NOW READING

Game dan Mode, Lawan atau Kawan?

 789
+
 789

Game dan Mode, Lawan atau Kawan?

by The Daily Oktagon

Data dari Internet Advertising Bureau menyebutkan bahwa 52% pemain game adalah perempuan. Hal ini mematahkan asumsi bahwa permainan game daring didominasi oleh laki-laki.

Angka 52% yang cukup mengejutkan ini merujuk pada pemain perempuan baik kasual mau pun non-kasual. Pemain kasual pada umumnya memainkan game favorit mereka di web browser komputer; dan di ponsel, seiring maraknya pengembangan aplikasi berbasi android dan iOs. Namun, tak sedikit pemain non-kasual dari kalangan perempuan yang mendalami kegiatan ini secara serius. Karenanya, industri mode mulai melirik para pemain game sebagai target pasar yang dinilai memiliki potensi besar.

Perusahaan-perusahaan mode sendiri telah merambah dunia digital melalui situs web yang dapat diakses dengan komputer maupun ponsel. Bahkan, mereka telah melakukan pendekatan yang lebih luas melalui berbagai platform media sosial. Namun, perusahaan-perusahaan mode tersebut mulai menyadari bahwa sudah saatnya meningkatkan level permainan mereka.

DKNY adalah salah satu perusahaan mode yang terkenal dengan kesuksesan mereka menjangkau audiens melalui media sosial. Mereka, berkolaborasi dengan Fashion Week Live, menciptakan game daring yang memungkinkan pemainnya membangun karier maya di bidang mode. Pemain juga dapat mengumpulkan poin untuk memenangkan pakaian-pakaian bermerek DKNY versi digitalnya, bahkan pemain dapat mendekorasi ulang apartemen mereka. Perusahaan-perusahaan mode lain seperti Nike, Norma Kamali dan Aldo pun telah menerapkan prinsip kampanye serupa.

Credit: REDXIII (Shutterstock.com)

Game daring dan mode memiliki hubungan dua arah. Selain permainan daring berbasis mode, dunia juga telah mengenal mode berbasis game daring, atau lebih dikenal dengan istilah cosplay. Meski industri game dari bukanlah penemu subkultur cosplay, karena cosplay pertama yang tercatat dalam sejarah adalah saat William Fell dan istrinya mengenakan kostum Mr. Skygack dan Miss Dillpickles dari komik “Mr. Skygack, From Mars” ke pesta topeng di Cincinnati, Ohio, pada 1908.

Para pemain cosplay yang memilih karakter game sebagai inspirasi kostum mereka cenderung memiliki komitmen dan dedikasi yang tinggi terhadap karakter yang mereka perankan. Fenomena cosplay sebagai subkultur mulai menarik perhatian dunia ketika angka pemain cosplay di Jepang naik tajam sejak di periode 1990-an. Kaum remaja dan dewasa muda dengan gaya berpakaian yang diinspirasi oleh karakter anime banyak berlalu-lalang di Tokyo, terutama di kawasan Shibuya dan Harajuku.

Credit: Anton Gvozdikov (Shutterstock.com)

Pertumbuhan subkultur ini sedemikian mencengangkan sampai-sampai beberapa pemain cosplay memperoleh predikat celebrity cosplayer. Para figur publik di ranah cosplay ini kerap diundang ke acara-acara internasional seperti Comiket, pameran dan pasar dojinshi terbersar di dunia yang digelar dua kali setahun di Jepang. Tahun lalu, Singapura menjadi salah satu tuan rumah Anime Festival Asia 2016 yang menghadirkan pemain cosplay ternama  seperti Enako, Reika, dan Kaname (Jepang), Stayxxxx dan Mon dari Taiwan, Ying Tze dan Angie dari Malaysia.

Ada berbagai ajang yang mengakomodasi pertunjukan cosplay seperti fan conventions (konvensi penggemar), dan comiccon (konvensi komik). Bahkan, para pemain cosplay pun tak segan-segan berpartisipasi di kompetisi-kompetisi cosplay internasional.

Salah satunya adalah ajang global sebesar SXSW. Acara tahunan ini mengadakan kontes cosplay pada pesta pembukaannya di Hilton, Austin, Amerika Serikat, pada 16 Maret 2017.  Subkultur ini tak menunjukkan tanda-tanda kemunduran sama sekali. Sebaliknya, fenomena ini justru terus menemukan pemain-pemain baru dari berbagai belahan dunia. Zainaru, salah satu pemain cosplay asal Indonesia bahkan baru saja memenangkan kompetisi Polymanga Global Easter Cosplay 2017 di Switzerland.

Credit: Anton Gvozdikov (Shutterstock.com)

0 comments