NOW READING

Hands-On Sony Alpha 7 II Bersama Oktagon

 2126
+
 2126

Hands-On Sony Alpha 7 II Bersama Oktagon

by The Daily Oktagon

Seri Sony Alpha 7 pertama diungkap di penghujung tahun 2013 hingga awal 2014. Dan dengan Alpha 7 II (bernama lengkap ILCE-7m2), Sony kembali menggunakan tubuh dan rancangan orisinil. Alpha 7 II adalah model penyempurna, dan dipandu Peter Febian dari Oktagon, mari kita menggali lebih dalam kemampuan canggih kamera ini.

Ditargetkan untuk para pengguna berpengalaman, profesional dan kelas antusias, Alpha 7 II merupakan ‘renovasi’ model Alpha 7. Ia mengusung sensor serupa, namun terdapat dongkrakan level ergonomis plus sistem image stabilization terobosan baru. Alpha 7 II merebut gelar sebagai kamera ILC (interchangeable lens camera) full-frame dengan fitur penstabil lima-axis pertama di dunia.

Hands-On Sony Alpha 7 II 08

Namun sebelum membahas lebih dalam, Peter menerangkan lebih dulu pada saya apa peran masing-masing model di varian Alpha 7. Pada dasarnya, tipe R dilengkapi dengan sensor 36-megapixel buat fotografer kelas kakap, model S mungkin cuma mempunyai sensor 12-Mp namun sempurna untuk videographer ditambah jangkauan ISO dari 100 hingga 409.600. Alpha 7 standard sendiri ialah tipe all-rounder.

Hands-On Sony Alpha 7 II 05

Dari sisi estetika, Alpha 7 II mempunyai desain anggun kontemporer. “α7 II merupakan penyempurnaan, dibanding dari Mark I [kualitasnya] sangat jauh. Ergonomis, kontrol, soliditas, semua berbeda,” tutur Peter. Unit yang kami ulas tersebut sudah dilengkapi lensa kit 28-70 milimeter, tapi untuk pilihannya Anda tak perlu khawatir. Setidaknya ada lebih dari 25 model lensa E-mount, dipadu converter dan adaptor.

Hands-On Sony Alpha 7 II 09

Di antara seri Alpha 7, α7 II memang memiliki bobot paling berat. Tapi inilah kompensasi kecil yang harus Anda terima demi memperoleh fitur canggih: image stabilization lima-poros. Ia diklaim mampu menahan goncangan di tingkat 4.5-stop. Sistem tersebut terdiri dari penstabil axis X, Y dan roll di tubuh (in-body) dan yaw serta pitch di lensa. Hebatnya lagi, seluruh lensa SLR bisa kompatibel ke kamera mirrorless ini tanpa menghilangkan kapabilitas stabilizer.

Tapi ada alasan mengapa sebaiknya Anda memakai lensa Alpha, baik A- atau E-mount. Alpha 7 II akan menganalisis informasi dan menuangkannya secara optimal, dan seluruh ‘poros’ image stabilization baru bisa bekerja. Kombinasikan itu dengan sensor Exmor CMOS 33 milimeter 24,3-megapixel full-frame. Hasil gambarnya dipastikan minim noise, ber-dynamic range luas, kaya warna bergradasi halus.

Hands-On Sony Alpha 7 II 03

Walau cuma menjajalnya sesaat, saya sangat menyukainya. Kontrol manual dibantu sepasang dial (shutter dan diafragma) layaknya kamera kelas pro. Sony telah menyiapkan tombol yang bisa diprogram langsung dari menu – 10 button buat 56 fungsi khusus. Lucunya, melihat gambar di LCD akan lebih menghemat baterai dari via electronic view finder. Peter menerangkan, hal tersebut terkait kerapatan dot di EVF yang lebih tinggi.

Hands-On Sony Alpha 7 II 11

“Membahas ‘what you see is what you get‘ sebenarnya (paling bagus) Sony – elektronik,” tutur sang Assistant to Founder Oktagon. “Karena semua efek pemotretan yang secara elektronik diterapkan ke gambar itu langsung terlihat di display. Kalau di [optical] view finder tidak. Banyak orang memburu mirrorless sebab ia sudah melebihi kualitas DSLR, apalagi bobotnya lebih ringan.”

Hands-On Sony Alpha 7 II 04

Berbicara bobot, mari kita sandingkan α7 II dengan DSLR full-frame. Ukuran dan beratnya lebih rendah dari Olympus OM-D E-M1. Bahkan jika dikomparasi bersama DSLR APS-C terkecil dan teringan, Canon EOS 100D, ketebalan Alpha 7 II kurang lebih cuma dua pertiganya. Bagi Peter, dimensi dan bobot memastikan penggunaannya jauh lebih fleksibel. Ia mendukung segala jenis profesi fotografi, candid, foto-jurnalistik, hingga street photography.

Demi menjaga gambar dan warna tetap akurat, Sony membenamkan engine image processing Bionz X. Ia mampu mereproduksi tekstur dan detail secara real-time, layaknya dilihat mata telanjang, via pengolahan data super-cepat. Rincian pada hasil tampak natural dan realistis, gradasi warna lebih kaya, kemudian noise juga rendah di gambar still maupun film.

Hands-On Sony Alpha 7 II 12

Sedikit melenceng dari sesi hands-on kami, Peter Fabian memberi tips penting apapun jenis pilihan Anda. Di area berkadar lembap dan garam tinggi, ia sangat menyarankan kita tidak mengganti lensa karena humiditas dapat merusak sensor – pasang saja lensa zoom 18-200 mm supaya fleksibel. Lalu garam sangat berbahaya bagi body. Setelah memakainya di pinggir pantai, kita dianjurkan menaruh kamera di tempat dingin dan mengelapnya dengan kain lembut.

Hands-On Sony Alpha 7 II 07

Buat user, kita akan sangat terbantu aplikasi PlayMemories Camera. α7 II secara instan dapat memindahkan foto dan video ke smartphone/tablet Android berkat chip Wi-Fi dan NFC. Perangkat mobile juga bisa dipakai sebagai kendali shutter, diaktifkan via fitur Smart Remote Control.

Sony Alpha 7 II bisa Anda pesan di website penyedia produk spesialis fotografi, Oktagon, dibanderol seharga Rp 21 juta (body only). Silakan kunjungi Sony.net untuk fitur dan opsi lensa lebih lengkap.

Hands-On Sony Alpha 7 II 10

0 comments