NOW READING

Evi Arbay: Traveling, Drone, dan Pemberdayaan Remote Area

 1653
+
 1653

Evi Arbay: Traveling, Drone, dan Pemberdayaan Remote Area

by The Daily Oktagon
  • Berbekal minat terhadap traveling dan skill menulis serta memotret, Evi Arbay menjalankan operator tur berbasis eco-tourism.
  • Tujuannya untuk memberi akses pada siapapun yang tertarik untuk mengenal masyarakat dan kebudayaan dari berbagai daerah pedalaman di Indonesia.
  • Selain lewat operator turnya, perempuan yang suka main drone ini juga menulis buku tentang kehidupan suku di pedalaman.

Teknologi dan dunia traveling kini makin bersanding erat. Fakta kalau kebanyakan orang cenderung menyukai traveling atau kegiatan jalan-jalan membuat adopsi teknologi juga kian menjangkau berbagai kalangan.

Kita bisa menemukan konten bertema traveling dengan mudah di berbagai saluran media sosial, seperti blog, Twitter, Instagram, sampai yang terkini, Snapchat. Riset Global Travel Intentions Study pernah mencatat kalau 93 persen orang Indonesia terkoneksi dengan internet saat berlibur.

Salah satu dampaknya, beberapa tahun terakhir makin banyak destinasi wisata yang sebelumnya kurang dikenal, kini lazim diketahui, seperti Pantai Ora di Maluku atau Kepulauan Derawan di Kalimantan Timur. Dokumentasi dan kegiatan berbagi dari pengunjung tempat-tempat itu tersebar di media sosial dan memancing orang lain untuk menyambangi keindahan lokasi yang mereka liat di layar smartphone.

Hal ini pula yang dicermati Evi Aryati Arbay. Perempuan penyuka traveling ini menyalurkan minatnya lewat usaha operator tur Indonesian Trip Advisor yang berkonsep eco-tourism, ke berbagai daerah pedalaman yang sebelumnya jarang dikenal (remote area).

Ada pula perempuan yang lebih dikenal sebagai perencana keuangan andal. Simak tipsnya untuk mengelola keuangan di era digital

Menurutnya, dengan menjadi jembatan untuk orang mengunjungi remote area, ia juga membuka peluang area itu dipotret dan direkam untuk kemudian tersebar di berbagai media di internet, dan berujung pada mencuatnya popularitas daerah pedalaman yang jarang terekspos, serta meningkatkan daya pariwisatanya, sambil tetap menjaga orisinalitas kebudayaan dan kelestarian alamnya.

Nah, seperti apa usaha operator tur yang dijalankan Evi Arbay? Bagaimana ia bisa tertarik dan terjun ke bidang traveling? Sampai teknologi apa yang lekat dengan minat dan kesehariannya?

Simak obrolan Evi Arbay dengan The Daily Oktagon berikut ini:

Anda mengelola operator tur bernama Indonesian Trip Advisor. Apakah ini ada hubungannya dengan website Trip Advisor (layanan online untuk rating dan ulasan destinasi wisata)?

Tidak. Indonesia Trip Advisor murni operator tur, dan tidak terhubung dengan Trip Advisor. Kami mengkhususkan diri ke bidang eco-tourism. Kami ingin menggerakan eco-toursim ke seluruh Indonesia, khususnya di daerah terpencil.

Mereka punya potensi pariwisata dan bisa berkembang tapi kurang kuat di sisi sales dan marketing. Kini kami sudah mengembangkan jejaring kami di seluruh Indonesia, dan hasilnya lumayan.

Tapi saat sebuah tempat terekspos, bukankah ada risiko daerah itu jadi korban ‘tangan jahil’? Seperti di Yogyakarta, ada taman bunga yang mendadak terkenal karena fotonya bertebaran di Instagram. Dan setelah banyak disinggahi turis, tamannya malah rusak.

Basis kami adalah eco-tourism. Misi dan komitmen kami adalah membantu wilayah tujuan jadi makin dikenal banyak orang dan berkembang lebih baik lagi, tapi juga sembari tetap menjaga kelestarian dan keaslian tempat itu.

Misal, kami tidak membawa turis dalam jumlah yang terlalu banyak. Selain itu juga, kami lebih sering mengajak turis untuk tinggal di rumah penduduk.

Evi Arbay di ASEAN Women's Tourism Forum

Evi Arbay di ASEAN Women’s Tourism Forum

Sepertinya minat Anda di bidang traveling memang besar. Bagaimana bisa tertarik dengan dunia ini?

