NOW READING

Dunia Influencer, Brand, dan Media Sosial yang Makin Dinamis

 1981
+
 1981

Dunia Influencer, Brand, dan Media Sosial yang Makin Dinamis

by The Daily Oktagon
  • Media sosial yang di awal hadir sebagai jejaring pertemanan perlahan mulai menemukan cara untuk memonetisasi layanan tersebut oleh para penggunanya.
  • Kepopuleran di media sosial dilihat oleh brand sebagai kesempatan untuk menggaet akun media sosial tersebut, sebagai bagian dari strategi menyentuh target konsumennya secara lebih personal
  • Para influencer pun melakukan berbagai strategi hingga kemampuan teknis agar hasil unggahannya dapat maksimal menjangkau para follower.

Berapa kira-kira jumlah pengguna media sosial Instagram di seluruh dunia saat ini? Menurut keterangan resmi dari Instagram yang dikeluarkan April lalu, jumlahnya mencapai 700 juta orang. Ya, jumlahnya hampir mencapai tiga kali lipat penduduk Indonesia.

Dengan besar pengguna aktif sekitar sepertiga dari jumlah total pengguna media sosial ini, siapa yang tak tergiur ingin memanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan ekonomi? Tak heran jika kemudian muncul profesi influencer.

Istilah influencer sebetulnya muncul dari ranah marketing saat sebuah brand menggandeng sosok tertentu untuk bisa menyentuh target konsumen, menyampaikan pesan serta tujuan dari brand tersebut.

Dan profesi ini terus mendapat tempat di hati para brand sebagai media yang tepat mengenalkan hingga memasarkan produknya. Menurut sebuah studi misalnya, dewasa ini brand di Amerika menghabiskan budget hingga 1 miliar Dollar AS untuk keperluan penggunaan influencer!

Sejauh mana tren influencer di Tanah Air di Indonesia sendiri? Berikut ulasannya.

Perkembangan Influencer

Tak ada jumlah pasti jumlah influencer maupun jumlah dana yang berputar di bisnis ini untuk Indonesia. Namun dengan jumlah pengguna Instagram di negara ini yang pada tahun lalu saja sudah tercatat di angka 22 juta lebih, media sosial milik Mark Zuckerberg yang juga pemilik Facebook ini tentu saja tetap menjadi ladang bisnis yang menjanjikan.

Influencer di Indonesia sendiri masih menjalankan profesi dari berbagai level “keseriusan”. Dari yang sekadarnya, hingga yang sudah amat profesional. Ivan Loviano Soekarno misalnya, mengaku menjadikan profesi influencer sebagai sampingan saja.

Namun pengakuan Ivan ini sepertinya hanya bentuk kerendahan hati saja. Lewat akun bernama @iphann dan memiliki jumlah follower sebanyak 50,5k, potensi bisnis yang bisa terjadi tentu tidaklah kecil.

“Aku punya akun Instagram sejak tahun 2011, saat itu belum ada niatan untuk sambilan menjadi influencer dan Instagram saat itu juga belum ramai seperti sekarang dipergunakan untuk dijadikan influencer,” ujar Ivan, sapaan akrabnya.

Ivan lantas menerangkan dahulu sebutan SelebTwit lebih dikenal daripada influencer, yakni akun Twitter yang mencuitkan konten terkait brand yang membayar atau meng-endorse akun tersebut.

Namun kini dengan 20 Likes saja, foto Instagram sudah bisa muncul di halaman Explore Instagram dan dilihat banyak pengguna lainnya sehingga Instagram pun perlahan menjadi ladang influencer.

Belum lagi kini ditambah aplikasi Instagram pun hadir di smartphone berbasis Android. Alhasil Instagram benar-benar menjadi wadah bisnis influencer. “Dahulu sih gak tau kalau media sosial khususnya Instagram bisa dibisnisin atau monetize gitu, mungkin memang baru sekarang aja ketemu cara yang pas buat digital marketing,” imbuh Ivan.

Perkataan Ivan menjadi lebih kuat ketika sebuah laporan survey menyebut, 99.3% influencer yang menjadi peserta survey menyebut Instagram menjadi media yang tepat untuk berhubungan dengan komunitas sekaligus dengan brand.

