NOW READING

CoferOne, Kreativitas Fotografi Lewat Ponsel

 1879
+
 1879

CoferOne, Kreativitas Fotografi Lewat Ponsel

by The Daily Oktagon

sumber foto: CoferOne

  • CoferOne adalah salah satu komunitas pionir yang bergerak di fotografi ponsel di Indonesia, lahir dari sebuah thread di forum Kaskus
  • Memotret dengan kamera ponsel memiliki nilai lebih, memudahkan kita untuk mengedit foto dan juga lebih praktis untuk dibawa
  • Komunitas ini mengantongi jumlah anggota di seluruh Indonesia (termasuk yang ada di group Facebook) lebih dari 33.000 anggota.

Phonegraphy. Istilah yang belakangan ini sudah makin lazim didengar, walau tetap menjadi perdebatan di beberapa kalangan. Fotografi dengan basis kamera tentu tidak lepas dari hadirnya perangkat ponsel dengan ragam kamera yang ciamik belakangan ini

Banyaknya jenis ponsel dengan kamera super otomatis mendobrak stigma pasar bahwa ponsel yang bagus itu tak melulu harus dilihat dari performa, namun juga dari kualitas kamera. Perubahan perspektif market tersebut, menciptakan tren bahwa ponsel kini tak hanya digunakan sebagai perangkat browsing atau sekadar bermain game.

Maka tak heran banyak komunitas fotografi dengan media smartphone yang bermunculan. Salah satunya CoferOne, salah satu komunitas pionir yang bergerak di fotografi ponsel di Indonesia. Seperti apa sepak terjang komunitas ini dalam mengolah kreativitasnya lewat ponsel? Ikuti ulasannya bersama The Daily Oktagon.

Lahir dari Thread Kaskus

CoferOne adalah komunitas yang lahir dari sebuah thread di forum Kaskus. Diungkapkan salah satu pengurus CoferOne, Michael Law, komunitas tersebut didirikan pada 6 September 2011 oleh Marken Nainggolan.

“CoferOne (Community Photography Camera Phoneberawal dari sebuah thread di Kaskus yang didirikan bagi pengguna ponsel yang memakai perangkatnya untuk memotret,” jelas Michael.

Selain itu, mereka juga membuat group Facebook, sebagai wadah anggota terdaftar untuk mengunggah hasil jepretan. “Karena animonya lebih besar di group, akhirnya diputuskan untuk membentuk CoferOne sebagai komunitas,” lanjut pria yang masih menimba ilmu komunikasi di salah satu universitas swasta di Jakarta ini.

"Hunting" foto bersama

“Hunting” foto bersama ala CoferOne Medan

CoferOne_Medan_-_Foto_Facebook

Dari situlah, para anggota CoferOne yang bergabung mengunggah karya jepretannya dan saling mengomentari. dari fanpage itu juga mereka akhirnya memutuskan untuk mengadakan pertemuan komunitas rutin.

“Pertemuan yang dilakukan sangat beragam, seperti acara hunting bareng, pameran, kompetisi, sharing tips dan juga terkadang banyak yang meminta kita untuk menjadi tamu dalam acara fotografi,” kata Michael.

Kalau artikel ini tentang Geonusantara, komunitas fotografi yang sedang naik daun

Terkait jumlah anggota, Michael yang menggunakan Xiaomi Note 3 ini mengatakan, jumlah member di seluruh Indonesia (termasuk yang ada di group Facebook) pada saat ini lebih dari 33.000 anggota.

Untuk di Jakarta sendiri, komunitas ini memiliki anggota lebih dari 100 orang, baik member aktif dan kurang aktif. Sisanya ada beberapa anggota regional, paling aktif itu ada di Kediri, Tulungagung, Malang, Surabaya, Yogyakarta dan Pontianak.

“Kita juga ada beberapa anggota orang Indonesia di negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Australia, Thailand, India, Korea hingga Amerika,” jelasnya.

