NOW READING

Dukung Internet of Things, Bajaj pun Kini Bisa Dipesan Online

 2491
+
 2491

Dukung Internet of Things, Bajaj pun Kini Bisa Dipesan Online

by The Daily Oktagon

Naiknya pamor berbagai aplikasi kendaraan online, mulai dari taksi hingga ojek membuat pengembang lain mencoba mencari kesempatan untuk melakukan hal serupa di jenis angkutan umum lain. Bajai App misalnya, hadir secara resmi pada awal Oktober lalu sebagai aplikasi online untuk pengemudi angkutan roda tiga yang di Indonesia dikenal dengan sebutan bajaj.

Chief Executive Officer Roda Mandiri Indonesia, sebagai pendiri aplikasi ini, Feryanto Njomin, mengungkapkan, ide membuat aplikasi ini muncul pada November 2014, setelah ia melihat bajaj adalah bagian dari keunikan transportasi di Indonesia. Selain itu, ini relatif sudah lebih rendah polusi karena sebagian besar sudah menggunakan bahan bakar gas.

Feryanto_Njomin_

Feryanto Njomin – foto dokumen pribadi

“Sementara penghasilan supirnya tidak tetap, setoran tiap hari tidak terpenuhi dan sering nombok ke pemilik bajaj lain,” kata Fery, panggilan Feryanto.

Ia pun kemudian bertekad mendukung moda transportasi ini lewat kemajuan teknologi, sehingga mampu terus menjadi pilihan masyarakat Jakarta. Hadirnya Bajai App juga tidak terlepas dari perkembangan Internet of Things (IoT) yang realisasinya semakin dirasakan, terutama di Jakarta.

Fery melihat adanya upaya pemerintah untuk membuat smart city di satu sisi, dan demam startup software atau aplikasi belakangan ini. Dia pun menyebutkan, Bajaj App merupakan bagian darinIoT yang siap mendukung penataan kota cerdas.

“Untuk bisa sukses berjalan, smart city membutuhkan Internet of Things,” kata Fery.

The Daily Oktagon berkesempatan mewawancarai Fery. Dia berharap, dengan aplikasi ini siapa saja tidak lagi kesulitan memilih jenis kendaraan saat bepergian di Jakarta. Selain itu, untuk dukung Internet of Things, Bajaj pun kini bisa dipesan online.

Pekerja komuter wajib baca artikel ini, Tips Maksimalkan Penggunaan Smartphone bagi Para Komuter

Tak Ada Persentase

Cara pemakaian aplikasinya cukup mudah. Setelah mengunduh dan masuk aplikasi dengan mendaftar atau menggunakan akun Facebook, pengguna diminta memasukkan alamat penjemputan dan alamat tujuan. Setelah itu, ada fitur permintaan penguasaan bahasa supir, yakni Indonesia dan Inggris. Serta, porterage atau antar barang. Aplikasi kemudian meminta konfirmasi pemesanan.

Disamping pemesanan biasa, terdapat fitur khusus bernama Tunai yang bisa memanggil bajai tanpa melakukan registrasi ke sistem. Fery mengungkapkan, berusaha agar aplikasinya selalu mendapat respon positif, user friendly,dan stabil saat digunakan. Permasalahan error atau bug yang sempat terjadi misalnya, Fery mengklaim pihaknya sudah memperbaiki.

BajajApp-8

Laman Bajaj App

Tantangan tentu tidak hanya datang dari teknis aplikasi, melainkan juga dari sisi para pengendara. Latar belakang para supir Bajaj yang relatif seragam, berbeda dengan aplikasi ojek yang datang dari berbagai kalangan, seperti karyawan atau mahasiswa, membutuhkan cukup waktu untuk membuat para supir bajaj mengerti cara penggunaannya.

Belum lagi, masih jarang para supir yang belum mempunyai ponsel Android. Sehingga, pihak Roda Mandiri Indonesia membuat skema kepemilikan ponsel, yaitu membeli langsung ke pihaknya hingga dengan pinjaman lunak bank.

“Bila berbagai skema tak mempan, mau tak mau kami akan meminjamkan ponsel secara gratis kepada sopir bajaj dengan syarat dan ketentuan yang berlaku,” ujar Fery.

Berapa Tarifnya?

Ketika The Daily Oktagon mencoba aplikasi ini, biaya perjalanan Jalan Sudirman hingga Jalan Dr. Satrio, Kuningan, sebesar Rp 32 ribu rupiah yang terdiri atas Rp 22 ribu biaya dasar ditambah Rp 5 ribu biaya porterage, dan Rp 5 ribu tip bagi pengemudi. Jika dilihat besarnya biaya, maka relatif masih lebih besar daripada aplikasi ojek online. Hal ini karena sistem pendapatan seluruhnya diserahkan kepada pengemudi, bukan persentase.

“Kami tidak mau memberatkan supir bajaj,” Fery beralasan. Begitu pun program promo yang belum bisa dilakukan dengan alasan belum menggandeng semua supir bajaj. Ini juga untuk mengantisipasi adanya gesekan sosial yang timbul antara bajaj online dan konvensional.

IMG_4397_rsz

Pengemudi bajaj mengenakan seragam Bajaj App

Berbagai sistem yang diberlakukan sepertinya tidak membuat para pengemudi Bajaj urung menggunakan aplikasi ini. Menurut catatan Fery, sampai November ini sudah hampir 1.000 armada bajaj yang menggunakan aplikasinya. Fery mengklaim, progress ini terjadi karena BajajApp diciptakan bukan untuk orientasi bisnis.

“Lihat saja, aplikasi kami tidak memakai nama perusahaan atau merek, tetapi memakai nama Bajai supaya identik dengan moda transportasi roda tiga,” kata Fery.

Sebelum bepergian, baca dulu artikel menarik ini ya! Mau Nyaman di Jalan? Coba Tiga Aplikasi Berkendara Baru Ini

0 comments