NOW READING

Fauzan Ijazah dan Seri Foto Pengungsi Rohingya “Stateless Women”

 1299
+
 1299

Fauzan Ijazah dan Seri Foto Pengungsi Rohingya “Stateless Women”

by The Daily Oktagon

Pada bulan Mei 2015, ratusan pengungsi Rohingya dari Myanmar telah mendarat di beberapa daerah di Aceh, Indonesia, termasuk Lhoksukon, Kuala Cangkoi, Kuala Langsa, Bayeun dan Kuala Simpang. Beberapa dari mereka mencapai pantai sendiri, namun kebanyakan dari mereka diselamatkan sewaktu terombang-ambing di lepas pantai oleh para nelayan Aceh.

Pemerintah Indonesia, LSM dan masyarakat lokal telah memberikan bantuan kemanusiaan untuk para pengungsi ini sejak itu. Mereka sedang dalam perjalanan melarikan diri ke Malaysia, ketika penyelundup tiba-tiba meninggalkan perahu dan ditinggalkan para pengungsi. Banyak dari mereka adalah perempuan dan anak-anak. Para pengungsi Rohingya tersebut seakan kehilangan harapan hidup.

Itulah potret kehidupan yang lantas diterjemahkan oleh Fauzan Ijazah. Insting fotografinya begitu tajam. Maklum saja fotografer lepas yang lebih akrab dipanggil Yo Fauzan oleh teman-temannya, adalah seorang fotografer / wartawan foto yang karya-karyamnya muncul dalam berbagai publikasi internasional seperti The New York Times, International Herald Tribune, global Post, BBC, National Geographic Dokumenter, Associated Press (AP), NPR, The Guardian, Politiken, PDN, New Internationalist, Wall Street Journal, The Huffington Post , Devex, L’Express, dan Stern.

fauzan-ijazahFauzan Ijazah

Foto-foto selain aktivitas pengungsi, yaitu potret sejumlah perempuan Rohingya berusia 11 tahun hingga 49 tahun dibingkai oleh Yo Fauzan menjadi sebuah seri portrait yang diberi judul “Stateless Women.” Penulis The Daily Oktagon berkesempatan berbincang. Simak ulasannya berikut, Fauzan Ijazah dan seri foto pengungsi Rohingya “Stateless Women”.

Bisa diceritakan kenapa memilih pengungsi Rohingya sebagai obyek foto?

Ketika ratusan Rohingya datang ke Aceh, saya diberikan penugasan oleh UNHCR untuk memotret kondisi dan aktivitas mereka.

Bisa diceritakan kenapa memilih pengungsi Rohingya sebagai obyek foto?

Perempuan Rohingya adalah yang paling rentan. Mereka dianiaya di negara asal mereka dan terpaksa melarikan diri hanya untuk menjadi sasaran empuk eksploitasi dan serangan. Di sebuah bekas pabrik kertas di Bayeun, Aceh Timur, kini berlindung ratusan pencari suaka asal Rohingya.

Stateless_Women04Salah satu foto dari “Stateless Women” – dokumen pribadi

Bagaimana pendekatan untuk bisa memotret pengungsi Rohingya?

Tidak mudah memang untuk memotret para perempuan Pengungsi tersebut. Perbedaan bahasa menjadi kendala utama dalam membujuk para perempuan Rohingnya agar mau difoto. Di tempat penampungan para pengungsi di Bayeun, Aceh Timur, ada satu koridor pendek yang selalu dilewati para pengungsi. Itulah lokasi yang saya pakai untuk mengabadikan Sebepara pengungsi Rohingya.

Saat itu para pengungsi baru mengambil makan siang dan balik ke kamar mereka melalui koridor itu. Untuk beberapa orang di awal – awal, saya minta tolong penterjemah untuk menanyakan kalau mereka bersedia untuk berdiri dan di foto, namun setelah itu, yang mau di foto langsung berdiri menunggu giliran.

Stateless_Women03Salah satu foto dari “Stateless Women” – dokumen pribadi

Kamera apa yang Anda gunakan?

Saya menggunakan kamera DSLR, tapi boleh kan tidak menyebutkan mereknya. Hahaha. Lensa yang saya pakai 50mm. Keduanya menjadi paduan yang sempurna untuk menghasilkan foto portrait. Sebenarnya Anda juga bisa memakai ukuran lensa lainnya, begitu pula kamera bisa apa saja.

Baca juga artikel menarik ini, Apa Arti Teknologi Menurut Darwis Triadi?

Berapa foto yang Anda hasilkan untuk pengungsi Rohingya tersebut?

