NOW READING

Drone yang Tepat untuk Merekam Festival

 1077
+
 1077

Drone yang Tepat untuk Merekam Festival

by The Daily Oktagon
  • Mengabadikan kemeriahan sebuah festival dari atas dengan menggunakan drone akan menghasilkan foto dan video yang dramatis.
  • GoPro Karma merupakan drone yang mudah dikendalikan dan memiliki kamera dengan kualitas yang mumpuni.
  • DJI Phantom 4 Pro sangat mudah dikendalikan dan memiliki sensor yang bisa membuat drone ini menghindar dari halangan yang ada di sekitarnya.

Banyak keriuhan dan kegembiraan selama berlangsungnya festival. Sangat disayangkan jika keriuhan dan kegembiraan itu tidak kita dokumentasikan, baik dalam bentuk foto atau pun video.

Namun, ada kalanya kita bosan dengan sudut pengambilan foto atau video yang biasa kita lakukan. Biasanya sudut pengambilan foto yang sejajar, yaitu obyek dan pemotret berdiri sejajar. Bisa juga obyek lebih tinggi, karena berada di panggung atau pemotret yang lebih tinggi dari obyek.

Jika sudah bosan dengan sudut pengambilan gambar yang itu-itu saja, kenapa tidak mencoba mengambil gambar dari sudut pandang mata burung atau bird eye view. Jika menginginkan sudut pengambilan gambar seperti itu, berarti kamera foto atau video kita letakkan di tempat yang tinggi.

Itu berarti kita membutuhkan wahana terbang alias drone untuk membawa kamera ke ketinggian yang diinginkan. Saat ini ada beragam merek dan model drone yang ditawarkan. The Daily Oktagon memilih dua di antaranya yang layak dijadikan pertimbangan sebelum membeli drone untuk mengabadikan momen di festival.

GoPro Karma

Drone buatan Amerika Serikat ini pertama kali dijual pada Oktober 2016. Namun, tidak berapa lama kemudian wahana terbang tampa awak ini ditarik dari pasaran akibat ada masalah teknis yang membuatnya bisa mati mendadak saat sedang mengudara.

Setelah ditemukan masalahnya dan diperbaiki oleh produsennya, GoPro Karma kembali dijual mulai awal tahun ini. Setiap unit GoPro Karma dijual dengan harga 800 dolar AS (Rp10,635 juta) tanpa kamera. Jika ingin membeli kameranya, maka kamera aksi GoPro Hero 5 dapat menjadi pilihan.

GoPro Karma sendiri dirancang untuk dipasangkan dengan kamera aksi buatan GoPro. Unit kamera berikut gimbal (penstabil kamera) diletakkan di bagian depan. Tujuan diletakkannya kamera di bagian depan adalah agar baling-baling drone tidak ikut terekam saat kita sedang memotret atau merekam obyek.

Kelebihan lain dari menempatkan kamera di bagian depan adalah membuat drone jadi tipis. Akibatnya, tas sandang (backpack) yang disediakan produsen untuk mengangkut GroPro Karma juga jadi ikut tipis, sehingga memudahkan kita saat menyandang dan menyimpannya.

Ingin tahu kiat Komunitas Kesengsem Lasem mengabadikan festival? Simak artikel ini.

Fitur yang diunggulkan GroPro Karma adalah tersedianya tombol takeoff dan landing di pengendali jarak jauh (remote control). Untuk menerbangkan atau mendaratkannya, kita tinggal menyentuh icon takeoff atau landing di layar sentuh berukuran 5 inci dengan resolusi 720 piksel yang ada di remote control.

Ada pun ketika baterai sudah lemah atau drone terbang tanpa kendali, pengguna tinggal menyentuh icon Home dan dalam sekejab GroPro Karma sudah ada di dekatnya lagi.

