NOW READING

Desain dan Pengaruh Teknologi Digital di Mata Alvin Tjitrowirjo

 2110
+
 2110

Desain dan Pengaruh Teknologi Digital di Mata Alvin Tjitrowirjo

by The Daily Oktagon

Walau sudah lebih dari tujuh tahun eksis dengan label desain produknya sendiri, bukan berarti Alvin Tjitrowirjo merasa kiprahnya sudah diakui banyak pihak. Buktinya, pemilik label AlvinT ini terus mencari cara agar eksistensinya semakin terpatri dengan baik, bahkan di tingkat internasional. Pada April lalu misalnya, pemilik gelar master dari Instituto Europeo di Design, Spanyol ini mengikuti pameran Alamak! Project pada ajang XXI Design Triennale Milano International Exhibition di Italia.

Sebuah grup eksibisi yang dikurasi oleh tiga kurator dunia yang pada dasarnya untuk mempromosikan dan menaikkan martabat para desainer dari Asia itu diikuti 12 desainer dari 10 negara di Asia seperti dari China dan India, termasuk Alvin yang mewakili Indonesia. Pameran yang berlangsung di Triennale Design Museum Milan ini bukanlah sebuah trade show, sehingga semakin memberi arti penting bagi kelahiran 9 Juni 1983 ini; dan The Daily Oktagon pun berbincang dengan Alvin tentang kiprahnya saat ini.

Alvin Tjitrowirjo

Bisa ceritakan lebih jauh tentang pameran di Milan?

Pamerannya bukan komersial tapi lebih ke cultural. Kalau trade show, orang mungkin bisa bayar tempat untuk kemudian tampil. Tetapi juga berbeda dengan pameran di museum yang harus melewati proses kuratorial dulu. Ini cukup penting karena setahu saya belum ada karya dari Indonesia yang masuk ke museum ini (Triennale Design Museum Milan, Italia).

Saya sangat senang karena bisa diapresiasi oleh dunia luar, terlebih platform yang dibuat sudah berkelas dunia. semoga ini bisa menjadi batu loncatan bagi saya untuk bisa berkiprah dalam kesempatan yang serupa.

Menarik juga diikuti, pandangan fotografer Glenn Prasetya tentang pengaruh teknologi digital terhadap kariernya

Bagaimana proses keterlibatan Anda di pameran ini?

Keterlibatan dengan pameran ini sudah berlangsung sejak setahun yang lalu dengan sistem kurasi yang ketat. Mereka mau yang sangat orisinil, dengan latar belakang kuat. Salah satu karya yang saya pajang adalah kuda-kudaan yang terinspirasi dari kuda lumping. Seperti biasa, di dalam setiap pembuatan karya, saya selalu mencoba memasukkan unsur lokal dengan sentuhan modern.

Karya ini cukup mendapat respon yang positif. Lewat pameran ini, orang luar bisa melihat bahwa Indonesia juga mempunyai desainer yang baik, karena lewat pameran ini para desainer bisa menunjukkan bahwa negara-negara di Asia bukan hanya lokasi pabrik semata.

Ada produk lain?

Sebuah rak gantung. Rak ini coba saya artikan sebagai situasi dan kondisi tahap perkembangan desain di Indonesia, bahwa kesadaran akan desain sudah mulai ada tetapi relatif masih ragu-ragu untuk berubah ke arah desain yang modern.

Jadi rak ini seolah seperti sangkar, seperti “terperangkap” di dalam keragu-raguannya sendiri. Pihak penyelenggara mengaku “cerita” ini menarik dan mempunyai dasar latarbelakang yang masuk akal.

Alvin Tjitrowirjo

Salah satu karya Alvin Tjitrowirjo. (Sumber foto: Dok. Pribadi)

 

Hal berharga lain yang Alvin rasakan dengan mengikuti pameran ini?

Terkadang saya suka kecewa karena sudah berusaha dengan keras membuat produk dengan desain yang menarik dan berkualitas tinggi, namun orang tetap melihatnya hanya sebuah “bangku”. Padahal setiap karya mempunyai nilai seperti cerita, orisinalitas di baliknya.

Anehnya, karya yang sama ketika dipamerkan di museum akan mendapatkan respon yang berbeda. Dan di Indonesia praktis tidak ada museum desain yang menjadi media untuk memperlihatkan nilai-nilai semacam itu sehingga bagi saya partisipasi di pameran di Italia ini menjadi sangat penting agar orang lain dapat melihat karya saya dalam perspektif yang berbeda.

