NOW READING

Dinamika Influencer di Tengah Perkembangan Internet of Things

 4493
+
 4493

Dinamika Influencer di Tengah Perkembangan Internet of Things

by The Daily Oktagon

Penampilan penyanyi Raisa di panggung Influence Asia 2015, akhir tahun lalu di Singapura mendapat pujian. Rupanya, tak hanya Raisa yang mengharumkan nama Indonesia di ajang penghargaan bagi individu atau grup yang memberi dampak di media sosial di Asia itu. Beberapa influencer asal Indonesia juga masuk ke dalam kategori penghargaan, termasuk Kallista Yuda.

Kendati tidak memenangkan penghargaan, Kallista mengaku keikutsertaaanya pada ajang itu telah membawa dampak yang cukup besar dalam karirnya sebagai influencer. Ia bertemu begitu banyak orang inspiratif dari berbagai jenis latar belakang, sehingga bisa belajar banyak aspek dari mereka, termasuk cara mengekspresikan diri menggunakan berbagai bentuk media digital. “Bagaimana berkomunikasi lebih baik dengan audiens dan tentu saja agar tetap update,” ujar Kallista.

kallista_yudaKallista Yuda

Influencer tentu berkaitan erat dengan gaya hidup digital masyarakat yang sejalan dengan peningkatan penggunaan Internet. Nah, The Daily Oktagon mengajak Anda melihat dinamika inlfuencer di tengah perkembangan Internet of Things.

Pegaruh Media Sosial Terhadap Kemunculan Influencer

Perkembangan berbagai media sosial memang telah mendatangkan sebuah ‘profesi’ baru yang disebut sebagai influencer. Sesuai namanya, influencer dapat memberikan pengaruh pada berbagai hal bagi para followers-nya. Dan seiring tren media sosial yang semakin beragam, semakin banyak pula para influencer sehingga suasana kompetisi menguat.

Di tengah kompetisi tersebut, Kallista melihat kunci eksistensi terletak pada usaha para influencer untuk tetap jujur pada diri sendiri dan menjaga karakter unik masing-masing.

menghadiri_influence_asia1 Saat Menghadiri Influece Asia

“Ingat, posisi kita saat ini karena diri kita sendiri selama ini,” ungkap pemilik akun instagram @kallista_yuda dengan follower sebanyak 39 ribu ini.

Senada dengan Kallista, blogger travel dan lifestyle Hans Danial, menilai komitmen dan konsistensi diri seorang influencer perlu dijaga. “Beberapa blogger yang pernah aku ikuti misalnya, belakangan terlihat sudah mulai jarang update,” dia menjelaskan. Blog Hans bisa dicek di sini.

Sementara dari segi teknis, Hans berusaha tetap kreatif dari segi konten agar blog atau akun Instagram-nya selalu dilirik orang. “Aku coba membuat konte yang belum banyak dilakukan oleh influencer lain di Indonesia,” katanya mengklaim.

Hans pun mencoba memaksimalkan blog dengan tulisan dengan sudut tulisan yang unik. ”Misalnya saat travelling, aku buat tulisan blog 5 Things Traveling Teach You. Jadi, membuat konten yang menghibur,” ucap Hans.

hans1Hans Danial

Sementara itu, Kallista biasanya mengunggah foto di akun media sosialnya pada jam-jam ketika arus pengguna aktif. “Dalam case saya adalah pagi sekitar pukul 09.00-11.00, atau malam di atas pukul 20.00,” ujar wanita yang berdomisili di Surabaya ini.

Di tengah tren digital lifestyle, tentu Anda ingin agar segalanya mudah. Baca artikel menarik berikut, Masa Depan Layanan Aplikasi Virtual Menurut Penggagas YesBoss

Tantangan bagi Influencer

Kendati sudah memegang berbagai kunci strategi, kedua influencer ini masih sangat sadar bahwa tantangan ke depan tidak semakin ringan. Kallista merujuk pada fakta bahwa media sosial lebih banyak menarik pengguna di 2016, dan terbukti di awal 2015 ada sekitar 10-15 juta pengguna aktif Facebook yang bertambah di setiap bulannya.

Sementara godaan endorsement dari berbagai brand atau produk misalnya, harus disikapi dengan langkah yang matang. Hans menilai idealisme seorang blogger tetap merupakan sebuah hal penting. Misalnya, dia mengaku, sebelum menerima ajakan bekerja sama dengan pihak lain, terlebih dulu mencoba menilai kesesuaian produk atau endorsement itu dengan karakter dirinya.

Mullie_Marlina__food_Blogger_-_Stanisiaus_Hans__Food__Blogger_-_Olivia_Lazuardy_Fashion_Blogger__-_Fransisca_Tjong__pancious__owner_Hans Saat Menghadiri Suatu Acara

“Saya di bidang kuliner dan travel, akan aneh bila mempromosikan produk grooming. Saya sendiri pernah ditawari produk pemutih wajah, hahaha…,” ungkap pengelola blog Eatandtreats ini.

Pengaruh Tren Internet of Things

Baik Hans dan Kallista sendiri tidak memungkiri jika perkembangan Internet of Things (IoT) sangat mendukung profesinya. Kallista misalnya merujuk pada aktivitasnya mencari supplier atau bahan untuk bisnis kids clothing-nya yang akan diluncurkan pada tahun ini, dengan mudah ia lakukan sejalan dengan perkembangan Internet saat ini.

Sementara Hans sangat merasakan dampak positif IoT pada salah satu senjatanya, yakni kamera. Sejak ada kamera berkemampuan Wi-Fi sekitar setahun terakhir, proses pengunggahan foto menjadi sangat mudah.

Hans sendiri masih ingat ketika pada 2012 akhir memulai blogging, dirinya masih menggunakan kamera DSLR, yang proses pengunggahan foto masih harus melewati trasfer file dari memory card kamera ke laptop, kemudian resize gambar, dan mengirim e-mail ke ponsel. Kompleks sekali. “Saya terkadang bercanda bersama teman, kalau orang zaman sekarang begitu dimanjakan oleh teknologi yang sudah sangat canggih,” ujarnya.

Hans juga menggarisbawahi perkembangan jaringan 4G yang amat membantu. Dirinya sekarang mengaku kemana-mana membawa mobile Wi-Fi. “Kalau kebetulan lagi nongkrong di kafe yang jaringannya lambat, saya bisa seperti satu-satunya orang dengan kecepatan Internet paling tinggi,” ungkapnya sambil tertawa.

Masa Depan Influencer

Dengan berbagai kemajuan teknologi tersebut, maka tak heran jika dunia influencer ke depan akan semakin menarik dan kompetitif. Walaupun menyoal kompetisi, Hans menegaskan agar tidak terjadi persaingan yang panas. Karena sesungguhnya yang influencer lakukan pada dasarnya harus berawal dari minat dan kesenangan saja.

Hal ini tidak terlepas dari pengalaman pribadi Hans, yang menerima beberapa pesan yang terkesan memberi ancaman. Baginya hal itu cukup menyedihkan, karena media sosial akhirnya hanya membuat orang suka membandingkan satu dengan lainnya.

Hans pun mengingatkan, berbagai hal yang ditampilkan para influencer di media sosial seperti versi kehidupan seseorang yang sudah melewati ‘saringan’. Sehingga, orang lain bisa saja salah menilai sang influencer.

“Makanya, seorang influencer harus mencoba menjalani profesinya dengan tetap santai dan menyenangkan,”

Tertarik jadi influencer? Bekali pengetahuan Anda lewat artikel ini, Komunitas yang Relevan dengan Digital Lifestyle ala Shafiq Pontoh

0 comments