NOW READING

Canggihnya Upaya Melestarikan Batik Saat Ini

 1172
+
 1172

Canggihnya Upaya Melestarikan Batik Saat Ini

by The Daily Oktagon
  • Teknologi bagaikan dua sisi mata pisau, dapat menjadi “perusak”, atau justru menjadi jembatan unsur tradisional-modern.
  • Batik sebagai sebuah warisan budaya dari masa lalu kini semakin tergerus keberadaannya namun dengan bantuan teknologi batik tidak hanya bisa bertahan tetapi juga semakin populer
  • Berbagai upaya pelestarian dilakukan sehingga dapat terus menjawab tuntutan zaman.

Sebuah produk modern sering dianggap sebagai “lawan” produk masa lalu. Tren aplikasi pemesanan transportasi online misalnya, membuat angkutan umum konvensional tersisih, bahkan para pengemudinya sempat melakukan unjuk rasa sebagai bentuk perlawanan.

Namun hal ini sepertinya tidak berlaku bagi batik, sebagai sosok warisan budaya di Indonesia yang sudah ada sejak lama, dengan teknologi sebagai representasi produk modern dan masa depan. Berbagai cara dengan sentuhan teknologi ditempuh berbagai pihak, sehingga pelestariannya terus terjaga.

Digitalisasi Desain Batik

Batik yang berkualitas dikenal dengan proses produksi manualnya. Dengan sentuhan teknologi, potensi batik bisa lebih dikembangkan.

Hal inilah yang sepertinya menjadi tolak pikir Piksel Indonesia, lewat penerapan teori fractal pada batik. Piksel Indonesia didirikan oleh Nancy Margried, Yun Hariadi, dan Muhamad Lukman ketika mengenyam studi S2 di Teknik Arsitektur ITB pada 2007.

Lukman menemukan teori rumus pengulangan dalam ilmu matematika, atau yang dikenal sebagai teori fractal dapat diimplementasikan pada kain batik, yang setiap coraknya relatif memiliki pola atau kombinasi motif yang disusun secara berulang.

Software jBatik milik Batik Fractal

“Kami menemukan dengan fractal, sebuah motif kain batik bisa diciptakan dengan varian pola yang berbeda-beda sehingga setiap orang bisa menciptakan motif batik sesuai kreatifitasnya,” imbuh Lukman.

Kemudian langkah tersebut diwujudkan Lukman dengan membuat piranti lunak bernama jBatik, yang penggunanya bisa memilih beragam ornamen yang sudah tersedia dan merangkainya dengan mudah menjadi sebuah motif secara utuh hanya dengan proses ‘drag-and-drop’ saja. Batik yang dihasilkan diberi nama Batik Fractal.

Lukman menyebutkan bahwa teknik pembuatan tetap menggunakan canting dan cat atau lilin untuk pewarnaan, hanya saja teknologi membantu dalam proses penciptaan desain.

Cari laptop terbaik untuk urusan desain? Simak rekomendasinya di sini.

Menurut Lukman, awalnya banyak masyarakat di daerah pengrajin batik yang menganggap ini sebuah ancaman bagi industri. Namun setelah tim Piksel Indonesia melakukan edukasi dan pelatihan, maka mereka mulai paham bahwa teknologi ini hadir justru untuk melestarikan dan mempopulerkan batik di era modern ini.

“Di dalam software sudah tersedia library berisi beragam ornamen dan motif yang bisa digunakan yang didapat dari riset dan dokumentasi pada lebih dari 300 motif batik. Ini ini sangat baik karena artinya setiap motif terdokumentasi secara digital dan bisa dipergunakan lagi,” tambahnya.

Sudah ada ribuan desain yang dihasilkan dengan aplikasi jBatik dengan mengadopsi berbagai macam jenis motif batik Indonesia.

Lukman mengungkapkan, sentuhan teknologi sengaja mereka pilih karena melihat di industri batik kurang terjadi regenerasi, sehingga untuk menarik minat kalangan penerus industri ini harus terdapat tools yang baru atau sesuai dengan tren saat ini.

