NOW READING

Cosmas Gozali, Arsitek dan Tantangan Dunia Digital

 266
+
 266

Cosmas Gozali, Arsitek dan Tantangan Dunia Digital

by The Daily Oktagon

Seluruh sumber foto: Dok. Pribadi

  • Ilmu arsitektur memberikan pelajaran yang penting bagi seorang Cosmas Gozali, yaitu cara mengenal manusia.
  • Selain harus bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi, seorang arsitek juga harus jeli menutup efek negatif perkembangan teknologi digital dengan karya-karyanya.
  • Kecepatan berimajinasi merupakan hal yang tidak dapat digantikan oleh teknologi digital dalam dunia arsitektur.

Rupa Cosmas Gozali sebentar lagi akan sering menghias layar kaca. Arsitek ini merupakan salah satu juri dalam ajang acara televisi The Apartment Indonesia, kompetisi design interior yang versi awalnya berasal dari Malaysia ini.

Nama Cosmas Gozali tentunya bukan pemain baru di dunia arsitektur Indonesia. Ia mendirikan Atelier Cosmas Gozali pada tahun 2005 dan telah terlibat di berbagai proyek properti seperti Origami House (Bandung), W – House (Jakarta), SK Residence (Jakarta), dan De Oaze Tomang Residence (Jakarta).

Arsitek lulusan Diploma Ingenieur Architecture di Tecnische Universitas Wien ini juga sempat mengikutsertakan atelier-nya dalam berbagai macam kompetisi di panggung arsitektur seperti Sunter (BMW park) International Stadium Competition pada 2009., Bank Indonesia National Competition dan eVolo Skycrapper International Competition 2010.

The Daily Oktagon berbincang dengan Cosmas tentang bagaimana awalnya ia bisa terjun menjadi seorang arsitek dan bagaimana teknologi digital mempengaruhi dunia arsitektur secara keseluruhan.

Apa yang membuat Anda tertarik menekuni profesi sebagai arsitek?

Saya sebenarnya sudah dari sejak kecil tertarik dengan arsitektur, tepatnya saat masih kelas lima SD. Dulu tidak seperti sekarang yang banyak sekali alternatif hiburan. Dulu saya untuk hiburan ya misalnya jalan-jalan saja keliling kota.

Setiap kali melewati daerah Kebayoran atau Menteng dan melihat bangunan-bangunan di sana, tidak tahu kenapa hati saya suka sekali. Dari sana saya merasa ada sebuah panggilan, makanya saya memutuskan untuk menjadi seorang arsitek.

Awalnya juga memang suka hobi melukis dan juga berpikir cukup mampu untuk bidang pelajaran seperti matematika dan fisika. Sempat bimbang antara memilih jurusan teknik sipil atau arsitektur, tapi ke depannya semakin mantap untuk memilih arsitektur. Menurut saya teknik sipil itu cukup terbatas, sementara arsitektur masih seimbang antara seni dan juga teknologinya.

Hal-hal apa saja menjadi ciri khas dari karya-karya Anda?

Karya saya terang benderang, aliran udara yang menjadi komponen penting, dan berefek luas. Saya selalu menciptakan sesuatu yang memiliki jiwa di dalamnya. Sebuah ruang menurut saya harus memiliki jiwa yang sesuai dengan fungsinya, tetap nyaman, dan bisa menciptakan konektivitas antara ruang dan penggunanya.

Menjadi narasumber Qatar TV untuk salah satu projectnya

Apa yang menjadi faktor pembeda dunia arsitektur saat Anda baru mulai menjalaninya hingga saat ini?

Zaman dulu arsitek identik dengan tukang gambar bangunan, kalau sekarang profesi ini sudah lebih diapresiasi. Bahkan, baru saja diresmikan Undang-Undang Arsitek yang menyebutkan segala sesuatu yang berkaitan dengan rancang bangun harus menggunakan jasa seorang arsitek yang profesional. Jadi, negara pun sudah mengapresiasi dan diharapkan masyarakat luas juga bisa memberikan apresiasi yang sama terhadap profesi arsitek ini.

Tantangan era digital juga dirasakan aktor Ringgo Agus Rahman. Simak ceritanya di sini.

Bagaimana dengan peran teknologi digital di dalam perkembangan dunia artistektur?

