NOW READING

Brata Rafly dan Jalan Panjang Fintech di Indonesia

 1372
+
 1372

Brata Rafly dan Jalan Panjang Fintech di Indonesia

by The Daily Oktagon
  • Brata Rafly menilai financial technology (fintech) sebagai industri yang memiliki potensi yang besar.
  • Di sisi lain ia juga menilai fintech di Indonesia harus melewati jalan panjang, terutama di sisi edukasi.
  • Di luar pekerjaan, Rafly gemar menonton streaming film secara online.

Perkembangan teknologi digital saat ini telah masuk ke berbagai macam industri. Mulai dari transportasi, retail, sampai ke industri finansial. Penerapan teknologi digital di industri finansial di Indonesia sendiri di satu sisi sangat menantang, namun di sisi lain memiliki potensi yang besar.

Peluang ini coba ditangkap oleh Brata Rafly, pendiri dari Dimo, perusahaan teknologi keuangan (fintech) dengan teknologi kode QR.

Brata sendiri bukan orang baru di dunia teknologi. Ia pernah bergabung dengan berbagai perusahaan teknologi bereputasi dunia, mulai dari Director Sales and Chief Representative Intel, Country Sales Director di Yahoo! Indonesia, hingga Country Manager untuk MSN Indonesia.

The Daily Oktagon berkesempatan langsung bertemu dengan Brata, dan berbicara banyak tentang industri fintech, hingga gaya hidup digitalnya.

Sebagai salah satu pemain di industri fintech, bagaimana Anda melihat perkembangannya di Indonesia?

Perkembangannya sangat pesat beberapa tahun belakangan ini karena permintaan ke arah sana sudah ada. Semua hal sekarang beralih ke digital, mulai dari transportasi, retail, memesan tiket dan yang lainnya. Hal tersebut jelas membutuhkan payment yang merupakan bagian dari fintech itu sendiri.

Apalagi saat ini masyarakat Indonesia didominasi oleh orang-orang dengan usia pengguna smartphone yang menginginkan semua hal bisa dilakukan secara mobile. Pada tahun lalu pemerintah juga ingin mendorong Indonesia menjadi sebuah negara dengan ketersediaan jasa finansial yang inklusif.

Artinya, semua lapisan masyarakat bisa merasakan kemudahan dan kenyamanan ber-banking, misalnya merasakan layanan non-tunai atau mendapatkan pinjaman. Fintech bisa menjadi jawaban untuk ini.

Lalu apa yang mendasari Anda membuat layanan pembayaran model QR ini?

Ada sebuah masalah yang ingin kami pecahkan di sini. Dengan tingginya pengguna smartphone, kebutuhan akan sebuah mobile payment di Indonesia sudah sangat mendasar tapi penetrasi kartu kredit sangatlah kecil.

Artinya, kemudahan pembayaran non-tunai hanya bisa dinikmati oleh masyarakat menengah ke atas. Orang yang tidak memiliki rekening bank di Indonesia itu jumlahnya 2/3 dari total populasi. Dengan kondisi itu, mereka tidak bisa merasakan kemudahan bertransaksi non-tunai.

Ditambah lagi perkembangan metode mobile payment saat ini masih bersifat eksklusif. Misalnya sebuah bank mengembangkan metode mobile payment yang hanya bisa digunakan oleh nasabah mereka sendiri. Belum ada sebuah metode yang dapat dipakai secara umum.

Padahal tujuan awal dari teknologi mobile payment ini untuk memudahkan masyarakat dalam bertransaksi, tapi ini jadinya malah merepotkan karena eksklusivitas ini.

Apa keunggulan QR dibanding mobile payment lain?

Pembayaran dengan QR bisa menjadi teknologi mobile yang membentuk ekosistem dengan sistem yang inklusif. Mobile payment saat ini baru bisa digunakan jika merchant tersebut memiliki alat seperti EDC atau semacamnya untuk bertransaksi.

Sementara lewat QR, hanya tinggal menempelkan stiker QR code. Sistem seperti ini jelas akan mempermudah merchant kecil, seperti warung di pinggir jalan pun bisa menggunakan metode ini karena mudah.

Visi kami ingin menjadi semacam Visa, tapi di smartphone. Hanya saja kalau Visa itu kartu kredit yang membutuhkan approval, kalau kami bisa terkoneksi dengan semua penyandang dana. Mulai dari bank, debit, kredit, sampai e-wallet (untuk orang-orang yang tidak memiliki rekening bank).

