ini pertama kali diujarkan oleh Kevin Ashton pada 1999 silam, pionir teknologi asal Inggris yang menyebutkan bahwa nantinya perangkat atau mesin dapat saling berkomunikasi menggunakan koneksi internet.

IoT sendiri merupakan sebuah konsep sebuah objek punya kemampuan mentransfer data dengan memanfaatkan koneksi jaringan tanpa memerlukan campur tangan manusia ke manusia atau manusia ke komputer.

Dunia tengah bersiap ‘menyambut’ kehadiran IoT dalam kehidupan, baik aktivitas sehari-hari ataupun pekerjaan. Riset Gartner memprediksi bahwa akan 26 miliar perangkat terhubung pada 2020 mendatang. Pelaku industri pun mulai mengembangkan produk mutakhir yang penggunanya tak terbatas pada ragam teknologi tertentu.

Nama produk seperti Alexa, smart assistant cerdas yang disambungkan ke dalam Amazon Echo misalnya, belakangan menjadi perbincangan.

smarthome hoome studio

Chip maker asal Amerika Serikat (AS) juga memperkenalkan Snapdragon 835 chipset ‘multifungsi’ yang dirancang tak hanya untuk perangkat mobile saja, tetapi juga perangkat-perangkat lainnya, seperti Virtual Reality (VR), Augmented Reality (AR), hingga perangkat IoT.

Keith Kressin, SVP and Lead for Mobile Compute Qualcomm Inc beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa Snapdragon 835 akan membawa pengalaman IoT lebih luas. Goal-nya adalah membuat industri manufaktur IoT lebih mudah mengadopsi teknologi seluler di perangkatnya.

IoT juga lekat dengan teknologi smarthome. Trennya pada 2017 bisa disimak di sini

Kesiapan Indonesia

Apakah mungkin konsep IoT diterapkan di Indonesia? Sangat mungkin. Dengan 250 juta penduduk, Indonesia punya pasar besar untuk mengadopsi atau bahkan menjadi manufaktur produk-produk IoT.

Pemerintah tentu punya optimisme tersendiri terhadap hal ini agar Indonesia dapat berperan utama terhadap pertumbuhan terbesar IoT di Asia Tenggara. “Indonesia punya potensi pasar IoT yang lumayan menjanjikan,” ungkap Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika beberapa waktu lalu.

Hal ini didasarkan pada riset International Data Corporation (IDC) 2016 yang mencatat Indonesia sebagai negara dengan belanja IoT terbesar setelah Tiongkok, Korea Selatan, dan India.

Sementara itu, Founder Indonesia IoT Forum, Teguh Prasetya memperkirakan, dengan pengguna internet 137 juta atau 51 persen dari total populasi, Indonesia dapat memiliki perangkat sebesar 1,2 kali lipat dari total populasi di 2020.

Dari sisi produk, beberapa waktu belakangan, berbagai produk IoT pun semakin mudah didapatkan konsumen umum di Tanah Air dengan harga yang relatif terjangkau. Sebut saja misalnya lampu pintar Philips HUE dan robot vacuum cleaner Samsung POWERbot.

Philips HUE

Philips HUE

Simak robot-robot baru calon penghuni rumah di artikel ini 

Tetapi Indonesia perlu upaya dan waktu lama untuk mewujudkan hal itu. Pasalnya, penetrasi internet Indonesia masih cukup tertinggal dari negara-negara di Asia sehingga mereka tak terjangkau internet menganggap produk semacam ini belum diperlukan. Mengapa demikian?

Dari sisi konektivitas, menurut survei dari laman Telecoms di 2016, jaringan seluler di Indonesia dianggap belum mampu dalam mendukung peran IoT. Kerentanan terhadap sistem keamanan sangat rendah, mengingat IoT saling menghubungkan banyak perangkat. Ada satu celah keamanan saja akan merusak perangkat.

“Salah satu kunci penting menjalankan IoT adalah dukungan konektivitas dan data center yang kuat. Saat ini konektivitas kita (di Indonesia) belum stabil,” ujar Yune Marketatmo, Group Head Network Strategy and Solution Indosat Ooredoo.

Kedua, ekosistem produk IoT belum banyak. Indonesia juga belum mampu memproduksi perangkat-perangkat semacam itu karena membutuhkan literasi teknologi tinggi. Untuk perangkat smartphone saja, pemerintah baru menggalakkan aturan kandungan lokal.

Untuk produk-produk kategori Business-to-Business (B2B), IoT dinilai punya potensi lebih besar ketimbang produk yang end-user yang dianggap belum diperlukan. Padahal, IoT memiliki konsep yang fleksibel sehingga tak hanya bisa diterapkan untuk end-user saja, tetapi juga di rumah, untuk sistem transportasi, manufaktur, kesehatan, dan lainnya.

Ulasan produk-produk hi tech bisa klik di sini

Pemerintah punya andil besar dalam mendongkrak literasi internet sebagai fundamental konsep IoT, terutama mereka yang tinggal di pelosok. Salah satunya adalah menggodok pembangunan jaringan serat optik lewat program Palapa Ring, dan mendorong pelaku industri untuk gencar menyambungkan jaringan FTHH (Fiber To The Home).

Dengan gencarnya kaum muda di era digital dalam membangun startup, mereka diharapkan dapat membangkitkan literasi teknologi Tanah Air agar siap menyongsong era teknologi masa depan. Dunia IoT pun bisa lebih cepat akrab di tengah-tengah penduduk Indonesia.

0 comments