NOW READING

Kata GeekHunter Soal IT di Indonesia

 3148
+
 3148

Kata GeekHunter Soal IT di Indonesia

by The Daily Oktagon

Siapa sangka, di balik perusahaan rintisan GeekHunter, berdiri dua sosok perempuan sebagai pendirinya. Mereka adalah Ken Ratri Iswari dan Yunita Anggraeni, Chief Executive Officer dan Chief Operating Officer startup yang memberikan layanan rekrutmen pekerja di bidang teknologi informasi (IT). Sejak beroperasi pada Juli 2013, GeekHunter telah membantu berbagai perusahaan yang membutuhkan programmer maupun tenaga IT lainnya di Indonesia.

GeekHunter merupakan perusahaan rintisan ketiga yang didirikan oleh Ken. Dua startup sebelumnya adalah ngubek.com dan Contenga International yang berada di Bali, sekarang berubah menjadi liv.it. Meski bergerak di bidang rekrutmen, GeekHunter enggan menyebut diri mereka sebagai job site atau job portal.

Regular_Image_-_Ken

Core bisnis kami, selain membantu perusahaan yang membutuhkan tenaga IT, lebih sebagai career consultant yang membantu para programmer atau IT Talent membuat perencanaan karier dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai,” ujar Ken.

Mendapatkan pekerjaan memang tidak mudah. Menurut data Badan Pusat Statistik, pada Februari 2014-Februari 2015), jumlah pengangguran di Indonesia meningkat 300 ribu orang dengan total mencapai 7,45 juta orang. Mencari pekerjaan, khususnya di bidang IT, jadi semakin kompetitif. Belum lagi faktor lainnya, seperti ketersediaan yang tidak sesuai dengan kebutuhan.

Regular_Image_-_Anggra

“Saat ini Indonesia mengalami talent shortage di bidang IT,” kata Anggra, sapaan akrab Yunita. “Bahkan kami sebagai recruitment consultant saja masih kesulitan mendapatkan programmer,” ujarnya.

Apakah Indonesia sedang mengalami krisis SDM di bidang IT? Atau memang adanya ketidaksesuaian antara kebutuhan perusahaan dengan SDM yang tersedia? Ini kata GeekHunter soal IT di Indonesia yang dipaparkan langsung oleh Ken dan Anggra kepada The Daily Oktagon.

Sebelum lanjut membaca, simak artikel menarik satu ini, Komunitas IoT Ajak Anda Berkenalan dengan Internet of Things

Jenis pekerjaan apa yang paling dicari saat ini oleh industri IT?
Ken: Permintaan yang paling banyak kami dapatkan adalah developer iOS dan Android, developer Ruby on Rails, developer PHP Java, dan desainer UI/UX.

Lalu, profesi apa yang akan terus dibutuhkan selama lima tahun ke depan?
Ken: Desainer UI/UX dan ilustrasi 2D/3D serta programmer.

Perusahaan seperti apa yang banyak membutuhkan tenaga IT?
Anggra: Kalau melihat dari database GeekHunter, perusahaan-perusahaan ini bergerak di bidang software housee-commercemarket placefundraising platformprogrammatic advertisingonline portal, dan masih banyak lagi.

Apakah ada skill atau knowledge gap antara lulusan S1 kita dengan kebutuhan pasar?
Ken: Betul, terdapat gap yang cukup tinggi antara lulusan S1 dengan kebutuhan market. Pihak akademi bisa mengatasi ini dengan selalu memperbarui kurikulum yang diajarkan di bangku kuliah. Sebab, di dunia IT yang berhubungan dengan programming, bahasa pemrograman yang perlu dipelajari semakin berkembang seiring berjalannya waktu.

Anggra: Tapi, selain teori, diperlukan juga praktik. Misalnya membuat suatu produk, sehingga mahasiswa memiliki pemahaman dan pengalaman yang dapat diaplikasikan di dunia kerja nanti.