Tinggal unduh e-wallet-nya, masukan uang, dan bisa langsung melakukan transaksi non-tunai. Misi kami adalah menjadi sebuah fasilitas finansial yang inklusif, semua kalangan dari atas sampai bawah bisa memanfaatkannya.

Cari smartphone baru untuk menunjang bisnis? Baca ulasan ini

Bagaimana dengan perkembangannya saat ini?

Sejak diluncurkan pada Maret 2016, saat ini telah mencapai 4000 merchant dengan perkembangan sebesar 10 ribu persen. Awalnya kami bergerak secara organik, dengan kami sendiri yang mencari. Sekarang kami sudah terhubung dengan bank dan penyandang dana lain. Merekalah yang akan gencar mencari merchant-nya.

Apa saja hal yang paling menantang bagi perkembangan fintech di Indonesia?

Pertama, perkembangan digital ini sangat pesat di hampir semua industri tapi khusus di industri finansial ini, bergeraknya agak susah karena regulasi yang sangat ketat.

Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memang sedang mempersiapkan perkembangan digital di dunia finansial ini. Namun, regulasi ini tetap dibutuhkan untuk menjaga keutuhan ekosistem finansial itu sendiri.

Kedua adalah soal edukasi. Jika kita menargetkan mobile payment ini bisa digunakan secara inklusif, proses edukasinya jelas membutuhkan perjalanan yang panjang. Edukasi digital banking ini perlu diperhatikan secara serius oleh bank.

Lama berkecimpung di industri teknologi, bagaimana Anda melihat industri ini berkembang dari waktu ke waktu?

Saya memang sudah cukup lama bekerja di industri ini. Sekitar 22 tahun, 10 tahun di Amerika Serikat dan 12 tahun di Indonesia. Perkembangannya sangat luar biasa. Saat ini dunia sedang mengalami revolusi industri ke empat.

Pertama adalah penemuan mesin uap. Kedua penemuan listrik. Ketiga perkembangan teknologi komunikasi dan ditemukannya internet. Keempat ini adalah penerapan teknologi tersebut ke semua ekosistem bisnis. Mereka mulai masuk ke industri retail, transportasi sampai ke industri perbankan ini.

Sebagai “orang industri digital”, bagaimana Anda memanfaatkan teknologi digital saat ini?

Biasanya saya sekarang kalau pulang kantor ini nonton Netflix, baik lewat laptop atau bahkan di iPhone 6S ini. Kalau ingin nonton di layar yang lebih besar bisa lewat Smart TV yang terkoneksi dengan internet.

Perkembangan gadget menurut saya sendiri cukup unik. Awalnya mungkin bisa dibilang dari sebuah ponsel yang dipecah menjadi beberapa barang seperti tablet atau laptop, tapi pada akhirnya orang-orang akan memilih yang lebih sederhana, yang semuanya bisa dilakukan dengan satu tangan.

Saya pernah menggunakan iPad tapi ternyata rasanya hampir sama dengan smartphone. Jadi ya saya balik lagi hanya menggunakan smartphone saja. Paling kalau mau mendengarkan lagu saya menggunakan bluetooth earphone.

Gadget apa saja yang harus dibawa saat trip bisnis? Simak artikel ini

Apa harapan Anda tentang digital lifestyle ke depan?

Digital lifestyle itu awalnya tercipta untuk mempermudah kehidupan manusia. Bagaimana ia bisa menghubungkan semuanya hanya dalam satu sentuhan jari. Baik itu dalam mendapatkan informasi, melakukan pekerjaan, hingga melakukan kegiatan ekonomi seperti berbelanja atau berjualan.

Saya juga tidak tahu ke depannya akan ada apa lagi tapi pada dasarnya semuanya akan berada di dalam ekosistem mobile. Apalagi kita termasuk negara yang berkembang yang cukup nyaman untuk menerima segala macam implementasi teknologi terbaru.

Sosok seperti Rafli tentu menjadi salah satu faktor penentu berkembangnya fintech di Tanah Air. Kita tunggu sepak terjangnya selanjutnya agar teknologi di Indonesia semakin maju dan dapat dirasakan banyak orang.

0 comments