Awalnya karena keturunan kali ya. Keluarga saya memang suka jalan-jalan. Nenek, kakek, ayah, semua suka jalan-jalan, kecuali ibu. Lalu, waktu mahasiswa saya bergabung di perkumpulan mahasiswa pencinta alam (Mapala). Dari situ, saya makin suka traveling.

Lalu saya sering berpikir kalau banyak cerita yang bisa didokumentasikan dari kegiatan traveling, maka saya pun mulai banyak membaca buku bertema traveling dan belajar menulis. Saya pun mulai coba magang di biro perjalanan dan menjadi asisten fotografer.

Dari situ pula saya mulai makin menenggelamkan diri di bidang turisme, fotografi, dan jurnalistik.

Terkait fotografi; sebagai operator tur, Anda pasti sering berkeliling Indonesia. Apakah ada tempat yang menurut Anda paling mengesankan sebagai objek fotografi?

Wah banyak banget!

Indonesia itu sangat beragam, jadi susah untuk menyebut yang mana paling mengesankan. Tapi saya rekomendasikan daerah seperti remote area. Saya menyarankan para fotografer atau kita mengangkat daerah yang belum banyak terekspos, karena masyarakat pedalaman perlu diperkenalkan.

Tapi kalau mesti menyebut lokasi yang daya tariknya luar biasa, saya akan menyebut Indonesia Timur.

Kenapa Indonesia Timur?

Memang, akses ke sana memang relatif susah; tapi di Timur kita akan bertemu dengan banyak orang berbeda dari segi bahasa, wajah, dan kebudayaan. Selain itu lanskap di sana juga luar biasa indah.

Baca juga kumpulan tips untuk peminat travel photography berikut ini

Tadi Anda sempat bilang kalau Anda menekuni kegiatan menulis dan memotret. Kalau mesti memilih, Anda pilih yang mana? Dan kenapa?

Memotret. Menulis itu perlu waktu lebih banyak dan menuntut kita berpikir.

Menurut Anda apa perangkat memotret minimal yang mumpuni untuk digunakan saat traveling?

Menurut saya, saat ini memotret dengan smartphone sudah cukup.

Di Indonesia, smartphone bukan lagi sekadar elemen lifestyle, tapi juga salah satu basic needs. Di kota besar seperti Jakarta, minimal orang sudah punya satu smartphone. Bahkan kalau untuk keperluan fotografi, beberapa smartphone sudah mengedepankan kamera sebagai keunggulan utama.

evi arbay fotografi

Evi terpilih mewakili fotografer perempuan Indonesia di Ajang Pil’s Our Photo Festival, Saint Gilles, Prancis, bersama 14 orang fotografer perempuan lainnya dari 15 Negara.

Oh, tapi dengar-dengar Anda juga suka drone?

Ah iya, main drone itu sangat menarik. Saya senang melihat racing drone karena lebih dinamis, keren, dan agresif. Mantap!

Soal drone ini menurut saya perkembangan dan adopsinya di Indonesia sangat luar biasa, entah karena Indonesia memang latah atau sangat adaptif.

Anda juga kabarnya termasuk aktif di Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI) ya?

Iya. Saya tidak turut membangun dari awal, tapi waktu APDI baru berdiri, memang saya ikut bantu-bantu sampai akhirnya direkrut mengurus bagian humas-nya.

Kini, keberadaan APDI cukup diperhitungkan di Asia Tenggara. Belakangan kami ada tamu dari Malaysia. Mereka datang untuk belajar tentang cara merangkul banyak pecinta drone di sana untuk bergabung dengan asosiasi.

Perkiraan saya, ke depannya, drone bisa jadi bukan sekadar hobi atau tren yang hanya bertahan satu-dua tahun, tapi punya prospek tersendiri.

Menurut Anda, seperti apa prospeknya?

Tentunya di bidang fotografi atau perfilman. Tapi selain itu juga di bidang militer yang sebetulnya sudah aktif dilakukan jauh sebelum booming seperti sekarang.

Kini bahkan Xiaomi pun sudah memasarkan drone terjangkau dengan performa tangkas

Bagaimana dengan penggunaan drone untuk keperluan antar barang yang belakangan mulai ramai dicoba di bidang retail?