Perannya sangat besar sekali tentunya. Saya waktu pertama kali memulai saja harus mempelajari berbagai macam program-program seperti AutoCad dan lainnya. Setiap tahun pasti selalu ada program-program baru yang harus bisa kita adaptasi, tapi masalahnya sumber daya manusianya sendiri seringkali kurang mau untuk beradaptasi karena terlalu nyaman dengan segala sesuatu yang sudah ada. Saya sendiri selalu menuntut tim untuk mau beradaptasi dengan segala macam bentuk pembaharuan ini.

Gadget-gadget apa saja yang mendukung profesi Anda sebagai seorang arsitektur?

Kalau saya sih dalam keseharian termasuk orang yang simpel, tetapi saya termasuk orang yang suka dengan sesuatu yang terbaru dan ter-update dari sebuah gadget. Meskipun terkadang beberapa inovasinya pada akhirnya tidak saya gunakan. Saya masih harus belajar banyak untuk menggunakan aplikasi-aplikasinya yang baru.

Cosmas (Kiri) menjadi salah satu partisipan talk show di pameran Casa Indonesia 2017

Smartphone saya menggunakan iPhone, saya juga ada iPad walaupun tidak terlalu sering dipakai. Kalau laptop lebih sering saya gunakan untuk mengirim e-mail walaupun sekarang ini saya lebih suka menggunakan Whatsapp untuk ngirim-ngirim.

Kantor saya juga menggunakan kamera-kamera yang cukup canggih seperti Canon dan Sony untuk kepentingan pekerjaan, meskipun saya sendiri lebih suka menggunakan kamera smartphone karena lebih simpel pengoperasiannya.

Jika mencari smartphone yang apik untuk urusan Selfie, perkenalkan: Oppo F3

Inspirasi apa dari gaya hidup digital yang saat ini semakin masif perkembangannya?

Inilah yang terpenting karena ini berkaitan dengan target audiens dari berbagai macam industri. Saat ini generasi yang paling potensial adalah generasi millenial yang sangat berkaitan erat dengan teknologi. Jadi, saya sangat mengharapkan bahwa karya-karya seni itu pun juga harus bersinggungan atau merupakan bagian dari pada perkembangan teknologi.

Nah, itu jugalah yang saya terapkan dalam karya-karya arsitektur saya. Arsitektur saya bukan hanya sekadar estetika, tetapi kami juga memikirkan tentang teknologi, ini harus dikombinasikan dengan baik.

Di satu sisi kita juga harus melihat kekurangan apa yang terjadi akibat perkembangan teknologi. Ini yang harus kita kembalikan. Misalnya hubungan antar anggota keluarga yang saat ini mungkin sudah sibuk dengan gadget-nya masing-masing.

Kita harus bisa menciptakan ruangan-ruangan yang membuat anggota keluarga ini pada akhirnya berinteraksi secara langsung. Biar bagaimana pun komunikasi antar manusia itu sangat penting.

Bagaimana pula dampak teknologi bagi pemerataan akses kesehatan di Tanah Air? Simak ulasannya di sini.

Menurut Anda apalagi hal-hal yang harus diciptakan oleh inovator di dunia teknologi digital sana untuk mengembangkan dunia artistektur ke tingkat yang berikutnya?

Banyak sekali. Sekarang ini kan sudah ada 3D printer, nah bagaimana kalau teknologi ini lebih dikembangkan lagi. Misalnya, saat kita punya ide yang ada di kepala lalu bisa langsung bisa di-output di dinding ruang atau bahkan bisa diciptakan langsung bentuk 3D-nya.

Jadi kita benar-benar bisa mengajak orang langsung masuk ke dunia imajinasi kita. Mungkin saat ini memang sudah ada teknologi seperti itu, tapi saat ini kan semuanya harus di-input dulu di dalam komputer baru bisa diwujudkan.

Nah, kalau bisa tak usah lagi melewati proses input ini, tapi langsung dari pikiran kita. Teknologi ini tentu sangat membantu saat presentasi dihadapan klien sehingga mereka tak perlu menunggu waktu lama untuk melihat bentuk 3D yang harus diproses sekitar tiga minggu.

Peran teknologi digital sangatlah besar di dunia arsitektur menurut Cosmas Gozali. Baik itu dari segi teknis atau pun upaya untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi itu sendiri. Tantangan ke depannya adalah sejauh mana para arsitek muda bisa memahami teknologi ini dengan baik untuk menghasilkan sebuah karya yang humanis.

0 comments