NOW READING

Cerita Penata Gaya di Era Fotografi Digital

 1449
+
 1449

Cerita Penata Gaya di Era Fotografi Digital

by The Daily Oktagon

Sebuah foto yang indah tercipta bukan semata karena kepiawaian seorang fotografer, ada sosok penting di belakang fotografer. Sosok penting itu adalah seorang penata gaya. Dia yang ikut menentukan hasil akhir berupa foto yang Anda nikmati di majalah atau media lain.

Sejalan dengan perkembangan teknologi, tentu ada perbedaan penata gaya dulu dan sekarang. Seperti apa sih menariknya? The Daily Oktagon sudah menyiapkan cerita penata gaya di era fotografi digital. Simak ulasan berikut.

“Tugas seorang penata gaya adalah membuat konsep. Misalnya seperti ini, kami menerima permintaan photo session dengan tema Kartini. Lalu, saya tanya, ini mau Kartini tempo dulu atau Kartini masa kini?” kata penata gaya di tabloid wanita Nova, Ita Adnan, pertengahan Maret lalu.

Ita melanjutkan, setelah dapat jawaban ingin foto Kartini seperti apa, kemudian dia buat konsepnya. Seperti apa Kartini tempo dulu, seperti apa Kartini masa kini. Setelah itu giliran busananya, modelnya yang pas, make-up, dan lokasi pemotretan. “Setelah itu saya serahkan ke fotografer untuk dieksekusi,” ucap Ita.

shutterstock_223188310
Ketika memasuki sesi pemotretan, penata gaya memberi masukan kepada juru foto mengenai sudut pengambilan foto yang pas. “Kami berdiskusi dengan fotografer mengenai angle yang pas dan setelah itu fotografer yang eksekusi, karena kami tidak tahu teknik fotografi. Mereka yang lebih tahu foto bagus itu seperti apa,” ujar Ita.

Dari penjelasan Ita, yang mengawali karier di dunia fashion dengan menjadi foto model dan peragawati pada dekade 1980-an, tugas dan fungsi seorang penata gaya adalah melakukan pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh fotografer. Sinergi keduanya menghasilkan foto yang bertema dan kuat pesannya.

Sebelum lanjut, baca dulu artikel berikut, Seluk Beluk Fotografi Fashion Masa Kini

Evy Irmalestari, fotografer dari Pic-A-Pic Photography, menyatakan, penata gaya menyempurnakan pekerjaan fotografer. “Penata gaya itu orang yang membantu fotografer untuk mengarahkan gaya seorang model. Tugasnya menyempurnakan gaya yang diarahkan fotografer agar lebih kuat detailnya,” kata dia.

Evy Irmalestari1Evy Irmalestari – foto dokumen pribadi

Evy menambahkan, kerja sama fotografer dan penata gaya akan menghasilkan foto yang sempurna. Tugas penata gaya, kata Evy, mencarikan busana dan aksesori yang pas untuk model. Lalu, mengatur agar terlihat indah setelah menjadi foto.

shutterstock_223188313
“Sementara fotografer fokus pada teknik fotografi,” ujar Evy, yang menjadi fotografer profesional sejak 2011.

Semua Bisa Direkayasa

Saat ini semua sudah beralih ke digital, termasuk fotografi. Lalu, apakah tugas dan fungsi seorang penata gaya juga mengalami perubahan?

Kata Ita, tugas dan fungsi seorang penata gaya di era fotografi manual atau menggunakan film tetap sama meskipun kini dunia fotografi telah berubah menjadi digital. Perbedaan yang sangat terasa adalah pekerjaan menjadi lebih cepat selesai.

Pada era fotografi manual, sebelum sesi foto dimulai, fotografer memotret model dengan menggunakan film langsung jadi atau lebih dikenal dengan nama Polaroid. Tujuannya untuk melihat apakah warna, pencahayaan, komposisi, busana, make-up, dan aksesori sudah sesuai dengan keinginan.

