NOW READING

Gaya Hidup Digital adalah Soal Memanfaatkan, Bukan Dimanfaatkan Teknologi

 2244
+
 2244

Gaya Hidup Digital adalah Soal Memanfaatkan, Bukan Dimanfaatkan Teknologi

by The Daily Oktagon

Beberapa tahun lalu, mungkin kita hanya mendengar istilah digital lifestyle dari pendiri Microsoft, Bill Gates, dalam berbagai kesempatan.

Kala itu Gates menggambarkan kehidupan manusia yang makin efisien dan simpel dengan bantuan teknologi. Ia juga kerap menyebut, jika manusia kian erat beradaptasi dengan gaya hidup digital, maka produktivitasnya pun berpotensi tambah maksimal.

Hal itu disampaikan Gates saat julukan digital lifestyle masih terasa sebagai gaya hidup modern dengan teknologi tinggi yang baru akan tercapai dalam hitungan dekade.

DIGITALLIFESTYLE6

Kini, Indonesia (negara yang lebih dari setengah warganya konon masih kurang akrab dengan istilah digital lifestyle) dikenal sebagai salah satu negara paling adaptif di dunia, terkait produk teknologi yang lekat hubungannya dengan digital lifestyle.

Nama Indonesia sudah lumrah muncul di posisi lima besar untuk negara dengan jumlah pengguna media sosial tertinggi, tempat smartphone laris dijual, dan juga berbagai produk digital lainnya.

Ternyata, ujaran Gates tadi tidak butuh waktu lama untuk terealisasi, bahkan di Indonesia yang masih dalam tahap berkembang untuk urusan teknologi. Gaya hidup digital kini, sudah jadi bagian dari keseharian Anda, kami, dan kita semua.

Tersangkut ulasan ini, The Daily Oktagon berbincang dengan Anthony Reza Prasetya, Editor-at-Large The Daily Oktagon dan Wirjadi Lorens, Founder Oktagon, seputar hidup bergaya digital.

Bagaimana Anda memaknai digital lifestyle?
Wirjadi Lorens (WL): Di Indonesia sendiri, kata “lifestyle” masih jadi perdebatan. Pasalnya, kata tersebut seolah hanya terkait hal yang mewah dan fancy. Padahal, lifestyle secara terang berarti gaya hidup; sama sekali tak ada urusan dengan kemewahan atau borjuis.

Terlepas dari salah kaprah itu, digital lifestyle secara sederhana adalah menyangkut perangkat digital yang kita gunakan sehari-hari. Dan ketika bicara soal digital lifestyle maka kita tak bisa lepas dari Internet of Things.

Kita sudah mulai mengenal digital lifestyle ketika mulai bersentuhan dengan “digital thing”. Saat menggunakan smartphone untuk memesan Go-Jek, itulah gaya hidup digital.

Anthony Reza Prasetya (ARP): Seperti kita tahu, level gaya hidup itu selalu dipengaruhi berbagai aspek. Soal digital lifestyle pun terhubung dengan produk digital yang kini semakin mudah ditemui. Gaya hidup digital berhasil mengubah kebiasaan dan cara kita menjalani hidup.

Dulu, untuk bisa mengoleksi lagu kita mesti punya setumpuk kaset. Sekarang semua sudah lebih compact dan efisien dalam bentuk digital. Hal itu terpengaruh kehadiran iTunes.

Digital lifestyle itu sesederhana mengubah kebiasaan kita dalam mengonsumsi sesuatu. Kita mulai berpikir apa saja teknologi digital yang bisa menunjang kegiatan kita sehari-hari; mulai dari wearable devices, smartphone, atau perangkat teknologi lainnya.

DIGITALLIFESTYLE2

Menurut Anda kapan Indonesia mulai menyadari soal digital lifestyle?
WL: Menurut saya ada beberapa fase. Di industri fotografi, gaya hidup digital mulai hadir pada awal ’90-an ketika Kodak merilis kamera digital. Namun menurut saya, momen penting digital lifestyle yang benar-benar berdampak di Indonesia adalah sejak Apple merilis iPhone pada 2008.