Sebetulnya sudah hampir ada instansi yang akan melakukan ini. Pos Indonesia misalnya, pernah bertemu dengan APDI satu pekan setelah layanan pos di Singapura meluncurkan Drone Post. Kami sudah bahas konsepnya seperti apa, tapi setelah itu belum ada tindak lanjutnya.

Di Indonesia, memang patut diakui kalau penggunaan drone untuk antar barang masih berisiko. Risiko paling mungkin terjadi adalah, unit drone diambil orang lain. Dalam hal ini, tantangan tersebar adalah faktor manusia. Sempat kami rekomendasikan Bali sebagai lokasi uji coba, tapi memang perlu biaya besar, jadi belum bisa dijalankan sampai sekarang.

Tapi iya, tren drone ini akan mengarah ke sana (digunakan untuk antar barang). Di Tiongkok sudah mulai. Bahkan ada drone yang bisa ditumpangi orang.

Apa target jangka pendek Anda untuk saat ini?

Saya mau cetak ulang buku yang saya susun, Dani: The Highlander dan ada satu buku juga tentang suku Baduy berjudul Baduy, Locked In Time. Kalau bisa, buku-buku itu mau saya bagikan ke pelosok, perpustakaan, dan berbagai sekolah agar lebih banyak orang tahu tentang masyarakat pedalaman. Terutama anak usia sekolah.

evi arbay buku

Evi dengan Andi F. Noya bersama buku Baduy, Locked In Time yang ditulisnya.

Soal buku tentang masyarakat pedalaman ini, apa ide besar di balik itu?

Saya ingin kita semua saling kenal, dan saya ingin membuktikan ke mereka (masyarakat pedalaman) kalau kita peduli dengan mereka.

Kalau masih ingat kasus hangat yang terjadi di Yogyakarta tentang perlakukan diskriminatif terhadap orang Papua, itu kan terjadi karena kita tidak saling mengenal karakter satu sama lain.

Maka itu buku ini ada, dan sudah diluncurkan dua kali. Pertama saat Perayaan 25 Tahun Festival Lembah Baliem di Papua. Dan kedua di Jakarta. Penulisannya disuguhkan dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Konten yang dominan, foto, karena dalam lima tahun ke depan belum tentu ada pemandangan seperti itu lagi di sana.

Pembelinya kebanyakan orang dari luar negeri. Tapi yang bikin saya senang, di Indonesia, awalnya saya kira hanya kalangan fotografer saja yang akan membeli buku ini, tapi ternyata tidak. Banyak yang membelinya dari latar belakang berbeda. Ini menunjukkan kalau banyak juga orang Indonesia ini mengenal suku lain di Indonesia.

Penjualannya dilakukan secara online, untuk menjangkau peminat di berbagai negara di seluruh dunia. Tercatat, buku ini sudah ada di perpustakaan di negara seperti Inggris, Amerika Serikat, dan Belanda. Dan pernah jadi buku terbaik se-Asia Pasifik.

Tapi ya memang fokus utama buku ini bukan pada penjualannya, tapi lebih pada penyebarluasan informasi. Banyak juga buku itu saya kasih secara cuma-cuma ke teman, perpustakaan, pegiat sosial yang mengurus anak jalanan, dan lain-lain. Hasil penjualannya kembali digunakan pada berbagai effort untuk Papua.

Kami pernah menggelar pameran di Jepang dengan biaya Rp 1,5 miliar, yang dananya berasal dari penjualan buku ini.

Saran saya, kalau bisa ada penulis lain yang menampilkan beragam suku lain di Indonesia.

Selain itu saya harap pemerintah khususnya Kementerian Pendidikan, punya perhatian khusus terhadap topik ini. Pemerintah perlu membuat buku-buku semacam ini dan menyebarluaskannya ke berbagai sekolah dan perpustakaan di Indonesia, bahkan dunia, mengingat saat ini teknologi makin mempermudah penyebaran informasi ke manapun untuk diakses kapanpun.

Bagaimana dengan target jangka panjang?

Memperkuat jaringan Indonesian Trip Advisor di Asia Tenggara. Tahun ini kami bergerak aktif dan agresif untuk menarik perhatian di kawasan Asia Tenggara. Apalagi, Indonesian Trip Advisor ini dominan digerakkan oleh perempuan, sehingga punya poin plus tersendiri.

Ikuti juga bahasan tentang kegiatan travel blogging, yang selain bersenang-senang juga dilakoni untuk menyebar kebaikan

0 comments