NOW READING

Glenn Prasetya dan Pandangannya tentang Perkembangan Digital

 1625
+
 1625

Glenn Prasetya dan Pandangannya tentang Perkembangan Digital

by The Daily Oktagon

Siapa yang tak berubah, dia akan tergilas zaman. Ungkapan populer ini dipahami benar oleh fotografer Glenn Prasetya. Terkenal sebagai fotografer yang banyak berkecimpung di industri beauty dan fashion, Glenn sadar bahwa strategi pemasaran di industri yang dia geluti pun berkembang seiring berkembangnya zaman. Tak terkecuali media pemasaran yang semakin beragam seiring kemajuan era digital.

“Keperluan digital dari klien yang memang belakangan menguat. Jadi kalau biasanya klien hanya minta dua frame untuk iklan, maka sekarang tambah dua frame lagi untuk keperluan digital,” ujar Glenn.

glenn1
Sembilan tahun sudah terjun sebagai fotografer profesional, Gleen dituntut peka akan perubahan yang terjadi disekelilingnya. Kepekaan ini pula yang sepertinya membuat klien dari berbagai brand produk kecantikan dan busana, betah untuk bekerjasama dengan Glenn.

The Daily Oktagon berkesempatan untuk ngobrol dengan pria yang pernah menjadi official photographer L’Oreal Paris Indonesia di Cannes Film Festival 2013 ini. Yuk, simak artikel tentang Glenn Prasetya dan pandangannya tentang perkembangan digital.

Apa saja yang menguat dari kebutuhan digital para klien belakangan ini?

Sekitar dua tahun belakangan, klien datang tidak hanya untuk foto saja. Minimal mereka minta ada video behind the scene. Karena sekarang semua orang beriklan tidak hanya di medium fotografi, untuk keperluan pemasangan iklan di media cetak atau billboard. Tetapi juga untuk website,YouTube, dan sebagainya.

Belum lagi berbagai media sosial. Makanya kita juga merambah ke arah sana juga. Sebelumnya juga memang sudah membuat video, dan setahun terakhir saya buat tim video yang lebih serius. Jadi, kenapa tidak kita lakukan juga secara profesional? Beberapa waktu lalu saya membuat video untuk Maybelline Indonesia.

Anda memang punya background sinematografi?

Sebenarnya ini justru bidang yang saya suka sebelum saya terjun ke fotografi. Waktu saya kuliah, sempat magang di RT Film, sebuah production house (PH). Jadi saya sempat belajar melihat proses pembuatan TVC, sempat melihat cara kerja sutradara semacam Bo Krabbe dan DOP fashion photographer Geoff Ang. Jadi sebenarnya saya berangkat dari cinema.

Kemudian saya melihat mereka juga ada karya foto dan keren, dan akhirnya malah saya menekuni fotografi. Jadi kalau sekarang saya mendapat tantangan membuat video, ini seperti flashback dengan apa yang saya alami dulu. Tapi tentu saya tidak bisa bilang expertise di bidang ini. saya masih harus banyak belajar, dan kualitas video yang dihasilkan tentu relatif belum sama dengan para PH besar.

Baca juga, Dewandra Djelantik yang Konsisten di Hospitality Photography

_27Karya Glenn Prasetya – dokumen pribadi

Bagaimana cara Anda agar klien betah bekerja sama?

Karena era digital sekarang, semua orang bisa jadi fotografer. Tetapi saya bersyukur pernah mengalami era sebelum digital, pernah merasakan kamera menggunakan film. Orang sekarang mungkin lebih mudah untuk memotret, lalu dikoreksi dengan Photoshop. Sedangkan saya, mencoba pertahankan kualitas. Ibaratnya foto mentah yang saya hasilkan sudah harus bagus, sehingga klien sejak awal sudah senang dengan kerja kita.

Mereka bisa tahu bahwa saya bukan tipe fotografer yang mengandalkan digital imaging (DI). Ini sayangnya yang saya tangkap dari fotografer muda zaman sekarang. Saya berusaha tetap mempertahankan the art of photography dibandingkan the art of digital imaging. Tetapi tentu saya bukannya anti DI, karena ini tetap diperlukan untuk menunjang karya kita. Karena kembali lagi, sekarang semua sudah serba digital, sehingga kalau kita tidak mau maju dengan menggunakan digital, maka akan tertinggal. DI itu memberikan value lebih kepada karya kita.

Di luar teknis fotografi?

Attitute dan teamwork tidak kalah penting. Cara kita menghadapi klien, pembawaan diri kita ke dalam pekerjaan, karena in the end of the day, banyak sekali pilihan fotografer di luar sana. Jadi saya ingin klien punya banyak pengalaman positif selama bekerja sama, daripada sekadar hanya di proses memotretnya saja. Karena saya melihat, terutama beberapa fotografer muda, tidak tahu cara menempatkan diri secara profesional.

