NOW READING

Foto Makanan Buka Puasa? Ini Caranya ala Upload Kompakan

 163
+
 163

Foto Makanan Buka Puasa? Ini Caranya ala Upload Kompakan

by The Daily Oktagon
  • Upload Kompakan adalah komunitas fotografi mobile yang bergerak di genre kuliner.
  • Memotret makanan bukan sesuatu yang sulit, malah bisa memicu kreativitas untuk menciptakan hasil jepretan yang unik.
  • Maksimalkan fitur smartphone sehingga hasil foto bisa lebih baik

Komunitas pencinta kuliner ada banyak di Indonesia. Namun yang cukup unik adalah Upload Kompakan. Berdiri sejak September 2014, akun resmi Upload Kompakan di Instagram sudah mengantongi 106.000 followers dengan tagar #UploadKompakan lebih dari 776.000 post.

Upload Kompakan awalnya memang sebuah nama dari akun Instagram. Tujuan utamanya adalah ‘bergerilya’ di ranah media sosial, dengan mengkurasi karya-karya jepretan anggotanya di Instagram yang didominasi foto makanan.

Para anggotanya kerap dijuluki “Kompakers”. Uniknya, mayoritas anggota komunitas ini adalah wanita. Hingga kini, Upload Kompakan memiliki banyak “cabang” yang tersebar di Indonesia. Meski tidak selalu rutin mengadakan pertemuan, komunitas tetap eksis mengunggah foto-foto di media sosial.

Seperti apa asyiknya menjadi komunitas ini, khususnya saat memotret makanan? Berikut wawancara founder Upload Kompakan, Echi Sofwan dan salah satu anggotanya, Silva Sandiarini.

Awal mula terbentuknya Upload Kompakan?

Echi (E): Awalnya, saya sendiri suka foto-foto peralatan makanan di dapur kemudian diunggah ke Instagram. Ternyata respon pengikut positif, dan mulai menggaungkan tagar #UploadKompakan.

Dari situ, kepikiran untuk bentuk Upload Kompakan sebagai komunitas fotografi amatir yang bergerak di bidang makanan dan gaya hidup. Nggak disangka, jumlah anggota yang mengikuti akun ini meningkat cepat dan agresif.

Selain mengunggah foto, apa saja aktivitas Upload Kompakan yang rutin dilakukan?

Setelah memiliki ribuan anggota yang tersebar ke beberapa penjuru daerah, tidak mungkin mengadakan pertemuan rutin. Alhasil, beberapa wilayah membentuk sub-komunitas sendiri untuk mengatur kopdarnya.

Dari sini, kami terus lakukan kompetisi harian. Para anggota bisa mengunggah foto-foto jepretannya dengan tagar #UploadKompakan, dan disortir kembali oleh wilayah masing-masing untuk dikompetisikan.

Mengapa harus makanan?

Makanan adalah genre fotografi yang sangat mudah untuk dilakoni. Apalagi, mostly anggota kita kan perempuan, yang hobinya itu masak dan juga kulineran.

Kalau dipikir-pikir, memotret makanan juga bukan sesuatu hal yang sulit. Malah, ini bisa memicu kreativitas mereka untuk dapat menciptakan hasil jepretan yang unik dan out of the box. Apalagi saat Ramadan seperti ini, foto-foto bertemakan kuliner itu lagi trending.

Tips dasar untuk anggota pemula yang ingin memotret makanan?

Silva (S): Bicara soal basic, nggak harus mikirin mau foto makanannya pakai perangkat apa. Jangan terpaku dengan mindset ‘oh kalau foto makanan itu biar kelihatan pro ya harus pakai kamera DSLR’, nggak kaya gitu.

Mostly anggota Upload Kompakan mobile related banget, jadi mereka pakai smartphone sebagai ‘senjata’ utamanya. Nah tips di sini relate ke penggunaan smartphone sebagai kamera untuk memotret makanan.

Beberapa hasil foto anggota komunitas (Dok. Buddy Ambar, Anita Joyo)

Pertama, kita bisa manfaatkan jepretan makro. Kebanyakan kamera smartphone sekarang makro-nya bagus. Apalagi buat foto makanan secara close up.

Kedua, maksimalkan smartphone dengan fitur Optical Image Stabilization seperti yang ada di Samsung Galaxy S7, Galaxy S8, atau iPhone 7 Plus. Fitur ini juga hadir di sejumlah smartphone Android lain kok, pokoknya cukup membantu memotret foto makanan agar hasilnya nggak shaky dan kabur.

Dua tips ini bisa jadi basic starter bagi yang ingin foto-foto makanan. Sisanya, biar kreativitas yang bekerja.

Simak ulasan indahnya kehadiran teknologi untuk membantu ibadah ini  

Agar makanan yang difoto itu tampil menggungah, ada caranya?

E: Pikir soal pencahayaan. Kalau foto makanan di outdoor, itu nggak akan jadi masalah, tapi jangan sampai cahayanya terlalu terang.

Kalau pakai smartphone, coba manfaatkan fitur HDR dan kurangi intensitas pencahayaannya. Jangan sampai rendah, namun setidaknya objek makanan bisa tampak dengan jelas dengan padanan warna yang tetap akurat.

Yang pasti, cahaya masih menjadi elemen utama untuk menghidupkan objek. Apalagi kalau foto makanan, jangan terlalu gelap, karena tidak terlalu fokus ke estetika, namun lebih mengutamakan detil dari setiap instrumen makanan yang ada di satu bingkai.

S: Coba foto dari angle yang berbeda. Jangan dari atas terus seperti foto-foto makanan yang ala-ala di Instagram. Break the box dengan menggunakan prinsip mengambil foto dari sudut yang berbeda.

Jangan gunakan default angle secara terus-terusan, bisa tampak membosankan. Ingat, makanan itu bentuknya berbeda-beda, ada yang datar, oval, abstrak seperti pasta atau mie, pokoknya banyak.

E: Meski ingin hasilnya lezat dan menggoda, bukan berarti kita harus memadupadankan semua makanan dalam satu meja. Coba terapkan konsep simplicity nan minimalis.

Semakin sedikit porsi yang ditampilkan, tentu hasilnya akan lebih baik. Porsi yang lebih sedikit justru akan memfokuskan objek makanan yang hendak dibidik. Pada poin ini, keterikatan makanan dengan yang melihat akan lebih erat.

Cari smartphone dengan kemampuan zoom yang baik? Ulasannya ada di sini

Bagaimana Anda melihat dunia komunitas fotografi di Indonesia, khususnya dalam bidang kuliner?

S: Indonesia itu benar-benar passionate kalau sudah tertarik dengan satu hal. Dalam hal ini, fotografi dan makanan. Dua hal tersebut sepertinya tidak bisa lepas dari keseharian orang-orang. Bagaimana tidak, kita makan setiap hari. Mau makan di mana, pasti ada ketertarikan foto makanan tersebut. Kebiasaan ini sebetulnya bisa dijadikan hobi yang bermanfaat.

Dan saya lihat, sudah banyak yang melakukan itu dan menjadikannya sebagai produktivitas yang positif, dan tertuang di komunitas-komunitas fotografi kecil yang pada akhirnya terus berkarya.

E: Masing-masing punya tujuan yang unik, sekadar ingin sharing, keperluan bisnis dan profesional, atau hanya untuk hobi.

Saya pikir ini adalah tren yang bagus. Komunitas adalah salah satu wadah yang memadai untuk menampung karya semua orang, tak hanya dari bidang kuliner namun juga semua bidang lain, agar terus bisa menciptakan karya yang baik dan tentunya bermanfaat bagi semuanya.

 

0 comments