NOW READING

Firdaus “Daus” Fadlil, Legenda Hidup Fotografi Panggung Indonesia

 3720
+
 3720

Firdaus “Daus” Fadlil, Legenda Hidup Fotografi Panggung Indonesia

by The Daily Oktagon

Siang itu Firdaus Fadlil, mengenakan setelan kaos merah dan celana kargo yang nyaman. Tak ketinggalan kacamata dan topi baseball yang ia kenakan. Belakangan ini, fotografer jurnalistik yang sering disapa Om “Daus” oleh teman-teman redaksinya Majalah HAI, memang lebih sering terlihat di lapangan olahraga.

Setelah lebih dari 20 tahun memotret ratusan konser dan musisi, akhirnya Daus memilih pensiun dari pekerjaannya sebagai fotografer di majalah remaja laki-laki tersebut.

Sebelumnya, ia dikenal lewat jepretan musikus yang ia garap, mulai dari lokal hingga kelas Internasional. Nama-nama besar seperti Sepultura, Bobby Brown, hingga Anggun C. Sasmi sudah masuk dalam daftar klien pribadinya selama ini.

Sambil ditemani pemandangan tim baseball yang berlatih, kami berbincang dengan Firdaus Fadlil tentang perjalanan panjangnya di industri fotografi selama ini.

Bagaimana Anda mulai dekat dengan fotografi?
Sebelum kerja jadi fotografer jurnalistik, saya sudah sering freelance juga. Kerjaannya juga macam-macam, mulai dari foto pernikahan, orang meninggal, sampai bayi yang baru lahir. Sekitar akhir ’80-an, saya dapat job untuk foto tas ransel. Ternyata, dari hasil foto itu saya justru dapat tawaran untuk kerja tetap di Majalah HAI.

Awalnya, saya enggak mau lama-lama kerja tetap karena harus lanjut sekolah ke luar negeri. Tapi, waktu itu Pemred Majalah HAI, Arswendo Atmiwiloto, minta saya untuk tetap masuk dan coba. Ujung-ujungnya, lebih dari 20 tahun saya kerja di Majalah HAI.

Apa yang membuat nama Anda begitu lekat dengan fotografi panggung?
Tahun-tahun pertama kerja di majalah, banyak sekali artis luar negeri yang datang ke Indonesia. Waktu itu, hampir semua musisi saya garap. Dari Michael Bolton sampai Sepultura. Jadi tugas kerjaan yang kebanyakan masuk adalah memotret konser musik.

Belum lagi, kalau redaksi harus memuat artikel tentang musisi yang datang ke Indonesia. Untuk artikel bisa naik tepat deadline, saya dan reporter biasanya harus terbang puluhan jam ke luar negeri untuk meliput artis yang akan datang.

Waktu Sepultura datang ke Indonesia, saya harus pergi ke Amerika Serikat untuk meliput mereka. Karena saat itu tidak ada show, akhirnya kami liput profil pribadi mereka. Wawancara dan pemotretan cuma dua jam. Sisanya, saya diajak jalan-jalan nonton final Copa Libertadores, santai di rumah mereka, sampai naik jet pribadi ke Rio de Janeiro.

Salah satu foto konser Anda yang paling berkesan adalah Woodstock ’94. Apa ada cerita yang bisa dibagi?
Bukan cuma fotonya, tetapi pengalaman saya di Woodstock juga sangat berkesan. Bisa dibilang pertama kali saya lihat event sebesar itu. Ada penonton ratusan ribu hilir mudik sepanjang hari. Harus diakui, sebenarnya show justru biasa saja, panggungnya sendiri cukup susah untuk dipotret. Sekalinya dapat media pit, saya harus ngantri parah dengan puluhan fotografer dari seluruh dunia. Mau tidak mau saya foto panggung dari jauh dengan lensa 500 mm.

Sayangnya, Woodstock ’99 enggak terlalu berkesan seperti yang sebelumnya. Atmosfer venue yang dipilih sangat beda. Kalau sebelumnya di daerah pegunungan yang segar, tahun ’99 justru pilih lapangan terbang bandara yang panas dan gersang. Jarak panggung dari barat ke timur bisa sampai 2,5 km. Satu hari saja, kaki saya bisa melepuh. Belum lagi, isi tas saya berat banget. Mulai dari kamera Haselblad, Nikon f3, Nikon f5, lensa 500 mm, 300 mm, 70 mm—200 mm, dan 20 mm. Badan hancur banget!

Cuma, fasilitas untuk media di Woodstock itu lengkap banget. Di backstage kita bisa telepon ke Jakarta kapan pun. Plus, makanan juga selalu tersedia sepanjang hari untuk media.

Apakah fotografi panggung jadi profesi dan spesialisasi Anda?
Sebenarnya, heboh-heboh fotografi panggung di Indonesia itu baru empat tahun belakangan ini. Padahal secara profesi untuk cari makan, ya, enggak bisa. Kalaupun kita jago dan mahir dalam foto panggung, ujung-ujungnya kita akan diminta untuk foto yang lain juga.

Lagi pula, spesialis foto panggung itu mau dibayar berapa? Job-nya juga enggak bisa tiap bulan. Sekalipun ada road tour jangka panjang, fotonya akan sama semua; repertoar baju, musik, dan aksi panggung. Setiap kota pasti sama. Sekalipun memotret event besar, paling cuma satu atau dua saja per tahun.

Foto_Firdaus_Fadlil

Apa yang membuat artis Internasional tertarik bekerja sama dengan Anda?
Biasanya, saya kenal dengan mereka ketika harus memotret untuk Majalah HAI. Kalau mereka cocok dengan foto-foto saya, biasanya langsung minta saya jadi official photography. Salah satu klien pertama saya Julio Iglesias, lalu lanjut dengan Bobby Brown, Mr. Big, Metallica, dan Anggun. Mereka selalu punya best angle tersendiri.

Kalau bicara soal kualitas foto, kemampuan fotografer lokal dan “bule” juga sama saja. Semua kembali ke kreativitas kita untuk memotret. Beda dengan persaingan di produksi film dan musik. Mereka mungkin bisa dapat tim produksi yang superlengkap dan berkualitas wahid dari seluruh dunia untuk bikin film.

Kalau di Indonesia masih terbatas dengan tim seadanya yang mungkin masih kelas magang. Tapi di fotografi kita bisa bersaing individu dengan fotografer luar juga.

Bagaimana rasanya menyandang predikat living legend di fotografi panggung Indonesia?
Saya sering dianggap ahli foto panggung, padahal sama saja seperti fotografer lain. Saya sama seperti fotografer lain yang cuma bisa berjuang selama tiga lagu setiap konsernya. (*)

0 comments