Sementara untuk kemampuan terbangnya, GoPro Karma dapat melayang sejauh 500 kaki atau 152,4 meter dari penggunanya. Kemampuan terbang GoPro Karma sangat membantu penggunanya saat ingin merekam obyek yang jauh. Saat terbang, drone akan mentransmisikan video live ke remote control, menyajikan situasi yang ada di hadapannya.

Lalu, bagaimana dengan kualitas kamera GoPro Hero 5 yang dibawa oleh drone ini?

Kamera GoPro Hero 5 mampu merekam foto dengan resolusi hingga 12 mega piksel. Ada pun untuk video, kamera ini mampu menghasilkan gambar dengan kualitas 4K dalam 30 frames per second (FPS). Untuk gambar yang lebih halus, kamera ini mampu merekam video 60 FPS dengan resolusi Full HD. Jika ingin membuat video slow motion, kamera dapat diatur untuk merekam video 120 FPS dan 240 FPS.

Jika ingin membuat video live streaming dari festival, Asus Zenfone Live bisa jadi pilihan

DJI Phantom 4 Pro

Drone berikutnya yang patut dipertimbangkan ini merupakan versi pembaruan dari DJI Phantom 4, yang dirilis pada Maret 2016. DJI Phantom 4 Pro mengalami pengembangan di sektor kamera, sensor penghindar, durasi terbang yang lebih panjang, serta tambahan beragam mode terbang pintar.

Kamera di DJI Phantom 4 Pro menggunakan sensor CMOS yang dapat merekam obyek dengan resolusi 20 mega piksel atau melonjak 6 mega piksel dari kamera yang ada di DJI Phantom 4. Untuk dynamic range mencapai 11.6, yang berarti kamera buatan produsen asal Tiongkok itu mampu membedakan tingkat kontras cahaya dan kemudian menyeimbangkannya.

Gambar berbayang dan seperti tidak fokus yang kerap terlihat saat direkam dengan kamera di DJI Phantom seri terdahulu, diklaim DJI mulai teratasi dengan sistem shutter yang telah diperbaharui.

Aperture juga dapat diatur sehingga fotografer dapat lebih leluasa dalam menentukan depth of field (DOV). Pada mode burst, kamera di DJI Phantom 4 Pro dapat merekam 14 frame dalam satu detik dan menangkap video slow motion dalam tempo 60 detik.

Untuk wahana terbangnya sendiri tidak kalah hebat dengan kamera yang dipikulnya. Sensor obstacle avoidance (penghindar penghalang), yang awalnya hanya menempel di bagian depan drone, sekarang ada di hampir sekujur badan DJI Phantom 4 Pro.

Sensor yang ada di keempat sisi itu membuat drone ini dapat menghindari rintangan di segala arah. Berkat sensor tersebut, kecepatan terbang pada mode obstacle avoidance meningkat dari 35 km/jam menjadi 49 km/jam.

Fitur menarik dari drone ini adalah active track. Fitur ini membuat drone membuntuti obyek dengan mengetuk visual obyek tersebut di remote control. Fitur tersebut juga memiliki tiga mode, yaitu membuntuti obyek secara horizonal alias dari samping, spotlight atau merekam dari atas, mengikuti obyek, serta terbang mengelilingi obyek secara 360 derajat.

Fitur tersebut sangat memudahkan pengendalian DJI Phantom 4 Pro. Kita tidak perlu lagi repot-repot mengarahkan dan membidikkan kamera ke obyek yang diinginkan. Hal ini membuat proses pendokumentasian festival bisa berlangsung dengan menyenangkan.

Sementara untuk durasi terbang, drone yang dijual dengan harga Rp19,9 juta ini mampu melayang selama 30 menit. Kemampuan itu membuat DJI Phantom 4 Pro menjadi drone bertenaga baterai dengan durasi terbang terlama.

Bagaimana dengan penjelasan di atas? Apakah tertarik untuk menggunakan drone sebagai perangkat untuk mendokumentasikan keriuhan serta kegembiraan di festival?

Cari kamera mirrorless untuk dibawa ke festival? Rekomendasi kami: Canon EOS M6 

0 comments