“Hasil foto Polaroid itu kami diskusikan. Kalau saya merasa warna lipstik kurang kuat, saya akan minta make-up artist untuk mewarnai lagi bibir model. Begitu juga dengan lain. Polaroid itu gunanya untuk mengoreksi apa yang kurang sebelum sesi foto dimulai,” kata Ita, yang bekerja untuk tabloid wanita Nova selama 10 tahun terakhir.

IMG_5154Foto karya Evy Irmalestari

Memasuki era fotografi digital, tidak ada lagi proses memotret dengan film langsung jadi. Sebagai gantinya digunakan komputer. Fotografer dan penata gaya melihat apa yang perlu diperbaiki dan dikoreksi di layar komputer. Jika sudah dianggap sempurna, sesi pemotretan dimulai.

“Era digital juga memudahkan kami untuk mengoreksi foto. Jika saya merasa warna lipstik kurang bagus atau warnanya kurang kuat, saya akan minta fotografer untuk mengoreksinya dengan bantuan komputer. Tidak seperti dulu, harus minta bantuan make-up artist untuk memperbaiki make-up model,” ujar Ita.

Ita menyebutkan, di era digital seperti sekarang nyaris tidak ada foto yang tidak direkayasa. Meski model sudah sempurna, busana yang dikenakan berasal dari desainer paling kreatif, dan pemotretan dilakukan oleh fotografer paling andal, rekayasa digital tetap dilakukan. Tujuannya untuk menghasilkan foto yang sempurna dan enak dipandang.

Dengan adanya kemudahan dalam merekayasa foto apakah itu berarti fotografer di era digital tidak seandal fotografer di era film. Dengan tegas Ita mengatakan, tidak.

IMG_4672Foto karya Evy Irmalestari

Ita bisa mengatakan itu karena dia sudah berkarya sebagai penata gaya selama puluhan tahun. Dimulai dengan karier sebagai foto model dan peragawati pada 1980-an hingga menjadi penata gaya di beberapa majalah remaja, seperti Aneka Yes dan Mode, hingga majalah Kartini dan Populer, Ita sudah bekerja sama dengan puluhan fotografer yang menggunakan kamera manual dan digital.

“Mungkin yang saya rasakan adalah fotografer yang memulai kariernya dengan menggunakan kamera manual lebih punya gigi. Itu hanya subyektif saya saja, karena ada juga fotografer manual yang tidak paham dunia digital. Jadi, masing-masing punya kekurangan dan kelebihan,” tutur Ita.

Akan tetapi, ada satu hal mencolok yang dilihat Ita dari seorang fotografer yang besar di era kamera manual dengan fotografer yang lahir di era digital, yaitu ketelitian. Kata Ita, fotografer manual lebih teliti dalam melakukan persiapan dan saat melakukan sesi foto. Fotografer manual juga selalu ingin setiap frame menghasilkan foto yang sempurna.

 ItaIta Adnan – foto dokumen pribadi

“Itu karena kamera manual menggunakan film yang mahal harganya, apalagi kalau menggunakan film dengan format medium dan besar. Mereka tidak mau membuang-buang film, makanya semuanya dilakukan dengan teliti,” ujar Ita.

“Berbeda dengan sekarang, fotografer bisa memotret sebanyak-banyaknya dan dengan dengan mudah menghapus foto yang tidak diinginkan,” kata Ita.

Meskipun terjadi perubahan di sisi fotografer, tetapi, kata Ita, tidak terjadi perubahan di sisi penata gaya. Di era fotografi digital, seorang penata gaya tetap dituntut untuk membuat konsep foto yang kuat. Penata gaya juga tetap harus jeli dalam memilih model, make-up artist, dan lokasi pemotretan agar pesan yang ingin disampaikan melalui foto tersebut bisa diterima dengan baik oleh yang melihatnya.

“Pekerjaan ini sangat menarik, karena itu saya tidak pernah mau pindah profesi. Apalagi, passion saya sejak kecil adalah dunia model,” ucap Ita.

Baca juga, Memajukan Fashion dan Digital ala Cotton Ink

0 comments