NOW READING

Industri Digital Kreatif, Wajah Segar di Bumi Yogyakarta

 2357
+
 2357

Industri Digital Kreatif, Wajah Segar di Bumi Yogyakarta

by The Daily Oktagon
  • Yogyakarta bukan lagi sekadar kota pendidikan biasa, tapi sudah menjelma menjadi salah satu medan para inovator dan penggiat industri digital kreatif.
  • Selain sudah bertahun-tahun jadi rumah para pelaku kreatif seperti penulis, komikus sampai animator, Kota Gudeg ini juga ibarat rumah pilihan pendiri startup teknologi selain Bandung dan Jakarta.
  • Selain ekosistemnya kian mumpuni, ada pula organisasi pendukung seperti Asosiasi Digital Kreatif (ADITIF) dan Jogja Creative Association (JCA). Dari Yogyakarta, keduanya ada untuk membuat masyarakat makin akrab dengan teknologi lewat produk digital kreatif.

Sumber foto utama: Jogja Digital Valley (2013)


Apa yang muncul di dalam pikiran saat mendengar nama Yogyakarta? Pasti kalau tidak kota gudeg, berarti kota pelajar.

Ya, dua hal tersebut memang ikonis jika bicara tentang Yogyakarta. Namun kini, Yogyakarta sudah makin berkembang. Orang-orang tak lagi memandang kota itu dari satu sisi. Ada yang berubah dari Yogyakarta, dan tentunya, perubahan tersebut membawa gelombang positif untuk generasi muda.

Selain dikenal sebagai tempat wisata, Yogyakarta juga telah menjadi tempat industri kreatif dan teknologi, atau lebih sering disebut ‘industri digital kreatif’ berkecimpung.

Keduanya ibarat nadi yang terus berdenyut, menandakan bahwa kedua elemen tersebut merupakan raga baru Yogyakarta. Prestise dan juga identitas.

Lalu bagaimana bisa industri digital kreatif membumi di Yogyakarta? The Daily Oktagon mengupasnya secara lengkap, mengapa dua hal tersebut menjadi wajah baru di kota itu, simak ulasannya berikut ini.

ADITIF dan JCA, memompa denyut nadi industri digital kreatif di Yogyakarta.

Kerap disebut sebagai kota pelajar, wajar saja jika Yogyakarta bisa mudah menelurkan bibit berpotensi di berbagai bidang, tak terkecuali pada sektor industri digital kreatif.

Buktinya adalah kelahiran Asosiasi Digital Kreatif (ADITIF) dan Jogja Creative Association (JCA) di Yogyakarta, yang merupakan tanda generasi muda makin peduli dengan kemajuan industri digital kreatif di kota ini.

Berdirinya ADITIF dan JCA sendiri bisa dibilang jadi awal mula denyut industri digital kreatif di Yogyakarta.

Saga Iqranegara, salah satu inisiator ADITIF, mengatakan bahwa ADITIF didirikan oleh beberapa pelaku startup atau digital kreatif yang memiliki mimpi untuk menciptakan ekosistem industri yang lebih baik.

saga iqranegara yogyakarta teknologi

Momen deklarasi pendirian Asosiasi Digital Kreatif (ADITIF) di Yogyakarta, pertengahan tahun lalu.

Ia mengatakan, berdirinya ADITIF dikarenakan semata-mata demi menjunjung kelancaran bisnis atau usaha yang mereka geluti. Harapan tersebut rupanya ‘diamini’ oleh teman-teman pelaku usaha digital lainnya. Akhirnya, lahirlah ADITIF dan dideklarasikan pada 15 Juni 2015 di Yogyakarta.

Meskipun lahir di Yogyakarta, Saga menjelaskan kalau lingkup ADITIF sebagai asosiasi mencakup nasional. “Kami menilai Yogyakarta sebagai kota dengan entitas pendukung industri digital kreatif yang paling lengkap. Dan kami berharap dapat menginspirasi kota-kota lainnya,” paparnya dalam wawancara dengan The Daily Oktagon.

Bicara soal startup, mungkin Anda juga familiar dengan coworking space yang kerap jadi tempat para usaha rintisan itu bernaung. Baca ulasannya di sini.

Pada kesempatan yang sama, Bayu Sulistyo Subiantoro, Founder JCA menambahkan bahwa lahirnya JCA dikarenakan pada saat itu belum ada asosiasi formal yang mewadahi subsektor kreatif, khususnya konten digital seperti komik, animasi, dan game. Ketiga kategori itu, kini dinaungi oleh JCA.

“Saat ini kami mencoba untuk support dan menggiatkan event kreatif, seperti kumpulan rutin penggiat game dan komik. Selain itu, kami juga sedang menyiapkan tempat khusus, agar para pelaku kreatif bisa berkumpul bersama di sebuah tempat,” jelas pria yang juga CEO Hicca Studios tersebut.