“Di sisi lain, teknologi ini juga sangat membantu pengrajin batik dan desainer dalam berkarya dan produksi,” jelas Lukman yang juga menjabat sebagai Chief Designer Officer di Batik Fractal dan mengatakan bahwa Batik Fractal juga sudah terdaftar sebagai Hak Kekayaan Intelektual.

“Harapannya ke depan, pengrajin dan desainer dalam negeri mau menggunakan teknologi buatan dalam negeri ini dan karyanya bisa membuat batik Indonesia semakin populer seperti Batik Fractal yang juga karyanya sudah dipamerkan di mancanegara,” ungkap Lukman.

Baca juga: Komunitas Kesengsem Lasem, menceritakan festival budaya lewat foto.

Dokumentasi dan Akses Digital

Pelaku di bidang teknologi juga sangat sadar bahwa teknologi sangat bisa dimanfaatkan untuk menghadirkan kembali sesuatu yang berasal dari waktu lampau atau sebelum teknologi hadir. Pemikiran itu salah satunya terwujud dalam Google Cultural Institute: Google Art & Culture.

Ini merupakan website interaktif yang menyediakan informasi koleksi warisan budaya yang tersebar di seluruh dunia, termasuk batik dari Indonesia.

Tampilan informasi batik di Google Art & Culture

“Google sebagai pengembang teknologi berupaya mengorganisir informasi di seluruh dunia, sehingga keberadaan karya seni dan budaya masa lalu tetap bisa dinikmati hingga saat ini,” tutur Shinto Nugroho, Head of Public Policy & Government Relations Google Indonesia

Shinto mengungkapkan, bahwa kebanyakan kain batik yang usianya sudah ratusan tahun, banyak sekali yang disimpan di museum dan tidak memberikan akses yang memadai untuk kebutuhan studi atau untuk sekadar dinikmati dengan alasan menjaga kondisi kain.

Maka Google Art & Culture bisa menjadi salah satu solusi adanya akses yang lebih mendalam akan pengetahuan tentang batik. Hal ini misalnya lewat tampilan foto kain yang bisa dijelajahi dengan mendetail.

“Google mendokumentasikan setiap kain batik, tetapi bukan sekadar foto lalu digandakan, melainkan kita dokumentasi secara digital sehingga bisa dilihat oleh siapapun dan dimanapun lewat internet,” jelasnya.

Google Art Camera dengan kemampuan sensor berukuran gigapiksel

Menariknya, kamera yang digunakan mempunyai kemampuan menghasilkan foto dengan kualitas super atau ratusan kali lebih tajam dari kamera biasa. Menurut Shinto, kamera yang bernama Google Art Camera tersebut mempunyai sensor resolusi kamera hingga ukuran gigapiksel, sehingga foto yang dihasilkan memiliki kualitas tajam.

Yuk, lihat ulasan berbagai kamera mirrorless untuk video di sini.

Kualitas foto batik yang di unggah di web Arts & Culture bisa diperbesar hingga sangat detil, setiap bagian dari coraknya pun bisa terlihat tajam. Hal ini diupayakan agar setiap orang bisa menikmati corak batik sedetail mungkin. “Dengan begitu batik bisa dilestarikan sekaligus dinikmati,” jelas Shinto.

Upaya Google tentu perlu diapresiasi. Menurut Harry Widianto, Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menyebutkan, di satu sisi Indonesia punya banyak sekali warisan yang harus dilestarikan, namun di sisi lain pendataannya saja sudah cukup memakan waktu. “Sedangkan semua warisan budaya harus tetap dilestarikan dengan diperkenalkan kepada publik,” ungkap Harry.

Kita tunggu saja berbagai inisiatif teknologi lain, yang tentu tidak hanya berkutat pada pelestarian batik semata, sehingga Indonesia yang dikenal sebagai sumber berbagai warisan budaya dapat terus terjaga.

0 comments