Ken: Kami berharap dapat bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengurangi perbedaan yang tinggi antara kebutuhan dengan permintaan. Ini bisa menjadi jembatan antara pihak akademi dengan perusahaan.

Anggra: Iya, supaya nantinya para programmer lulusan S1 memiliki bekal yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan siap bersaing dengan talent dari luar negeri sekali pun.

Apakah gelar sarjana mutlak diperlukan untuk berkarier di dunia IT?
Ken: Tidak selalu, yang paling penting memiliki skill yang relevan dengan employer. Namun ada juga perusahaan yang selalu insist mencari programmer dengan gelar sarjana dari universitas tertentu.

Tantangan seperti apa yang biasa Anda ditemui?
Ken: Tantangannya ada beberapa. Salah satunya, saat berhadapan dengan klien, karena tim kami masih muda-muda, terkadang butuh energi ekstra untuk meyakinkan klien. Biasanya klien menggunakan jasa Geekhunter karena mereka tidak berhasil merekrut dengan cara mereka sendiri, padahal mereka juga sudah memasang iklan. Bahkan, mereka juga menggunakan LinkedIn dan sudah menggunakan banyak cara untuk merekrut. Sehingga biasanya ketika mereka menggunakan jasa rekrutmen GeekHunter, tingkat kesulitan mencari talent untuk mereka lebih tinggi.

Anggra: Berhadapan dengan nerd atau geek yang punya tingkat kecerdasan tinggi itu bukanlah hal yang mudah. Terkadang kamu menemukan beberapa kasus kalau IQ mereka berbanding terbalik dengan EQ. Mereka terkadang tidak punya kemampuan komunikasi yang baik saat kita approach, karena lebih nyaman ngobrol dengan komputer daripada sama orang langsung.

Kompetisi antar headhunter juga jadi tantangan tersendiri. Karena ada banyak banget agensi rekrutmen atau headhunter di Indonesia walaupun fokus mereka bukan di IT. Sering terjadi juga klien memakai lebih dari satu agensi rekrutmen. Belum lagi rebutan di talent pool yang sama. Semua klien maunya lulusan universitas tertentu dan semua mencari dari talent pool yang sama. Kira-kira itu tantangannya.

Ada tips yang bisa dibagikan buat mereka yang sedang mencari kerja di dunia IT?
Ken: Kebetulan ada, dan ini menurut saya tidak terlalu sulit buat diterapkan. Pertama adalah profil. Dalam membuat CV, seorang programmer harus memiliki profil yang yang bisa mendeskripsikan dirinya dengan baik. Lalu ia harus menjelaskan keahlian yang dimiliki secara detail, misalnya dengan menyebutkan bahasa pemrograman yang dikuasai, framework yang dia pakai di setiap proyek yang dikerjakan, dan sebagainya.

Nah, mengenai proyek, perusahaan akan melihat portofolio dalam menilai seorang programmer. Maka dari itu, seorang programmer yang memiliki banyak portofolio dan menjelaskan proyek-proyeknya dengan detail lebih mudah menarik perhatian perusahaan.

Anggra: Kalau boleh menambahkan, pengalaman juga penting. Semakin banyak pengalaman seorang programmer, semakin tinggi pula skill yang dia miliki. Di luar skill, Anda juga harus berperilaku baik. Perusahaan akan mempertimbangkan seorang programmer dengan skill minimal, tapi berkelakuan baik.

Perusahaan juga tidak akan tertarik dengan orang yang suka berpindah-pindah kerjaan dalam waktu terbilang singkat. Terakhir, jika Anda hendak melamar pekerjaan, Anda harus memperlihatkan ketertarikan pada perusahaan tersebut. Minimal mengetahui latar belakang perusahaan maupun produk-produk unggulannya.

Pencinta digital lifestyle, Anda pasti menyukai artikel berikut, Ini Gadget Anyar untuk Hidup Lebih Inovatif

0 comments