Ponsel Punya Nilai Lebih

Salah satu nilai yang membedakan CoferOne dengan komunitas fotografi lainnya tentu adalah cara mereka mengabadikan momen dari lensa ponsel. Michael berpendapat, memotret lewat kamera ponsel tentu punya nilai lebih ketimbang kamera DSLR atau mirrorless.

Menurut CoferOne, perkembangan kamera smartphone saat ini sangatlah maju. Juga tak bisa ditampik, banyak sekali ponsel sekarang yang memiliki kamera yang cukup bagus. Akan tetapi, tambah Michael, semua kembali kepada pengguna ponsel tersebut dan bagaimana cara ia memanfaatkannya.

“Keberadaan kamera di ponsel belum untuk menggantikan kamera seperti mirrorless dan DSLR, karena kualitas yang dihasilkan (dari ponsel) masih belum terlalu sempurna. Tetapi kami yakin, memotret dengan kamera ponsel juga memiliki nilai lebih, memudahkan kita untuk mengedit foto dan juga lebih praktis untuk dibawa,” ia menuturkan.

Klik di sini untuk melihat profil komunitas pencinta smartphone Xiaomi

Michael juga membenarkan bahwa dua tahun terakhir ini banyak sekali vendor ponsel membesut perangkatnya dengan kamera mutakhir. Hal ini juga yang pada akhirnya mendorong makin banyaknya anggota komunitas menjajal kebolehan ponsel dengan kamera premium.

“Banyak sekali ponsel yang hadir dengan kamera oke. Saya akui, salah vendor asal Tiongkok mulai berani berinovasi di ranah fitur kamera. Anggota kami juga kebanyakan pakai merek sana (Tiongkok), sebutlah Oppo F1s, Huawei P9, Xiaomi Mi5, masih banyak lagi. Masing-masing meski punya range resolusi di 12MP, punya kelebihan tersendiri,” timpalnya.

Kreativitas Tanpa Batas

Terlepas dari kualitas kamera ponsel yang dimiliki masing-masing anggota, Michael juga ‘membocorkan’ salah satu rahasia dapur CoferOne, yaitu cara mereka mengakali sebuah objek memotret dengan kamera ponsel. Dalam hal ini, kreativitas jadi amunisi utama.

Hasil foto member CoferOne

Hasil foto member CoferOne

Macro_from_Smartphone_-_Foto_CoferOne

Pertemuan rutin yang diadakan komunitas dalam beberapa kali sebulan, juga bertujuan menjadi ajang untuk menempa ilmu fotografi ponsel bagi anggotanya. Ada beberapa workshop atau photo hunting yang sengaja diadakan untuk mengolah kreativitas anggota.

“Meski foto-foto pakai kamera ponsel itu kesannya mudah, kenyataannya nggak juga. Cukup menantang. Mudahnya kalau dibagi, keberhasilan gambar itu 20 persennya ada di foto, dan sisanya (80 persen) ditentukan sama yang motret di ponsel,” tambahnya.

Belajar fotografi banyak caranya, termasuk lewat komunitas Kelas Pagi. Simak di sini

Komunitas CoferOne juga mengusung nilai kreativitas tanpa batas. Dalam arti, objek yang mereka abadikan tentu tidak linear. Michael membeberkan sejumlah metode unik yang mereka gunakan ketika memotret dari ponsel, seperti menggunakan jenis landscape, makro, steel wool, minimalis hingga toy.

Selain itu, teknik filterisasi juga digadang-gadang menjadi salah satu metode yang tengah ramai digandrungi. “Kalau sekarang lagi musim editing lewat aplikasi VSCO Cam. Kadang monokrom juga dipakai,” jelasnya.

Komunitas ini akan terus berkarya dengan memanfaatkan teknologi yang terus berkembang. Maka itu, mereka berusaha memotivasi anggota agar terus memotret dari perangkat ponselnya dan tak perlu malu jika ponselnya punya kamera yang tergolong ke kelas ‘standar’.

“Lagipula komunitas ini bukan untuk pamer kebolehan kamera ponsel, namun tempat mengasah kreativitas mengolah foto,” pungkasnya. Anda tertarik untuk bergabung?

0 comments