NOW READING

Bincang-bincang Bersama Fotografer Travel, Ricky ‘Yabin’ Rusli Kurniawan

 2930
+
 2930

Bincang-bincang Bersama Fotografer Travel, Ricky ‘Yabin’ Rusli Kurniawan

by The Daily Oktagon

Minat fotografer Ricky Rusli Kurniawan pada fotografi bermula ketika ia menemukan kamera di atap rumah kakeknya. Ia langsung jatuh cinta dengan kamera itu. Walaupun kala itu tidak ada yang bisa ia lakukan, karena kameranya dalam keadaan rusak. Sewaktu kuliah dulu, lelaki yang akrab disapa Yabin ini senang membuat fine artdan mengabadikan karyanya dalam bentuk foto.

Sedari kecil, ia juga sering traveling bersama keluarganya dan merasa senang untuk mengabadikan apa yang dilihat. Ia merasa hobinya membaca komik dan bermain game, sangat membantunya membayangkan ruang dan bentuk. Hal ini membuatnya makin menggemari fotografi.

Seiring berjalannya waktu, Yabin, yang dilahirkan di Garut, 28 Januari 1984, sempat bekerja sebagai professional underwater photographer untuk majalah Dive Discovery dan travel photographer untuk National Geographic, sambil mengerjakan orderan proyek untuk advertising. Beberapa perusahaan yang pernah menjadi kliennya, antara lain LOVE, Ogilvy Indonesia, dan Hakuhodo. Mesk,i telah pensiun dari bidang editorial, ia sesekali masih berkontribusi untuk National GeographicScuba Diver Asia Australasia (SDAA), dan GEO.

Foto Profil Ricky Rusli

Yabin – Foto dokumen pribadi

Kini, di sela-sela kesibukannya mengerjakan proyek klien, ia juga sibuk menjalankan usaha travel khusus fotografer dengan destinasi berbagai lokasi eksotis di penjuru dunia. The Daily Oktagon berkesempatan mengajak bincang-bincang pemilik akun Instagram @yabin8 ini. Yabin juga sedikit membocorkan rencananya mendirikan startup travel yang akan diluncurkan awal tahun depan.

Artikel ini berisi petikan dari bincang-bincang bersama fotografer travel, Ricky ‘Yabin’ Rusli Kurniawan. Yuk langsung simak!

Saat ini apa kesibukan utama Anda?
Selain rutin menerima job foto untuk advertising, saya kadang bikin tour khusus fotografer ke daerah-daerah yang unik seperti Tibet, India, Mongolia, dan lain-lain. Saat ini saya juga sedang membangun sebuah startup di bidang jasa travel dan sejenisnya. Tapi, jangan berpikiran ini seperti paket tour lainnya, ya. Karena sepertinya belum pernah ada yang seperti ini di Indonesia. Jadi, tunggu saja. Mungkin akan launching pada bulan Januari 2016.

Salah satu hobi Anda adalah traveling. Bisa diceritakan apakah ini ada kaitannya dengan profesi sebagai fotografer?
Well, fotografi itu adalah gambaran tentang sudut pandang dari masing-masing fotografer. Sesederhana itu, hingga saya hanya berpikiran untuk mengabadikan tempat, obyek, atau perasaan melalui kamera setiap saya traveling.

Trevalley_in_Tulamben__untuk_Dive_Discovery_Magazine_

Travelley Tulamben untuk Dive Discovery Magazine

Tempat apa saja yang baru-baru ini dikunjungi untuk traveling?
Untuk diving, mungkin saya terakhir ke Raja Ampat dan Tulamben. Untuk traveling sendiri, terakhir saya ke Jepang selama dua minggu untuk meliput sebuah desa bernama Nagoro.

Pelajari teknik fotografi langsung dari pakarnya, Oetomo Wiropranoto Melancong ke Penjuru Dunia dengan Dua Kamera dan Dua Lensa

 

Hal apa yang Anda sukai dari profesi ini?
Ada dua hal. Pertama, saya senang dengan kebebasan dan tidak suka terkungkung dalam ruang kotak.Lalu, menjadi fotografer, saya bisa mengekspresikan diri dan bisa bekerja sama dengan tim ketika menjadi image maker.

Bagaimana Anda mendeskripsikan gaya fotografi Anda?
I know what they want, I know what they need, and I know what I feel about it.

Apakah Anda mempelajari fotografi lewat pendidikan formal, atau secara otodidak?
Awalnya otodidak. Begitu sampai di tahap tertentu, saya sempat mengikuti summer course dan lebih banyak dari bertemu fotografer profesional di masing-masing bidangnya.

Monk_in_Shigatse__untuk_National_Geographic

 

Monk in Shigatse untuk National Geographic

Peralatan wajib yang Anda bawa biasanya terdiri dari apa saja?
Untuk travel, tripod itu wajib! Meski repot bawanya. Lalu, satu lensa tele, satu body, satu lensa super wide, satu lensa fix, satu flashtimer, dan beberapa filter termasuk Circular Polarizer atau CPL. Jangan lupa juga bawa permen untuk diberikan ke anak-anak di sekitar lokasi, ini juga wajib!

Apakah memang disesuaikan agar mudah ketika dibawa-bawa bepergian?
Tergantung tempatnya, semua peralatan itu biasanya disesuaikan. Basanya, saya selalu research dulu kondisi lapangan dan kebutuhan fotonya seperti apa.

