NOW READING

Dewandra Djelantik yang Konsisten di Hospitality Photography

 2705
+
 2705

Dewandra Djelantik yang Konsisten di Hospitality Photography

by The Daily Oktagon

Nama Dewandra Djelantik tidak asing bagi penulis yang pernah bekerjasama pada 2007. Kami memotret lima menu makanan dari lima chef restoran yang berbeda di Bali. Mungkin pengalaman saat itu cukup menantang bagi Dewandra, karena saat itu ia relatif baru mulai menerjuni profesi fotografer profesional, tepatnya sejak 2006.

Perkenalan Dewandra dengan kamera sendiri sudah berlangsung sejak kecil, ketika ia melihat ayahnya sering menggunakan kamera milik sang kakek. Dewandra pun mencoba memakai kamera itu, dan ternyata langsung jatuh cinta dengan dunia fotografi. “Kamera itu sekarang masih disimpan oleh ayah saya,” ungkap Dewandra.

Sembilan tahun berselang, kami pun bertemu lagi dalam pembuatan artikel ini. Dewandra kini sudah menjadi salah satu fotografer ternama di Pulau Dewata. Ia tak lagi bekerja solo, melainkan kini memimpin Dewandra Djelantik Photography, termasuk menaungi tiga fotografer in house yang tergabung di dalamnya, dan berbagai divisi lainnya. Ia kini juga didaulat sebagai salah satu brand ambassador Fujifilm Indonesia.

Ada yang tidak berubah dari pertemuan pertama kami di 2007. Dewandra terus fokus untuk menangani fotografi yang bersentuhan dengan industri hospitality. Tak heran, karena jumlah hotel, vila, hingga restoran, sudah tidak terhitung lagi jumlahnya di pulau ini. Langkah yang terbukti jitu sehingga terus mengangkat nama Dewandra hingga kini.

Yuk langsung simak artikel Dewandra Djelantik yang Konsisten di Hospitality Photography.The Daily Oktagon sudah menyiapkan ulasan menariknya.

Apa yang harus diperhatikan dalam menekuni hospitality photography?

Kita harus bisa melihat karakter sebuah properti atau produk. Jika memotret makanan misalnya, maka harus paham teksturnya, apa yang ingin ditampilkan sang chef pada masakannya, atau apa yang ingin ditonjolkan karakter sebuah propertinya, sehingga kita bisa maksimal hasil fotonya. Saya beberapa waktu lalu baru saja memotret daging sapi wagyu untuk iklan sebuah perusahaan supplier. Saya harus memotret daging mentah yang memiliki tingkat kerumitan tersendiri, karena harus bisa menampilkannya sehingga terlihat segar.

Kalau sebuah makanan daging yang sudah jadi, tentu relatif mudah karena banyak unsur pendukung di dalam makanannya. Saya kebetulan bekerjasama dengan seorang food stylist. Kita brainstorming bersama, juga dengan klien agar daging mentah masih dapat terlihat menarik. Dengan perencanaan yang lebih baik, maka proses pengambilan foto relatif berjalan lancar dan mudah.

cook_shop115814tenderloincookedFoto karya Dewandra – dokumen pribadi


Kalau untuk menampilkan sebuah hotel?

Untuk hotel besar, saya biasanya sudah “tenang” karena biasanya mereka sudah datang dengan guideline atau brand image properti yang jelas. Tantangan justru biasanya datang dari properti baru atau yang belum besar, yang terkadang masih dalam proses “mencari” brand image, sehingga saya harus berpikir ekstra untuk menampilkan apa yang sebenarnya diinginkan klien. Kadang-kadang kita sudah memotret begini, tiba-tiba klien maunya begitu. Namun hal itu relatif hanya saya rasakan di awal-awal saya berkarier. Semakin kemari, saya relatif sudah semakin cepat menangkap image yang akan ditampilkan. Misalnya begitu saya melihat langsung propertinya, saya sudah relatif bisa dengan segera memberikan rekomendasi angle atau image yang akan dihasilkan.

Sebelum lanjut, simak ulasan berikut, Berbicang Bersama Fotografer Travel, Yabin

Bagaimana dengan kemajuan teknologi fotografi saat ini?

Kamera dan lighting sekarang sudah semakin mudah, saya tidak perlu terlalu banyak menghitung teknis. Bahkan untuk kamera untuk kerja yang saya pakai, terkadang pakai pilihan auto saja sudah bagus. Begitu pun sarana lighting. Alat yang saya gunakan misalnya, sekarang sudah datang dengan auto TTL, dan semacamnya sehingga saya sekarang ibarat tinggal letakkan lampu, dan mereka kemudian “bekerja sendiri”.

Saya tinggal memikirkan arah lighting, angle, sehingga eksplorasi foto bisa lebih dalam sehingga hasil bisa lebih baik. Namun tentu saja sebagai fotografer kita tidak boleh terlalu mengandalkan teknologi, karena situasi dan kondisi bisa saja menempatkan kita tidak bisa bergantung dengan teknologi. Jadi ya seperti pilot pesawat terbang saja misalnya, walau semua peralatan di kokpit dapat auto, tentu dia harus bisa menerbangkan dengan manual juga.

Dewandra - Vila Foto karya Dewandra – dokumen pribadi

Begitu pun dengan kemajuan teknologi pada device yang membantu profesi Anda?

Ya istilah “dunia dalam genggaman” itu sekarang sudah benar-benar terjadi dengan berbagai kemajuan teknologi, termasuk misalnya kamera yang sudah memiliki akses wifi. Kita sekarang dengan mudahnya bisa memosting foto di media sosial dari mana pun kita berada. Sementara hasil dari berbagai kamera pun sekarang sudah baik, tanpa harus di-retouch lagi.

Bagimana strategi Anda untuk posting di media sosial?

Saya sendiri membeda-bedakan keperluan di setiap media sosial yang saya gunakan. Untuk Instagram, saya relatif gunakan untuk kepentingan komersial, lebih menunjukkan berbagai hal yang berkaitan dengan profesi saya sebagai fotografer professional. Di Path tentu lebih untuk kepentingan personal, sementara Facebook bisa dibilang kombinasi keduanya.

dd104615finalFoto karya Dewandra – dokumen pribadi

Masih memotret pakai kamera smartphone?

Kadang-kadang. Karena saya tidak setiap saat membawa kamera. Saat sedang lari pagi misalnya, kalau ada yang menarik ya saya ambil pakai kamera ponsel.

Bagaimana dengan aplikasi mobile?

Untuk retouch foto saya pakai Snapseed. Aplikasi ini saya bilang relatif simple dan saya juga sudah terlanjur terbiasa memakainya. Bahkan semakin kemari, penggunaannya semakin mudah, sehingga saya semakin nyaman menggunakannya sehingga tidak ada alasan untuk menggantinya. Aplikasi semacam Snapseed tidak hanya untuk kepentingan di media sosial. Ada beberapa contoh foto yang kemudian saya retouch menggunakan aplikasi ini yang kemudian saya kirim ke tim grafis sebagai panduan mereka mengerjakan editing sesuai yang saya inginkan.

Oh ya, sejak akhir tahun lalu menyediakan social media photography service, tentu ini akan mebih memudahkan calon klien dalam mengoptimalkan media sosial mereka. Saat ini kami sudah bekerjasama dengan beberapa Public Relation consultant (PR) maupun PR hotel.

Untuk menikmati karya-karya Dewandra, sila masuk ke sini.

Baca juga, Riza Marlon dan Monumen Dokumentasi Satwa Liar

0 comments