NOW READING

Inovasi dan Gebrakan Baru David Soong di Bidang Fotografi

 3965
+
 3965

Inovasi dan Gebrakan Baru David Soong di Bidang Fotografi

by The Daily Oktagon
  • Sempat ragu saat memutuskan untuk meniti karier di bidang fotografi, pendiri Axioo Photography, David Soong, kini jadi salah satu profesional bidang fotografi yang paling dikenal; terutama terkaitpre-wedding dan wedding photography.
  • Tren fotografi wedding sendiri, dalam pandangan David, akan makin heboh dan menggila.
  • Menurutnya, peluang di bidang fotografi wedding akan semakin terbuka. Dan untuk sukses di jalur itu, fotografer mesti punya communication skill yang baik, agar klien merasa nyaman dan rileks saat mengungkapkan hasil foto yang diinginkannya.

Siapa pun pasti pernah dan akan selalu memiliki momen penting, berkesan, dan tak terlupa di dalam hidupnya. Salah satu momen itu adalah pernikahan.

Maka itu, banyak orang di tengah masyarakat kita sepakat kalau mengabadikan momen pernikahan lewat fotografi (atau video) merupakan hal yang mutlak dilakukan.

Dalam dunia fotografi, istilahnya adalah pre-wedding atau wedding photography. Perbedaan di antara keduanya hanya pada waktu pengambilan foto. Aspek lainnya, relatif sama.

Salah satu penggiat yang dikenal luas di aliran fotografi itu adalah Axioo Photography. Pendirinya adalah seorang lelaki bernama David Soong. Dan belum lama ini The Daily Oktagon mendapatkan kesempatan berbincang dengannya.

Sembari sesekali menyesap kopi hangat, David berbagi cerita tentang saat ia pertama kali mau terjun ke bidang fotografi, seperti apa gaya memotretnya, sampai membahas beberapa inovasi dan gebrakan barunya di dunia fotografi. Seperti apa? Ikuti catatannya berikut ini:

Bagaimana awalnya Anda terjun ke bidang fotografi?

It’s always been fun. It’s always been a hobby.

Saya enggak pernah menyangka kalau fotografi bisa jadi karier. Bahkan, awalnya saya kesulitan meyakinkan diri sendiri dan juga orang lain, kalau fotografi bisa menjadi karier yang stabil dan menjanjikan.

Lalu saya mulai dengan melakukannya sebagai hadiah buat teman-teman, dan memang enggak pernah pingin dibayar; bukan untuk cari duit. Tapi makin ke sini, hal itu mulai diapresiasi dan saya mulai menerima pekerjaan sampingan untuk memotret, padahal waktu itu saya masih kerja kantoran.

Jadi Axioo Photography itu sesuatu yang di mulai saat weekend, di waktu senggang saya. Bertahun-tahun berjalan, respon semakin bagus, saya makin berani melangkah sampai akhirnya fotografi menjadi pekerjaan full time.

david soong axioo

Menurut Anda, bagaimana tren fotografi pre-wedding dan wedding saat ini?

Saat ini tren fotografi pre-wedding dan wedding makin heboh. Sempat sebelumnya saya berpikir kalau ini akan melesu, karena sudah sempat sangat populer. Tapi ternyata enggak, karena makin banyak orang menyadari kalau ide dan penerapannya bisa terus dikembangkan, dan cara penyajiannya pun makin bervariasi.

Salah satu tradisi yang lekat dengan perayaan pernikahan di Indonesia adalah, orang tua masih dominan dalam persiapan pesta pernikahan, seperti pada urusan lokasi, jumlah tamu, dan sebagainya.

Nah, pre-wedding lah yang jadi titik di mana pasangan yang menikah bisa mengeluarkan jati diri dan karakternya. Maka itu pre-wedding akan terus dan makin maju lagi. Akan semakin banyak juga ide menarik, karena kreativitas tak lagi jadi hanya di tangan fotografer, tapi juga klien.

Berbeda sekali dengan dulu. Klien pasrah. Kini, partisipasi klien lah yang bikin eksekusi foto pre-wedding akan makin seru dan menggila.

Untuk tren fotografi wedding, kini wedding size will go smaller. Itu akan terjadi, walau tidak dalam waktu dekat. Seperti tadi, kalau peran orang tua masih besar, size pernikahan kecil masih agak susah. Tapi, seiring waktu trennya makin terlihat, dan orang tua masa kini kian memberi keleluasaan untuk pasangan yang menikah.

david soong axioo

Ada juga survei yang menyebut kalau pasangan yang menikah sebetulnya menginginkan wedding mereka relatif kecil atau tidak berlebihan. Misal, daripada seribu orang, mereka lebih mau seratus orang terdekat saja; bahkan kalau bisa lima puluh.

Kenapa? Banyak faktor, yang jelas bukan soal menghemat biaya, tapi lebih mengejar keintiman yang terbangun dari para tamu yang diundang.

