NOW READING

Berlari Bersama “Teman Digital”

 2063
+
 2063

Berlari Bersama “Teman Digital”

by The Daily Oktagon

Hampir satu dari tiga orang Jerman menggunakan fitness tracker. Itulah hasil survei yang dilakukan YouGov atas pengukuran Federal Ministry of Justice and Consumer Protection di Jerman yang dirilis pada awal Februari lalu. Fitness tracker, dengan segala bentuknya seperti smartwatch atau aplikasi ponsel, memang tengah naik daun saat ini.

Bagaimana dengan di Indonesia? Mungkin belum mencapai satu dari tiga orang seperti di Jerman. Namun, menilik dari berbagai komunitas lari yang kini eksis di Indonesia, penggunaan berbagai device untuk mendukung kegiatan olah raga yang mereka gandrungi sudah semakin lumrah.

The Daily Oktagon kali ini mengajak Anda untuk mengintip peranan device yang sudah bagaikan partner dalam olah raga, khususnya lari. Nah, siapkan diri Anda untuk berlari bersama “teman digital”.

Chia Harijanto dari IndoRunners misalnya, mengaku sudah memakai smartwatch olah raga sejak 2013, atau hanya beberapa bulan setelah ia mulai menekuni lari dan bergabung dengan IndoRunners. “Awal lari hanya memakai aplikasi di smartphone seperti Nike Plus dan Endomondo. Namun makin serius larinya, saya memutuskan membeli smartwatch,” ungkapnya.

Saat ini, Chia menggunakan smartwatch yang ditujukan untuk seri triathlon. Jam ini sendiri merupakan jenis jam smartwatch kedua yang ia gunakan. Chia sempat membeli smartwatch seri trail running karena dulu sempat suka ikut lomba ultra trail.

chia_harjantoChia Harijanto

“Tapi balik yang ke seri triatlon karena dipencetnya lebih enak, GPS locking lebih cepat, sehingga akhirnya yang satu aku jual lagi,” ujar wanita yang menjadi Project Officer di IndoRunners ini.

Baginya, jam yang ia gunakan sudah relatif ideal untuk mendukung aktivitas olahraganya yang beragam. Ia pun tidak perlu susah payah untuk melakukan pengaturan berulang kali. Chia mencontohkan, ia biasanya melakukan ‘ritual’ olah raga sepeda-lari-sepeda di hari libur.

“Saya biasanya dari rumah naik sepeda ke sebuah mal di Senayan, terus lari ke Monas, balik lagi ke FX, terus sepeda pulang ke rumah. Itu bisa diatur dengan mudah di jam ini,” jelas pelari yang sukses finish di ajang Sungailiat Triathlon 2014 dan 2015 ini.

Anda tentu juga tertarik membaca artikel ini, Yuk, Gabung dengan Komunitas Pebblenesia

Kehadiran smartwatch olahraga sepertinya benar-benar memincut hati Chia. Saat sehari-hari, Chia yang seorang pekerja lepas konsultan SDM ini juga memakai smartwatch dengan seri berbeda. Kali ini jam yang lebih catchy dari desain, dan kemampuan yang lebih terbatas dari jam triathlon-nya. Kemampuan yang dimiliki antara lain menghitung jumlah langkah dan pembakaran kalori. “Akhirnya jam yang konvensional lebih banyak ditinggal di rumah. Paling dipakai kalau kondangan saja,” ujarnya sambil tertawa.

Alasan pemakaian device olah raga yang relatif serupa datang dari Nurhidayat Firmansyah, anggota lari IndiRunners, komunitas lari yang beranggotakan para karyawan perusahaan Indika Energy. Day, begitu Nurhidayat akrab dipanggil, menggunakan smartwatch olah raga sejak setahun belakangan. Keputusannya memakai jam tersebut lebih kepada kebutuhannya akan pencatatan yang lebih akurat.

“Menurut saya, aplikasi di ponsel relatif kurang akurat dari waktu maupun jarak,” kata Day

Disamping smartwatch, Day sempat menggunakan headset khusus olah raga untuk menunjang aktivitas olah tubuhnya itu. Namun seiring waktu, pria yang tahun lalu mengikuti Bali Marathon ini merasa dirinya seperti menjadi tergantung dengan irama musik yang ia dengarkan lewat headset. “Kalau musiknya upbeat, lari jadi semangat. Tetapi juga sebaliknya, “ jelas Day yang kini tidak lagi menggunakan alat tersebut.

indorunners_in_action
Usai berolahraga, baik Chia dan Day mengaku kerap membagikan hasil data olahraganya lewat akun media sosial. Menurut Chia, tidak ada salahnya untuk ‘pamer’ kemampuan, terlebih dia justru sering mendapatkan komentar yang bermanfaat dari koleganya di media sosial. Chia sering membagikan data ini terutama ketika sedang berada dalam sebuah training plan untuk mengikuti lomba.

Setiap usai berlari jarak jauh, ia kemudian memposting sekaligus mereview lari hari itu. “Kemudian dapat masukan juga dari teman-teman yang komentar di akun media sosial saya. Misalnya start terlalu siang sehingga suhu sudah panas,” ucap dia.

Sementara itu, penggunaan media sosial yang lebih intens pernah Day gunakan saat bersama beberapa temannya membuat LariSekilo, sebuah gerakan lari untuk amal. Di setiap Rp 100 ribu yang didonasikan para penyumbang, Day dan koleganya akan berlari sejauh satu kilometer. Mem-posting hasil lari di media sosial pun menjadi kewajiban sebagai bentuk tanggung jawab dan transparansi donasi.

Penggunaan media sosial tentu juga tidak luput oleh Indorunners. Apalagi komunitas ini kini memliki 37 regional di Seluruh Indonesia sehingga media sosial menjadi salah satu alat komunikasi paling ampuh. Menurut Chia, selain membuat grup chat, kekuatan komunikasi komunitasnya bisa terlihat di Facebook. “Mungkin karena belum tentu semua orang yang punya Instagram,” kata Chia.

shutterstock_285929369
Lebih lanjut, Chia melihat Facebook memungkinkan ruang diskusi antar anggota yang bisa lebih panjang dan mendalam. Pertanyaan untuk tips lari, pilih sepatu, atau cari teman lari satu kawasan misalnya, kerap berseliweran di sini. Komunitasnya juga sempat bekerjasama dengan dokter olahraga kesehatan dan fisioterapis untuk melakukan sesi tanya jawab di Senin pagi, dengan Facebook sebagai medianya.

Dengan berbagai kemudahan dari teknologi digital saat ini, tak heran jika para pelaku komunitas lari pun melirik kehidupan digital sebagai temannya. Anda berminat untuk gabung?

Yuk, baca juga Smartwatch atau Fitness Tracker, Pilih Mana?

0 comments