Untuk menyimpan gear fotografi tersebut, adakah tas khusus atau teknik yang Anda terapkan agar tetap aman dalam perjalanan jauh?

Untuk assignment fotografi underwater, saya selalu memakai hardcase seperti misalnya buatan Pelican. Berat case-nya sendiri bisa 35 kg. Ini lebih baik dari pada sudah pergi jauh-jauh, tetapi setiba di lokasi alat malah rusak.

Ada perlengkapan tambahan lain yang Anda bawa di luar peralatan fotografi?
Contohnya yang tadi saya sebutkan, permen untuk anak-anak. Atau mungkin bisa bawa rokok. Meski saya tidakpernah merokok dan benci rokok. Tidak selalu rokok itu untuk diberikan dengan warga setempat. Pernah, waktu saya ke Eropa, rokok saya barter dengan kebab. Harga rokok di sini kurang dari Rp 20.000. Sementara harga kebab di sana minimal 3,5 Euro atau sekitar Rp 55.000. Lumayan, kan?

Selain itu paling membawa stick untuk fotografi underwater, fungsinya untuk meminimalisasi kontak dengan terumbu karang. Oh, satu lagi, rain cover for the gear.

Japanese_Macaque_at_Kigokudani__self_project

 Japanese Macaque in Kigokudani untuk proyek pribadi

Bisa diceritakan persiapan yang Anda lakukan sebelum travel?
Untungnya, zaman sekarang kita dimudahkan dengan perkembangan Internet. Dari sana kita bisa tahu segala hal, mulai dari cuaca, suhu, kebiasaan, hingga do’s and don’ts. Tapi kadang link saya di lokasi-lokasi tertentu saat bekerja di editorial cukup membantu juga. Itu alasannya saya membuat travel khusus fotografer ini.

Kendala seperti apa yang biasa ditemui di lapangan dan bagaimana Anda mengatasinya?
Tergantung tempat, ya. Saya pernah merasakan repotnya ketika flash dan lensa error ketia di Everest base camp. Dua alat itu tidak terdeteksi di kamera karena saking dinginnya, minus 30 derajat celcius!

Logikanya sih sama. Karena itu sangat dingin, saya mesti membuat temperatur baterai flash dan dudukan ring si lensa itu naik. Akhirnya, saya masukkan ke dalam jaket selama beberapa detik. Lumayan, bisa motret beberapa kali sebelum kembali dingin, hahaha.

Kalo untuk underwater, faktor-faktor tersebut sangat banyak. Seperti misalnya keadaan arus di dalam laut hingga binatang-binatang yang berbisa. Tentu kita harus pelajari terlebih dulu situasinya sebelum memulai diving.

Juga, ikuti hukum adat yang berlaku di daerah masing-masing. Tentu tidak mau kan mengalami motret sambil mendengar suara-suara aneh. Hahaha!

Biasanya, agar bisa diterima dengan warga sekitar, pendekatan seperti apa yang Anda lakukan?
Satu yang pasti, kalau ingin memotret human interest setempat, kita bisa melakukan pendekatan dengan mengajak bicara terlebih dahulu. Tapi, kadang moment itu hilang setelah diajak bicara.

Ada kalanya kita shoot dulu. Tetapi alangkah lebih baik setelah itu kita mengajak bicara mereka. Oh iya, jangan salah kostum juga. Sesuaikan dengan keadaan. Jangan malah fotografernya yang jadi alien di sana.

Sting_Ray__untuk_SDAA

Sting Ray untuk Scuba Diver Asia Australasia

Adakah proyek ambisius yang belum terwujud, atau mungkin sedang Anda rencanakan?
Banyak! Entah itu untuk self project atau buku. Seperti memotret Aurora Borealis di Islandia, diving di Cenote, Meksiko, memotret bluewater mangrove di Raja Ampat. Jadi, saya sudah lima kali ke Raja Ampat dan belum pernah ke site itu, karena tempatnya keburu di-banned gara-gara ada kasus orang digigit buaya. Saya juga ingin memotret Hammerhead Shark di Galapagos. Wah, bisa seharian kalau mau membahas ini. Kendalanya cuma di eksekusi dan waktunya. Mungkin The Daily Oktagon mau kerja sama?

Kadang, ketika datang ke rumah kenalan atau teman, saya ingin sekali memajang salah satu karya saya di dinding rumah mereka. Untungnya, beberapa teman sudah mempercayakan foto-foto saya untuk dinikmati di rumah mereka. Well, yang pasti, memajang foto di rumah yang berbeda-beda tidak sesimpel itu. Bahkan lebih sulit dari assignment yang biasa saya dapat. Karakter dari keluarga, rumah mereka, dan mood yang ingin disampaikan menentukan itu semua.

Tips apa yang bisa Anda berikan ke fotografer pemula yang menekuni profesi ini?
Mau fotografi travelfine artadvertisingwedding, reportase, atau apapun genrenya, menurut saya kuncinya satu. Jangan pernah memaksakan kalau memang tidak suka. Jujurlah pada apa yang dilihat dan difoto. Karena, jujur pada diri sendiri itu akan menimbulkan passion yang sangat besar. Dari sana, mimpi atau skill apapun pasti akan bisa dicapai.

Pencinta fotografi wajib baca ini, Para Fotografer Senior Bicara tentang Foto Jurnalistik di Era New Media

0 comments