Baca juga galeri perangkat untuk mendukung kegiatan foto pre-wedding

Salah satu tantangan memotret pasangan, biasanya soal susah berpose di depan kamera. Bagaimana cara Anda menanganinya?

Betul, kebanyakan klien bukan model foto, jadi memang mereka enggak biasa berpose di depan kamera. Jadi hal pertama yang penting adalah, jangan berpikir atau mengharapkan mereka jago berpose.

Maka itu, skill utama yang perlu dimiliki fotografer wedding atau pre-wedding itu adalah kemampuan berkomunikasi. Fotografer mesti membuat kliennya merasa nyaman, rileks, dan enggak minder. Intinya, jangan sampai mereka merasa tertekan saat menjalani proses pemotretan.

Itulah tantangannya, bagaimana membuat pasangan yang sedang really in love mengeluarkan atau menunjukkan chemistry kuat di antara mereka. Karena hal itu yang real terjadi pada mereka, jadi hasilnya bukan keadaan yang dibuat-buat seperti hasil foto model.

Jika mereka menganggap si fotografer sebagai temannya, maka rasa kaku pun makin tak terlihat. Suasana saat merasa asing dengan si fotografer lah yang membuat mereka jadi canggung. Bayangkan saja, masa ada orang belum kenal atau akrab sudah nyuruh-nyuruh mereka pelukan, ciuman, dan sebagainya.

Maka itu, sebagai fotografer pre-wedding atau wedding, jangan pernah memosisikan diri sebagai fotografer. “I’m your photographer. Do this! Do this!” Itu apa coba? It doesn’t work like that.

david soong axioo

OK. Nah, dari berbagai pengalaman Anda, yang mana paling berkesan?

Waduh, banyak! Tiap klien kami unik, dan selalu berkesan. Saat mendengar cerita dari masing-masing mereka, ternyata kalau diikuti, ya lucu banget. Kita pun jadi bisa merasakan emosi saat mereka mesti go through so much, sampai akhirnya bisa menikah. Proses itu sangat berkesan.

Ada juga kesan menarik dari lokasi foto yang fantastis. Misal, sewa helikopter, yacht, mobil keren, atau private jet. Lokasi atau ide gila, kerap juga meninggalkan kesan kuat.

Tapi buat saya, yang paling berkesan itu adalah klien yang kemudian jadi teman. Enggak semua klien bisa begitu. Dari sepuluh klien, yang akhirnya jadi teman paling beberapa saja. Tapi itu yang paling berkesan, kita bisa melihat kehidupan mereka, dari menikah, berkeluarga, sampai bertahun-tahun pun masih saling kontak.

Kalau bentuknya job doang, hanya sebagai klien dan fotografer, biasanya gampang terlupakan.

Soal perangkat, apa yang paling sering Anda gunakan?

Buat kerja, saya kebanyakan pakai Canon. Dulu 1DX Mark II, tapi berat dan bikin punggung saya sakit. Jadi sekarang saya pakai 6D, karena lebih ringkas.

Belakangan ini saya juga banyak main dengan Sony, seperti Alpha 7R II. Ya namanya fotografer, kalau ada mainan baru, jadi iseng dan pingin coba berkarya dengan tools baru.

Kadang juga saya pakai Phase One, tergantung job-nya. Tapi belakangan ini juga saya lagi suka balik main analog. Jadi banyak pakai format 645, shooting medium format. Intinya, semua tetap tergantung job, lokasi, dan idenya seperti apa, dan saya akan pakai perangkat yang sesuai.

david soong axioo

 

Seperti apa Anda mendeskripsikan style fotografi Anda?

My style is very romantic, very simple. Saya selalu berusaha lebih fokus pada chemistry pasangan yang lebih banyak bicara ketimbang lokasi atau elemen teknisnya.

Saya pingin yang menonjol dan meninggalkan kesan kuat itu ya pandangan di antara pasangan, pegangannya, sentuhannya. Saya mau overall mood and feel-nya romantis.

Jadi, my shoots are not macho, not dark, not gloomy, not nyentrik as well. I don’t do that.

Simak pula artikel kiat dari David Soong untuk Anda yang sedang menggeluti fotografi pre-wedding

Axioo Photography punya gebrakan baru di bidang fotografi, Sweet Escape. Apa motivasi Anda merilis layanan ini?

Menurut saya, hidup kita enggak panjang-panjang banget. Bukannya bermaksud menakut-nakuti, tapi dua hari lalu, teman saya baru meninggal, usianya 34 tahun. So, we don’t really know how long our life is.

Menurut saya juga, momen penting dalam hidup harus di-capture seorang profesional. Wedding misalnya. Selain itu banyak juga momen lain yang penting dan interesting. Misal saat traveling. Jadi ide Sweet Escape adalah, bagaimana kami bisa membantu capturing all this beautiful moments, ke manapun kita pergi.

Bagaimana jaringan Sweet Escape sejauh ini?