Di Instagram juga tengah tren akun “dua kepribadian”. Simak ulasannya di sini

Tak Hanya Brand Besar

Menurut Rendi Wendy, Chief Executive & Technical Officer dari Influlance, sebuah platform yang menghubungkan brand dengan influencer, kini brand “wajib” memanfaatkan media digital termasuk influencer yang sangat dekat dengan masyarakat atau target konsumen brand tersebut.

Yang menarik, profesi ini tak hanya digunakan oleh para brand yang sudah punya nama besar. Para pelaku Usaha kecil menengah (UKM) juga menggunakannya untuk membantu meningkatkan brand trust mereka. “Jasa influencer sangat membantu dalam membangun brand power mereka,” jelas Rendi.

Alhasil tidak heran jika kita sering melihat produk-produk atau brand UKM kerap wara-wiri di akun Instagram yang memiliki banyak follower dilengkapi dengan hashtag tertentu. Semakin beragamnya karakter klien ini pula yang membuat influencer harus pintar-pintar mengatur strategi di media sosialnya.

Pramudina Narundana yang mengelola akun @prafr1 misalnya, tak hanya mencoba memperhatikan kualitas foto yang ditampilkan, namun juga storytelling. “Bagaimana kita membuat caption semenarik dan seinformatif mungkin,” ungkap pemilik akun dengan 50,7k followers ini.

Biasanya, wanita yang akrab dipanggil Afra ini akan mengunggah foto yang “bercerita” dengan harapan akan menuai interaksi dari follower, baik itu likes, comment, dan juga pertanyaan. “Itulah yang membuat engagement terhadap foto atau akun kita naik dan bertambah. Dan itulah yang dilirik oleh suatu brand.,” jelasnya.

Sementara Ivan sendiri secara personal mengaku selektif dalam memilih brand yang ingin melakukan endorsement atau memilihnya menjadi influencer. Dia memilih brand yang sesuai dengan minat atau gaya penggunaan media sosialnya. Ketika produk dari brand tersebut buruk misalnya, ia mengaku tidak segan untuk tidak mengunggahnya ke media sosial.

Sebaliknya pula, Rendi menuturkan bahwa brand pun selektif dalam memilih influencer. “Bekal jumlah follower banyak saja tidak cukup. Gaya dan bentuk konten yang diunggah oleh akun influencer tersebut juga menjadi pertimbangangan para brand. Jadi seorang influencer harus mampu menciptakan konten berkualitas,” tuturnya.

Dukungan Gadget

Kendati profesi ini terlihat mudah, menjadi influencer harus memiliki kreatifitas dan cara kerja yang profesional. “Setiap influencer harus berkompetisi dalam hal kreativitas konten yang diunggah. Dengan semakin banyak bentuk media sosial saat ini, konten yang dihasilkan influencer pun harus semakin variatif,” beber Ivan.

Maka menjadi lumrah jika Ivan “mempersenjatai” diri dengan terus belajar menambah ilmu tentang ragam konten, dan tentu saja berbagai gadget yang mumpuni. Untuk mengambil foto misalnya, ia menggunakan mirrorless Fujifilm X-E2 dengan pertimbangan lensa yang mumpuni dan reproduksi warna yang baik.

Sementara Afra menggunakan iPhone 7 dan kamera Fujifilm X-M1 sebagai “senjata andalannya. Penggunaan smartphone jenis tersebut menurut Afra lebih kepada faktor kebiasaan menggunakan brand tersebut. “Hasil fotonya juga relatif baik dan pas untuk di edit,” ungkapnya.

Simak pilihan tiga mirrorless bergaya klasik di sini

Sedangkan mirrorless menjadi pilihan wajib Afra saat ia traveling, tentu dengan alasan kamera jenis ini relatif ringan dan kualitas hasilnya tidak beda jauh dari kamera profesional.

Akankah influencer terus menjadi profesi yang melejit pamornya di media sosial? Rasanya ya. Kecuali jika tiba-tiba ada format baru media sosial yang datang dan langsung mengubah lansekap industri ini secara total dalam sekejab.

0 comments