Bagaimana hubungan profesi Anda dengan perkembangan teknologi digital saat ini?

Amat penting. Baik untuk kepentingan bisnis maupun berbagai kegiatan di dunia kreatif seperti yang saya jalankan, hampir seluruhnya relatif terpengaruh oleh teknologi digital, seperti fotografi, audio visual,editing, 3D modeling, hingga kehadiran berbagai gadget dengan aplikasinya.

Perkembangan teknologi digital merupakan hal yang tidak bisa kita hentikan, apalagi menyangkalnya. Mungkin hanya seorang tukang kayu yang benar-benar tradisional yang tidak perlu beradapatasi dengan kemajuan teknologi, namun mayoritas dari pelaku di industri ini akan mengadopsi teknologi untuk dapat bertahan.

Bagaimana aplikasi teknologi digital di brand Anda sendiri?

Seperti yang saya selalu ungkapkan kalau saya selalu mencoba mengkombinasikan unsur tradisional dengan modern. Tradisional bisa dilihat dari cara menganyam, cara mengikat rotan, namun di saat bersamaan kita menggunakan teknologi 3D modeling.

Kita terkadang membuat mock-up tiga dimensi. Kita juga misalnya mengeksplorasi motif anyaman buatan tangan lewat berbagai piranti lunak di komputer. Di luar itu, perkembangan media sosial dan sistem komunikasi di industri ini sudah sangat digital.

Alvin Tjitrowirjo

Karya Alvin saat mengikuti Mozaik Exhibition di JCC, Jakarta. (Sumber foto: Sefval Mogalana)

 

Kalau untuk penggunaan media sosial?

Untuk Instagram, saya hanya ingin membagi apa yang saya lihat dan mempunyai arti. Dalam 2-3 tahun belakangan, saya seperti lebih menghargai alam, apalagi saya tinggal di Jakarta yang sudah ramai polusi, baik udara hingga visual, sehingga ketika bepergian saya berusaha menjauhi kota dan mendekatkan diri ke daerah yang lebih alami, dengan berbagai objek yang terkadang menurut saya mempunyai arti tersendiri.

Untuk kepentingan komersial, saya sendiri sudah mempunyai akun brand sendiri yang khusus mempublikasi berbagai aktivitas brand. Saya sendiri bukan orang yang tipikal mencoba menggunakan akun pribadi untuk kepentingan komersial seperti endorsement. Saya akan suka memakai produk atau brandtertentu, kalau memang saya benar-benar suka dengan produk atau brand tersebut.

Bagaimana dengan aplikasi ponsel?

Saya berusaha agar penggunaan aplikasi di ponsel itu tetap praktis, sehingga tidak memasang aplikasi permainan sama sekali. Sekitar 30 persen aplikasi yang ada berguna saat traveling seperti Google Maps, Google Translator, Airbnb untuk mencari akomodasi, beberapa aplikasi city guide.

Tiga puluh persen aplikasi lainnya sepetinya media sosial, karena saya juga masih mengelola langsung juga akun brand saya. Selebihnya lebih pada aplikasi utilitas seperti Evernote atau Dropbox untuk menyimpan dan berbagi file, hingga Keynote (iOS) untuk menyimpan presentasi .

Apa yang Anda pertimbangkan sebelum memasang aplikasi?

Saya terkadang mendengarkan beberapa podcast tentang management atau productivity, dan biasanya mereka menjelaskan dan merekomendasikan aplikasi tertentu. Saya cenderung tidak mau bongkar pasang aplikasi, karena terkadang kita mungkin menyadari bahwa beberapa aplikasi yang terpasang tidak kita pakai, sehingga hanya akan memakan ruang penyimpanan dan memory ponsel.

Untuk kamera?

Sudah sekitar tiga tahun menggunakan Canon EOS 6D. Bagi saya full frame dan durabilitas sebuah kamera itu penting. Dan semestinya keduanya bisa saya maksimalkan di kamera ini. Saya sudah tertarik fotografi sejak zaman sekolah, bahkan saat kuliah sempat ambil kursus fotografi. Saat itu masih menggunakan film negatif. Fotografi memang penting karena saya gunakan untuk mendokumentasikan proses desain. Di luar itu, karena saya suka memotret saat traveling.

0 comments