Hicca Studio teknologi yogyakarta

Pelaku industri digital kreatif dari Hicca Studios di Yogyakarta.

Beberapa kegiatan yang sudah dilakukan JCA, seperti diceritakan Bayu adalah dengan mengadakan sharing, bergabung dengan komunitas komik dan game, mengadakan pameran bersama, serta berperan dalam beberapa event besar seperti Popcon Asia.

Makin banyak startup di Yogyakarta. Jenisnya pun kian beragam.

Saga juga menerangkan, laju perusahaan rintisan (startup) di Yogyakarta kini berkembang pesat. Dalam tiga tahun terakhir, jumlahnya makin banyak dan kian beragam.

“Peningkatan ini dibarengi dengan perkembangan stakeholder pendukungnya. Jumlah Venture Capital (VC) bertambah. Perusahaan atau konglomerasi besar pun seperti tidak ingin ketinggalan dengan melahirkan VC sendiri, atau juga disebut Corporate VC,” terang Saga.

“Pemerintah juga makin aware dengan potensi ini, dan mencoba mengikuti perkembangannya dengan melahirkan beragam regulasi pendukungnya,” lanjut pria lulusan Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, tersebut.

Meski demikian, Saga menambahkan, tidak semua stakeholder mengikuti perkembangan ini dengan baik. Contoh saja, dunia pendidikan IT di Indonesia dirasakannya masih belum cukup menghasilkan SDM yang sesuai dengan ekspektasi industri.

“Di sinilah ADITIF akan mengambil peran untuk memberikan masukan ke berbagai institusi pendidikan di Indonesia,” sambungnya.

aditif digital kreatif yogyakarta

Penggiat yang tergabung di Asosiasi Digital Kreatif (ADITIF), Yogyakarta.

Selain itu, Bayu juga mengungkap bahwa scene industri digital kreatif yang bergerak di bidang animasi, komik dan game yang ada di Yogyakarta juga patut diapresiasi. “Perkembangannya sangat mengesankan, mulai dari skala perseorangan hingga ke Usaha Kecil Menengah (UKM),” timpal Bayu.

Kalau Anda termasuk yang menggeluti usaha di sektor digital kreatif, simak juga kiat mengelola keuangan di era digital dari perencana keuangan Ligwina Hananto berikut ini.

Harapan merangkul masyarakat biar makin akrab dengan ranah digital kreatif.

Sebagai tanda eksistensi hidupnya industri digital kreatif di Yogyakarta, ADITIF dan JCA punya cara masing-masing untuk merangkul masyarakat agar bisa merasakan dampak dari majunya industri ini.

Saga menerangkan, masyarakat menjadi salah satu entitas pendukung industri digital kreatif. Bahkan, ADITIF juga terbuka jika ada pihak yang ingin terlibat untuk mengedukasi masyarakat tentang bidang digital kreatif. Untuk saat ini, ADITIF sudah menjaring lebih dari 60 startup.

“Asal anggotanya dari beberapa kota di Indonesia, sebagian besar memang dari Yogyakarta. Kategorinya pun sangat beragam. Namun didominasi oleh startup dan software developer,” tambahnya.

saga aditif digital kreatif yogyakarta

Saga (ADITIF) bersama Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Selain merangkul masyarakat, Saga juga menyampaikan apa yang ingin dilakukan ADITIF untuk memajukan perusahaan digital kreatif di masa mendatang. Ia mengatakan, jika ekosistem digital kreatif sehat, pelaku di dalamnya juga akan tumbuh dengan baik.

“Fokus ADITIF adalah menciptakan kondisi ekosistem industri yang kondusif. Usaha yang kami lakukan ini bukan lari sprint yang akan segera terlihat hasilnya. Melainkan lari maraton yang kami sendiri juga tidak tahu persis, kapan akan mencapai kondisi ideal yang diharapkan,” pungkas Saga.

Harapan Saga senada dengan Bayu. Ia pun berharap gaung industri digital kreatif semakin terdengar, tak hanya di Yogyakarta, namun juga ke seluruh Indonesia, bahkan dunia.

bayu subiantoro jca yogyakarta

Pendiri Jogja Creative Association (JCA), Bayu Sulistyo Subiantoro.

“Saya optimistis, jika dunia digital kreatif di Indonesia tak hanya berkutat pada satu tempat. Yogyakarta memang tempat yang ikonis untuk hal itu, tetapi akan lebih baik bila industri digital kreatif membumi ke tempat yang lebih luas di negeri ini. Kalau sudah begitu, banyak yang bisa menghasilkan profit. Tak hanya dari layanan jasa lewat teknologi, tapi juga produk nyata,” kata Bayu.

Baca juga tentang kiprah para perempuan yang menggiati bidang teknologi di komunitas Girls in Tech ini.

0 comments