Terkadang mereka sampai banting harga, atau bahkan tidak dibayar untuk mendapatkan pekerjaan tertentu. “Saya mau motret si brand A, seperti si Glenn yang juga motret brand A, walau untuk itu saya rela untuk tidak dibayar”. Itu tidak bagus karena berarti mematikan standar market tertentu yang sudah ada.

Bagaimana Anda melihat soal “banting harga” para fotografer?

Di Indonesia memang relatif tidak ada benchmark untuk mengetahui harga yang ideal. Belum ada juga asosiasi yang mengatur hal ini. Itu yang saya rasakan ketika pertama kali memotret. Ya sudah saya buka harga segini, yang penting tidak tekor. Tetapi saat itu saya juga menghargai bahwa sudah ada orang-orang yang sudah lama berkarier di sini, sehingga ada target harga tertentu yang harus saya capai. Saya sudah lama berprinsip tidak mau karya saya menjadi karya murahan. karena hanya ingin pekerjaan tertentu, tetapi tidak ada value-nya.

Bagi saya, fotografer walaupun pemula harus punya minimum harga dengan value yang cukup wajar, sehingga hasil karyanya pun bisa lebih dihargai. Kalau ambil contoh di luar negeri, setiap fotografer biasanya bergabung dengan sebuah agency. Yang biasanya sudah lama terjun di industri ini tahu harga yang layak. Di Indonesia sendiri saya sudah melihat mulainya fotografer bergabung bersama agency. Saya sendiri sudah membuat semacam agency, untuk saat ini selain saya ada food photographer Togi Panjaitan.

Bagaimana Anda mengelola teamwork di tim Anda?

Ketika orang melihat karya saya di billboard majalah, itu bukan hasil kerja satu orang. Banyak orang yang terlibat di dalamnya. Mulai dari orang lighting, yang mengatur traffic, hingga yang berkomunikasi dengan klien. Kita juga harus memikirkan bagaimana melayani klien saat sesi foto atau produksi berlangsung.

Bayangkan misalnya kalau saat pemotretan ada lima orang klien dan lima orang lagi dari agency periklanan datang, yang tentu juga harus mendapat layanan dan harus kita tampung ide-idenya. Tentu harus ada orang-orang yang membantu sehingga saya bisa tetap fokus dalam memotret. Itu semua bagian dari bisnis ini. A good teamwork creates a good picture. Itu pasti.

1Karya Glenn Prasetya – dokumen pribadi

Apa pengaruh perkembangan teknologi digital di profesi seperti Anda?

Media sosial sekarang salurannya banyak sekali, sehingga orang dengan mudah memperkenalkan karya-karya mereka, dan dengan cepat pula dapat diketahui dunia internasional. Sekarang banyak fotografer bagus bisa dilihat karyanya di media sosial. Ada juga yang mungkin sebenarnya kurang bagus, tetapi melakukan exposure gila-gilaan di media sosial sehingga akhirnya terkenal, bahkan menjadi benchmark beberapa fotografer. Namun juga tak jarang ada dampak negatif seperti sekarang foto cenderung dengan mudahnya diedit, sehingga terasa kurang alamiah saja.

Bagaimana pemanfaatan media sosial untuk Anda sendiri?

Saya menggunakannya untuk keperluan bisnis dan pribadi. Akun Instagram saya misalnya, saya rutin mem-posting foto makan pagi. Ini tentu pribadi. Bahkan mungkin saya cenderung tidak terlalu lama memasang hasil kerjaan. Namun tim saya sudah anjurkan untuk juga mem-posting hasil kerja. Saya pada akhirnya juga harus memikirkan sisi marketing.

Saya hanya berusaha mem-posting, baik pribadi maupun pekerjaan, yang mempunyai sisi menyenangkannya dari hasil atau prosesnya. Jadi tidak jarang dalam rangka mengapresiasi semua orang yang terlibat di dalamnya, terlebih kita bisa mention atau tag seseorang di situ. Sementara untuk akun Facebook memang dikhususkan untuk memamerkan hasil kerja.

10Karya Glenn Prasetya – dokumen pribadi

Device yang sering dipakai?

Selain ponsel dan laptop, saya biasanya bawa kamera Sony Alpha 6000 yang biasa saya bawa sehari-hari. Kalau saya lihat ada yang bagus, bisa langsung saya foto pakai kamera itu.

Cek berbagai kamera keren di Oktagon!

Mau tahu Arti Teknologi Menurut Darwis Triadi? Baca Artikel berikut!

0 comments