Sweet Escape sudah ada 250 kota di seluruh dunia dengan lebih dari 400 fotografer di seluruh dunia. Dari Finlandia, Rusia, Prancis, Amerika Serikat, Afrika Selatan, sampai New Zealand. Di Indonesia sendiri ada di lebih dari 20 kota.

Intinya, ke manapun kita mau pergi liburan, sudah ada fotografer lokal yang siap menangkap dan merekam momen. Fotografer lokal ini luar biasa. Mereka tahu tempat dan tahu timing. Sebenarnya kalau mau jujur, untuk mendapatkan foto bagus, enggak perlu waktu lama, enggak perlu diikutin seharian atau semingguan. Dua jam aja sudah cukup.

Kalau mengamati kebiasaan orang bepergian, misal untuk honeymoon atau berlibur, kebanyakan isinya cuma selfie. Saya enggak bilang itu jelek, boleh saja, tapi masa iya pergi jauh-jauh hanya buat selfie?

Maka itu kami menghadirkan ide ini dengan harga affordable, mulai dari US$ 300 per dua jam (atau sekitar Rp 3,9 juta). Foto sudah diedit, dan mereka tinggal download secara online.

Saat ini saya lagi undang para fotografer untuk join, kenapa? Karena buat mereka ini pekerjaan asyik, dan pendek pula, hanya dua jam. Mereka bisa bertemu orang baru, dan enggak repot ngedit, tinggal jepret saja. Mereka tinggal lempar file-nya ke kami, tim kami akan melakukan editing.

Kerjaannya enak, dan fotografer suka dengan konsep kami ini.

david soong sweet escape

Bagaimana respon pasar terhadap Sweet Escape?

Respon pasar luar biasa. Kini kami sudah menjaring lebih dari 1000 klien sejak soft launch pada Februari 2016. Kliennya sendiri tersebar dari Arab Saudi, Amerika Serikat, Korea, Thailand, Australia, dan banyak negara lainnya. Ide ini sepertinya memang ditunggu para travelers.

Kriteria apa yang harus dipenuhi fotografer yang ingin bergabung di Sweet Escape?

Pertama, dia harus memiliki portofolio dan berpengalaman memotret orang. Enggak semua fotografer punya pengalaman tersebut, karena banyak yang sukanya memotret makanan, interior, dan sebagainya. Skill komunikasi saat memotret orang juga susah; jadi mesti sudah teruji.

Bagus di sini bukan hanya mampu menghasilkan karya yang menggugah emosi, tapi juga menangkap keunikan dan keindahan lokasinya.

Kedua, personality. Saya maunya fotografer yang periang, bukan artistik dan gloomy. Kasihan klien atau turis kalau fotografernya begitu.

Ketiga, mereka wajib mengerti lingkungan lokalnya. Misal di Tokyo, ya dia harus mengenal lokasi-lokasi keren di Tokyo, seru dan enggak terlalu banyak turis. Kriteria utamanya itu: portofolio, personality, dan local knowledge.

Lalu, bagaimana dengan inovasi lainnya, Printerous?

Iya kalau Printerous itu mulai dari web, lalu tersedia aplikasi Android-nya. Per September tahun ini, kami rilis aplikasi iOS-nya. Versi terbaru ini seru, karena pengguna bisa mencetak foto langsung dari galer ponsel, hingga saluran media sosial seperti Instagram atau Facebook.

Produk ini sekarang tidak hanya untuk konsumen bisa memiliki foto cetak, kanvas, frame, magnet, bantal, sampai tas. Tapi juga bisa dedicated untuk business purpose, seperti pembuatan flyer dan cetak kartu nama. Ini juga sisi bisnis yang sedang kami kembangkan.

Jakarta itu macet. Bolak-balik mencari printing outlet itu ribet. Inti dari ide Printerous adalah membuat printing jadi simpel.


Begitulah. Meski sempat ragu berkarier di bidang fotografi, David Soong pun mencoba menjalaninya sebagai kegiatan sampingan dulu. Modalnya semangat dan imbalannya apresiasi. Seiring waktu, kesungguhannya membawa Axioo Photography jadi aktivitas bisnis yang diandalkan banyak orang.

Walau begitu, David tidak puas. Passion-nya di bidang fotografi membuatnya seperti tak bisa berhenti. Mulai dari mengeksplorasi berbagai jenis kamera dan tools baru; hingga mengembangkan ide layanan yang inovatif.

Ia menandaskan, “Saya percaya dengan teknologi!”

Menurutnya peran teknologi dalam keseharian tak hanya membuat banyak hal jadi lebih mudah dan simpel, tapi juga membuka ruang dan peluang pada berbagi bidang untuk terus dikembangkan.

Setuju?

Selain David, Sacha Stevenson, YouTuber bule yang sudah 15 tahun tinggal di Indonesia, juga awalnya hanya menjalani kegiatannya video dengan modal semangat dan terinspirasi dari keseharian. Seperti apa ceritanya?

0 comments