Sebenarnya ada puluhan foto yang saya hasilkan, tapi kemudian saya pilah-pilih dan hanya 10 saja yang akhirnya saya bingkai menjadi sebuah serial foto “Stateless Women.” Kesepuluh foto itu yang saya kirimkan ke Sony World Photpgraphy Award 2016.

Stateless_Women02Salah satu foto dari “Stateless Women” – dokumen pribadi

Bagaimana tanggapan Anda saat masuk dalam nominasi?

Ya nggak menyangka seri foto berjudul Stateless Women atau perempuan yang tak punya kewarganegaraan tersebut bisa masuk nominasi.

Selain Anda, apa ada lagi nominator lain dari Indonesia?

Selain saya, ada empat fotografer profesional pada kategori dalam Penghargaan Fotografi Dunia Sony 2016. Kabarnya Kelima karya foto dari Indonesia telah lolos diseleksi dari 230 foto yang masuk ke panitia lomba. Sebanyak 103 foto telah diterima oleh Sony World Photography Awards pada tahun ini menjadi jumlah foto terbanyak dalam sejarah kompetisi foto ini.

Apa sih yang sebenarnya Anda tonjolkan dalam foto pengungsi tersebut?

Saya berharap foto yang masuk dalam nominasi ini bisa meningkatkan kesadaran orang banyak tentang isu kemanusiaan. Memberikan suara bagi orang-orang yang terpinggirkan dan memberikan harapan bagi orang-orang yang putus asa.

Hadiahnya kalau menang seperti apa mas?

Saya nggak tahu hadiahnya apa, yang penting isu pengungsi ini bisa ikut terangkat. Katanya sih seri portrait ini akan dipamerkan juga, semoga yang melihat jadi bersimpati dengan nasib para pengungsi.

Sejak kapan Anda kenal fotografi?

Saya belajar fotografi secara otodidak sejak tahun 2000-an.Sebenarnya karena dipaksa situasi. Hahaha. Meski belajar fotografi secara ototidak,saya juga belajar melalui diskusi dengan sesama fotografer. Panduan belajar dan inspirasi juga banyak saya peroleh melalui internet.

An_Acehnese_punkerKarya lain Fauzan “An Acehnese Punker” – dokumen pribadi

Apakah Anda memiliki minat terhadap genre fotografi tertentu?

Saya tidak memiliki jenis fotografi tertentu yang menjadi favorit. Selama ini sih saya lebih banyak memotret untuk foto dokumenter, reportase, humanitarian, portrait, travel, lingkungan, dan komersial. Bagi saya semua jenis fotografi menarik, tergantung penugasan. Kalau orang lain menyikapinya berbeda atau justru menyukai genre fotografi tertentu, itu pilihan.

Selain mengirim foto untuk Sony World Photography Awards 2016, lomba apa saja yang pernah diikuti?

Sebenarnya saya jarang ikut lomba, pernah beberapa kali ikut, kalah selalu.

Fish-WarsKarya lain Fauzan “Fish Wars” – dokumen pribadi

Kegiatan Anda saat ini apa saja?

Kalau lagi nggak ada photo assignment, saya ngerjain project foto pribadi.

Bisa diberikan tips untuk memotret jenis human interest seperti pengungsi Rohingya?

Bukan tips ya, tapi bagi saya yang paling penting dalam memotret human interest adalahmencoba memahami cerita orang yang di foto, karena mereka bukanlah objek, mereka adalah subjek, pelaku kisah hidupnya, fotografer hanya merekam satu lembar kisah mereka,” kata Fauzan, saat menutup wawancara.

Dengan pengalaman fotografinya, tak heran jika Yo Fauzan beberapa kali menerima penghargaan baik di dalam negeri maupun luar negeri. Ketika tidak ada photo assignment dari kliennya, dia juga terus berkarya untuk proyek foto pribadinya yang sebagian disimpan di web miliknya, www.fauzanimages.com. Hal tersebut juga tentunya sejalan dengan tren teknologi yang memungkinkan setiap orang menyimpan dan memamerkan karyanya melalui dunia maya.

Selain memotret untuk sejumlah publikasi global, Yo Fauzan juga bekerja sebagai pewarta foto untuk organisasi non pemerintah (NGO) seperti Save The Children, International Federation of Red Cross (IFRC), Norwegian Red Cross, Canadian Red Cross, USAID, United Nations Development Programme (UNDP), Terre de Homes, Panos, Islamic Relief, HIVOS, World Bank, Plan International, Save The Children New Zealand, United Nations High Commisioner for Refugees (UNHCR).

Simak juga ulasan berikut, Dewandra Djelantik yang Konsisten di Hospitality Photography

0 comments