ARP: Awal dari digital lifestyle di Indonesia itu ketika internet semakin mudah diakses banyak orang. Ketika orang-orang ramai menyerbu warnet, saat itulah gaya hidup digital mulai marak di Indonesia. Lalu dilanjutkan dengan mencuatnya penggunaan smartphone yang juga kian terjangkau secara ketersediaan dan harga. Hingga masyarakat pun makin menyadari lagi tentang gaya hidup digital ini saat media sosial mulai marak.

Menurut Anda, seberapa mudah orang Indonesia menyesuaikan diri terhadap perkembangan teknologi?
WL: Sangat adaptif. Masih ingat dengan booming-nya Nokia dan BlackBerry di Indonesia? Selain itu, kini Indonesia punya 300 juta nomor telepon yang aktif. Jumlah itu bahkan lebih banyak dari total penduduk kita. Statistik lain menunjukkan bahwa kita juga mudah menyerap penggunaan media sosial, hingga Jakarta disebut-sebut sebagai Twitter capital of the world.

Harus diakui juga, nyaris tiap pagi kita bangun langsung mengecek apps dan notifikasi yang muncul. Pesan makanan mulai pakai aplikasi, malas kena macet tinggal panggil Go-Jek. We are moving to another step! Padahal banyak negara lain belum memanfaatkan teknologi segiat kita. Kebanyakan masih sebatas pengguna Facebook dan Twitter saja.

ARP: Betul sekali. Kualitas adaptasi di Indonesia memang sangat cepat. Selain statistik media sosial tadi, kita juga termasuk pengguna aplikasi messaging yang pesat seperti Line dan WhatsApp. Indonesia selalu masuk Top 5, lho. Mungkin, karena faktor penduduk kita besar juga.

Apa pendapat Anda tentang diferensiasi produk teknologi terkait digital lifestyle?
WL: Produk digital itu makin lama semakin murah. Contohnya, 15 tahun lalu kamera digital 2MP yang dirilis Kodak dibanderol dengan harga US$6.000 (atau nyaris 80 juta rupiah jika diukur dengan kurs saat ini).

Sekarang, kalau kita lihat ada kamera dengan kualitas dan harga semahal itu sudah pasti dicuekin. Begitu juga dengan smartphone yang makin ke sini semakin berkualitas tapi juga tambah murah harganya. Diferensiasi produknya mungkin lebih ke: Better techonology to hack your lifestyle.

Jadi, digital lifestyle bukan soal harga, tetapi fungsi. Banyak orang yang merilis produk digital, tapi yang bertahan hanya produk dengan fungsi dan manfaat yang berguna untuk kehidupan sehari-hari. Orang kerap berpikir tentang manfaat yang diberikan oleh produk itu.

Tapi ya itu tadi, masih ada yang menganggap istilah “lifestyle” itu terkait kemewahan; padahal digital lifestyle tidak pernah melahirkan produk yang terbatas hanya untuk kalangan tertentu saja. Meski harus diketahui juga bahwa produk memang kerap bermula dari sekelompok golongan.

Contohnya Facebook, yang awalnya hanya tertutup untuk kalangan Ivy League di Harvard University, dan kini bisa digunakan semua orang dari berbagai kalangan.

ARP: Gaya hidup itu banyak bentuknya; premium, medium, dan low-end. Sebuah produk yang belum mencapai critical mass biasanya menjadi eksklusif dan mahal.

Setelah proses ini, akan banyak inovator yang muncul dan membuat sesuatu jadi lebih ramah dan terjangkau bagi semua orang. Dulu mungkin cuma iOS yang memungkinkan ponsel punya berbagai aplikasi, tapi Google membuat Android dan membuatnya lebih terjangkau.

DIGITALLIFESTYLE1

Setelah mencapai critical mass, biasanya produk jadi lebih mudah dijangkau dari berbagai audience yang berasal dari berbagai income level.

Kalau tadi sebagai konsumen kita sudah wajar masuk Top 5 di pasar produk teknologi, bagaimana dengan peluang kita sebagai produsen?
WL: Produsen terdiri dari dua; manufaktur dan kreator. Sebelum membangun pabrik di Arizona pada 2013 lalu, produk Apple produksi oleh pabrik-pabrik di China. Maka itu semua produk yang kita lihat “Made in China” tetapi didesain di Palo Alto, California. Begitu juga dengan nama lain seperti GoPro.

Kapan Indonesia akan mulai membangun dan mendesain produk? Sampai saat ini memang belum ada yang menonjol. Apakah untuk jadi produsen harus punya pabrik? Belum tentu.

Soal menjadi kreator, saya rasa Indonesia sudah tinggal menunggu waktu. Sebenter lagi momennya akan tiba. Tugas kita bersama untuk siap mendukung siapa pun yang keluar dengan ide brilian.

ARP: Mengingat saat ini banyak yang “Made in China,” rasanya pemerintah perlu buat regulasi pabrik teknologi wajib buka di Indonesia. Dengan ada pabrik teknologi di sini, mereka akan serap SDM. Lalu kita pun semakin banyak mendapat pembelajaran.

Sejauh ini, Indonesia memang masih jauh dari sisi inovasi hardware. Namun, bicara soal apps dan software rasanya kita sudah cukup beraksi. Beberapa tahun lalu kita punya Koprol yang sempat diakuisisi Yahoo! Kalau yang terbaru, kita punya Go-Jek.

OK, So the next big thing in digital lifestyle are?
WL: Wearable device. Nanti semua barang yang kita gunakan bisa dipakai juga untuk memonitor hal-hal lain.

ARP: Internet of Things. Sepertinya dalam waktu 2-3 tahun ke depan produk-produk dengan pendekatan itu akan mulai mencapai critical mass. Bisa dilihat dari Google dan Apple yang mulai masuk ke smart home dan smart car.

DIGITALLIFESTYLE3

Salah satu yang paling mutakhir itu smart city. Sebuah artikel di Wired pernah mengulas kalau teknologi akan mulai diterapkan dalam SmartCement yang disematkan nano-devices.

Pemerintah kota bisa tahu kalau ada keretakan dan kerusakan pada fasilitasnya. Kerusakan itu akan langsung disambungkan dengan controller ke dinas perhubungan daerah.

Kota itu akan sangat dimonitor mulai dari area mana saja yang macet, bencana, sampai gangguan kecil lainnya.

Benjamin Franklin pernah memperkirakan kalau teknologi akan membuat jam kerja manusia jadi lebih singkat ketimbang eranya saat itu, 8 jam per hari. Menurut Anda, apakah era digital lifestyle adalah era yang dimaksud Benjamin itu?
WL: Di era digital lifestyle, kerja lebih efisien dan simpel itu pasti. Sayangnya, kompetisi lebih garang. Dari sisi jurnalistik, sekarang publish foto dan berita mungkin lebih gampang, tapi sekarang jumlah artikel yang harus kalian buat jadi lebih banyak, kan?

Itu karena permintaan pembaca yang sudah tidak lagi per hari; tapi per menit dan detik. Apakah teknologi mempermudah? Iya, pasti. Sayangnya, kita yang terus menjawab permintaan lebih banyak.

ARP: Teknologi sangat membantu manusia – semua orang merasakan itu. Pekerjaan dan komunikasi juga jadi lebih cepat serta efisien.

Dulu sebelum ada ponsel, kita cuma bisa dihubungi terkait urusan kerja dari pukul 9 sampai 5. Setelah itu, mulai ada email, smartphone, lalu akses email di ponsel. Bisa dibilang jam kerja kita justru bisa jadi 24 jam.

Kembali lagi, bagaimana kita bisa mengetahui batasan-batasan saja. Teknologi itu sifatnya harus menunjang, bukan menghancurkan.

DIGITALLIFESTYLE4

Kalau teknologi belum secanggih sekarang, mungkin saya dan rekan-rekan kantor tidak bisa remote working. Namun, berbagai aplikasi bisa membuat kami tetap bertatap muka walapun di lokasi yang berbeda dengan mudah.

Meningkatkan produktivitas boleh, tapi harus tetap tahu batasannya.

0 comments